Menjaga Konteks dan Perspektif Liputan Jurnalistik

Posted on June 28, 2011

0


Arya Gunawan Usis, MANTAN WARTAWAN, PEMERHATI MEDIA, KINI BEKERJA UNTUK PROGRAM PEMBERDAYAAN MEDIA DI UNESCO TEHERAN (IRAN). TULISAN INI MERUPAKAN PENDAPAT PRIBADI.

Liputan jurnalistik yang baik dan lengkap haruslah menyajikan kon teks dari satu peristiwa. Dari kon teks inilah akan lahir perspektif atau sudut pandang. Barulah kemudian liputan jurnalistik tersebut akan membawa makna bagi pembaca/pendengar/pemirsa, sehingga menjadi informasi yang bermanfaat, baik sebagai pengetahuan maupun sebagai alat untuk membuat keputusan.

Konteks dan perspektif dalam satu liputan jurnalistik mencakup hal sederhana hingga peristiwa yang rumit. Untuk contoh yang rumit, bisa dikemukakan peristiwa pembunuhan terhadap Usamah bin Ladin.
Satu penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menyuguhkan data yang menakjubkan: dalam periode 1-4 Mei, jumlah berita yang ditulis di seluruh dunia mengenai peristiwa pembunuhan Usamah itu mencapai 120 ribu item, ditambah dengan 100 ribu item di blog, dan hampir 7 juta posting di Twitter digabungkan dengan Facebook. Tentu saja informasi sebanyak ini bisa menciptakan kebingungan, bahkan kesesatan, apabila tidak ditempatkan pada konteks dan perspektif yang jelas. Konteks dan perspektif yang dapat dipakai di sini, misalnya perincian mengenai penyerbuan satuan yang membunuh Usamah, reaksi dari Amerika Serikat dan dunia, perselisihan politik antara Pakistan dan Amerika, kemungkinan munculnya aksi teror sebagai jawaban atas aksi pembunuhan itu, dan riwayat hidup Usamah.
Tulang punggung Konteks dan perspektif adalah tulang punggung liputan jurnalistik. Namun belakangan ini tak jarang dijumpai liputan jurnalistik yang miskin konteks dan perspektif, dengan akibat lanjutan tak banyak makna yang dapat “dibungkus dan dibawa pulang“ oleh pembaca/pendengar/pemirsa. Liputan jurnalistik semacam ini akan tampil “lemas“ dan “lunglai“ karena tak ditopang oleh tulang punggung yang kokoh. Dampak lain yang lebih gawat akibat miskinnya konteks dan perspektif ini adalah peluang besar bagi munculnya bias. Contoh peristiwa paling mutakhir yang berpeluang mengalami nasib seperti ini adalah perang yang tengah berlangsung di Libya. Sabtu petang, 28 Mei lalu, di satu kafe di kawasan Jakarta Pusat berlangsung diskusi yang digagas oleh pengelola mailing list Jurnalisme, yang dihadiri sekitar 30 peserta. Salah seorang pembicara adalah Qaris Tajudin, wartawan Tempo yang ditugasi meliput perang di Libya; sebelumnya dia juga meliput pergolakan di Mesir. Salah satu informasi yang dituturkan Qaris adalah sulitnya mendapatkan informasi dari pihak Tripoli (kubu pemerintah Presiden Qadhafi), karena mereka antiwartawan luar negeri. Situasinya berbanding terbalik dengan kubu pemberontak yang bermarkas di Benghazi: mereka sangat bersahabat dan menyambut hangat kehadiran para wartawan asing. Itu sebabnya, hampir semua wartawan asing yang meliput di Benghazi menempel (embed) ke kelompok pemberontak, untuk mendapatkan akses yang luas bagi liputan mereka, termasuk misalnya bisa ikut sampai ke dekat garis depan.

Embedded journalism alias jurnalisme menempel merupakan praktek yang sah dalam liputan jurnalistik, tapi ia hendaknya dilakukan dengan kesadaran penuh dan tingkat tinggi akan risiko utama yang menghadang: kemungkinan tidak lengkapnya konteks dan perspektif, yang berujung pada terjadinya bias. Ini sudah dibuktikan dengan nyata lewat liputan sebagian besar wartawan Amerika mengenai perang Irak, yang cenderung berpihak ke Amerika karena mereka embedded ke pasukan Amerika. Liputan yang terasa berat sebelah itu terjadi akibat dua kemungkinan: terbatasnya akses ke kubu pihak lawan (dalam hal ini kaum insurgensi di Irak), dan rasa utang budi kepada tentara Amerika karena telah diizinkan mendapatkan akses ke garis depan.

Di Libya, situasi tak lengkapnya konteks dan perspektif ini besar kemungkinan telah pula terjadi. Lihat, misalnya, bagaimana tak banyaknya media yang mau melakukan upaya investigasi terhadap berbagai persenjataan berat yang dimiliki oleh kelompok pemberontak di Benghazi. Qaris mengisahkan kelompok pemberontak hanya bersedia dipotret saat mereka membawa persenjataan sederhana, tapi tidak bersedia jika tengah membawa persenjataan berat. Mungkin itu sebabnya mengapa tak banyak media melaporkan asal

usul persenjataan berat milik kelompok pemberontak itu. Santer disebut-sebut pada awal mulai berkobarnya perang bahwa pihak Barat telah memasok persenjataan berat itu, sesuatu yang sebetulnya sempat menimbulkan perdebatan sengit di kalangan negara pendukung serangan atas Libya.

Laporan wartawati Al-Jazeera, Sue Turton, dari Benghazi pada siaran 5 Juni adalah contoh mengenai kemungkinan terjadinya bias akibat embedded journalism. Beritanya mengenai seorang pejuang dari kubu pemberontak, bernama Mohammad, yang melakukan perjalanan sendirian dengan menyamar untuk melihat apa yang dilakukan pasukan Qadhafi. Lalu Sue Turton menyebutkan Mohammad menemukan ranjau antimanusia di tepi Kota Brega, yang ditanam kelompok Qadhafi, untuk menimbulkan kesengsaraan bagi kaum pemberontak. Sue Turton mengacungkan satu unit ranjau itu di depan kamera. Tidak ada verifikasi sama sekali mengenai seberapa jauh kebenaran informasi yang dia peroleh. Bisa saja itu bukan dari Qadhafi. Ini sama halnya dengan apa yang sering kita saksikan dalam peristiwa penangkapan atau pembunuhan teroris di Indonesia, yang bersamaan dengan penangkapan itu ditemukan juga bahan peledak, senjata, buku-buku, dan video yang berisi ajaran radikal.
Asal-muasal Jangan-jangan konteks dan perspektif besar mengenai perang Libya ini bahkan telah hilang dari pemahaman sebagian para wartawan peliputnya. Tak banyak lagi yang ingat riwayat lahirnya serangan atas Libya itu sebetulnya berasal dari upaya “penyelamatan muka“ Presiden Amerika Barack Hussein Obama. Saat bertemu dengan Kanselir Jerman Angela Merkel, 26 Februari, Obama mengomentari kerusuhan politik di Libya dengan mengatakan Qadhafi telah kehilangan legitimasinya, dan karena itu “harus angkat kaki“. Saat itu konflik dalam negeri di Libya baru berlangsung kurang dari dua pekan.

Namun ternyata Obama salah hitung, karena berhari-hari setelahnya Qadhafi tak juga surut ke pinggir gelanggang. Karena telanjur sudah memerintahkan agar Qadhafi harus angkat kaki, dicarilah cara untuk meyakinkan sekutu Amerika agar mendukung rencana pemberlakuan kebijakan no-fly zone terhadap Libya, yang kemudian disahkan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 17 Maret.

Setelah itu, Obama sempat berkomentar bahwa Amerika akan “duduk di kursi belakang/penumpang”, dan bukan pengendali serangan. Namun kenyataan di lapangan berbeda, karena Amerika justru menjadi pemimpin serangan sampai hari ke-9, saat kemudi kemudian diambil alih NATO.

Banyak kritik dialamatkan kepada Obama dan Amerika, juga PBB dan NATO, atas serangan ini, karena mereka melanggar kedaulatan negara, dan bisa menjadi preseden buruk di masa mendatang, ketika satu negara berdaulat bisa dengan mudah diserang asalkan pandai mencari justifikasinya. Dalam kasus Libya, justifikasinya adalah ingin menyelamatkan warga sipil dari kekerasan rezim Qadhafi. Padahal masih ada berbagai upaya yang dapat ditempuh, misalnya pengetatan sanksi ekonomi, pembekuan aset, dan penguatan gerakan masyarakat sipil di dalam negeri.

Banyak orang sepakat, Qadhafi bukanlah pemimpin teladan; ia memiliki catatan buruk di bidang hak asasi dan kemerdekaan berpendapat, misalnya. Namun langkah menyerang Libya juga satu catatan buruk yang kini telah tertoreh di buku sejarah dunia.

Konteks dan perspektif besar di atas seyogianya menjadi panduan para wartawan peliput perang Libya, sehingga para wartawan tersebut tidak akan dengan mudah terjebak dalam sikap berpihak kepada salah satu kubu (dalam hal ini, sebagian besar wartawan, terutama dari negara-negara Barat, menunjukkan keberpihakan atau setidaknya simpati mereka kepada kelompok pemberontak Benghazi). Hanya itulah satu-satunya cara memperkaya pemahaman publik. Jika ini tak berhasil dilakukan, akan dengan mudah hasil liputan wartawan yang sebagian besar menempel ke kelompok pemberontak mengandung bias yang bisa menyesatkan, atau setidaknya menyajikan potret yang tak lengkap mengenai satu peristiwa penting yang kompleks, sebagai akibat minimnya konteks dan perspektif.

 

Posted in: Media