Multipolaritas Global dan Posisi Indonesia

Posted on June 23, 2011

0


Sunarsip, EKONOM THE INDONESIA ECONOMIC INTELLIGENCE, JAKARTA

Belum lama ini Bank Dunia mengeluarkan laporB an bertajuk Global Development Horizons 2011–Multipolarity: The New Global Economy.

Laporan tersebut menjelaskan bahwa kini ekonomi global telah memasuki era baru dengan ditandai oleh bergesernya blok pertumbuhan ekonomi global. Sementara selama ini negara-negara maju menjadi penopang penting pertumbuhan ekonomi global, kini posisi tersebut mulai bergeser ke negara-negara berkembang (emerging market). Seiring dengan pergeseran tersebut, peran perusahaan multinasional dari emerging market kini semakin diperhitungkan sebagai pendorong arus investasi global. Sistem moneter internasional pun kini beranjak dari sistem international single currency ke international multicurrency.

Apa yang dijelaskan Bank Dunia memang sudah terlihat gejalanya. Gejala terjadinya multipolaritas tersebut semakin jelas ketika kini Amerika Serikat dan Uni Eropa sedang mengalami krisis. Mari kita lihat beberapa fenomena multipolaritas berikut ini. Pertama, sementara pada era 1994-1998 negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi (di atas 6 persen) banyak dihuni negara ekonomi tinggi (di atas 6 persen) banyak negara maju, pada era 2004-2008 telah banyak negara berkembang yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Kini distribusi negara dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi telah semakin merata.

Kedua, kini peran perusahaan multinasional emerging market dalam percaturan global semakin besar. Perusahaan multinasional emerging market tidak hanya besar karena kiprahnya di emerging market, tapi juga telah menjadi pemain penting di negara-negara maju.
Kini banyak perusahaan multinasional Cina yang berkibar di Amerika dan Eropa. Kini Amerika bahkan khawatir akan eksistensi perusahaan multinasional Cina, karena defisit neraca perdagangannya dengan Cina yang membesar.

Semakin meningkatnya peran perusahaan multinasional emerging market juga ditunjukkan oleh tingginya perjanjian merger dan akuisisi (M&A) yang mereka lakukan. Laporan Bank Dunia menunjukkan, sementara pada 1997 transaksi M&A antarnegara emerging market baru mencapai US$27 miliar, pada 2010 telah mencapai US$ 250 miliar. Sementara pada 2000 pangsa utang (bonds, loans) perusahaan asal emerging market baru sekitar 2,5 persen dengan nilai sekitar US$ 123 miliar, pada 2010 pangsanya telah mencapai sekitar 7 persen dengan nilai sekitar US$ 461 miliar.

Reputasi perusahaan multinasional asal emerging market juga semakin baik. Hal ini terlihat dari menurunnya biaya utang perusahaan multinasional emerging market yang harus dikeluarkan ketika menerbitkan bonds. Sementara pada 2009 kupon yang dibayarkan atas obligasi yang dikeluarkan perusahaan multinasional emerging market sekitar 345 basis point di atas benchmark (biasanya US Treasury Bond) untuk perusahaan dengan peringkat Investment Grade dan sekitar 650 basis point untuk perusahaan dengan peringkat Non-Investment Grade, kini per April 2011 turun drastis menjadi sekitar 224 basis point (untuk Investment Grade) dan sekitar 550 basis point (untuk Non-Investment Grade).

Ketiga, sistem moneter internasional kini juga sudah semakin mengarah pada terbentuknya sistem multimata uang. Kini kita menyaksikan dolar Amerika tidak lagi mendominasi sebagai mata uang utama di dunia, seiring dengan hadirnya euro dan renminbi. Sebagai ilustrasi, sementara pada 2009 penggunaan renminbi kurang dari 0,5 persen, pada 2010 sudah mencapai 5,1 persen dalam transaksi perdagangan global. Dalam transaksi di pasar keuangan, penggunaan renminbi di luar Cina juga meningkat. Pada kuartal II 2011, penggunaan renminbi dalam penerbitan bond di pasar global telah mencapai se kitar US$ 40 miliar.

Terlihat jelas bahwa multipolaritas global kini semakin nyata, seiring dengan semakin menguatnya peran emerging market. Meski begitu, perkembangan emerging market ini sejatinya masih terhambat karena beberapa hal. Pertama, emerging market belum memiliki mata uang yang dapat digunakan secara internasional untuk akumulasi cadangan (reserves), invoicing, atau jangkar pertukaran mata uang. Kedua, emerging market masih terekspos kesenjangan mata uang, baik di antara negara emerging market maupun dengan negara-negara maju.
Diperkirakan, bila kendala-kendala ini dapat diatasi, misalnya dengan membentuk satu mata uang emerging market yang digunakan secara internasional (seperti euro), pertumbuhan ekonomi emerging market dapat lebih cepat lagi.
Posisi Indonesia Lalu di mana posisi Indonesia dalam arus multipolaritas global tersebut? Apakah Indonesia telah dan akan menjadi bagian penting dalam pembentukan multipolaritas global? Ataukah kini sedang menunggu dan meli hat (wait and see) seperti apa perubahan geopolitik dan ekonomi global yang akan terjadi dan kemudian ikut pada arus atau blok yang menang?
Pada 2011, Indonesia telah masuk kelas sebagai negara berpendapatan menengah (produk domestik bruto per kapita US$ 3.000). Posisi Indonesia dalam tren multipolaritas global juga didukung stabilitas politik domestik yang baik, pengelolaan ekonomi makro dan fiskal yang relatif baik, potensi ekonomi berupa sumber daya alam yang melimpah, dan kekuatan demografi yang mendukung serta membaiknya profil Indonesia di dunia internasional, yang ditunjuk kan dengan keikutsertaannya dalam G-20.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga konsisten (sekitar 6 persen per tahun), terutama didukung oleh semakin membaiknya kegiatan investasi. Pada 2025, Indonesia diperkirakan akan memiliki pangsa terhadap pertumbuhan PDB global sekitar 2,81 persen. Cina diperkirakan akan menjadi negara dengan pangsa pertumbuhan PDB terbesar di dunia, sekitar 37 persen. Indonesia juga berpeluang menjadi salah satu emerging market terbesar di dunia.
Terlebih Indonesia memiliki keuntungan demografi, karena struktur usia penduduk Indonesia pada 2025 akan dihuni oleh kelompok penduduk berusia menengah (usia produktif). Diperkirakan, bila negara seperti Brasil, Rusia, India, Indonesia, Cina, dan Korea Selatan bergabung (BRIICK’s), dapat menyumbang pangsa pertumbuhan PDB global sekitar 50 persen.

Berdasarkan keunggulan di atas, Indonesia sejatinya memiliki posisi strategis dalam menentukan bentuk multipolaritas global ke depan. Sebagai contoh, sekalipun Cina saat ini disebut sebagai leader bagi emerging market, Cina memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap Indonesia dalam hal sumber-sumber energi dan pangan. Pada 2025, Cina diperkirakan akan memiliki posisi demografi yang tidak menguntungkan, karena jumlah penduduk usia produktifnya akan mengecil. Pertumbuhan ekonomi Cina yang saat ini tinggi (rata-rata 9 persen) sesungguhnya karena Cina sedang menikmati demographic dividend, seiring dengan kelompok masyarakat menengahnya yang saat ini jumlahnya besar.

Karena itu, sejatinya Indonesia berpotensi menjadi bagian penting untuk ikut menata dan menentukan arus multipolaritas ekonomi global tersebut. Dengan kata lain, Indonesia semestinya memiliki positioning yang baik dalam pembentukan multipolaritas global. Pertanyaannya, apakah Indonesia cukup percaya diri mengambil peran itu mulai sekarang. Sebuah keputusan yang harus dirumuskan menjadi konsensus nasional.