Aturan Pertambangan

Posted on April 24, 2012

0


UNDANG-UNDANG NOMOR 4 TAHUN 2009
TENTANG
PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang :

a, bahwa mineral dan batubara yang terkandung dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia merupakan kekayaan alam tak terbarukan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Es a yang mempunyai peranan penting dalam memenuhi hajat hidup orang banyak, karena itu pengelolaannya harus dikuasai oleh Negara untuk memberi
nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan;
b. bahwa kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara yang merupakan kegiatan usaha pertambangan di luar panas bumi, minyak dan gas bumi serta air tanah mempunyai peranan penting dalam memberikan nilai tambah secara nyata kepada pertumbuhan ekonomi  nasional dan pembangunan daerah secara berkelanjutan;
c . bahwa dengan mempertimbangkan perkembangan nasional mau pun internasional, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan sudah tidak sesuai lagi sehingga di butuhkan perubahan peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan mineral dan batubara yang dapat mengelola dan mengusahakan potensi mineral dan batubara secara mandiri, andal, transparan, berdaya saing, efisien, dan berwawasan lingkungan, guna menjamin pembangunan nasional secara berkelanjutan;

d . bahwa be rda s a rkan pertimbangan sebagaima.na dimaksud
da l am huruf a, huruf b, dan huruf c , perlu membentuk
Undang-Undarig t ent ang Pertambangan Mineral dan
Ba tuba r a ;
Pdengingat : Pasal 5 aya t ( I ) , Pasal 20 d a n Pasal 33 aya t ( 2 ) dan ayat ( 3 )
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia T i ~ h u n 1945;
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
d a n
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL
DAN BATUBARA.
BAB I
KETENTUAN U M U M
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Pertambangan ada l ah sebagian a t a u s e l u r u h t ahapan
kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan d a n
p e n g u s a h a a n mineral a t a u b a t u b a r a yang rneliputi
penyelidikan u m u m , e ksplorasi, s tudi kelayakan,
kons t ruks i , penambangan, pengolahan d a n pemurnian,
pengangltutan d a n penjualan, s e r t a kegiatan
pa s c a t ambang.
2. Mineral ada l ah senyawa anorganik yang terbentuk di
a l am, yang memiliki sifat fisik d a n kimia. tertentu serta
s u s u n a n kristal t e r a tur a t a u gabungailnya y a n g
membentuk ba.tuan, baik dalam bentuk lepas a t a u padu.
3. B a t u b a r a ada l ah e n d a p a n senyawa organik karbonan
yang terbentuk s e c a r a alamiah da r i s i s a tumbuh-
t u m b u h a n ,
4 . Pertarnbangan . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
4 . Pertambangan Mineral ada l ah pertambangan kumpulan
mineral yang be rupa bijih a t a u b a t u a n , di lua r p a n a s
bumi, minyak d a n gas bumi, s e r t a air t a n a h .
5. Pertambangan Ba tuba r a ada l ah pertambangan endapan
ka rbon yang terdapat di dalam bumi , t e rma suk bitumen
p a d a t , gambut, d a n b a t u a n a spa l .
6. Us aha Pertambangan ada l ah kegiatan dalarn rangka
p e n g u s a h a a n mineral a t a u b a t u b a r a yang meliputi
t a h a p a n kegiatarl penyelidikan u m u m , eksplorasi, s tudi
kelayakan, konstrultsi, penambangan, pengolahar: dan
pemurni an, pengangkutan d a n penjualan, s e r t a
pa s c a t ambang.
7 . Izin Us aha Pertambangan, yang selanjutnya disebut IUP,
a d a l a h izin u n t u k me l aks anakan u s a h a p e r t amb a i ~ g a n .
8. IUP Eksplorasi ada l ah izin u s a h a yang diberikan untuk
melakukan t a h a p a n kegiatan penyelidikan unium,
eksplorasi, d a n s t u d i kelayakan.
9. IUP Operasi Produksi ada l ah izin u s a h a yang dlberikan
setelah selesai pelaksanaan IUP Eksplorasi u n t u k
melakukan t a h a p a n kegiatan operasi produl.:si.
10. Izin Pertambangan Rakyat, yang selanjutnya disebut IPR,
ada l ah izin u n t u k me l aks anakan u s a h a pertambangan
da l am wilayah pertambangan rakyat dengan lua s wilayah
d a n investasi t e rba t a s .
1 1. Izin Usaha Pertambangan Khusus , yang selanjutnya
di s ebut dengan IUPK, ada l ah izin u n t u k melaksanakan
u s a h a pertambangan di wilayah izin u s a h a pertambangan
k h u s u s .
12. IUPK Eksplorasi ada l ah izin u s a h a yang diberikan u n t u k
melakukan t a h a p a n kegiatan penyelidikan umum,
eksplorasi, d a n s t u d i kelayakan di wilayah izEn u s a h a
pe r t ambangan k h u s u s .
13. IUPK Operasi Produksi ada l ah izin u s a h a yang diberikan
setelah selesai pe l aks ana an IUPIC Eksplorasi u n t u k
me l akukan t a h a p a n kegiatan operasi produksi di wilayah
izin u s a h a pertambangan k h u s u s .
14. Pznyeiidikan . . . 14. Penyelidikan Umurn ada l ah t a h a p a n kegiatan
pertambangan u n t u k mengetahui kondisi geologi regions1
d a n indikasi adanya mineralisasi.
1 5. Eksplorasi adalah t a h a p a n kegiatan u s a h a pertambangan
u n t u k memperoleh informasi s e c a r a terperincl dan teliti
t ent ang lokasi, bentuk, dimensi, s e b a r a n , kualitas dan
s umb e r daya t e rukur dari b a h a n galian, s e r t a infoi-masi
mengenai lingkungan sosial d a n lingkungan hidup.
16. S t u d i Kelayakan ada l ah t a h a p a n kegiatan usaha
pe r t ambangan u n t u k memperoleh informasi secara rinci
s e l u r u h a spek yang berkaitan u n t u k ~ n e n e n l u k a n
kelayakan ekonomis d a n t ekni s u s a h a pertambangan,
terxnasuk analisis mengenai d amp a k lingkungan s e r t a
perencanaan pascatambang.
17. Operasi Produksi ada l ah t a h a p a n kegiatan u s a h a
pertambangan yang meliputi kons t ruks i , penarnbangan,
pengolahan, pemurni an, t e rma s u k pengangkutan d a n
penjua l an, s e r t a s a r a n a pengendalian d amp a k lingkvrigan
s e sua i dengan hasil s tudi kelayakan,
18. Konstruksi adalah kegiatan u s a h a pertambangan u n t u k
melakukan pembangunan s e l u r u h fasilitas operasi
produksi, t.ermasuk pengendalian d amp a k lingkungan.
19. Penambangan ada l ah bagian kegiatan u s a h a
pe r t ambangan u n t u k memproduksi mineral dan: a t a u
b a t u b a r a d a n mineral ikut annya .
20. Pengolahan d a n Pemurnian ada l ah kegiatan u s a h a
pertambangan u n t u k meningkatkan m u t u mineral
d a n / a t a u b a t u b a r a s e r t a u n t u k memanfaatkan d a n
memperoleh mineral iltutan.
2 1. Pengangkutan ada l ah kegiatan u s a h a pertamhangan
u n t u k rnemindahkan mineral d a n / a t a u b a t u b a r a dari
d a e r a h t ambang d a n / a t a u t empa t pengolahan dan
pemurni an sampai ternpat penye r ahan.
2 2 . Penjualan adalah kegiatan u s a h a pertambangan u n t u k
menjual hasil pertambangan mineral a t a u b a t u b a r a .
2 3 . Badan Usaha ada l ah setiap badan h u k u m yang bergerak
di bidang pertambangan yang didirikan berdasarkan
h u k u m Indonesia d a n be rkedudukan dalam wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
24. J a s a . . . . 24. J a s a Pertambangan ada l ah j a s a penunjang yang
berkaitan d e ~ i g a n kegiatan u s a h a pertambangan.
25. Analisis Mengenai Dam.pak Lingkungan, yang selanjutnya
disebut amclal, ada l ah kajian mengenai dampak besar d a n
penting s u a t u u s a h a da r r / a t a u kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan h i d u p yang diperlukan
bagi proses pengambilan k e p u t u s a n tentang
penyelenggaraan u s a h a d a n / a t a u kegiatan.
26. Heklamasi a i a l a h kegiatan yang dilakukan sepanjang
t a h a p a n u s a h a pertambangzn u n t u k menata,
memulihkan, d a n inemperbaiki kua l i t a s lingkungan d a n
ekosistem agar dapa t berfungsi kembali s e sua i
pe runtukannya .
27. Kegjatan pascatambang, yang selanjutnya disebut
pascatambang, ada l ah kegiatan terencana, sistematis,
d a n berlanjut setelah akhi r sebagian a t a u s e luruh
kegiatan u s a l ~ a perta,mbangan u n t u k memuiihkan fungsi
lingkungan alam d a n fungsi sosial me n u r u t kondisi lokal
di s e luruh wilayah penambangan.
28. Pemberdayaan Masyarakat ada l ah u s a h a u n t u k
meningkatkan kemampuan ma sya r aka t , baik secara
individual ma u p u n kolelctif, aga r menjadi lebih baik
tingkat kehidupannya.
29. Wilayah Pertarnbangan, yang selanjutnya disebut WP,
ada l ah wilayah yang memiliki potensi mineral d a n / a t a u
b a t u b a r a d a n tidak terikat ciengar, b a t a s a n administrasi
pemerintahan yang v e r u p a k a n bagian dari t a t a r u a n g
nasional.
30. Wilayah Usaha Perta’mbangan, yang selanjutnya disebut
WUP, adalah bagian dari WP yang telah memi’iki
ketersediaan dat.a, potensi, d a n / a t a u informasi geologi.
31. Wilayah Izin Usaha Pertarr~bangan, yang selanjutnya
disebut WIUP, adalah wilayah yang diberikan kepada
pemegang IUP.
3 2 . Wilayah P e r t a m b a n g ~ n Rakyat, yang selanjutnya disebut
WPR, ada l ah baginn ldari WP t empa t d i l a ~ u k a n kegiatan
u s a h a pertambangan -akyat.
33. Wilayah Fencadangan Negara, y a n g selanjutnya disebut
WPN, adalah bagiafi dari W P y a n g dicadangkan u n t u k
kepentingan strategis ~ a s i o n a l .
34. Wilayah . . . 34. Wilayah Usaha Pertambangan Khusus yang selanjutnya
di s ebut WUPK, addlah bagian da r i WPN yang dapnt
d i u s a h a k a n .
35. Wilayah Izin Usaha I’ertambangan Khusus dalam WUPK,
yang selanjutnya disebut WIUPK, ada l ah wilayah yang
diberikan kepada pemegang IUPK.
3 5 . Pemerintah Pus a t , yang selarljutnya di s ebut Pemerintah,
ada l ah Presiden Rc publik Indonesia yang memegang
kekua s a an Pemerintal-lan Negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud cialam Undang-Undang Dasar
Negara Zepublik Indonesia T a h u n 1945.
37. Pemerintah daerah ada l ah g u b e r n u r , bupati a t a u
walikota, dan perangkat da e r ah sebagai u n s u r
penyelenggaraan pemerintahan d a e r a h .
38. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan u r u s a n
pemerintahari di bidang pe r t ambangan mineral d a n
ba tuba r a .
BAB I1
A S A S DAN ‘I’UJUAN
Pasal 2
Pertambangan mineral d a n / : ~ t a u b a t u b a r a dikelola
be r a s a skan:
a. manf a a t , keadilan, dan keseimkangan;
b. keberpihakan kepadti kepentingan bangsa;
c. partisipatif, t r anspa r ans i , d a n akuntabilitas;
d. berkelanjutan d a n benvawasan lingkungan.
Pasal 3
Dalam rangka mendukung pembangunan nasional yang
berkesinanibungan, tujuan pengeiolaan mineral d a n ba tuba r a
adalah:
a . menjamin e f ekt ivids pelaksanaan dar. pengendalian
kegiatan u s a h a peA-tambangan secara berdaya g u n a ,
berhasil guna, dan berdaya saing;
b. menjamin nlanfaat pertambangan mineral dan ba tuba r a
secars berkelaajutan d a n benvawasan lingkungan hidup;
c. menjamin . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
c. menjamin tersedianya mineral d a n b a t u b a r a sebagai b a h a n
h a k u d a n / a t a u sebagai s umb e r energi u n t u k kebutuhan
da l am negeri;
d . rnendukung d a n menumbuhkembangkan kenlampuan
nasional agar lebih mamp u bersaing di tingkat nasioiial,
regional, da11 internasional;
e. meningkatkan pendapa t an ma sya r aka t lokal, daerah, dan
negara, s e r t a menciptakan lapangan kerja uiituk sebesar-
besar kesejahteraan rakyat; d a n
f . menjamin kepastian h u k u m da l am penyelenggaraan
kegiatan u s a h a pertam bangan mineral d a n b a t u b a r a .
B A B 111
P E N G U A S A A N M I N E R A L DAN BATUBARA
Pasal 4
(1) Mineral d a n b a t u b a r a sebagai s umb e r daya d a r n yang tak
t e r b a r u k a n rnerupakan kekayaan nasional yang dikuasai
oleh negara u n t u k sebesar-besar kesejahteraan rakyat.
(2) Pengua s a an mineral d a n b a t u b a r a oleh negara
sebagaimana dimaksud pada aya t (1) diselenggarakan
oleh Pemerintah d a n / a t a u pemerintah d a e r a h .
Pasal 5
( I ) Untuk kepentingan nasional, Pemerin tah setelah
berkonsultasi dengan Dewan Penvakilan R a k y a t Hepublik
Indonesia dapa t menetapkan kebijakan pengutamaan
mineral d a n / a t a u b a t u b a r a u n t u k kepentingan dalam
negeri.
(2) Kepentingan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) d a p a t dilakukan dengan pengendalian produksi d a n
ekspor.
( 3 ) Dalam melaksanakan pengendalian sebagaimana
dimaksud pada aya t (2), Pemerintah mempunyai
kewenangan u n t u k menetapkan jumlah prodlxksi tiap-tiap
komoditas per t a h u n setiap provinsi.
(4) Pemerintah da e r ah wajib mema tuhi ke t entuan jumlah
yang ditetapkan oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud
pada aya t ( 3 ) .
(5) Ketentuan . . . P R E S l D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
( 5 ) Ketentuan lebih l anjut mengenai pengut ama an mineral
d a n / a t a u b a t u b a r a u n t u k kepentingan dalam negeri
s ebaga imana dimaksud pada aya t (1) d a n pengentlalian
produksi d a n ekspor sebagaimana dimaksud pada ayat
( 2 ) d a n aya t ( 3 ) di a tur dengan pe r a tur an pemerjntah.
BAB IV
KELWENADTGAN PENGELOLAAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA
Pasal 6
(1) Kewenangan Pernerintah da l am pengelolaan
pe r t ambangan mineral d a n b a t u b a r a , a n t a r a lain, adalah:
a . pene t apan kebijakan nasional;
b. pembua t an pe r a tur an pe rundang – u n d a n g a n ;
c . penetapan s t a n d a r nasional, pedoman, d a n kriteria;
d . penetapan sistem perizinan pertambangan mineral clan
b a t u bara nasional;
e. penetapar1 WP yang dilakukan setelah berkoordinasi
dengan pemerintah da e r ah d a n berkonsultasi dcngan
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia;
f . pemberian IUP, pembinaan, penyelesa ia n ltorlflik
ma sya r aka t , d a n pengawasan u s a h a pertarnbangan
yang berada pada l int a s wilayah pruvinsi d a n / a t a u
wilayah l a u t lebih dari 12 ( d u a belas) mil dari garis
pant a i ;
g. pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik
ma sya r aka t , d a n pengawasan u s a h a pe~.tambarigan
yang lokasi penambangannya be r ada pada lintas
wilayah provinsi d a n / a t a u wilayah l a u t lebih dari 12
( d u a belas) mil dari garis pant a i ;
h . pemberian IUP, pembina an, penyelesaian koilflik
ma sya r aka t , dan pengawasan u s a h a pertambangan
operasi produksi yang herdampak lingkurlgan
langsung Iintas provinsi d a n / a t a u dalanl wilsyah l aut
lcbih da r i 12 ( d u a belas) mil da r i garis pantai;
i. pemberian I U P K Eksplorasi d a n I U P K Operasi
Produksi;
j . pengevaluasian IU P Operasi Produksi, yang
dikeluarkarl oleh pemerintah d a e r a h , yan.g telah
nlenimbulkan ke rus akan lingkungan s e r t a yang tidak
mene r apkan kaidah pe r t ambangan yang baik; P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
k . p ene t apan kebijakan produksi, pe rna s a r a r~,
pemanfaatan, d a n konservasi;
– penetapan kebijakan kerja s a m a , kemitraan, dan
pemberdayaan masyarakat;
m. p e r umu s a n d a n pene t apan penerimaan ilegara bukan
pajak da r i hasil u s a h a pe r t ambangan mineral d a n
b a t u b a r a ;
n . pembinaan d a n pengawasan penyelenggaraan
pengelolaan pe r t ambangan mineral d a n b a t u b a r a y ang
di l aks anakan oleh pemerintah da e r ah;
o. pembinaan d a n pengawasarl p e n y u s u n a n peraturan
da e r ah di bidang pe r t ambangan;
p. penginventarisasian, penyelidikan, d a n penelitian serta
eksplorasi dalam r angka memperoleh d a t a d a n
informasi mineral d a n b a t u b a r a sebagai bahan
penyusunan WlJP d a n WPN;
q. pengelolaan informasi geologi, informasi pvtensi
s umb e r daya mineral d a n b a t u b a r a , s e r t a informasi
pe r t ambangan pada t-ingkat nasional;
r. pembinaan d a n pengawasan t e r h a d a p reklamasi l ahan
pa s c a t ambang;
s. p e n y u s u n a n ne r a c a s umb e r daya mineral d a n
b a t u b a r a tingkat nasional;
t. pengembangan d a n peningkatan nilai t ambah kegiatan
u s a h a pertambangan; d a n
u . peningkatan kemampuan a p a r a t u r Pernerintah,
pemerintah provinsi, d a n pemerintah kabupa r enlkot a
dalam penyelenggaraan pengelolaan u s a h a
pertambangan.
(2) Kewenangan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada
aya t (1) di l aks anakan s e sua i dengan ketent.uan pe r a tur an
pe rundang-un dangan.
Pasal 7
(1) Kewenangan pemerintah provinsi dalam pengelolaan
pertambangarl mineral d a n b a t u b a r a , a n t a r a lain, adalah:
a . pembua t an pe r a tur an perundang-undanga.n da e r ah;
b. pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konf?ik
ma sya r aka t d a n pengawasan u s a h a pertambangan
pada lintas wilayah k a b u p a t e n j k o t a d a n / a t . a u wilayah
l a u t 4 (empat) mil sampai dengan 12 ( d u a belas) mil; P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
c . pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik
ma sya r aka t d a n pengawasan u s a h a pertambangan
operasi produksi yang kegiatannya bernda pada lintas
wilayah k a b u p a t e n l k o t a d a n / a t a u wilayah l a u t 4
(empat) mil s ampa i dengan 12 ( d u a belas) mil;
d . pemberian IUP, pembinaan, penye1esaia.n konflik
ma sya r aka t d a n pengawasan u s a h a pertambangan
yang berdampak lingkungan langsung l i n t ~ s
kabupa t en / kota d a n / a t a u wilayah laut 4 (em pat) mil
s ampa i dengan 12 ( d u a belas) mil;
e. penginventarisasian, penyelidikan d a n penclitian s e r t a
eksplorasi dalam r angka memperolsh d a t a d a n
informasi mineral d a n b a t u b a r a s e sua i dengan
kewenangannya;
f. pengelolaan informasi geologi, inforinasi potensi
s umb e r daya mineral d a n b a t u b a r a , serta. i n f ~ r m a s i
pertambangan pada da e r ahlwi l ayah provinsi;
g. p e n y u s u n a n neraca s umb e r daya mineral d a n
b a t u b a r a pada da e r ahlwi l ayah provinsi;
h . pengembangan clan peningkatan nilai t ambah kegiatar,
u s a h a pertambangan di provinsi;
i . pengcmbangan d a n peningkatan p e r a n serta
ma sya r aka t dalam u s a h a pertambarlgari dengari
memperhatikan kelestarian lingkungan;
j . pengoordinasian perizinan d a n pen gawasan
penggunaan b a h a n peledak di wilayah tam bang sesuai
dengan kewenangannya;
k . penyampaian informasi hasil inventari s a s i ,
penyelidikan umum, d a n penelitian s e r t a eksplorasi
kepada Menteri d a n bupa t i / walikota;
1. penyampaian informasi hasil produ ksi, penjualan
dalam negeri, s e r t a ekspor kepada Menteri d a n
b u p a t i / walikota;
m . pembinaan d a n pengawasan t e rhadap reklamasi l ahan
pasca tambang; d a n
n. peningkatan kemampuan a p a r a t u r pemerintah
provinsi d a n pemerintah k a b u p a t e n l k o t a dalam
penyelenggaraan pengelolaan u s a h a pertambangan.
( 2 ) Kewenangan pemeriiltah provinsi sebagaimana dirnaksud
pada aya t (1) dilaksanakan s e s u a i dengan ketentuan
peraturari pe rundang-undangan.
Pasal 8 . . . P E E S I D E N
H E P U R L I K I N D O N E S I A
( 1) Kewenangan pemerintah k a b u p a t e n l lcota dalam
pengelolaan pertambangan mineral d a n ba tuba r a . a n t a r a
lain, adalah :
a. pembuatarl pe r a tur an pe rundang-undangan da e r ah;
b. pemberian I U P d a n IPR, pembinaari, penyelesaian
konflik ma sya r aka t , d a n pengawasan u s a h a
pertambangan di wilayah k a b u p a t e n / kota d a n / a t a u
wilayah l a u t s ampa i dengan 4 (empat) mil;
c. pemberian IUP d a n IPR, pembinaan, penyelesaian
konflik ma sya r aka t d a n pengawasan u s a h a
pertambangan operasi produksi yang kegiatannya
berada di wilayah k a b u p a t e n l kota d a n , ‘ a t a u syilayah
l a u t sampa-i dengan 4 ( empa t ) mil;
d . penginventarisasian, penyelidikan clan penelitian, s e r t a
eksplorasi dalam rangka memperoleh da t a d a n
informasi mineral d a n b a t u b a r a ;
e. pengelolaan informasi geologi, inrorrnasi potensi
mineral d a n b a t u b a r a , s e r t a informasi pertarnbangan
pada wilayah k a b u p a t e n l kota;
f. p e n y u s u n a n ne r a c a s umb e r daya rnineral dan
b a t u b a r a pada wilayah k a b u p a t e n l kota;
g. pengembangan d a n pemberdayaan masyarakat
s e t empa t dalam u s a h a pe r t ambangan dengan
memperhatikan kelestarian lingkungan;
h . pengembangan d a n peningkatan nilai t ambah d a n
manf a a t kegiatan u s a h a pe r t ambangan secara optimal;
i. penyampaian i n f o r ~ n a s i hasil inventarisasi,
penyelidikan u m u m , d a n penelitian, s e r t a eksplorasi
d a n eksploitasi kepada Menteri d a n gube rnur ;
j. penyampaian informasi hasil produlcai, penj ualan
da l am negeri, s e r t a ekspor kepada Menteri dan
gube rnur ;
k. pembinaan d a n pengawasan t e rhadap reklamasi
l a h a n pascatambang; d a n
1. peningkatan kemampuan a p a r a t u r pemerintah
k a b u p a t e n l kota dalam penyelenggaraan pengelolaan
u s a h a pertambangan.
(2) Kewenangan pemerintah k a b u p a t e n l kota sebagaimana
dimaksud pada aya t (1) di l aks anakan sesuai dengan
keten t u a n pe r a tur an pe rundang-undangan .
BAE V P R E S l D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
BAB V
WILAYAH P E R T A M B A N G A N
Bagian Kesatu
Umum
(1) WP sebagai bagian dari tat.a r u a n g nasional merupakan
l a n d a s a n bagi penetapan kegiatan pe r t ambangan.
( 2 ) WP sebagairnana dimaksud p a d a aya t (1) ditetapkan oleh
Pemerintah setelah berkoordinasi dengan pemerintah
d a e r a h d a n berkonsultasi dengan Dewan IJerwakilan
Rakyat Republik Indonesia.
Pasal 10
Penetapan WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 v a t (2)
di l aks anakan:
a . s e c a r a t r a n s p a r a n , partisipatif, d a n bertanggung j awab;
b. s e c a r a terpadu dengan rnemperhatikan pendapat dari
ins t ans i penzerintah terkait, ma sya r aka t , dan d e r ~ g a n
mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial
budaya, s e r t a berwawasan lingkungan; d a n
c . dengan rnemperhatikan aspirasi d a e r a h .
Pasal 11
Pemerintah d a n pemerintah d a e r a h wajib nlelakukan
penyelidikan d a n penelitian pertambangan dalam rangka
penyiapan WP.
Pasal 12
Keten t u a n lebih l a r ~ j u t mengenai b a t a s , l u a s , dan rnekanisme
pene t apan W P sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 Pasal
10, d a n Pasal I 1 di a tur dengan peraturarl pemerintah.
Pasal 13
WP terdiri a t a s :
a. WUP;
b. WPR; d a n
c. WPN.
Bagian Kedua . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Bagian Kedua
Wilayah Usaha Pertambangan
Pasal 14
(1) Penetapan WUP dilakukan oleh Pemerintah setelah
berkoordinasi dengan pemerintah da e r ah d a n
disampaikan s e c a r a tertulis kepada Dewan Penvakilan
Rakyat Hepublik Indonesia.
( 2 ) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
di l akukan dengan pemerintah d a e r a h yang bersarlgkutan
be rda s a rkan d a t a d a n informasi yang dimiliki Peinerintah
d a n pemerintah d a e r a h .
Pasal 15
Pemerintah d a p a t melimpahkan sebagian kewenzngannya
da l am penetapan W U P sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14
aya t (1) kepada pemerintah provinsi s e s u a i dengan ke t entuan
p e r a t u r a n pe rundang-undangan.
Pasal 16
S a t u WUP terdiri a t a s 1 ( s a t u ) a t a u beberapa WIUP yang
be r ada pada lintas wilayah provinsi, lintas wilayah
k a b u p a t e n / kota, d a n / a t a u dalam 1 ( s a t u ) wilayah
k a b u p a t e n l kota.
Pasal 17 4
1
Luas d a n b a t a s WIUP mineral logam d a n b a t u b a r a ditetaplcan
oleh Pemerintah berkoordinasi dengan pemerintall daerah
b e r d a s a r k a n kriteria yang dimiliki oleh Pemerintah.
Pasal 18 i I
Kriteria u n t u k menetapkan 1 ( s a t u ) a t a u beberapa WIUP 4
da l am 1 ( s a t u ) WUP ada l ah sebagai berikut:
a . letak geografis;
b. ka idah konservasi;
c . daya d u k u n g lindungan lingkungan;
d . optimalisasi sumbe r daya mineral d a n / a t a u ba tuba r a ;
i
Y
d a n j
e . tingkat kepada t an penduduk.
Pasal 19 P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Pasal 19
Ketentuan lebih l anjut nlengenai t a t a c a r a penetapan ba t a s
d a n l u a s WIUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dictur
dengan pe r a tur an pemerintah.
Bagian Ketiga
Wilayah Pertambangan Rakyat
Pasal 2 0
Kegiatan pertambangan rakyat di l aks anakan dalarn s u a t u
WPR.
WPR sebagaimana dimaksud da l am Pasal 20 ditetapkan oleh
bupati/walikota setelah berkonsultasi dengan Dewan
Penvakilan Rakyat Daerah k a b u p a t e n / kota.
Pasal 22
Kriteria u n t u k nienetapkan WPR adalah. sebagai be14tut:
a . mempunyai cadangan mineral s e k u n d e r yang terdapat di
sunga i d a n / a t a u di a n t a r a tepi d a n tepi sunga i ;
b. mempunyai c adangan primer logam a t a u ba t-ubara
dengan kedalaman ~ n a k s i m a l 2 5 ( d u a p u l u h linla) meter;
c. e n d a p a n t e r a s , d a t a r a n banjir, d a n e n d a p a n sungai
purba ;
d . l u a s maksimal wilayah pe r t ambangan rakyat adalah 25
( d u a p u l u h lima) hektare;
e. menyebutkan jenis komoditas yang a k a n ditambang;
d a n / a t a u
f . rxerupakan wilayah a t a u t empa t kegiatan tarnbang
r akya t yang s u d a h dikerjakan sekurang-kurangny a 15
(lirna belas) t a h u n .
Pasal 2 3
Dalam mene t apkan WPR sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2 1, bupati/walikota berkewajiban me l akukan pengumurnan
mengenai r enc ana WPR kepada ma sya r aka t secara terbuka. P R E S I D E N
R E P U B L I K I N G O N E S I A
Wilayah a t a u tempat kegiatan t ambang rakyat yang s u d a h
dikerjakan tetapi belum ditetapkan sebagai WPR
diprioritaskan u n t u k ditetapkan sebagai WPR.
Pasal 2 5
Ketentuan lebih l anjut mengenai pedoman, prosedur, dan
pene t apan WPR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 1 dan
Pasal 2 3 d i a t u r dengan pe r a tur an pemerintah.
Pasal 2 6
Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria d a n mekanisme
pene t apan WPR, sebagaimana dimaksud dalam Pa.sal 2 2 d a n
P a s a l 2 3 d i a t u r dengan pe r a tur an d a e r a h kabupat e n / kota.
Bagian Keempat
Wilayah Pencadangan Negara
Pasal 27
(1)
I Jntuk kepentingan strategis nasional, Pemerintah dengan
pe r s e tujuan Dewan Penvakilan Rakyat Republik Indonesia
d a n dengan memperhatikan a spi r a s i d a e r a h nlenetapkan
WPN sebagai da e r ah yang dicadangkan u n t u k komoditas
t e r t entu d a n da e r ah konseivasi dalam rangka menjaga
keseimbangan ekosistem dan lingkungan.
( 2 ) WPN yang ditetapkan u n t u k komoditas tertentu
sebagaimana dimaksud pada aya t (1) d a p a t dius ahakan
sebagian l u a s wilayahnya dengan persetrljuarl Dewan
Perwakilan Rakyat Rcpublik Indonesia.
( 3 ) WPN yang ditetapkan u n t u k konservasi sebagaimana
dimaksud pada aya t (1) di t entukan b a t a s a n waktu dengan
pe r s e tujuan Dewan Penvakilan Rakyat Republik
Indonesia.
(4) Wilayah yang a k a n d i u s a h a k a n sebagaimana dimaksud
pada aya t (2) dan ayat (3) berubah statusnya rncnjadi
WUPK. P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Pe rubahan s t a t u s WPN sebagaimana dimaksud daiam Pasal
2 7 aya t ( 2 ) , ayat ( 3 ) , dan ayat (4) menjadi WUE’K dapa t
di l akukan dengan mempertimbangkan:
a. pemenuhan b a h a n baku industri d a n energi dalam negeri;
b. s umb e r devisa negara;
c . kondisi wilayah dida s a rkan pada ke t e rba t a s an s a r a n a d a n
p r a s a r a n a ;
d . berpotensi u n t u k dikembangkan sebagai p u s a t
p e r t umb u h a n ekonomi;
e. daya d u k u n g lingkungan; d a n / a t a u
f . penggunaan tekxlologi tinggi d a n modal investasi y a n g
be s a r .
Pasal 29
( I ) WUPK sebagaimana dimaksud da l am Pasal 2 7 ayat (4)
yang a k a n d i u s a h a k a n ditetapkan oleh Penlerirltah
setelah berkoordinasi dengan pemerintah d a e r a h .
(2) Pelaksanaan kegiatan u s a h a pe r t ambangan di -vVUPK
s ebaga imana d.imaksud pada aya t (1) dilakukan dalam
b e n t u k IUPK.
S a t u WUPK terdiri a t a s 1 ( s a t u ) a t a u beberapa WIUPK yang
be r ada pada l int a s wilayah provinsi, l int a s wilayah
k a b u p a t e n / kota, d a n / a t a u dalam 1 ( s a t u ) wilayah
k a b u p a t e n / kota.
Pasal 31
Luas dan b a t a s WIUPK mineral logam d a n ba tuba r a
ditetapkan oleh Pelnerintah berkoordinasi dengan pernerintah
d a e r a h be rda s a rkan kriteria d a n informasi yang dimiliki oleh
Pemerintah.
Pasal 32
Kriteria u n t u k menetapkan 1 ( s a t u ) a t a u beberapa U’IUPK
da l am 1 ( s a t u ) WUPK ada l ah sebagai berikut:
a . letak geografis . . . P R E S I O E N
R E F U B L I K I N D O N E S I A
a. letak geografis;
b. ka idahkons e rva s i ;
c. daya d u k u n g lindungan lingkungan;
d . optimalisasi sumbe r daya mineral d a n / a t a u ba tuba r a ;
d a n
e . tingkat kepada t an penduduk.
Pasal 33
Ketentuan lebih l anjut mengenai t a t a c a r a penetapan lua s d a n
b a t a s WIUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 dan
Pasal 32 d i a t u r dengan pe r a tur an pemerintah.
B A R VI
U S A H A P E R T A M B A N G A N
Pasal 34.
(1) Us aha pertambangan dikelompokkan a t a s :
a . pertambangan mineral; d a n
b. pertambanqan b a t u b a r a .
( 2 ) Pertambangan mineral sebagaimana dimaksud pada aynt
(1) huruf a digolongkan a t a s :
a . pertambangan mineral radioaktif;
b. pertambangan mineral logam;
c . pertambangan mineral b u k a n logam; d a n
d. pertambangan b a t u a n .
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan s u a t u
komoditas t ambang ke da l am s u a t u golongan
pertambangan mineral sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) d i a t u r dengan p e r a t u r a n pemerintah.
Pasal 35
Usaha pertambangan sebagainlana dinlaksud dalam Pasal 34
di l aks anakan dalarri bentuk:
a . I U P ;
b. I P R ; d a n
c . I U P K .
B A B VII P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
B A B VII
IZIN USAHA PERTAMBANGAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 36
(1)
I U P terdiri ata.s d u a t ahap:
a . I U P Eksplorasi meliputi kegiatan penyelidikan umum,
eksplorasi, d a n s t u d i kelayakan;
b. IUP Operasi Produksi meliputi kegiatan konstrrzksi,
penambangan, pengolahan d a n pemurni an, s e r t a
pengangkutan d a n penjualan.
( 2 ) Pemegang IUP Eksplorasi d a n pemegar,p, I U P Operasi
Produksi d a p a t melakukan sebagian a t a u s e lurvh
kegiatan sebagaimana dirnaksud p a d a aya t ( 1) .
IUP diberikan oleli:
a , bupati/walikota apabila WIUP berada di dalarn s a t u
wilayah k a b u p a t e n / kota;
b. g u b e r n u r apabila WIUP berada pada lintas wilayah
k a b u p a t e n / k o t a dalam 1 ( s a t u ) provinsi setelah
mendapa tkan rekomendasi da r i bupati/walikota seternpat
s e s u a i dengan ke t entuan pe r a tur an perundang-
~ n d a n g a n ; d a n
c . Menteri apabila WIUP berada p a d a lintas wilayah provinsi
setelah mendapatkan rekomendasi dari gubel-nur clan
bupati/walikota s e t empa t s e s u a i dengan ketentuan
p e r a t u r a n pe rundang-undangan.
Pasal 38
I U P diberikan kepada:
a . b a d a n u s a h a ;
b . koperasi; d a n
c . perseorangan. P R E S I D E N
R E P U B L – I K I N D O N E S I A
(1) IUP Eksplorasi sebagaimana dimaksud dnlam Pasal 36
aya t f1) huruf a wajib memua t ketentuaiz sekurang-
kurangnya :
a . n a m a p e r u s a h a a n ;
b. lokasi d a n l u a s ~ ~ i l a y a h ;
c . r e n c a n a u m u m t a t a ruang;
d . j aminan ke sungguhan;
e. modal investasi;
f . perpan.jangan waktu t a h a p kegiatan;
g. h a k d a n kewajiban pemegang IUP;
h . jangka waktu berlakunya t a h a p kegiatan;
i. jenis u s a h a yang diberikan;
j , r e n c a n a pengembangan d a n pemberdayaan
ma sya r aka t di sekitar wilayah pe r t ambangan;
k. perpajakan;
1. penyelesaian perselisihan;
m , i u r a n t e t ap d a n iur an eksplorasi; d a n
n . amdal.
(2) I U P Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 36 aya t (1) huruf b wajib memua t kctentuan
s ekur ang-kur angnya :
a . n a m a p e r u s a h a a n ;
b. l u a s .wilayah;
c. lokasi penambangan;
d. lokasi pengolahan d a n pemurni an,
e. pengangkutan d a n penjualan;
f. modal investasi;
g. jangka waktu berlakunya IUP;
h . j angka waktu t a h a p kegiatan;
i. penyelesaian masalah p e r t a n a h a n ;
j . lingkungan hidup t e rma suk reklamasi dan
pa s c a t ambang;
k. d a n a jaminan reklamasi d a n pa s c a t ambang;
1. perpanjarigan IUP;
m. h a k d a n kewajiban pemegang IUP;
n. r enc ana pengembangan d a n pernberdayaan
ma sya r aka t di sekitar wilayah pertambangan; P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
o. perpajakan;
p. penerimaan negara b u k a n pajak yang terdiri a t a s iur an
t e t ap d a n i u r a n produksi;
q. penyelesaian perselisihan;
r. keselanlatan d a n ke s eha t an kerja;
s. konservasi mineral a t a u b a t u b a r a ;
t . pemanfaatan barang, j a s a , d a n teknologi dalam negeri;
u . pene r apan kaidah keekonomian d a n keteknikan
pertambangan yang baik;
v. pengembangan tenaga kerja Indonesia;
w. pengelolaan d a t a mineral a t a u b a t u b a r a ; d a n
x. pengua s a an, pengembangan, d a n pene r apan teknologi
pertambangan mineral a t a u b a t u b a r a .
Pasal 40
(1) IUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 a y a t ( 1 )
diberikan u n t u k 1 ( s a t u ) jenis mineral a t a u b a t u b a r a .
( 2 ) Pemegang IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang
menemukan mineral lain di da l am WIUP yang dikelola
diberikan prioritas u n t u k mengus ahakannya .
( 3 ) Pemegang IUP yang bermaksud mengus ahakan mineral
lain sebagaimana dimaksud p a d a aya t ( 2 , wajib
mengajukan permohonan IUP b a r u kepa.da Menteri,
g u b e r n u r , d a n bupati/walikota s e s u a i dengan
kewenangannya.
(4) Pemegang IUP sebagaimana dimaksud pada ayat ( 2 ) dapa t
menyatakan tidak berminat u n t u k m e n g u ~ a h a k a n
mineral lain yang ditemukan t e r s ebut .
(5) Pemegang I U P yang tidak berminat u n t u k mengusahakan
mineral lain yang ditemukan sebagaimana dirrlaksud pada
aya t (4), wajib merljaga mineral lain t e r s ebut agar tidak
dimanf a a tkan pihak lain.
( 6 )
IUP u n t u k mineral lain sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) d a n ayat (5) d a p a t diberikan kepada pihak laill oleh
Menteri, gube rnur , d a n bupati/walikota s e sua i dengan
kewenangannya.
Pasal 4 1
IUP tidak d a p a t digunakan selain yang dimaksud dalam
pemberian IUP.
Bagian Kedua . P R E S I D E N
H E P U R L I K I N D O N E S I A
Bagian Kedua
I U P Eksplorasi
( I )
IUP Eksplorasi u n t u k pertambangan mineral lcrgam dapa t
diberikan dalam jangka waktu paling lama 8 (delapan)
t a h u n .
( 2 )
IUP Eksplorasi u n t u k pertambangan mineral bukan logam
d a p a t diberikan paling l ama dalam jangka waktu 3 (tiga)
t a h u n d a n mineral b u k a n logam jenis terteritu dapa t
diberikan dalam jangka waktu paling lama 7 ( t u j u h )
t a h u i i .
(3) IUP Eksplorasi u n t u k pe r t ambangan b a t u a n dapa t
diberikan dalam jangka waktu paling l ama 3 (tiga) t a h u n .
(4) IUP Eksplorasi u n t u k pe r t ambangan ba tuba r a dapa t
diberikan dalam jangka waktu paling la.rrla 7 ( t u j u h )
t a h u n .
(1) Dalam ha1 kegiatan eksplorasi d a n k e g i a t a ~ l s tudi
kelayakan, pemegang IUP Ektsplorasi yang mendapatkan
mineral a t a u b a t u b a r a yang tergali wajib melaporkan
kepada pemberi IUP.
(2) Pemegang IUP Eksplorasi yang ingin menjual mineral a t a u
b a t u b a r a sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
mengajukan izin s ement a r a u n t u k melakukan
pengangkutan d a n penjualan.
Izin s eme n t a r a s e b a g a i ~ n a n a dimaksud dalam Pasal 4 . 3 ayat (2)
diberikan oleh Menteri, gube rnur , a t a u bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya.
Mineral a t a u b a t u b a r a yang tergali sebagaimana dimaksud
da l am Pasal 4 3 dikenai iur an produksi.
Bagian Ketiga . . . P R E S I D E N
RE PUB L I K I N D O N E S I A
Bagian Ketiga
IUP Operasi Produksi
Pasal 46
(1) Setiap pemegang IUP Eksplorasi dijamin u n t u k
memperoleh IUP Operasi Produksi sebagai kelanjutan
kegiatan u s a h a pertambangannya.
(2) IUP Operasi Produksi d a p a t diberikan kepada badan
u s a h a , koperasi, a t a u perseorangan a t a s hasil pelelangan
WIUP mineral logam a t a u b a t u b a r a yang telah
mempunyai d a t a hasil kajian s t u d i kelayakan.
Pasal 47
(1)
IUP Operasi Produksi u n t u k pertambangan mineral logam
d a p a t djberikan dalam jangka waktu paling lama 2 0 ( d u a
puluh) t a h u n d a n d a p a t diperpanjang 2 ( d u a ) kali masing-
masing 10 ( s epuluh) t a h u n .
(2) IUP Operasi Produksi u n t u k pe r t ambangan mineral
b u k a n logam d a p a t diberikan dalam jangka waktu pading
lama 10 ( s epuluh) t a h u n d a n d a p a t diperpanjang 2 (dua )
kali masing-masing 5 (lima) t a h u n .
(3) IUP Operasi Produksi u n t u k pe r t ambangan mineral
b u k a n logam jenis t e r t entu d a p a t diberikan d a l a i ~ l jangka
waktu paling l ama 20 ( d u a puluh) t a h u n dan dapa t
diperpanjang 2 ( d u a ) kali masing-masing 1 0 ( s epuluh)
t a h u n .
(4)
IUP Operasi Produksi u n t u k pertambangan b a t u a r ~ dapa t
diberikan daiarn jangka waktu paling lama 5 (Iima) taliun
dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali maslng-masing 5
(lima) t a h u n .
(5) IUP Operasi Produksi u n t u k Pertambangan ba tuba r a
d a p a t diberikan dalam jangka waktu paling larna 20 (dua
p u l u h ) tahur, d a n d a p a t diperpanjang 2 (dual kali masing-
masing 10 ( s epuluh) t a h u n .
IUP Operasi Produksi diberikan oleh:
a . bupati/walikota apabila lokasi penambangan, lokasi
pengolahan d a n pemurnian, s e r t a pelabuhan b e r a d r d i
da l am s a t u wilayah k a b u p a t e n l kota;
b. gube rnur P R E S I D E N
R E P U B L l K I N D O N E S I A
b . g u b e r n u r apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan
d a n pemurni an, s e r t a pe l abuhan berada di dalarri
wilayah k a b u p a t e n l kota yang berbeda setelah
mendapa tkan rekomendasi dari bupa t i / walikota setempat
s e s u a i dengan ke t entuan p e r a t u r a n perundang-
u n d a n g a n ; d a n
c. Menteri apabila lokasi penambangan, lokasi pengolaharl
d a n pemurnian, s e r t a pe l abuhan berada di dalam
wilayah provinsl yang berbeda setelah mendapatkan
rekomendasi dari gubernu.r d a n bupatilwalikota setempat
s e s u a i d m g a n ke t entuan p e r a t u r a n perundang-
u n d a n g a n .
Pasal 49
Ketentuan lebih lanjut rnengenai t a t a c a r a pemberian IUR
Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 2 dan IUP
Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dulam Paaal 46
d i a t u r dengan pe r a tur an pemerintah.
Bagian Keempat
Pertambangan Mineral
Paragraf 1
Pertambangan Mineral Radioaktif
Pasal 5 0
W U P mineral radioaktif ditetapkan oleh Pemerintah dan
pengus aha annya di l aks anakan s e sua i dengan ketentuan
p e r a t u r a n pe rundang-undangan.
Paragraf 2
Pertambangan Mineral Logam
Pasal 5 1
W I U P mineral logarn diberikan kepada badan u s a h a , koperasi,
d a n perseorangan dengan c a r a lelang.
Pasal 52
(1) Pemegang IU?? Eksplorasi mineral logam diberi WIUP
dengan l u a s paling sedikit 5.000 (lima ribu) hektare d a n
paling banyak 100.000 ( s e r a t u s r ibu) kiektare.
(2) Psda . . . P R E S I D E N
R E P U B L I I < I N D O N E S I A
(2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi mineral
logam d a p a t diberilcan IUP kepada pihak lain urltuk
mengus ahakan mineral lain yang keterdapatanrlya
berbeda.
( 3 ) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dilakukan setelah mempertimbangkan pendapa t dari
pernegang IUP pertama.
Pasal 53
Pemegang IUP Operasi Produksi mineral logam diberi WIUP
dengan l u a s paling banyak 25.000 ( d u a p u l u h limn ribu)
hektare.
Paragraf 3
Pertambangan Mineral Bukan Logam
Pasal 5 4
W I l J P mineral bukan logam diberikan kepada badan u s a h a ,
koperasi, d a n perseorangan dengan c a r a permohonan wilayah
kepada pemberi izin sebagaimana dimaksud d a l a r r ~ P a s a l 3 7 .
Pasal 55
(1) Pemegang IUP Eksplorasi mineral b u k a n l o g a ~ n diberi
WIUP dengan l u a s paling sedikit 5 0 0 (lima r a t u s ) hektare
d a n paling banyak 25.000 ( d u a puluh lima ribu) hektare.
( 2 ) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi mineral
b u k a n logam d a p a t diberikan IUP kepada p i h a k lain
u n t u k mengus ahakan mineral lain yang keterdapatannya
berbeda.
( 3 ) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dilakukan setelah mempertimbangkan peildapat dari
pemegang I U P pertama.
Pemegang IUP Operasi Produksi mineral bukan logam diberi
WIUP dengan l u a s paling banyak 5.000 (lima ribu) hektare.
Paragraf 4 P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Para.graf 4
Pertambangan Ba tuan
Pasal 5 7
WIUP b a t u a n diberikan kepada badarl u s a h a , koperasi, d a n
perseorangan dengan c a r a permohonan wilayah kepada
pernberi izin sebagaimana dimaksud dalam P a s a l 3 7 .
(1) Pemegang I U P Eksplorasi b a t u a n diberi WIUP dengan l u a s
paling sedikit 5 (lima) hektare d a n paling hanyak 5.000
(lima ribu) hektare.
( 2 ) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi ba tuan
d a p a t diberikan IUP kepada pihak lain u n t u k
mengus ahakan mineral lain yang keterdapatannya
berbeda.
( 3 ) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat ( 2 )
dilakukan serelah mempertimbangkan pendapar dari
pemegang IUP pe r t ama .
Pemegang IUP Operasi Produksi b a t u a n diberi WIUP dengan
l u a s paling banyak 1.000 (seribu) hekt a r e .
Bagian Kelima
Pertambangan Ba tuba r a
WIUP b a t u b a r a diberikan kepada b a d a n u s a h a , koperasi, d a n
perseorangan dengan c a r a lelang.
(1) Pemegang IUP Eksplorasi Ba tuba r a diberi WIUP dengan
l u a s paling sedikit 5.000 (lima ribu) hektare d a n paling
banyak 50.000 (lima puluh ribu) hekt a r e .
(2) Pada . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
( 2 ) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Elcsplorasi
b a t u b a r a dapa t diberikan IUP kepada pihak lain u n t u k
mengus ahakan mineral lain yang keterdapatannya
berbeda.
(3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat ( 2 )
di l akukan setelah mempertimbangkan pendapat dari
pemegang IUP pertama.
Pasal 6 2
Pemegang IlJP Operasi Produksi b a t u b a r a diberi WIUP dens an
l u a s paling banyak 15.000 (lima belas ribu) hekt a r e .
Ketentuan lebih lanjut rnengenai t a t a c a r a memperoleh WiUP
s ebaga imana dimaksud dalam Pasal 51, Pasal 54, Pasal 57,
d a n Pa s a l6O di a tur dengan p e r a t u r a n pemerintah.
BAB VIII
PERSYARATAN PERIZINAN USAHA PERTAMBANGAN
Pasal 64
Pemerintah d a n pemerintah da e r ah s e sua i dengan
kewenangannya berkewajiban mengumumkan rencana
kegiatan u s a h a pertambangan di WIUP sebagaimana
dilnaksud dalam Pasal 16 s e r t a memberikan IUP Eksplorasi
d a n IUP Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalarn Pasal
36 kepada masyarakat secara t e rbuka .
(1) Badan u s a h a , koperasi, d a n perseorangan sebagainlaila
dimaksud dalam Pasal 5 1, Pasal 54, Pasal 5 7 , d a n Pasal
60 yang ~ n e l a k u k a n u s a h a pertambangan wajib
memenuhi persyaratan administratif, persyaratan teknis,
pe r sya r a t an lingkungan, d a n pe r sya r a t an finansial.
(2) Ketentuan lebih l anjut mengenai persyaratan
administratif, persyaratan teknis, persyaratan lingkungan,
d a n persyaratan finansial sebagaimana dimaksud pada
aya t (1) d i a t u r dengan pe r a tur an pemerintah.
BAB IX . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
BAB IX
IZIN PERTAMBANGAN RAKYAT
Pasal 66
Kegiatan pertambangan rakyat sebagaimana dim3ksud dalarrl
Pasal 20 dikelompokkan sebagai berikut:
a . pertambangan mineral logam;
b. pe r t ambangan mineral bukan logam;
c. pertambangan b a t u a n ; d a n / a t a u
d. pertarnbangan ba tuba r a .
Pasal 67
(1) Bupati/walikota memberikan IPR t e r u t ama ltewada
p e n d u d u k setempat, baik perseorangan ma u p u n
kelompok ma sya r aka t d a n / a t a u koperasi.
( 2 ) Bupati/walikota d a p a t melimpahkan kewenangan
pe l aks ana an pemberian IPR sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) kepada c ama t s e sua i dengan ke t entuan pe r a tur an
pe rundang-undangan,
( 3 ) Untuk memperoleh IPR sebagaimana dimaksud pada ayat
( I ) , pemohon wajib menyampaikan s u r a t permohonan
kepada bupa t i / walikota.
(1) Luas wilayah u n t u k 1 ( s a t u ) IPR yang d a p a t dibcrikan
kepada:
a . perseorangan paling banyak 1 ( s a t u ) hektare;
b. kelompok ma sya r aka t paling banyak 5 (lima) helrtare;
d a n / a t a u
c . koperasi paling banyak 10 ( s epuluh) hekt a r e .
(2)
IPR diberikan u n t u k jangka waktu paling lama 5 (lima)
t a h u n d a n d a p a t diperpanjang.
Pasal 69
Pemegang IPR berhak:
a . me n d a p a t pembinaan d a n pengawasan di bidang
keselamatan d a n ke s eha t an kerja, lingkungan, teknis
pertambangan, d a n manajemen da r i P eme r i n ~ a h
d a n / a t a u pemerintah da e r ah; d a n P R E S I U E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
b . rnendapat b a n t u a n modal s e s u a i dengan keten tual?
p e r a t u r a n pe rundang-undangan.
Pasal 70
Pemegang IPR wajib:
a . melakukan kegiatan penamba.ngan paling larnbat 3 ( t i p )
bulan setelah IPR diterbitkan;
b. mema tuhi pe r a tur an pe rundang-undangan dl bidang
keselamatan d a n ke s eha t an kerja pertambarlgari,
pengelolaan lingkungan, d a n memenuhi s t a n d a r yang
berlaku;
c . mengelola lingkungan hidup be r s ama pemerintah daerah;
d . membayar i u r a n tetap d a n i u r a n produksi; d a n
e. menyampaikan laporan pe l aks ana an kegiatan u s a h a
pe r t ambangan rakyat s e c a r a berkala kepada p e ~ n b e r i IPR.
Pasal 7 1 1
d
I
( I ) Selain kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70,
S
pemegang IPR dalam melakukan kegiatan pertambangan
1 t
rakyat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 wajib
menaati keteiltuan persyaratan teknis pertambangar?.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis
pertambangan sebagaimana dimaksud pada a p t (1)
d i a t u r dengan pe r a tur an pemerintah. 1
i
Ketentuan lebih l anjut mengenai t a t a c a r a pemberian IPR
d i a t u r dengan p e r a t u r a n da e r ah kabupatenl kota.
Pasal 73 4 a
f
i
(1) Pemerintah k a b u p a t e n / kota me l aks anakan pembinaan di
i
bidang pengus aha an, teknologi pertarnbangan, s e r t a
permodalan d a n pema s a r an dalam u s a h a meningkatkan
kemampuan u s a h a pertambangan rakyat.
( 2 ) Pemerintah k a b u p a t e n l kota bertanggung jawab terhadap 4
pengamanan teknis pada u s a h a pertambangan rakyat
1
yang meliputi: 1
a . keselamatan d a n ke s eha t an kerja;
j
b. pengelolaan lingkungan hidup; d a n
c. pa s c a t an-bang.
(3) Untuk . . .
j P R E S l D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
(3) Untuk melaksanakan pengamanan teknis sebagaimana
dimaksud pada ayat ( 2 ) ) pemerintah k a b u p a t e n / kota
i ~ a j i b mengangkat pejabat fungsional inspektur tambang
s e s u a i dengan ke t entuan p e r a t u r a n perundang-
u n d a n g a n .
(4) Pemerintah k a b u p a t e n / kota wajib mencata t hasil
produksi da r i s e l u r u h kegiatan u s a h a pertarnbangan
rakyat yang berada dalam wilayahnya d a n melaporkannya
s e c a r a berkala kepada Menteri d a n gube rnur seternpat.
BAB X
IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS
(1) IIJPK diberikan oleh Menteri dengan menlperhatikan
kepentingan d a e r a h .
(2) !UPK sebagaimana dimaksud pada aya t (1) diberikan
u n t u k 1 ( s a t u ) jenis mineral logam a t a u batubara. dalam 1
( s a t u ) WIUPK.
( 3 ) Pcmegang IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
yang menemukan mineral lain di da l am WIUFK yang
dikelola diberikan prioritas u n t u k mengus ahakannya .
(4) Pemegang IUPK yang be rmaksud mengus ahakan mineral
lain sebagaimana dimaksud pada aya t (21, wajib
mengajukan permohonan IUPK b a r u kepada Menteri.
(5) Pemegang IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat ( 2 )
d a p a t menyatakan tidak berminat u n t u k menglrsahakan
mineral lain yang ditemukan t e r s ebut .
(6) Pemegang IUPIC yang tidak bermin a t u n t u k
mengus ahakan mineral lain yang di t emukan sebagaimana
dimaksud pada ayat (4)) wajib menjaga mineral lain
t e r s ebut aga r tidak dimanfaatkan pihak lain.
( 7 )
IUPK u n t u k mineral lain sebagaimana dimaksud pada
aya t (4) d a n aya t (5) d a p a t diberikan kepada pihak lain
oleh Menteri.
Pasal 75
(1) Pemberian IUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74
aya t ( I ) dilakukan be rda s a rkan pertimbangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 8 . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
(2) IUPK sebagaimana dimaksud pada aya t (1) d a p a t
diberikan kepada badan u s a h a yang berbadan h u k um
Indonesia, baik be rupa b a d a n u s a h a milik negar-a, badan
u s a h a milik da e r ah, m a u p u n b a d a n u s a h a swasta.
(3) Badan u s a h a milik negara d a n b a d a n u s a h a milik da e r ah
sebagaimana dimaksud pada aya t (2) mendapa t PI-joritas
da l am mendapa tkan IUPK.
(4) Badan u s a h a swa s t a sebagaimana dimaksuld pada ayat (2)
u n t u k mendapa tkan IUPK di l aks anakan dengan c a r a
lelang WIUPK.
(1)
IUPK terdiri a t a s d u a t a h a p :
a . IUPK Eksplorasi meliputi kegiatan penyelidikan umum,
eksplorasi, d a n s t u d i kelayakan;
b. IUPK Operasi Produksi meliputi kegiatan k o n s t ~ u k s i ,
penambangan, pengolahan d a n pemurni an, s e r t a
pengangkutan d a n penjualan.
( 2 ) Pemegang IUPK Eksplorasi d a n pemegang IUPK Operasi
Produksi d a p a t melakukan sebagian a t a u s e luruh
kegiatan sebagaimana dimaksud pada aya t ( 1 ) .
(3) Ketentuan lebih l anjut mengenai t a t a c a r a memperolen
IUPK sebagaimana dimaksud pada aya t (1) diatur dengan
p e r a t u r a n pemerintah.
( 1) Setiap pemegang IUPK Eksplorasi dijarrlin u n t u k
memperoleh IUPK Operasi Produksi sebagai kelanjutan
kegiatan u s a h a pertambangannya.
( 2 )
IUPK Operasi Produksi d a p a t diberikan k-epada badan
u s a h a yang berbadan h u k u m Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 75 aya t (3) d a n aya t (4) yang telah
mempunyai d a t a hasil kajian s t u d i kelayakan.
IUPK Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat
( 1) huruf a s ekur ang-kur angnya wajib memua t :
a . n a m a p e r u s a h a a n ;
b . l u a s d a n lokasi wilayah;
c . r enc ana u m u m t a t a ruang; P R E S I D E N
H E P U B L I K I N D O h I E S I A
j ami n a n kesungguhan;
modal investasi;
perpanjangan waktu t a h a p kegiatan;
h a k d a n kewajiban pemegang IUPK;
jangka waktu t a h a p kegiatan;
jenis u s a h a yang diberikan;
r e n c a n a pengembangan d a n pemberdayaan masyarakat
di sekitar wilayah pertambangan;
perpaj a k a n ;
penyelesaian perselisihan ma s a l ah p e r t a n a h a n ;
i u r a n t e t ap d a n iur an eksplorasi; d a n
arndal.
IUPK Operasi Prodrtksi sebagaimana dimaksud dalarn Pa.sal 76
aya t (1) huruf b sekurang-kurangnya wajib memua t :
a . n a m a p e r u s a h a a n ;
b. l u a s wilayah;
c. lokasi penambangan;
d . lokasi pengolahan d a n pemurni an;
e . pengangkutan d a n penjualan;
f . modal investasi;
jangka waktu t a h a p kegiatan;
penyelesaian masalah p e r t a n a h a n ,
lingkungan hidup, t e rma suk reklamasi d a n
pascatambang;
d a n a jaminan reklamasi d a n j aminan pascatambang;
jangka waktu berlakunya IUPK;
perpanj angan IUPK;
h a k d a n kewajiban;
pengembangan d a n pemberdayaan masyarakat di sekitar
wilayah pertambangan;
o. perpajakan;
p.
i u r a n t e t ap d a n iur an produksi s e r t a bagian pendapatan
n e g a r a l d a e r a h , yang terdiri a t a s bagi hasil dari
k e u n t u n g a n bersih sejak berproduksi;
q. penyelesaian perselisihan;
r . keselamatan d a n ke s eha t an kerja;
s. konservasi mineral a t a u b a t u b a r a ;
t. pemanfaatan . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
t . pernanfaatan barang, j a s a , teknologi s e r t a kemarnpuan
rekayasa d a n r anc ang bangun dalam negeri;
u . penerapan kaidah keekonomian d a n keteknikan
pertambangan yang baik;
v . pengembangan tenaga kerja Indonesia;
w , pengelolaan d a t a mint:ral a t a u b a t u b a r a ;
x . pengua s a an, pengembangan d a n penerapan teknologi
pertambangan mineral a t a u b a t u b a r a ; d a n
y . divestasi s a h a m .
Pasal 80
IUPK tidak d a p a t digunakan selain yang dimaksud dalam
pemberian IUPK.
(1) Dalam ha1 kegiatan eksplorasi d a n keglatan s tudi
kelayakan, pemegang IUPK Eksplorasi yang mendapatkan
mineral logam a t a u h a t u b a r a yang tergali wajib
melaporkan kepada Menteri.
( 2 ) Pemegang IUPK Eksplorasi yang ingin menjual mineral
logam a t a u b a t u b a r a sebagairnana dimaksud pada ayat
(1) wajib mengajukan izin s ement a r a u n t u k melakukan
pengangkutan d a n penjualan.
(3) Izin s ement a r a sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diberikan oleh Menteri.
Mineral a t a u b a t u b a r a yang tergali sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 81 dikenai iur an produksi.
Pasal 83
Persyaratan l u a s wilayah d a n jangka waktu sesuai dengan
kelompok u s a h a pertambangan yang berlaku bagi penlegnng
I U P K meliputi:
a. l u a s 1 ( s a t u ) WIUPK u n t u k t a h a p kegiatan eksplorasi
pertambangan mineral logam diberikan dengan l u a s
paling banyak 100.000 ( s e r a t u s ribu) hektare.
b. l u a s 1 ( s a t u ) WIUPK u n t u k t a h a p kegiatan operasi
produksi pertambangan mineral logam diberikan dengan
l u a s paling banyak 25.000 ( d u a p u l u h lima ribu) hektare.
c. lua s . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O b I E S I A
c . l u a s 1 ( s a t u ) WIUPK u n t u k t a h a p kegiatan eksplorasi
pertambangan b a t u b a r a diberikan dengan l u a s paling
banyak 50.000 (lirna puluh ribu) hekt a r e .
d . l u a s 1 ( s a t u ) WIUPK u n t u k t a h a p kegiatan operasi
produksi pertambangan b a t u b a r a diberikan derlgan l u a s
paling banyak 15.000 (lima belas ribu) hektare.
e. jangka waktu IUPK Eksplorasi pertambangan mineral
logam d a p a t diberikan paling l ama 8 (delapan) t a h u n .
f. jangka waktu IUPK Eksplorasi pe r t ambangan ba tuba r a
d a p a t diberikan paling l ama 7 ( t u j u h ) t a h u n .
g.
jangka waktu IUPK Operasi Produksi mineral Yogam a t a u
b a t u b a r a d a p a t diberikan paling l ama 20 ( d u a puluh)
t a h u n d a n d a p a t diperpanjang 2 ( d u a ) kali masing-masing
10 ( s epuluh) t a h u n .
Ketentuan lehih lanjut mengenai t a l a c a r a memperoleh WIUPK
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat ( 2 ) d a i ~ ayat ( 3 ) ,
d a n Pasal 75 ayat (3) di a tur dengan pe r a tur an perrlerintah.
BAB XI
PERSYARATAN PERIZINAN USAHA PERTAMBANGAN KI-IUSIJS
Pasal 85
Pemerintah berkewajiban mengumumkan r enc ana kegiatan
u s a h a pertambangan di WIUPK sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 0 s e r t a memberikan IUPK Eksplorasi d a n IUPK Operasi
Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 6 kepada
ma sya r aka t s e c a r a terbuka.
Pasal 86
(1) Badan u s a h a sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat
(2) yang melakukan kegiatan dalam WIUPK wajib
memenuhi persyaratan administratif, persyaratan teknis,
persyaratan lingkungan d a n persyaratan finansia.1.
(2) Ketentuan lebih l anjut mengenai pcrsyara t an
administratif, persyaratan teknis, persyarataii lingkungan,
d a n persyaratan finansial sebagaimana dimaksud pada
aya t (1) di a tur dengan pe r a tur an pemerintah.
EAB XI1 . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
BAB XI1
DATA PERTAMBANGAN
Pasal 8 7
Untuk menunj ang penyiapan WP d a n pengembangan i lmu
penge t ahuan clan teknologi pertambangan, Menteri a t a u
gube rnur sesua.i dengan kewenangannya d a p a t menugasi
lembaga rise t negara da n / a t a u da e r ah u n t u k melakultan
penyelidikan d a n penelitian t ent ang pertambanga n .
Pasal 88
(1) Data yang diperoleh da r i kegiatan u s a h a pertambangan
me r u p a k a n d a t a milik Pemerintah d a n l a t a u pemerintah
d a e r a h s e sua i dengan kewenangannya .
(2) Da t a u s a h a pertambangan yang dimiliki pemerintah
d a e r a h wajib disampaikan kepada Pemerintah u n t u k
pengelolaan d a t a pertambangan tingkat nasional.
(3) Pengelolaan d a t a sebagaimana dimaksud pada ayat (:)
diselenggaraka n oleh Pemerintah d a n / a t a u peme rintah
d a e r a h s e sua i dengan kewenangannya.
Pasal 89
Ketentuan lebih l anjut mengenai t a t a c a r a penugasan
penyelidikan darl penelitian sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8 7 d a n pengelolaan d a t a sebagaimana dimaksud daiam
Pasal 88 d i a t u r dengarl pe r a tur an pemerintah.
BAB XI11
HAK DAN KEWAJIBAN
Bagian Kesatu
Hak
Pasal 90
Pemegang I U P d a n IUPK dapa t rnelakukarl sebagjan a t a u
s e l u r u h t a h a p a n u s a h a pertarnbangan, bail., kegiatan
eksplorasi m a u p u n kegiatan operasi produksi. P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Pemegang IUP d a n IUPK d a p a t memanfaatkan p r a s a r a n s clan
s a r a n a u m u m u n t u k keperluan pertambangan setelah
memerluhi ke t entuan peraturam pe rundang-undangan.
Pasal 9 2
Pemegang IUP d a n IUPK be rhak memiliki mineral, termasuk
mineral ikut annya , a t a u b a t u b a r a yang telah diproduksi
apabila telah memenuhi i u r a n eksplorasi a t a u i u r a n produksi,
kecuali mineral ikut an radioaktif.
Pasal 93
( I ) Pemegang IUP d a n lUPK tidak boleh memindahkan IUP
d a n IUPK-nya kepada pihak lain.
( 2 ) Untuk pengalihan kepemilikan d a n j a t a u s a h a ~ n di b u r s a
s a h a m Indonesia hanya d a p a t dilakukan setelah
melakukan kegiatan eksplorasi t a h a p a n t e r t entu.
( 3 ) Pengalihan kepemilikan d a n / a t a u s a h a m scbagairnana
dimaksud pada ayat (2) hanya d a p a t dilakulcan dengan
syarat:
a. h a r u s memberitahu kepada Menteri, gube rnur , a t a u
bupati/walikota s e s u a i dengan kewenangannya; d a n
b. s epanj ang tidak bertentangan dengan ke t entuan
peratura.n pe rundang-undangan.
Pasal 94
Pemegang IUP d a n IUPK dijamin haknya u n t u k melakukan
u s a h a pertambangan s e sua i dengan ke t entuan peraturan
pe rundang-undangan.
Bagian Kedua
Kewajiban
Pasal 95
Pemegang IUP d a n IUPK wajib:
a . mene r apkan kaidah teknik pe r t ambangan yang baik;
b. mengelola keuangan s e s u a i dengan sistem akunt ans i
Indonesia;
c. meningkatkan . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
c . meningkatkan nilai t ambah surrlber daya mineral
d a n / a t a u ba tuba r a ;
d . me l aks anakan pengembangan d a n peinberdayaan
ma sya r aka t setempat; d a n
e . mema tuhi b a t a s toleransi daya d u k u n g lingkungan.
Dalam penerapan kaidah teknik pertambangan yang baik,
pemegang IUP d a n IUPK wajib me l aks anakan:
a . ke t entuan keselalnatan d a n ke s eha t an kerja
pertarnbangan ;
b . keselamatarl operasi pertambangan;
c . pengelolaan d a n pemant auan lingkungan pertambangan,
t e rma s u k kegiatan reklamasi d a n pascatambang;
d . u p a y a konservasi sumbe r daya mineral d a n ba tuba r a ;
e. pengelolaan s i s a t ambang da r i s u a t u kegiatan u s a h a
pertambangan dalam bentuk pada t , cair, a t a u gas sampai
memenuhi s t a n d a r b a k u m u t u lingkungan sebelum
dilepas ke media lingkungan.
Pasal 97
Pemegang IUP d a n IUPK wajib menjamin penerapan s t anda r
d a n b a k u mu t u lingkungan s e sua i dengan karakteristik s u a t u
da e r ah.
Pasal 98
Pemegang IUP d a n IUPK wajib menjaga kelestarian fungsi dan
daya d u k u n g sumbe r daya air yang be r s angkut an sesuai
dengan ke t entuan pe r a tur an pe rundang-undangan.
Pasal 99
(1) Setiap pemegang IUP d a n IUPK wajib menyerahkan
r e n c a n a reklamasi d a n r enc ana pa s c a t ambang pada s a a t
mengajukan permohonan IUP Operasi Produksi a t a u IUPK
Operasi Produksi.
( 2 ) Pelaksanaan reklamasi d a n kegiatan ?ascatambang
dilakukan sesuai dengan peruntukarn lahan
pascatambang.
( 3 ) Pe runtukan . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
( 3 ) P e r u n t u k a n l ahan pa s c a t ambang sebagaimana dimakslxd
pada ayat (2) dicantunlkan da l am perjanjian penggunaan
t a n a h a n t a r a pemegang IUP a t a u IUPK d a n pemegang hak
a t a s t a n a h .
Pasal 100
(1) Pemegang IUP d a n IUPK wajib menyediakan dana-iaminan
reklamasi d a n d a n a jaminan pa s c a t ambang.
(2) Menteri, gube rnur , a t a u b u p a t i / walikota s s s u a i derigan
kewenanga i~nya d a p a t mene t apkan pihak ketiga u n t u k
melakukan reklamasi d a n pa s c a t ambang dengan d a n a
jaminan sebagaimana dimaksud p a d a ayat ( 1 ) .
(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diberlakukan apabila pemegang IUP a t a u IUPK tidak
me l aks anakan reklamasi d a n pa s c a t ambang sesuai
dengan r enc ana yang telah disetujui.
Pasal 1.0 1
Ketentuan lebih l anjut rnengenai reklamasi d a n pascatambang
sebagaimana d i m a k s i ~ d cialam Pasal 99 s e r t a rlana jaminan
reklamasi d a n d a n a jaminan pa s c a t ambang sebagairnana
dimaksud dalam Pasal 100 d i a t u r dengan pe r a tur an
pemerintah.
Pasal 102
Pemegang IUP d a n IUPK wajib meningkatkan nilai tambah
s umb e r daya mineral d a n / a t a u b a t u b a r a da l am pelaksanaan
penambangan, pengolahan d a n pemurni an, s e r t a pemanfaatan
mineral d a n b a t u b a r a .
Pasal 103
( 1 Pemegang IUP d a n IUPK Operasi Produltsi wajib
melakukan pengolahan d a n pemurnian hasil
penambangan di dalam negeri.
(2) Pemegang IUP d a n JUPK sebagaimana dirnaksud pacla
aya t (1) d a p a t mengolah d a n memurnikan hasil
penambangan dari pemegang IUP d a n IUPK lainrlya.
(3) Ketentuan lebih l anjut mengenai peningkatan nilai
t amb a h sebagaimana dimaksud da l am Pasal 102 s e r t a
pengolahan d a n pemurnian sebagaimana dimaksud pada
aya t (2) di a tur deilgan pe r a tur an pemerintah.
Pasal 104 . . . P R E S I D E N
R E P Y B L I K I N D O N E S I A
Pasal 104
(1) Untuk pengolahan d a n pemurni an, pemegang I U P Operasi
Produksi d a n IUPK Operasi Produksi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 1 0 3 d a p a t melakukan kerja s ama
dengan badan u s a h a , koperasi, a t a u perseorangan yang
telah mendapa tkan IUP a t a u IUPK.
( 2 ) IUP yang didapat badan u s a h a sebagairn.arla dimaksud
pada aya t (1) ada l ah IUP Operasi Produksi Khusus urituk
pengolahan d a n pemurnian yang dikeluarkari oleh
Menteri, gube rnur , bupati/’walikota s e sua i dengan
kewenangannya.
( 3 ) Pemegang I U P d a n IUPK sebagaimana diniaksud pada
aya t (1) dilarang melakukan pengolahan d a n pemurnian
da r i hasil penambangan yang tidak memiliki IUP, IPR,
a t a u IIJPK.
Pasal 105
(1) Badan u s a h a yang tidak bergerak pada u s a h a
pertambangan yang be rmaksud menjual mineral
d a n / a t a u b a t u b a r a yang tergali wajib terlebih d a h u l u
memiliki IUP Operasi Produksi u n t u k penjualan.
( 2 )
IUP sebagaimana dimaksud pada aya t (1) hanya dapa t
diberikan u n t u k 1 ( s a t u ) kali penjualan oleh Menteri,
g u b e r n u r , a t a u bupati/walikota s e sua i dengan
kewenangannya.
( 3 ) Mineral a t a u b a t u b a r a yang tergali d a n a k a n dijual
sebagaimana dimaksud pada aya t (1) dikenai iur an
produksi.
(4) Badan u s a h a sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
aya t (2) wajib menyampaikan laporan hasil penjualan
mineral d a n / a t a u b a t u b a r a yang tergali kepada Menteri,
gube rnur , atau bupati/walikota s e sua j dengan
Irewenangannya.
Pasal 106
Pemegang IUP d a n IUPK h a m s mengut amakan pemanfaatan
tenaga kerja setempat, barang, d a n j a s a da l am negeri sesuai
dengan ke t entuan pe r a tur an pe rundang-undangan.
Pasal 107 . . . P R E S I D E N
R E P U B L – I K I N D O N E S I A
Pasal 107
Dalam melakukan kegiatan operasi produksi, badan u s a h a
pemegang IUP d a n IUPK wajib mengikutsertakan pengus aha
lokal yang a d a di d a e r a h t e r s ebut s e s u a i dengaiz ke t entuan
pera t u r a n pe rundang-undangan.
Pasal 108
(1) Pemegang IUP dan IUPK wajib menyusun program
pengembangan d a n pemberdayaan ma sya r aka t .
( 2 ) Penyusunan program d a n r enc ana sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dikonsultasikan ltepada
Pemerintah, pemerlntah d a e r a h , d a n ma sya r aka t .
Pasal 109
Ketentuan lebih l anjut mengenai pe l aks ana an pengembangail
d a n pemberdayaan ma sya r aka t s ebaga imana dimaksud dalam
Pasal 1 0 8 d i a t u r dengan p e r a t u r a n pemerintah.
Pasal 1 10
Pemegang IUP d a n IUPK wajib menyerahkan s e luruh d a t a
yang diperoleh dari hasil eksplorasi d a n operasi produksi
k – e p a d a Menteri, gube rnur , a t a u bupati/walikota s e sua i
dengan kewenangannya.
Pasal 11 1
(1) Pemegang IUP d a n IUPK wajib memberikan laporan
tertulis s e c a r a berkala a t a s r e n c a n a kerja dan
pe l aks ana an kegiatan u s a h a pe r t ambangan mineral d a n
b a t u b a r a kepada Menteri, g u b e r n u r , a t a u bupati/walikota
s e s u a i dengan kewenangannya.
( 2 ) Ketentuan lebih larljut mengenai bentuk, jenis, waktu,
d a n t a t a c a r a penyampaian laporan sebagaimana
dirnaksud pada aya t (1) d i a t u r dengarl pe r a tur an
pemerintah.
Pasal 1 12
(1) Setelah 5 (lima) t a h u n berproduksi, badan u s a h a
pemegang IUP d a n IUPK yang s a h amn y a dirniliki oleh
a s ing wajib melakukan djvestasi s a h a m pada Pemerintah,
pemerintah d a e r a h , b a d a n u s a h a milik negara, badan
u s a h a milik da e r ah, a t a u b a d a n u s a h a swa s t a n a s i o ~ a l .
(2) Ketentuan . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
( 2 ) Ketentuan lebih l anjut mengenai divestasi s a h am
sebagaimana dimaksud pada aya t (1) d i a t u r dengan
p e r a t u r a n perrierintah.
BAB XIV
PENGHENTIAN SEMENTARA KEGIATAN
IZIN USAHA PERTAMBANGAN DAN IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSIJS
Pasal 113
(1) Penghentian s ement a r a kegiatan u s a h a pertambangan
d a p a t diberikan kepada pemegang IUP d a n IUPK apabila
terjadi:
a . ke ada an kaha r ;
b. ke ada an yang menghalangi sehingga menimbulkan
penghentian sebagian a t a u s e l u r u h kegiatan usakla
pertambangan;
c . apabila kondisi daya d u k u n g lingkungan wilayah
t e r s ebut tidak d a p a t menanggung beban kegiatan
operasi produksi sumbe r daya rnineral d a n / a t a u
b a t u b a r a yang dilakukan di wilayahnya.
( 2 ) Penghentian s ement a r a kegiatail u s a h a pertambangan
sebagaimana dimaksud pada aya t (1) tidak Amei~gurangi
m a s a berlaku IUP a t a u IUPK.
( 3 ) Permohonan penghentian s eme n t a r a kegiatan u s a h a
pe r t ambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
a d a n huruf b disampaikan kepada Mentesi, gube rnur ,
a t a u bupati/walikota s e s u a i dengan kewenangannya.
(4) Penghentian s ement a r a s ebaga imana dimaksud pada ayat
(1) h u r u f c d a p a t dilakukan oleh inspektur t ambang a t a u
di l akukan be rda s a rkan permohonan ma sya r aka t kepada
Menteri, gube rnur , a t a u bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
( 5 ) Menteri, gube rnur , a t a u bupati/walikota s e sua i dengan
kewenangannya wajib mengeluarkan k e p u t u s a n tertulj s
diterima a t a u ditolak disertai a l a s a n n y a a t a s permohonan
s ebaga imana dimaksud p a d a a y a t (3) paling l ama 30 (tiga
puluh) ha r i sejak menerima permohonan t e r s ebut .
Pasal 114
(1) J a n g k a waktu penghentian s eme n t a r a ka r ena keadaan
k a h a r d a n / a t a u ke ada an yang menghalangi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 1 1 3 aya t (1) diberikan paling lama
1 ( s a t u ) tahu11 d a n d a p a t diperpanjang paling banyak 1
( s a t u ) kali u n t u k 1 ( s a t u ) t a h u n .
(2) Apabila . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
(2) Apabila dalam k u r u n waktu sebelum habis ma s a
penghentian s ement a r a berakhir pemegang IUP d a n IIJPJC
s u d a h s i ap melakukan kegiatan operasinya, kegialan
dirnaksud wajib dilaporkan kepada Menteri, gube rnur ,
a t a u bupa t i / walikota s e s u a i dengan kewenangannya.
(3) Menteri, gube rnur , a t a u bupati/walikota s e sua i aengarr
kewenangannya menc abut k e p u t u s a n pengherltian
s e ~ n e n t a r a setelah menerima laporan sebagainiarla
dimaksud pada aya t (2) .
Pasal 1 1 5
(1) Apabila penghentian s eme n t a r a kegiatan usaha
pertambangan diberikan k a r e n a ke ada an k a h a r
sebagaimana dimaksud da l am Pasal 1 1 3 aya t ( 1 ) huruf a ,
kewajiban pemegang IUP d a n IUPK t e rhadap Pemerintah
d a n pemerintah da e r ah tidak berlaku.
( 2 ) Apabila penghentian s eme n t a r a kegiatan u s a h a
pe r t ambangan diberikan k a r e n a ke ada an ya ng
menghalangi kegiatan u s a h a pe r t ambangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 1 1 3 aya t (1) huruf b, kewajiban
pemegang IUP d a n IUPK t e r h a d a p Pemerintah dan
pemerintah d a e r a h t e t ap berlaku.
(3) Apabila penghentian s eme n t a r a kegiatan u s a h a
pe r t ambangan diberikan k a r e n a kondisi daya d u k u n g
lingkungan wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal
1 1 3 aya t (1) huruf c, kewajiban pemegang IUP d a n YTJPK
t e r h a d a p Pemerintah d a n pemerintah da e r ah tetap
berlaku.
Pasal 116
Ketentuan lebih l anjut mengenai penghentian s ement a r a
kegiatan u s a h a pertambangan s ebaga imana dimaksud dalam
Pasal 1 13, Pasal 1 14, d a n Pasal 1 1 5 d i a t u r dengan pe r a tur an
pemerintah.
BAB XV
BERAKHIRNYA IZIN USAHA PERTAMBANGAN DAN
IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS
Pasai 1 1 7
IUP d a n IUPK berakhir karena:
a . dikembalikan;
b. dicabut . . . P H E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
b. dicabut; a t a u
c . habi s m a s a berlakunya.
Pasal 1 1 8
(1) Pemegang IUP a t a u IUPK d a p a t ~ n e n y e r a h k a n kembali IUFJ
a t a u IUPK-nya dengan pernyataan tertuiis kepada
Menteri, gube rnur , a t a u b u p a t i / walikota sesilai d e ~ l g a n
kewenangannya d a n disertai dengan a l a s a n yang jelas.
(2) Pengembalian IUP a t a u IUPK sebagaimana dimaksud
p a d a aya t (1) dinyatakan s a h setelah disetuj~wi oleh
Menteri, gubern ur, a t a u b u p a t i / walikota s e sua i dengan
kewenangannya d a n setelah memenuhi kewajibannya.
Pasal 119
IUP a t a u IUPK d a p a t di c abut oleh Menteri, gube rnur , a t a u
bupati/walikota s e s u a i dengan kewenangannya apabila:
a. pemegang IUP a t a u IUPK tidak memenuhi kewajiban yang
di t e t apkan dalam IUP a t a u IUPK s e r t a peraturan
pe rundang- undangan;
b. pemegang IUP a t a u IUPK melakukan tindak pidana
s ebaga imana dimaksud da l am Undang-Undang ini; a t a u
c. pemegang IUP a t a u IUPK dinya t akan pailit.
Pasal 120
Dalam ha1 jangka waktu yang di t entukan dalam IUP d a n JIJPK
telah habi s d a n tidak diajukan permohonan peningkatan a t a u
perpanjangan t a h a p kegiatan a t a u pengajuan permohonan
tetapi tidak memenuhi persyaratan, IUP d a n IUPK tersebut
berakhir.
Pasal 121
(1) Pemegang IUP a t a u IUPK yang IUP-nya a t a u IUPK-nya
berakhir ka r ena a l a s an sebagaimana dimaksud dalarn
Pasal 117, Pasal 118, Pasal 119, d a n Pasal 120 wajih
memenuhi d a n menyelesaikan kewajiban s e sua l dengan
k e t e n t u a n pe r a tur an peruridang-undangan.
(2) Kewajiban pemegang IUP a t a u IUPK sebagalmana
dimaksud pada aya t (1) dianggap telah dipenuhi setelah
me n d a p a t pe r s e tujuan da r i Menteri, gube rnur , a t a u
bupati/walikota s e s u a i dengan kewenangannya.
Pasal 122 . . . P H E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Pasal 122
(1) IUP a t a u IUPK yang telah dikembalikan, dicabut, a t a u
habi s ma s a berlakunya sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 12 1 dikembalikan kepada Menteri, gube rnur , a t a u
b u p a t i / walikota s e sua i dengan kewenangannya.
( 2 ) WIUP a t a u WIUPK yang IUP-nya a t a u IUPK-nya berakhir
sebagaimana dimaksud pada aya t (1) ditawarkan kepada
b a d a n u s a h a , koperasi, a t a u perseorangan melalui
mekanisme s e sua i dengan k e t e n t u a n dalam Undang-
Undang ini.
Pasal 123
Apabila IUP a t a u IUPK berakhir, pemegang IUP a t a u l U P K
wajib menyerahkan s e l u r u h d a t a yang diperoleh dari hasil
eksplorasi d a n operasi produksi kepada Menteri, gube rnur ,
a t a u bupati/walikota s e sua i dengan kewenangannya.
BAB XVI
USAHA JASA PERTAMBANGAN
Pasal 124
(1) Pemegang IUP a t a u IUPK wajib menggunakan perusahaan
j a s a pertarnbangan lokal d a n / a t a u nasional.
(2) Dalam ha1 tidak terdapat pe rus aha an jasa pertambangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ) pemegang ITJP atall
IUPK dapa t menggunakan pe rus aha an jasa pertambangan
lain yang berbadan h u k um Indonesia.
( 3 )
J e n i s u s a h a j a s a pertambangan meliputi:
a . konsultasi, pe r enc ana an, pe l aks ana an, d a n pengujian
peralatan di bidang:
1) penyelidikan u m u m ;
2) eksplorasi;
3) s t u d i ke l ayikan;
4) kons t ruks i pertambangan;
5) pengangkutan;
6) lingkungan pertambangan;
7) pa s c a t ambang d a n reklamasi; d a n / a t a u
8) keselamatak d a n k e s e h a t a n kerja. P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
b. konsul t a s i , pe r enc ana an, d a n pengujian peralatan di
bidang :
1) penambangan; a t a u
2) pengolahan d a n pernurnian.
Pasal 1 2 5
(1) Dalam ha1 pemegang IUP a t a u IUPK menggunakan jasa
pertambangan, t a n g g u ~ l g jawab kegiatan u s a h a
pertambangan t e t ap dibebankan kepada perrlegang I U P
a t a u IUPK.
(2) Pelaksana u s a h a jasa pertambangan dapa t berupa badan
u s a h a , koperasi, a t a u perseorangan sesuai dsngan
klasifikasi d a n kualifikasi yang telah ditetapkan oleh
Menteri.
(3) Pelaku u s a h a j a s a pertambangan wajib m e n g ~ ~ t a m a l t a n
kontraktor d a n tenaga kerja lokal.
Pasal 126
(1) Pemegang IUP a t a u IUPK dilarang melibatkan a n a k
p e r u s a h a a n d a n / a t a u afiliasinya da l am bidang u s a h a j a s a
pe r t ambangan di wilayah u s a h a pertambangan yang
d i u s a h a k a n n y a , kecuali dengan izin Menteri.
( 2 ) Pemberian izin Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan apabila:
a. tidak t e rdapa t p e r u s a h a a n j a s a pertambangan sejenis
di wilayah t e r s ebut ; a t a u
b. tidak a d a p e r u s a h a a n j a s a pe r t ambangan yang
berminat/ mamp u .
Pasal 127
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan u s a h a j a s a
pe r t ambangan sebagaimana dimaksud da l am Pasal 124, Pasal
125, d a n Pasal 126 d i a t u r dengan p e r a t u r a n menteri.
BAB XVII
PENDAPATAN NEGARA DAN DAERAH
Pasal 128
(1) Pemegang IUP a t a u I U P K wajib membayar pe r idapa tm
negara d a n pendapa t an d a e r a h .
(2) Pendapatan . . . (2) Pendapa t an negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
terdiri a t a s penerimaan pajak d a n penerimaan negara
b u k a n pajak.
( 3 ) Penerimaan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
tcrdiri a t a s :
a . pajak-pajak yang menjadi kewenangan Pemerintah
s e s u a i dengan ke t entuan p e r a t u r a n perundang-
undangan di bidang perpajakan; d a n
b. bea m a s u k d a n cukai.
(4) Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud
p a d a aya t (2) terdiri a t a s :
a. i u r a n tetap;
b. i u r a n eksplorasi;
c. i u r a n produksi; d a n
d . kompensasi d a t a informasi.
( 5 ) Pendapa t an da e r ah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
terdiri a t a s :
a. pajak da e r ah;
b. retribusi da e r ah; d a n
c . pendapa t an lain yang s a h be rda s a rkan ketentuan
p e r a t u r a n pe rundang-undangan.
Pasal 129
(1) Pernegang lUPK Operasi Produksi u n t u k pertambangan
mineral logam d a n b a t u b a r a wajib membayar sebesar (1%
( empa t persen) kepads. Pemerintah d a n 6% (enam persen)
kepada pemerintah d a e r a h da r i k e u n t u n g a n bersih sejak
berproduksi.
( 2 ) Bagian pemerintah da e r ah s ebaga imana dimaksud pada
aya t (1) d i a t u r sebagai berikut:
a. pemerintah provinsi mendapa t bagian sebesar 1%
( s a t u persen);
b. pemerintah k a b u p a t e n l k o t a penghasil mendapat
bagian sebesar 2,5% ( d u a koma lima persen); dan
c . pernerintah k a b u p a t e n l kota lainnya da lam provinsi
yang s a m a mendapa t bagian s ebe s a r 2,596 ( d u a koma
lima perseri).
Pasal 130 . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Pasal 130
(1) Pemegang IUP a t a u IlJPK tidak dikenai i u r a n produksi
s ebaga imana dimaksud da l am Pasal 128 aya t (4) huruf c
d a n pajak da e r ah d a n retribusi da e r ah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 128 aya t (5) a t a s t a n a h l b a t u a n
yang ikut tergali pada s a a t penambangan.
(2) Pemegang IUP a t a u IUPK dikenai i u r a n produksi
s ebaga imana diinaksud da l am Pasal 1 2 8 aya t (4) h u m f c
a t a s pemanfaatan t a n a h l b a t u a n yang ikut tergali pada
s a a t penambangan.
Pasal 131
Besarnya pajak d a n penerimaan negara bukarl pajak yang
dipungut da r i pemegang IUP, IPR, ata-u I U P K ditetapka.n
be rda s a rkan ke t entuan pe r a tur an pe rundang-undangan.
Pasal 132
( 1) Be s a r an tarif i u r a n produksi ditetapkan berdasarkan
tingkat pengus aha an, produksi, d a n harga kornoditas
t ambang.
(2) Be s a r an tarif i u r a n produksi sebagaimana dimaks’ud
pada aya t ( 1) ditetapkan be rda s a rkan ket.entuan
p e r a t u r a n pe rundang-undangan.
Pasal 133
(1) Penerimaan negara b u k a n pajak sebagaimana dirnaksud
da l am Pasal 128 ayat (4) me r u p a k a n pendapa t an negara
d a n d a e r a h yang pembagiannya di t e t apkan berdasarkan
k e t e n t u a n p e r a t u r a n pe rundang-undangan.
( 2 ) Penerimaan negara b u k a n pajak yang me rupakan bagian
d a e r a h dibayar langsung ke k a s d a e r a h setiap 3 (tiga)
b u l a n setelah disetor ke k a s negara.
BAB XVIII
PENGGUNAAN TANAH UNTUK ICEGIAT’AN USAHA PERTAMBANGAPJ
Pasal 134
(1) Hak a t a s WIUP, WPR, a t a u WIUPK tidak meliputi hak a t a s
t a n a h pe rmuka an bumi.
(2) Kegiatan . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
( 2 ) Kegiatan u s a h a pertambangan tidak dapat djiaksanakan
pada tempat yang dilarang u n t u k melakukan kegiatan
u s a h a pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan,
(3) Kegiatan u s a h a pertambangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dapat dilaksanakan setelah mendapat izin
dari instansi Pemerintah sesuai dengan keterlt uan
peraturan perundang-undangan.
Pasal 135
Pemegang IUP Eksplorasi a t a u IUPK Eksplorasi hanya dapat
melaksanakan kegiatannya setelah mendapat persetujuan
dari pemegang hak a t a s tans-h.
Pasal 136
(1) Pemegang IUP a t a u IUPK sebelum melakukan kegiatan
operasi produksi wajib menyelesaikan hak a t a s tanah
dengan pemegang hak sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
( 2 ) Penyelesaian hak a t a s t anah sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan
kebutuhan a t a s t anah oleh pemegang IUP a t a u IUPK.
Pasal 137
Pemegang IUP a t a u IUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal
135 d a n Pasal 136 yang telah melaksanakan penyelesa.ian
terhadap bidang-bidang t anah dapa t diberikan hak a t a s tanah
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangaii.
Pasal 138
F a k a t a s IUP, IPR, a t a u IUPK bukan merupakan pemilikan
hak a t a s t a n a h .
BAB XIX . . . P R E S I D E N
R E P U B L l K I N D O N E S I A
BAB XIX
PEMBINAAN, PENGAWASAN, DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT
Bagian Kesatu
Pembinaan d a n Pengawasan
Pasal 139
(1) Menteri melakukan pembinaan t e rhadap penyelenggaraan
pengelolaan u s a h a pertambangan yang dilaksariakan oleh
pemerintah provinsi d a n pemerintah k a b u p a t e n l kota
s e s u a i dengan kewenangannya.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
a. pemberian pedoman clan s t a n d a r pelaksailaan
pengelolaan u s a h a p e r t amb a n g a n ;
b. pemberian bimbiiigan, supervisi, d a n konsultasi;
c. pendidikan darl pelatihan; d a n
d . pe r enc ana an, penelitian, pengembangan, pemarltauan,
d a n evalua.si pe l aks ana an penyelenggaraan u s a h a
pertambangan di bidang mineral d a n b a t u b a r a .
( 3 ) Menteri dapa t melimpahkan kepada gube rngr untuIr
me l akukan pembinaan t e r h a d a p penyelenggaraa-n
kewenangan pengelolaan di bidang u s a h a pertambaiigan
sebagaimana dimaksud pada aya t (1) yang dilaksanaltan
oleh pemerintah k a b u p a t e n l kota.
(4) Menteri, gube rnur , a t a u bupati/walikota s e sua j dengan
kewenangannya bertanggung jawab melakukan
pembinaan a t a s pe l aks ana an kegiatan u s a h a
pertambangan yang dilakukan oleh pemegang IUP, IPH,
a t a u IUPK.
Pasal 140
(1) Menteri melakukan pengawasan terhadap
penyelenggaraan pengelolaan u s a h a pertambangan yang
di l aks anakan oleh pemerintah provinsi d a n pemenritah
k a b u p a t e n l kota s e sua i dengan kewenangannya.
(2) Menteri d a p a t melimpahkan kepada gube rnur u n t u k
me l akukan pengawasan t e r h a d a p penyelenggaraan
kewenangan pengelolaan di bidang u s a h a pertambangan
s ebaga imana dimaksud p a d a aya t (1) yang dilaksariakan
oleh pemerintah k a b u p a t e n / kota.
( 3 ) Meiiteri P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
(3) Menteri, gubernur, dan bupati/ walikota sesuai dengan
kewenangannya melakukan pengawasan a t a s
pelaksanaan kegiatan u s a h a pertambangan yang
dilakukan oleh pemegang IUP, IPR, a t a u IUPK.
Pasal 14 1
( 1) Pengawasan sebagairnana dimaksud dalam Pasal 140,
a n t a r a lain, berupa:
a . teknis pertarnbangan;
b. pemasaran;
c. keuangan;
d . pengolahan da t a mineral d a n batubara;
e. konservasi sumber daya mineral d a n batubara;
f. keselamatan dan kesehatan kerja pertambanga.n;
g. keselamatan operasi pertambangan;
h. pengelolaan lingkungan hidup, reklarnasi, dan
pascatambang;
i. pemanfaatan barang, jasa, teknologi, d a n k ema ~ n p u a n
rekayasa dan rancang bangun dalam negeri;
j . pengembangan tenaga kerja teknis pertambangan;
k. pengembangan d a n pemberdayaan masyarakat
setempat;
1. penguasaan, pengembangan, d a n penerapan teknologi
pertambangan;
m. kegiatan-kegiatan lain di bidang kegiatan u s a h a
pertambangan yang menyangkut kepentinga~l umum;
n. pengelolaan IUP a t a u IUPK; d a n
o. jumlah, jenis, dan mutu hasil u s a h a pertambangar\.
( 2 ) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
a , h u r u f e, huruf f, h u r u f g, huruf h , dan huruf 1
dilakukan oleh inspektur tambang seslaai dengan
ketentuan peraturan perundang- undangan.
( 3 ) Dalam ha1 pemerintah daerah provinsi a t a u pemerintah
daerah kabupa t enl kota belum mempunyai inspektur
tambang, Menteri menugaskan inspektur tambang yang
s u d a h diangkat u n t u k melaksanaan pembii-laan dan
pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat ( 2 ) .
Pasal 142 . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Pasal 142
( I ) Gu b e r n u r d a n bupati/walikota wajib melaporkan
pe l aks ana an u s a h a pertambangan di wilayzhnya masing-
masirig sekurang-kurangnya sekali da l am 6 (enam) bulan
kepada Menteri.
(2) Pemerintah d a p a t memberi t egur an kepada pemerintah
d a e r a h apabila dalam pe l aks ana an kewenangannya tidak
s e s u a i dengan ke t entuan Undang-Undang ini d a n
k e t e n t u a n pe r a tur an pe rundang-undangan lainnya.
Pasal 1 4 3
(1) Bupati/walikota melakukan pembinaan d a n pengawasan
t e r h a d a p u s a h a pertambangan rakyat.
(2) Ke t e n t u a n lebih lanjut mengenai pembinaan darl
pengawasan pertambangan rakyat d i a t u r deilgan
p e r a t u r a n da e r ah k a b u p a t e n l kota .
Pasal 14.4
Ketentuan le bih lanjut mengenai s t a n d a r d a n prosedu r
pembina an s e r t a pengawasan sebagaimana dimaksud d a l a ~ n
Pasal 139, Pasal 140, Pasal 141, Pasal 142, d a n Pasal 143
d i a t u r dengan pe r a tur an pemerintah.
Bagian Kedua
Perlindungan Masyarakat
Pasal 145
Masyarakat yang terkena d amp a k negatif l a n g s u ~ l g dari
kegiatan u s a h a pertambangan berhak:
a. memperoleh ganti rugi yang layak akiba t kesalahan
dalam pengus aha an kegiatan pertambangan s e sua i
dengan ke t entuan p e r a t u r a n pe rundang-undsngan.
b. mengajukan gugatan kepada pengadjlan t e rhadap
kerugian akiba t pengus aha an pertambangan yang
menyalahi ke t entuan.
(2) Ketentuan mengenai perlindungan masyara ka t
sebagaimana dimaksud p a d a aya t (1) ditetapkan
be rda s a rkan ke t entuan p e r a t u r a n perundang-undangnn.
RAB XX . . . F R E S I C E N
RE PUB L I K I N D O N E S I A
BAB XX
PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SERTA
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
Bagian Mesatu
Penelitian d a n Pengembangan
Pasal 146
Pemerintah d a n pemerintah d a e r a h wajib mendorong,
me l aks anakan, d a n l a t a u memfasilitasi p e l a k s a n a a r ~ penelitian
d a n pengembangan mineral d a n b a t u b a r a .
Bagian Kedua
Pendidikan d a n Pelatihan
Pasal 147
Pemerintah d a n pemerintah d a e r a h wajib nlendorong,
me l aks anakan, d a n / a t a u memfasilitasi pelaksanaan
pendidikan d a n pelatihan di bidang pengus aha an mineral d a n
b a t u b a r a .
Pasal 148
Penyelenggaraan pendidikan d a n pelatihan d a p a t dilakukan
oleh Pemerintah, pemerintah da e r ah, swa s t a , d a n masyarakat.
BAB XXI
PENYIDIKAN
Pasal 149
(1) Selain penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia,
pejabat pegawai negeri sipil yang lingkup tuga s d a n
tanggung jawabnya di bidang pertambangan diberi
wewenang k h u s u s sebagai penyidik s e s u a i dengan
k e t e n t u a n pe r a tur an pe rundang-undangan.
( 2 ) Penyidik pegawai negeri sipil s ebaga imana dimaksud pada
a y a t (1) berwenang:
a. me l akukan pemeriksaan a t a s kebena r an 1apora.n a t a u
keterangan berkenaan dengan t indak pidana dalam
kegiatan u s a h a pertambangan;
b. melakukan . .. . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
b. melakukan pemeriksaan terhadap orang atall badari
yang diduga melakukan tindak pidana dalam kegiatan
u s a h a pertambangan;
c. memanggil d a n / a t a u mendatangkan secara paksa
orang u n t u k didengar d a n diperiksa sebagai salcsi atau
tersangka dalam perkara tindak pidana kegiatan u s a l ~ a
pertambangan;
d . menggeledah tempat d a n / a t a u s a r a n a yang diduga
digunakan u n t u k melakukan tindak pidana da.1a.m
kegiatan u s a h a pertambangan;
e. melakukan pemeriksaan s a r a n a dan prasarana
kegiatan u s a h a pertambangan dan mer~ghentikan
penggunaan peralatan yang diduga digunakan u n t u k
melakukan tindak pidana;
f . menyegel d a n / a t a u menyita alat kegiatan u s a h a
pertambangan yang digunakan u n t u k melakukan
tindak pidana sebagai alat bukti;
g. mendatangkan d a n / a t a u meminta bantuan tenaga ahli
yang diperlukan dalam hubungannya derlgan
pemeriksaan perkara tindak pidana dalam ke5iatan
u s a h a pertambangan; d a n l a t a u
h. menghentikan penyidikan perkara tindak pidana
dalam kegiatan u s a h a pertambangan.
Pasal 150
(1) Penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 149 dapat menangkap pelaku tindak pidana
dalam kegiatan u s a h a pertambangan.
( 2 ) Penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dirrlaltsud pada
ayat (1) rnemberitahukan dimulai penyidikan dan
menyerahkan hasil penyidikannya kepada pejabat polisi
negara Republik Indonesia sesuai dengall ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3) Peilyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) wajib menghentikan penyidikannya dalam ha1
tidak terdapat cukup bukti d a n / a t a u peristiwanya bukan
merupakan tindak pidana.
(4) Pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimalcsud pada
ayat (2) d a n ayat (3) dilakukan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan .
BAB ,=I1 . . . P R E S I D E N
R E P U B L i K I N D O N E S I A
BAB XXII
SANKSI ADMINlSTRATIF
Pasal 1 5 1
(1) Menteri, gube rnur , a t a u bupati/walikota s e sua i dengan
kewenangannya berhak memberikan s a n k s i administratif’
kepada pemegang IUP, IPR a t a u IUPK a t a s pelanggaran
k e t e n t u a n sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat
(3), Pasal 40 aya t (5), Pasal 4 1, Pasal 43, Pasal 70, Pasal
7 1 aya t ( I ) , Pasal 7 4 aya t (4), Pasal 7 4 ayat ( 6 ) , Pasal 8 1
aya t ( I ) , Pasal 9 3 ayat (3), Pasal 9 5 , Pasal 96, Pasal 9 7 ,
P a s a l 9 8 , P a s a l 9 9 , Pasal 100, Pasal 102, Pasal 103, Pasal
1 0 5 aya t (3), Pasal 1 0 5 aya t (4) , -Pa s a l 107, Pasal 108 ayat
( I ) , Pasal 1 10, Pasal 1 1 1 aya t ( I ) , Pasal 1 12 aya t ( I ) , Pasal
1 14 aya t ( 2 ) , Pasal 1 1 5 aya t (2), Pasal 1 2 5 ayat (3), Pasal
126 aya t ( I ) , Pasal 128 aya t ( 1 ) ) Pasal 129 aya t (11, a t a u
Pasal 130 aya t ( 2 ) .
(2) S a n k s i administratif sebagaimana dimaksud pada a y a t (1)
be rupa :
a. peringatan tertulis;
b. penghentian s ement a r a sebagian a t a u seluruh
kegiatan eksplorasi a t a u operasi produksi; dan / a t a u
c . penc abut an IUP, IPR, a t a u IUPK.
Pasal 152
Dalam ha1 pemerintah da e r ah tidak me l aks anakan ke t entuan
s ebaga imana dimaksud dalam Pasal 1 5 1 d a n hasil evaluasi
yang di l akukan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6 aya t (1) huruf j, Menteri d a p a t menghentikam
s eme n t a r a d a n / a t a u menc abut IUP a t a u IPR s e sua i dengan
k e t e n t u a n p e r a t u r a n pe rundang-undangan.
Pasal 153
Dalam ha1 pemerintah d a e r a h berkeberatan t e rhadap
penghentian s ement a r a d a n / a t a u penc abut an IUP dan IPR
oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 152,
pemerintah da e r ah d a p a t mengajukan keberatan sesuai
dengan ke t entuan pe r a tur an pe rundang-undangan.
Pasal 154
Setiap sengketa yang muncul da l am pe l aks ana an IUP, IPR,
a t a u IUPK diselesaikan melalui pengadilan d a n arbitrase
da l am negeri s e s u a i dengan k e t e n t u a n p e r a t u r a n perundang-
u n d a n g a n .
Pasal 1 5 5 . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Pasal 1 5 5
Segala akiba t l ~ u k u m yang timbul ka r ena penghentian
s eme n t a r a d a n / a t a u penc abut an IUP, IPR a t a u IUPK
s ebaga imana dimaksud dalam Pasal 15 1 aya t (2) huruf b d a n
h u r u f c diselesaikan s e sua i dengan ke t entuan pe r a tur an
pe rundang-undangan,
Ketentuan lebih lanjut mengenai t a t a c a r a pelaksanaan s anks i
administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 5 1, d a n
Pasal 152 d i a t u r dengan p e r a t u r a n pemerintah.
Pasal 157
Pemerintah da e r ah yang tidak memenuhi ketentuan
s ebaga imana dimaksud dalam Pasal 5 aya t (4) dikenai s anks i
administratif be rupa penarikan s eme n t a r a kewenangan a t a s
h a k pengelolaan u s a h a pertambangan mineral d a n ba tuba r a .
BAB XXIII
KETENTUAN PIDANA
Pasal 158
Setiap orang yang melakukan u s a h a penambangan t anpa IUP ,
IPR a t a u IUPK sebagaimana dimaksud da l am Pasal 37, Pasal
4 0 aya t ( 3 ) , Pasal 18, Pasal 6 7 aya t ( I ) , Pasal 7 4 ayat (1) a t a u
aya t (5) dipidana dengan pidana penj a r a paling lama 1.0
( s epuluh) t a h u n d a n d e n d a paling banyak
Rp 10.000.000.000,00 ( s epuluh miliar r u p i a h ) .
Pasal 159
Pemegang IUP, IPH, a t a u IUPK yang dengan sengaja
menyampaikan laporan sebagaimana dirnaksud dalani Pasal
4 3 a y a t ( I ) , Pasal 7 0 huruf e, Pasal 8 1 aya t ( I ) , Pasal 105 ayat
(4) , Pasal 110, a t a u Pasal 1 1 1 aya t (1) dengan tidak benar
a t a u menyampaikan keterangan pa l su dipidana dengan
pidana penjara paling lama 10 ( s epuluh) t a h u n clan denda
paling banyak Rp 10.000.000.000,00 ( s epuluh miliar rupiah).
Pasal 160 . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Pasal 160
( I ) Setiap orang yang me l akukan eksplorasi t a n p a rr~emiliki
IUP a t a u IUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 7
a t a u Pasal 74 aya t (1) dipidana dengan pidana kurungan
paling l ama 1 ( s a t u ) t a h u n a t a u d e n d a paling banyak
Rp200.000.000,00 ( d u a r a t u s j u t a r u p i a h ) .
(2) Setiap orang yang mempunyai IUP Eksplorasi tetapi
me l akukan kegiatan operasi produksi dipjdana
dengan pidana penjara paling l ama 5 (lirria) t a h u n dam
d e n d a paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh
miliar rupi ah) .
Pasal 161
Setiap orang a t a u pemegang IUP Operasi Produksi a t a u PUPK
Operasi Produksi yang menampung, memanfaatkan,
me l akukan pengolahan d a n pemurni an, pengangkutan,
penjua l an mineral d a n b a t u b a r a yang b u k a n da r i pemegang
IUP, IUPK, a t a u izin sebagaimana dimaksud dalarn Pasai 37,
Pasal 4 0 aya t ( 3 ) , Pasal 4 3 aya t ( 2 ) , Pasal 48, Pasal 67 aya t ( l ) ,
Pasal 7 4 aya t ( I ) , Pasal 8 1 aya t ( 2 ) , Pasal 103 ayat ( 2 ) , Pasal
104 aya t (3), a t a u Pasal 105 aya t (1) dipidana dengan pidana
penj a r a paling l ama 10 ( s epuluh) t a h u n d a n denda paling
banyak Rp 10.000.000.000,00 ( s epuluh miliar rupi ah) .
Setiap orang yang merintangi a t a u mengganggu kegjatan
u s a h a pertambangan dari pemegang IUP a t a u IUPIC yang telah
lnemenuhi sya r a t – sya r a t sebagaimana dimaksud dalam Pasal
136 aya t (2) dipidana dengan pidana k u r u n g a n palirig lama 1
( s a t u ) t a h u n a t a u d e n d a paling banyak Rp 100.000.000,00
( s e r a t u s j u t a rupi ah) .
Pasal 163
(1) Dalam ha1 tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam
b a b ini dilakukan oleh s u a t u b a d a n h u k u m , selain pjdana
penj a r a d a n d e n d a t e r h a d a p pengul-usnya, pidana yang
d a p a t di j a tuhkan t e rhadap b a d a n h u k u m t e r s ebut berupa
pidana d e n d a dengan pemberatan di t ambah 1 / 3 (sat11 per
tiga) kali da r i ketentuari maks imum pidana denda yang
di j a tuhkan.
( 2 ) Selairi . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
( 2 ) Selain pidana d e n d a sebagaimana dimaksud pada ayat
( 1)) badan h u k u m d a p a t dijatuhi pidana t ambahan
be rupa :
a. penc abut an izin u s a h a ; d a n / a t a u
b. penc abut an s t a t u s b a d a n h u k u m .
Pasal 164
Selain k e t e n t u a n sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158,
Pasal 159, Pasal 160, Pasal 161, d a n Pasal 162 kepada pelaku
t indak pidana d a p a t dikenai pidana t amb a h a n berupa:
a. pe r ampa s an ba r ang yang digunakan da l am melakukan
t indak pidana;
b. pe r ampa s an keuntungan yang diperoleh da r i tindak
pidana; d a n l a t a u
c . kewajiban membayar biaya yang timbul akiba t tindak
pidana .
Pasal 165
Setiap orang yang rnengeluarkan IUP, IPR, ata.u IUPI< yang
be r t ent angan dengan Undang-Undang ini d a n
menya l ahgunakan kewenangannya diberi s a n k s i pidana paling
l ama 2 ( d u a ) t a h u n penjara d a n d e n d a paling banyak
Rp200.000.000,00 ( d u a r a t u s j u t a r u p i a h ) .
BAB XXIV
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 166
Setiap ma s a l ah yang timbul t e rhadap pe l aks ana an ITJP, I F R ,
a t a u IUPK yang bsrkaitan dengan d amp a k lingkungan
diselesaikan s e sua i dengan k e t e n t u a n pe r a tur an perundang-
u n d a n g a n .
Pasal 167
WP dikelola oleh Menteri dalam s u a t u sistem informasi WP
yang terintegrasi secara nasional u n t u k melakukan
penyeragaman mengenai sistem koordinat d a n peta d a s a r
dalam penerbitan WUP, WIUP, WPR, WPN, WUPK, d a n
WIUPK.
Pasal 168 . . . P R E S I D E N
R E P U B L i K I N D O N E S I A
Pasal 168
Untuk meningkatkan investasi di bidang pertambangan,
Pemerintah d a p a t memberikan keringanan d a n fasilitas
perpajakan s e sua i dengan ke t entuan p e r a t u r a n perundang-
u n d a n g a n kecuali di t entukan lain da l am IUP a t a u IUPK.
BAB XXV
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 169
Pada s a a t Undang-Undang ini mulai berlaku:
a. Kontrak karya d a n perjanjian karya p e r ~ g u s a h a a n
pe r t ambangan b a t u b a r a yang telah ada sebelum
berlakunya Undang-Undang ini t e t ap diberlaltukan
s ampa i jangka waktu berakhirnya kont r ak/pe r j anj i an.
b. Ketentuan yang t e r c antum dalam pasal k0ntra.k karya
d a n perjanjian karya p e n g u s a h a a n pertambangan
b a t u b a r a sebagaimana dimaksud pada huruf a
di s e sua ikan selambat-lambatnya 1 ( s a t u ) t a h u i ~ sejak
Undang-Undang ini diundangkan kecuali rr~engenai
penerimaan negara.
c . Pengecualian t e rhadap penerimaan negara sebagaimana
dimaksud pada huruf b ada l ah upaya penirlgkatan
penerimaan negara.
Pasal 170
Pemegang kontrak karya sebagaimana dimaksud da l am 13asal
169 yang s u d a h berproduksi wajib melakukan perriurriian
sebagaimaria dimaksud dalam Pasal 103 aya t (1) selambat-
l amba tnya 5 (lima) t a h u n sejak Undang-Undang ini
d i u n d a n g k a n .
Pasal 171
(1) Pemegang kontrak karya d a n perjanjian karya
p e n g u s a h a a n pertambangan b a t u b a r a sebagairnana
dimaksud dalam Pasal 169 yang telah melakukan
t a h a p a n kegiatan eksplorasi, s t u d i kelayakan, ltonstruksi,
a t a u operasi produksi paling l amba t 1 ( s a t u ) t a h u n sejak
berlakunya Undang-Undang ini h a m s menyampaikan
r e n c a n a kegiatan pada s e l u r u h wilayah
kont r ak/pe r j anj i an s ampa i dengan jangka waktu
berakhirnya kon t r a k / perjanjian u n t u k mendapa tkan
pe r s e tujuan pemerintah.
(2) Dalam . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
(2) Dalam ha1 ke t entuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) tidak terpenuhi, l u a s wilayah pertambangan y a n g telah
diberikan kepada pemegang kont r ak karya d a n peljanjian
karya pengus aha an pe r t ambangan b a t u b a r a disesuaikan
dengan Undang-Undang ini.
Pasal 172
Permohonan kont r ak karya d a n perjanjian karya p e n g u s a h a a ~ l
pe r t ambangan b a t u b a r a yang telah di a jukan kepada Menteri
paling l amba t 1 ( s a t u ) t a h u n sebelum berlakunya Undang-
Undang ini d a n s u d a h mendapa tkan s u r a t persetujuan prinsip
a t a u s u r a t izin penyelidik.an p e n d a h u l u a n t e t ap dihormati d a n
d a p a t diproses perizinannya t a n p a melalui lelang berdasaskan
Undang-Undang ini.
BAB XXVI
KETENTUANPENUTUP
Pasal 173
(1) Pada s a a t Undang-Undang ini mulai berlaku, Undang-
Undang Nomor 1 1 T a h u n 1967 t ent ang Ketentuan-
Ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran lVegara
Republik Indonesia T a h u n 1967 Nomor 22, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2 8 3 1 )
di c abut d a n dinyatakan tidak berlaku.
(2) Pada s a a t Undang-Undang ini mulai berlaku, s emu a
Pe r a tur an Pe rundang-undangan yang merupakan
p e r a t u r a n pe l aks ana an da r i Undang-Undang N O I J ~ O ~ 1 1
T a h u n 1967 t ent ang Ketentuan-Ketentuan Fokok
Pertambangan (Lembaran Negara Republik Indonesia
T a h u n 1967 Nomor 22, Tarnbahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 283 1) dinya t akan masih tetap
berlaku sepanjang tidak be r t ent angan dengan ketentuan
da l am Undang-Undang ini.
Pasal 174
Pe r a tur an pe l aks ana an Undang-Undang ini h a r u s telah
di t e t apkan dalam wa k t u 1 ( s a t u ) t a h u n sejak Undang-Undang
ini diundangkan.
Pasal 1 7 5
Undang-Undang ini mulai berlaku p a d a tanggal diundangkan.
Agar . . . Agar setiap orang mengetahuinya, mernerintahkan
pengundangan Undang-Undang ini dengan penenlpatannya
da l am Lembaran Negara Republik Indonesia.
Disahkan di J a k a r t a
pada tanggal 12 J a n u a r i 2009
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
t td.
DR. H . SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundanglcan di ,Jakarta
pada tanggal 12 J a n u a r i 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
t td.
AND1 MATTALATTA
LEhIBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009 NOMOR 4
Salinan s e s u a i dengan aslinya
SEKRETARIAT NEGARA RJ
Kepala Biro Pe rundang-undangan
Bidang Perekonomian d a n Industri, P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
PENJELASAN
ATAS
UIVDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 4 TAHUN 2009
TENTANG
PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA
Undang-Undang Da s a r 1945 Pasal 3 3 aya t ( 3 ) menegaskan bahwa
bumi, air, d a n kekayaan alam yang t e rkandung di dalamnya dikuasai oleh
negara d a n dipe rgunakan u n t u k sebesar-besar kemakmur an rakyat.
Mengingat mineral d a n b a t u b a r a sebagai kekayaan alam yang terkandung
dl dalam bumi me rupakan s umb e r daya alam yang t ak t e rba rukan,
pengelolaannya perlu dilakukan seoptimal mungkin, efisien, t r a n s p a r a n ,
berkelanj u t a n d a n benvawasan lingkungan, s e r t a berkeadilan agar
memperoleh manf a a t sebesar- besar bagi kemakmur an rakyat secar a
berkelanjutan.
Gu n a memenuhi ke t entuan Pasal 33 aya t ( 3 ) Undang-Undang Dasar
1945 tersebut, telah diterbitkan Undang-Undang Nomor 11 ‘Tahun 1967
tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. Undang-undarrg
tersebut selama lebih k u r a n g empa t da s awa r s a sejak diberlakukannya telah
dapa t memberikan s umb a n g a n yang penting bagi pembangunan nasional.
Dalam perkembangan lebih l anjut , u n d a n g – u n d a n g tersebut yang
ma teri mu a t a n n y a bersifat sentraiistik s u d a h tidak s e sua i dengan
perkembangan s i tua s i s eka r ang d a n t ant angan di rrlasa d e p a n , Di sarripirig
i t u , pembangunan pertambangan h a r u s menyesuaikan diri dengan
peruhahan lingkungan strategis, baik bersifat nasional ma u p u n
internasional. Tant angan u t a m a yang dihadapi oleh pertambangan mineral
dan b a t u b a r a ada l ah penga ruh globalisasi yang mendorong demokra tisasi,
otonomi daerali, h a k a s a s i manus i a , lingkungan hidup, perkembangan
tekriologi d a n informasi, h a k a t a s kekayaan intelektual s e r t a t u n t u t a n
peningkatan pe r an swa s t a d a n ma sya r aka t .
Untuk menghadapi t a n t a n g a n lingkungan strategis d a n menjawab
sejumlah perrnasalahan tersebut, perlu d i s u s u n p e r a t u r a n peruridang-
u n d a n g a n baru di bidang pertambangan mineral d a n b a t u b a r a yang d a p a t
memberikan l a n d a s a n h u k u m bagi langkah-langkah pemba ruan d a n
pena t a an kembali kegiatan pengelolaan d a n p e n g u s a h a a n pertarnbangan
mineral d a n b a t u b a r a .
Undang-Undang . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I P ,
Undang-Undang ini mengandung pokok-pokok pikiran sebagai bel-ikut:
1. Mineral d a n b a t u b a r a sebagai surriber daya yang t ak terbarukan
dikuasai oleh negara d a n pengembangan s e r t a pendayagunaannya
dilaksanakan oleh Pemerintah d a n pemerintah d a e r a h bersama dengan
pelaku u s a h a .
2 . Pemerintah s e l anjutnya memberikan ke s empa t an kepada badan u s a h a
yang berbadan h u k u m Indonesia, koperasi, perseorangan, mallpun
masyarakat s e t empa t u n t u k melakukan p e n g u s a h a a n mineral dari
b a t u b a r a be rda s a rkan izin, yang sejalan dengan otonomi da e r ah,
diberikan oleh Pemerintah d a n / a t a u pemerintah d a e r a h s e sua i dengan
kewenangannya masing-masing.
3 . Dalam r angka penyelexlggaraan desentralisasi d a n otonomi da e r ah,
pengelolaan pe r t ambangan mineral d a n b a t u b a r a dilaksanakan
be rda s a rkan prinsip eksternalitas, akunt abi l i t a s , d a n efisiensi yang
melibatkan Pemerintah d a n pemerintah d a e r a h .
4. Usaha pe r t ambangan h a r u s memberi manf a a t ekonomi d a n sosial yang
sebesar-besar bagi kesejahteraan rakyat Indonesia.
5. Usaha pe r t ambangan h a r u s d a p a t mempercepat pengembangan wilayah
d a n mendorong kegiatan ekonomi ma s y a r a k a t / p e n g u s a h a kecil d a n
menengah s e r t a mendorong t umb u h n y a indus t r i perlunjang
pe r t ambangan.
6. Dalam r angka terciptanya pembangunan berkelanjutan, kegiatan u s a h a
pertambangan h a r u s di l aks anakan dengarl memperhatikan prinsip
lingkungan hidup, t r a n s p a r a n s i , d a n partisipasi ma sya r aka t .
11. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
C u k u p jelas.
P a s a l 2
Huruf a
C u k u p jelas.
Huruf b
C u k u p jelas.
Huruf c
C u k u p jelas. P R E S l D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Huruf d
Yang dimaksud dengan a s a s berkelanjutan d a n b emawa s a n
lingkungan ada l ah a s a s yang s e c a r a terencana
mengintegrasikan dimensi ekonomi, lingkungan, d a n sosial
budaya da l am ke s e luruhan u s a h a pertambangan mineral d a r ~
b a t u b a r a u n t u k mewujudkan kesejahteraan ma s a kini dan
ma s a menda t ang.
Pasal 3
C u k u p jelas.
Pasal 1
C u k u p jelas.
P a s a l 5
C u k u p jelas.
P a s a l 6
Ayat (1)
Huruf a
C u k u p jelas.
Huruf b
C u k u p jelas.
Huruf c
S t a n d a r nasional di bidang pe r t ambangan mineral d a n
b a t u b a r a ada l ah spesifikasi teknis a t a u s e s u a t u yaiig
d i b a k u k a n .
Huruf d
C u k u p jelas.
Huruf e
C u k u p jelas.
Huruf f
C u k u p jelas.
Huruf g
C u k u p jelas.
Huruf h
C u k u p jelas.
Huruf i
C u k u p jelas.
H u r u f j . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Huruf j
C u k u p jelas.
Huruf k
C u k u p jelas.
Huruf 1
C u k u p j elas.
Huruf m
C ~ ~ k u p jelas.
Huruf n
C u k u p jelas.
Huruf o
Culcup jelas.
H uruf p
C u k u p jelas.
Huruf q
C u k u p jelas.
Huruf r
C u k u p jelas.
Huruf s
Yang dimaksud dengan neraca s umb e r daya mineral da11
b a t u b a r a tingkat nasional ada l ah neraca y a n g
menggambarkan jumlah s umb e r daya, c adangan, clan
produksi mineral d a n b a t u b a r a s e c a r a nasional.
Huruf t
C u k u p jelas.
Huruf u
C u k u p jelas.
Ayat ( 2 )
C u k u p jelas.
Pasal 7
C ~ k u p jelas. P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Pasal 8
C u k u p jelas.
P a s a l 9
C u k u p jelas.
Pasal 10
C u k u p j elas.
Pasal 11
C u k u p jelas.
Pasal 12
C u k u p jelas.
Pasal 13
C u k u p jelas.
Pasal 14
C u k u p jelas.
Pasal 15
Kewenangan yang dilimpahkan ada l ah kewenangan dalam
mene t apkan WUP u n t u k mineral b u k a n logam d a n b a t u a n clalarn
s a t u k a b u p a t e n l kota a t a u lintas k a b u p a t e n / kota.
Pasal 16
C u k u p jelas.
Pasal 17
Yailg dimaksud dengaiz l u a s ada l ah l u a s maksimuln clan lua s
minimum.
Penentuan b a t a s di l akukan be rda s a rkan keahlian yang diterima oleh
s e m u a pihak.
Pasal 18
C u k u p jelas.
Pasal 19
C u k u p jelas.
P a s a l 2 0
C u k u p jelas.
P a s a l 2 1
Penetapan WPR dida s a rkan pada perericanaan dengan rnelakukan
sinkronisasi d a t a d a n informasi melalui sistem informasi WP.
P a s a l 2 2 . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Pasal 2 2
Huruf a
Yang dimaksud dengall tepi d a n tepi sungai adalalz da e r ah
a k umu l a s i pengayaan mineral s e k u n d e r (pay streak) dalam
s u a t u meander sunga i .
I-Iuruf b
C u k u p jelas.
Iiuruf c
C u k u p jelas.
Huruf d
C u k u p jelas.
Huruf e
C u k u p jelas.
Huruf f
C u k u p jelas.
Pasal 2 3
Pengumuman r enc ana LVPR dilakukan di kantor desa / kelurahan dan
k a n t o r / i n s t a n s i terkait; dilengkapi dengan peta situasi yang
menggambarkan lokasi, l u a s , d a n b a t a s s e r t a daftar koo~.ditl a t ; d a n
dilengkapi daftar pemegang h a k a t a s t a n a h yang berada dalarn W P R .
Pasal 24
C u k u p jelas.
P a s a l 2 5
C u k u p jelas.
P a s a l 2 6
Culcup j elas.
P a s a l 2 7
Ayat (1)
Penetapan WPN u n t u k kepentingan nasional diinaksudkan u n t u k
mendorong p e r t umb u h a n ekonomi nasional, ke t ahanan energi
d a n indus t r i strategis nasional, serta meningkatkan daya saing
nasional dalam menghadapi t ant angan global.
Yang. P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Yang dimaksud dengan komoditas t e r t entu a n t a r a lain tembaga,
timah, ema s , besi, nikel, d a n bauks i t s e r t a b a t u b a r a .
Konservasi yang dimaksud juga menc akup u p a y a pengelolaan
mineral d a n / a t a u b a t u b a r a yang kebe r ada annya t e rba t a s .
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan sebagian l u a s wilayahnya adalah u n t u k
mc n e n t u k a n persentase be s a r an l u a s wilayah yang akan
d i u s a h a k a n .
Ayat ( 3 )
Ybng dimaksud dengan b a t a s a n waktu ada l ah WPIV yang
di t e t apkan u n t u k konservasi d a p a t d i u s a h a k a n setelah riieiewati
jangka waktu t e r t entu.
Ayat (4)
C u k u p jelas.
Pasal 2 8
C u k u p jelas.
Pasal 29
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan koordinasi ada l ah mengakomodasi
s e m u a kepentingali da e r ah yaIig terkait dengan WUPK s e sua i
dengan k e t e n t u a n pe r a tur an pe rundang-undangan.
Ayat ( 2 )
C u k u p jelas.
Pasal 30
C u k u p jelas.
P a s a l 3 1
Yang dimaksud dengan l u a s ada l ah l u a s maks imum d a n l u a s
minimum.
Penentuan b a t a s di l akukan be rda s a rkan keahlian yang d i t e r i ~ n a oleh
s e m u a pihak.
Pasal 3 2
C u k u p jelas.
Pasal 33
C u k u p j e l a s .
Pasal 3.1 P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Pasal 3 4
Ayat ( 1 )
Huruf a
C u k u p jelas.
Huruf b
C u k u p jelas.
Ayat ( 2 )
Huruf a
Yang dimaksud dengan pe r t ambangan mineral radioaktif
a d a l a h pertambangan sebagaimana d i a t u r dalain pe r a tur an
pe rundang-undangan di bidang ketenaganukliran
Huruf b
Pertambangan mineral logam dalam ke t entuan ini
t e rma suk mineral ikut annya .
Huruf c
C u k u p jelas.
Huruf d
C u k u p jelas.
Ayat (3)
C u k u p jelas.
Pasal 35
C u k u p jelas.
Pasal 36
C u k u p jelas.
Pasal 37
C u k u p jelas.
Pasal 38
Huruf a
Badan u s a h a dalam ke t entuan ini meliputi juga badan u s a h a
milik nega r a d a n badan u s a h a milik d a e r a h .
Huruf b
C u k u p jelas.
Huruf c . . . P R E S l D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
IIuruf c
C u k u p jelas.
Pasal 39
Ayat (1)
Huruf a
C u k u p jelas.
Huruf b
C u k u p jelas.
Huruf c
C u k u p jelas.
Humf d
J a m i n a n ke sungguhan da l am k e t e n t u a n ini t e rma suk
biaya pengelolaan lingkungan akiba t kegiatan eksplorasi.
Huruf e
C u k u p jelas.
Huruf f
C u k u p jelas.
Huruf g
C u k u p jelas.
Huruf h
C u k u p jelas.
Muruf i
C u k u p jelas.
Huruf j
C u k u p jelas.
Huruf k
C u k u p jelas.
Huruf 1
C u k u p jelas.
Huruf m
C u k u p jelas. P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Huruf n
C u k u p jelas.
Ayat (2)
C u k u p jelas.
Pasal 4 0
C u k u p jelas.
Pasa! 4 1
C u k u p jelas.
Pasal 42
Ayat (1)
J a n g k a waktu 8 (delapan) t a h u n meliputi penyelidilcan urnurn 1
( s a t u ) t a h u n ; eksplorasi 3 (tiga) t a h u n d a n d a p a t diperpanjang 2
( d u a ) kali masing-masing 1 ( s a t u ) t a h u n ; s e r t a s t u d i kelayakan
1 ( s a t u ) t a h u n d a n d a p a t diperpanjang 1 ( s a t u ) kali 1 ( s a t u )
t a h u n .
Ayat (2)
J a n g k a waktu 3 (tiga) t a h u n meliputi penyelidikan umu n i 1
( s a t u ) t a h u n , eksplorasi 1 ( s a t u ) t a h u n , d a n s t u d i kelayakan P
( s a t u ) t a h u n .
Yang dimaksud dengan mineral b u k a n logam j e ~ l i s tertentu
ada l ah a n t a r a lain b a t u gamping u n t u k indus t r i semen, int an,
d a n b a t u mulia.
J a n g k a waktu 7 ( t u j u h ) t a h u n rneliputi penyelidikan u m u m 1
( s a t u ) t a h u n ; eksplorasi 3 (tiga) t a h u n d a n d a p a t diperpanjarig 1
( s a t u ) kali 1 ( s a t u ) t a h u n ; s e r t a s t u d i kelayakan 1 ( s a t u ) t a h u n
d a n d a p a t diperpanjang 1 ( s a t u ) kali 1 ( s a t u ) t a h u n .
Ayat (3)
J a n g k a waktu 3 (tiga) t a h u n meliputi penyelidikan u m u m 1
( s a t u ) t a h u n , eksplorasi 1 ( s a t u ) t a h u n , dan s t u d i kelayakan 1
( s a t u ) t a h u n .
Ayat (4)
J a n g k a waktu 7 ( t u j u h ) t a h u n meliputi perlyelidikan umuril 1
( s a t u ) t a h u n ; eksplorasi 2 ( d u a ) t a h u n d a n d a p a t diperpanjang 2
( d u a ) kali masing-masing 1 ( s a t u ) t a h u n ; s e r t a s tudi Itelayakan
2 ( d u a ) t a h u n . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
P a s a l 4 3
C u k u p jelas.
Pasal 44
C u k u p jelas.
P a s a l 4 5
C u k u p jelas.
Fasal 46
Ayat ( 1)
C u k u p jelas.
Ayat ( 2 )
Yang dimaksud dengan d a t a hasil kajian s t u d i kelayakan
me r u p a k a n sinkronisasi d a t a milik Pemerintah d a n pemcrintah
d a e r a h .
Pasal 47
Ayat ( 1)
J a n g k a waktu 20 ( d u a puluh) t a h u n dalam keterrtuan ini
t e rma s u k jangka waktu uxltuk kons t ruks i selama 2 ( d u a )
t a h u n .
Ayat ( 2 )
C u k u p J e l a s
Ayat ( 3 )
Yang dimaksud dengan mineral b u k a n logam jcnis tertentu
ada l ah a n t a r a lain b a t u gamping u n t u k indus t r i semen, int an,
d s n b a t u mulia.
J a n g k a waktu 2 0 ( d u a puluh) t a h u n dalam ketentuan ini
terrriasuk jangka waktu u n t u k kons t ruks i selanra 2 ( d u a )
t a h u n .
Ayat (4)
C u k u p jelas.
Ayat ( 5 )
J a n g k a waktu 20 ( d u a puluh) t a h u n da l am ketentuan ini
t e rma s u k jangka waktu u n t u k kons t ruks i selama 2 ( d u a )
t a h u n . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
P a s a l 4 8
C u k u p jelas.
Pasal 49
C u k u p jelas.
Pasal 5 0
C u k u p jelas.
Pasal 5 1
Pertambangan mineral logam dalam ke t entuan ini t e rma suk mineral
ikut annya .
P a s a l 5 2
Ayat (1)
C u k u p jelas.
Ayat (2)
Apabila da l am WIUP t e rdapa t mineral lain yang berbeda
ke t e rdapa t annya secara vertikal m a u p u n horizontal, pihalc lain
d a p a t mengus ahakan mineral t e r s ebut .
Ayat ( 3 )
C u k u p jelas.
Pasal 53
C u k u p jelas.
Pasal 54
C u k u p jelas.
Pasal 5 5
Ayat. (1)
C u k u p jelas.
Ayat (2)
Apabila da l am WICJP t e rdapa t mineral lain yang bel-beda
ke t e rdapa t annya s e c a r a vertikal m a u p u n horizontal, pihalc lain
d a p a t merigusahakan mineral t e r s ebut .
Ayat ( 3 )
C u k u p jelas.
P a s a l 5 6
C u k u p jelas.
Pasal 5’7. . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
P a s a l 5 7
C u k u p jelas.
P a s a l 5 8
Ayat (1)
C u k u p jelas.
Ayat (2)
Apabila da l am WIUP t e rdapa t mineral lain yang berbeda
ke t e rdapa t annya s e c a r a vertikal m a u p u n horizontal, pihak lain
d a p a t me n g u s a h a k a n mineral t e r s ebut .
Ayat (3)
C u k u p jelas.
Pasal 59
C u k u p jelas.
P a s a l 6 0
C u k u p jelas.
P a s a l 6 1
Ayat (1)
C u k u p jelas.
Ayat (2)
Apabila da l am WIUP t e rdapa t mineral lain yang berbecia
ke t e rdapa t annya secara vertikal m a u p u n horizontal, pihak lain
d a p a t me n g u s a h a k a n mineral t e r s ebut .
Ayat (3)
C u k u p jelas.
Pasal 6 2
C u k u p jelas.
P a s a l 6 3
C u k u p jelas.
Pasal 6 4
Cu k u p jelas.
Pasal 65
C c k u p jelas. P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Pasal 6 6
C u k u p je.las.
P a s a l 6 7
Ayat (1)
C u k u p jelas.
Ayat (2)
C u k u p jelas.
Ayat (3)
S u r a t permohonan sehagaimana dimaksud dalam ke t entuan i n i
disertai dengan meterai c u k u p d a n dilampiri rekomendasi clari
kepala d e s a / l u r a h / kepala a d a t rnengenai kebena r an riwnyat
pemohon u n t u k memperoleh prioritas dalam mendapa tkan JPR.
P a s a l 6 8
C u k u p jelas.
Pasal 69
C u k u p jelas.
Pasal 70
H uruf a
C u k u p jelas.
Huruf b
C u k u p jelas.
H uruf c
Kegiatan pengelo1aa.n lingkungan hidup meliputi pencegallan
d a n penanggulangan pencemaran s e r t a pemulihan fungsi
lingkungan hidup, t e rma suk reklamasi l a h a n beka s tambang.
Huruf d
C u k u p jelas.
Huruf e
Laporan disampaikan setiap 4 (empat) b u l a n .
Pasa.1 7 1
C u k u p jelas.
P a s a l 7 2
C u k u p jelas.
Pasal 7 3 . . . Pasal 73
C u k u p jelas.
Pasal 74
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan memperhatikan kepentingan daerah
a d a l a h da l am r angka pernberdayaan d a e r a h .
Ayat (2)
Pe r t ambangan mineral logam dalam k e t e n t u a n ini termasulc
mineral ikut annya .
Ayat (3)
C u k u p jelas.
Ayat (41
C u k u p jelas.
Ayat (5)
C u k u p jelas.
Ayat (6)
C u k u p jelas.
Ayat ( 7 )
C u k u p jelas.
P a s a l 7 5
C u k u p jelas.
P a s a l 7 6
C u k u p jelas.
Pasal 77
Ayat ( 1 )
C u k u p jelas.
Ayat (2)
‘Yang dimaksud dengan d a t a hasil kajian s t u d i kela.yakan
me r u p a k a n sinkronisasi d a t a milik Pemerintah d a n pemeriritah
d a e r a h .
P a s a l 7 8
Huruf a
C u k u p jelas.
H u r u f b. . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Huruf b
Cul tup .jelas.
Iiuruf c
C u k u p jelas.
Huruf d
‘Jaminan ke sungguhan t e rma suk di d a l a n ~ i i y a biayra
pengelolaan lingkungan akibat kegiatan eksplorasi.
Huruf e
C u k u p jelas.
Huruf f
C u k u p jelas.
Huruf g
C u k u p jelas.
Huruf h
C u k u p jelas.
EIuruf i
C u k u p jelas.
Huruf j
C u k u p jelas.
Muruf k
C u k u p j elas.
Huruf 1
C u k u p jelas.
Huruf m
C l ~ k u p jelas.
Huruf n
Cu k u p jelas.
Pasal 79
Huruf a
C u k u p jelas.
Huruf b. . . P R E S I D E N
R E P U B L l K I N D O N E S I A
Huruf b
Cukup j e l a s .
Huruf c
Cukup j e l a s .
Huruf d
Cukup j e l a s .
Huruf e
Cukup j e l a s .
Huruf f
Cukup j e l a s .
Huruf g
Cukup j e l a s .
Huruf h
Cukup j e l a s .
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf j
Cukup jelas.
Huruf k
Cukup j e l a s .
Huruf 1
Cukup j e l a s .
Huruf m
Cukup j e l a s .
Huruf n
Cukup j e l a s .
Huruf o
Cukup jelas.
Huruf p
Cukup j e l a s .
Huruf q . . . P R E S l D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Huruf q
C u k u p jelas.
Huruf r
C u k u p jelas.
Huruf s
C u k u p jelas.
Huruf t
C u k u p jelas.
Huruf u
C u k u p jelas.
Huruf v
C u k u p jelas.
Huruf w
C u k u p jelas
Huruf x
C u k u p jelas.
Huruf y
Penc antuman divestasi s a h a m h a n y a berlaku apabila s a h a m ~ i y a
dimiliki oleh asing s e sua i dengan ketentuaii pe r a tur an
pe rundang-undangan.
P a s a l 8 0
C u k u p jelas.
Pasal8 1
C u k u p jelas.
Fa s a l 8 2
C u k u p jelas.
P a s a l 8 3
Huruf a
C u k u p jelas.
Huruf b
Cu.kup jelas.
Huruf c. . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Huruf c
C u k u p jelas.
Huruf d
C u k u p jelas.
Huruf e
J a n g k a waktu 8 (delapan) t a h u n meliputi penyelidikan umurn 1
( s a t u ) t a h u n ; eksplorasi 3 (tiga) t a h u n d a n d a p a t diperpanjang 2
( d u a ) kali masing-masing 1 ( s a t u ) t a h u n ; s e r t a s t u d i kelajraklin
1 ( s a t u ) t a h u n d a n d a p a t diperpanjang 1 ( s a t u ) kali 1 ( s a t u )
t a h u n .
Huruf f
J a n g k a waktu 7 ( tujuh) t a h u n meliputi penyelidikan umum 1
( s a t u ) t a h u n ; eksplorasi 2 ( d u a ) t a h u n d a n d a p a t d j p e r p a n ~ a n g 2
( d u a ) ltali masing-masing 1 (sa-tu) t a h u n ; s e r t a s tudi Icelayakan
2 ( d u a ) t a h u n .
Huruf g
J a n g k a waktu 20 ( d u a puluh) t a h u n da l am ke t entuan ini
t e rma s u k jangka waktu u n t u k kons t ruks i selama 2 ( d u a )
t a l iun.
P a s a l 8 4
C u k u p jelas.
Pasal 85
C u k u p jelas.
P a s a l 8 6
C u k u p j elas.
P a s a l 8 7
C u k u p j elas.
F’asal 88
C u k u p jelas.
Pasal 8 9
C u k u p jelas.
P a s a l 9 0
C u k u p jelas. P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Pasal 9 1
C u k u p jelas.
Pasal 92
C u k u p jelas.
Pasal 9 3
Ayat (1)
C u k u p jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud eksplorasi t a h a p a n t e r t entu dalam ke t entuan
ini yaitu telah di t emukan 2 ( d u a ) wilayah prospek dalam
kegiatan eksplorasi.
Ayat ( 3 )
C u k u p jelas.
Pasal 94
C u k u p jelas.
P a s a l 9 5
C u k u p jelas.
P a s a l 9 6
HUI-uf a
C u k u p jelas.
EI uruf b
C u k u p jelas.
Huruf c
C u k u p jelas.
Huruf d
C u k u p jelas.
Huruf e
Yarig dimaksud dengan s i s a t ambang meliputi a n t a r a lain
tailing d a n limbah ba tuba r a .
P a s a l 9 7
C u k u p jelas.
Pasal 98 . . . P R E S I D E N
RE PUB L I K I N D O N E S I A
P a s a l 9 8
Ketentuan ini dimaksudkan merigingat u s a h a pe r t ambangan pada
s umb e r a i r d a p a t mengakibatkan p e r u b a h a n morfologi s umb e r air,
baik p a d a kawa s an h u l u m a u p u n hilir.
P a s a l 3 9
C u k u p jelas.
Pasa! 100
C u k u p jelas.
Pasal 10 1
Ketentuan mengenai d a n a jaminan reklamasi d a n d a n a janlinan
pa s c a t ambang berisi, a n t a r a lain, be s a r an, t a t a c a r a penyetoran d a n
pencairan, s e r t a pelaporan penggunaan d a n a j aminan.
Pasal 102
Nilai t amb a h da l am ke t entuan ini dimaksudkan u n t u k rneningkatkan
produk a k h i r da r i u s a h a pertambangan a t a u pemanfaatarl terhadap
mineral i k u t a n .
Pasal 103
ayat (1)
Kewajiban u n t u k rnelakukarl pengolahan darl pemurnian di
dalam negeri dimaksudkan, a n t a r a lain, u n t u k rneningkatkan
d a n mengoptimalkan nilai tainbang da r i produk, tersedianya
b a h a n b a k u indus t r i , penyerapan tenaga kerja, d a n
perlingkatan penerimaan negara.
a.vat (2)
C u k u p jelas.
aya t ( 3 )
C u k u p jelas.
Pasal 104
C u k u p jelas.
Pasal 105
Ayat i 1 f
Yang dimaksud dengan terlebih d a h u l u memiliki IUP Operasi
Produksi u n t u k penjualan da l am k e t e n t u a n ini adalah
p e n g u m s a n izin pengangkutan d a n penjualan a t a s lnineral
d a n / a t a u b a t u b a r a yang tergali.
Ayat ( 2 ) . . . P H E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Aya.t ( 2 )
Izin diberikan setelah terlebih d a h u l u dilakukan perneriksaan
d a n evaluasi a t a s mineral d a n / a t a u b a t u b a r a yang tergali ole11
i n s t a n s i teknis terkait.
AyaL ( 3 )
C u k u p jelas.
Ayat (4)
C u k u p jelas.
Pasal 106
Pemanfaatan tenaga kerja setempat t e t ap mernper-tirnbangkan
kompeterisi tenaga kerja d a n keahlian tenaga kerja yang tersedja.
Ketentuan ini dimaksudkan u n t u k mendulsung d a n
menumbuhkembangkan kemampuan nasional aga r lebih rrlampu
bersaing.
Pasal 107
C u k u p jelas.
Pasal 108
Ayat (1)
C u k u p jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan ma sya r aka t a d a l a h ma sya r aka t yang
berdomisili di sekitar operasi pe r t ambangan.
Pasal 109
C u k u p jelas.
Pasal 1 10
C u k u p jelas.
Pasal 11 1
C u k u p jelas.
Pasal 2 12
C u k u p jelas.
Pasal ! 13
Ayat ( 1 P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
I-Iuruf a
Yang dimaksud ke ada an k a h a r w r c e majeurj dalam ayat
ini, a n t a r a lain, perang, k e r u s u h a n sipil, pemberontakan,
epidemi, gempa bumi, banjir, kebaka r an, d a n bencnna
a l am di lua r kemampuan ma n u s i a .
Muruf b
Yang dimaksud ke ada an yang menghalangi dalam ayat
ini, a n t a r a lain, blokade, pemogokan, d a n perselisihan
p e r b u r u h a n di l u a r ke s a l ahan pemegang I U P a t a u I U P K
d a n p e r a t u r a n pe rundang-undangan yang diterbitkan
oleh Pemerintah yang menghamba t kegiatan u s a h a
pe r t ambangan yang s edang berjalan.
Huruf c
C u k u p jelas.
Ayat ( 2 )
C u k u p jelas.
Ayat ( 3 )
Permohonan menjelaskan kondisi ke ada an k a h a r d a n / a t a u
lreadaan yang menghalangi sehingga mengakibatkan
penghentian sebagian a t a u s e l u r u h kegiatan u s a h a
pe r t ambangan.
Ayat (4)
Permohonan ma sya r aka t memu a t penjelasan ke ada an kondisi
daya d u k u n g lingkungan wilayah yang dikaitkan dongan
aktivitas kegiatan penambangan.
Ayat ( 5 )
C u k u p jelas.
Pasal 1 14
C u k u p jelas.
Pasal 1 1 S
C u k u p jelas.
Pasal 1 16
C u k u p jelas.
Pasal 1 17
Culcup jelas. P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Pasal 1 18
Ayat (1) I
Yang dimaksud dengan a l a s a n yang jelas dalam k e t e r ~ t u a n ini
a n t a r a lain tidak ditemukannya prospek secara teknis,
ekonornis, a t a u lingltungan.
Ayat (2)
C u k u p jelas.
Pasal 1 19
C u k u p jelas.
Pasal 120
Yang d ima k s u d dengan peningkatan ada l ah peningkatan dari t a h a p
ekplorasi ke t a h a p operasi produksi.
Pasal 12 1
C u k u p jelas.
Pasal 122
C u k u p jelas
Pasal 1 2 3
C u k u p jelas.
Pasal 124
Ayat (1)
F’erusahaan nasional d a p a t mendirikan pe rus aha an cabang di
da e r ah.
Ayat (2)
C u k u p jelas.
Ayat (3)
C u k u p jelas.
Pasal 1 2 5
C u k u p jelas.
Pasal 126
C u k u p jelas.
Pasal 127
C u k u p jelas.
Pasal 1 2 8 . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Pasal 128
C u k u p jelas.
Pasal 129
C u k u p jelas.
Pasal 130
C u k u p jelas.
Pasal 131
C u k u p jelas.
Pasal 132
C ~ t k u p j elas.
Pasal 133
C u k u p jelas.
Pasal 134
C u k u p jelas.
Pasal 135
Persetujuan da r i pemegang h a k a t a s t a n a h dimaksudkan u n t u k
menyelesaikan l ahan- l ahan yang terganggu oleh kegiatan eksplorasi
seper-ti pengeboran, parit uji, d a n pengambilan contoh.
Pasal 136
C u k u p jelas.
Pasal 137
C u k u p jelas.
Pasal 138
C u k u p jelas.
Pasal 139
C u k u p jelas.
Pasal 140
C u k u p jelas.
Pasal 141
C u k u p jelas.
Pasal 142
C u k u p jelas. . . P R E S l D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
C u k u p jelas.
Pasal 1 4 3
C u k u p jelas.
Pasal 144
C u k u p jelas.
Pasal 1 4 5
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan ma sya r aka t ada l ah mereka yang
t e rkena d amp a k negatif l angsung dari kegiatan u s a h a
pe r t ambangan.
Ayat (2)
C u k u p jelas.
Pasal 146
C u k u p jelas.
Pasal 147
C u k u p jelas.
Pasal 148
C u k u p jelas.
Pasal 149
C u k u p jelas.
Pasal 150
C u k u p jelas.
Pasal 1 5 1
C u k u p jelas.
Pasal 152
C u k u p jelas.
Pasal 1 5 3
C u k u p jelas.
Pasal 154
C u k u p jelas.
Pasal 155
Cultup jelas . . . P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
C u k u p jelas.
Pasal 156
C u k u p jelas.
Pasal I 5 7
C u k u p j elas.
Pasal 155
C u k u p jelas,
Pasal 1.59
C u k u p jelas.
Pasal 160
C u k u p jelas.
Pasal 161
C u k u p jelas.
Pasal 1612
C u k u p jelas.
Pasal 163
C u k u p jelas.
Pasal 164
C u k u p jelas.
Pasal 1 6 5
Yang d ima k s u d dengan setiap orang ada l ah pejabat yang menerbitkan
IUP, IPR, a t a u IUPK.
Pasal l66
C u k u p jelas.
Pasal 167
C u k u p jelas.
Pasal 1 G 8
C u k u p jelas.
Pasal 169
Huruf’ a
C u k u p jelas. P R E S I D E N
R E P U B L I K I N D O N E S I A
Huruf b
S e m u a pa s a l yang t e rkandung da l am kont r ak karya d a n
perjanjian karya pengus aha an pe r t ambangan b a t u b a r a h a r u s
di s e sua ikan dengan Undang-Undang.
Huruf c:
C u k u p jelas.
Pasal 170
C u k u p jelas.
Pasal 17 1
Cuku.p jelas.
Pasal 172
C u k u p jelas.
Pasa.1 1 7 3
C u k u p jelas.
Pa s a l 174
C u k u p jelas.
Pasal 175
C u k u p jelas.
T A M B A H A N L E M B A R A N N E G A R A REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4959

___

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 23 TAHUN 2010
TENTANG
PELAKSANAAN KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN
MINERAL DAN BATUBARA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 5 ayat (5), Pasal
34 ayat (3), Pasal 49, Pasal 63, Pasal 65 ayat (2), Pasal 71
ayat (2), Pasal 76 ayat (3), Pasal 84, Pasal 86 ayat (2), Pasal
103 ayat (3), Pasal 109, Pasal 111 ayat (2), Pasal 112, Pasal
116, dan Pasal 156 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009
tentang Pertambangan Mineral dan Batubara perlu
menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan
Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara;
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4959);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN
USAHA PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Pertambangan, Mineral, Batubara, Pertambangan Mineral, Pertambangan
Batubara, Usaha Pertambangan, Izin Usaha Pertambangan yang
selanjutnya disebut IUP, Badan Usaha, Wilayah Izin Usaha Pertambangan
yang selanjutnya disebut WIUP, Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi yang
selanjutnya disebut IUP Eksplorasi, Izin Usaha Pertambangan Operasi
Produksi yang selanjutnya disebut IUP Operasi Produksi, Wilayah Usaha
Pertambangan Khusus yang selanjutnya disebut WUPK, Izin Usaha
Pertambangan Khusus yang selanjutnya disebut IUPK, Izin Usaha
Pertambangan Khusus Eksplorasi yang selanjutnya disebut IUPK
Eksplorasi, Izin Usaha Pertambangan Khusus Operasi Produksi yang
selanjutnya disebut IUPK Operasi Produksi, Wilayah Pertambangan
Rakyat yang selanjutnya disebut WPR, Izin Pertambangan Rakyat yang
selanjutnya disebut IPR, Eksplorasi, dan Operasi Produksi adalah
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009
tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. – 2 –
2. Afiliasi adalah badan usaha yang mempunyai kepemilikan saham
langsung dengan pemegang IUP atau IUPK.
3. Badan Usaha Swasta Nasional adalah badan usaha, baik yang berbadan
hukum maupun yang bukan berbadan hukum, yang kepemilikan
sahamnya 100% (seratus persen) dalam negeri.
4. Badan usaha milik negara yang selanjutnya disebut BUMN, adalah BUMN
yang bergerak di bidang pertambangan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
5. Badan usaha milik daerah yang selanjutnya disebut BUMD, adalah BUMD
yang bergerak di bidang pertambangan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
6. Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau
badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan
prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar
atas asas kekeluargaan.
7. Masyarakat adalah masyarakat yang berdomisili disekitar operasi
pertambangan.
8. Divestasi saham adalah jumlah saham asing yang harus ditawarkan untuk
dijual kepada peserta Indonesia.
9. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang pertambangan mineral dan batubara.
Pasal 2
(1) Pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara
ditujukan untuk melaksanakan kebijakan dalam mengutamakan
penggunaan mineral dan/atau batubara untuk kepentingan dalam
negeri.
(2) Pertambangan mineral dan batubara sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dikelompokkan ke dalam 5 (lima) golongan komoditas tambang:
a. mineral radioaktif meliputi radium, thorium, uranium, monasit, dan
bahan galian radioaktif lainnya;
b. mineral logam meliputi litium, berilium, magnesium, kalium,
kalsium, emas, tembaga, perak, timbal, seng, timah, nikel,
mangaan, platina, bismuth, molibdenum, bauksit, air raksa,
wolfram, titanium, barit, vanadium, kromit, antimoni, kobalt,
tantalum, cadmium, galium, indium, yitrium, magnetit, besi,
galena, alumina, niobium, zirkonium, ilmenit, khrom, erbium,
ytterbium, dysprosium, thorium, cesium, lanthanum, niobium,
neodymium, hafnium, scandium, aluminium, palladium, rhodium,
osmium, ruthenium, iridium, selenium, telluride, stronium,
germanium, dan zenotin;
c. mineral bukan logam meliputi intan, korundum, grafit, arsen, pasir
kuarsa, fluorspar, kriolit, yodium, brom, klor, belerang, fosfat,
halit, asbes, talk, mika, magnesit, yarosit, oker, fluorit, ball clay,
fire clay, zeolit, kaolin, feldspar, bentonit, gipsum, dolomit, kalsit,
rijang, pirofilit, kuarsit, zirkon, wolastonit, tawas, batu kuarsa,
perlit, garam batu, clay, dan batu gamping untuk semen;
d. batuan meliputi pumice, tras, toseki, obsidian, marmer, perlit,
tanah diatome, tanah serap (fullers earth), slate, granit,
granodiorit, andesit, gabro, peridotit, basalt, trakhit, leusit, tanah
liat, tanah urug, batu apung, opal, kalsedon, chert, kristal kuarsa,
jasper, krisoprase, kayu terkersikan, gamet, giok, agat, diorit, – 3 –
topas, batu gunung quarry besar, kerikil galian dari bukit, kerikil
sungai, batu kali, kerikil sungai ayak tanpa pasir, pasir urug, pasir
pasang, kerikil berpasir alami (sirtu), bahan timbunan pilihan
(tanah), urukan tanah setempat, tanah merah (laterit), batu
gamping, onik, pasir laut, dan pasir yang tidak mengandung unsur
mineral logam atau unsure mineral bukan logam dalam jumlah yang
berarti ditinjau dari segi ekonomi pertambangan; dan
e. batubara meliputi bitumen padat, batuan aspal, batubara, dan
gambut.
(3) Perubahan atas penggolongan komoditas tambang sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 3
(1) Usaha pertambangan dilakukan berdasarkan IUP, IPR, atau IUPK.
(2) IUP, IPR, atau IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan
dalam WIUP untuk IUP, WPR untuk IPR, atau WIUPK untuk IUPK.
(3) WIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berada dalam WUP yang
ditetapkan oleh Menteri.
(4) WPR sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh
bupati/walikota.
(5) WIUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berada dalam WUPK yang
ditetapkan oleh Menteri.
(6) WUP, WPR, atau WUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (3), ayat (4)
dan ayat (5) berada dalam WP.
(7) Ketentuan mengenai WP sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diatur
dalam Peraturan Pemerintah tersendiri.
Pasal 4
Untuk memperoleh IUP, IPR, dan IUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
ayat (1), pemohon harus memenuhi persyaratan administratif, teknis,
lingkungan, dan finansial.
Pasal 5
Lingkup Peraturan Pemerintah ini meliputi pemberian IUP, IPR, dan IUPK,
kewajiban pemegang IUP, IPR, dan IUPK, serta pengutamaan penggunaan
mineral logam dan/atau batubara untuk kepentingan dalam negeri.
BAB II
IZIN USAHA PERTAMBANGAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 6
(1) IUP diberikan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya berdasarkan permohonan yang diajukan oleh:
a. badan usaha;
b. koperasi; dan
c. perseorangan.
(2) Badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat
berupa badan usaha swasta, BUMN, atau BUMD. – 4 –
(3) Perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dapat
berupa orang perseorangan, perusahaan firma, atau perusahaan
komanditer.
(4) IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah
mendapatkan WIUP.
(5) Dalam 1 (satu) WIUP dapat diberikan 1 (satu) atau beberapa IUP.
Pasal 7
IUP diberikan melalui tahapan:
a. pemberian WIUP; dan
b. pemberian IUP.
Bagian Kedua
Pemberian WIUP
Paragraf 1
Umum
Pasal 8
(1) Pemberian WIUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf a terdiri
atas:
a. WIUP radioaktif;
b. WIUP mineral logam;
c. WIUP batubara;
d. WIUP mineral bukan logam; dan/atau
e. WIUP batuan.
(2) WIUP radioaktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diperoleh
sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
(3) WIUP mineral logam dan batubara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b dan huruf c diperoleh dengan cara lelang.
(4) WIUP mineral bukan logam dan batuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf d dan huruf e diperoleh dengan cara mengajukan permohonan
wilayah.
Pasal 9
(1) Dalam 1 (satu) WUP dapat terdiri atas 1 (satu) atau beberapa WIUP.
(2) Setiap pemohon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) hanya
dapat diberikan 1 (satu) WIUP.
(3) Dalam hal pemohon sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan
badan usaha yang telah terbuka (go public), dapat diberikan lebih dari
1 (satu) WIUP.
Paragraf 2
Tata Cara Pemberian
WIUP Mineral Logam dan Batubara
Pasal 10
(1) Sebelum dilakukan pelelangan WIUP mineral logam atau batubara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3), Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya mengumumkan secara
terbuka WIUP yang akan dilelang kepada badan usaha, koperasi, atau – 5 –
perseorangan dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum
pelaksanaan lelang.
(2) Sebelum dilakukan pelelangan WIUP mineral logam atau batubara
sebagaimana dimaksud pada ayat (1):
a. Menteri harus mendapat rekomendasi terlebih dahulu dari gubernur
dan bupati/walikota;
b. gubernur harus mendapat rekomendasi terlebih dahulu dari
bupati/walikota.
(3) Gubernur atau bupati/walikota memberikan rekomendasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari
kerja sejak diterimanya permintaan rekomendasi.
Pasal 11
(1) Dalam pelaksanaan pelelangan WIUP mineral logam dan/atau batubara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dibentuk panitia lelang oleh:
a. Menteri, untuk panitia pelelangan WIUP yang berada di lintas
provinsi dan/atau wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil dari
garis pantai;
b. gubernur, untuk panitia pelelangan WIUP yang berada di lintas
kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi dan/atau wilayah laut 4
(empat) mil sampai dengan 12 (dua belas) mil dari garis pantai; dan
c. bupati/walikota, untuk panitia pelelangan WIUP yang berada dalam
1 (satu) wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut sampai
dengan 4 (empat) mil dari garis pantai.
(2) Panitia lelang WIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang
ditetapkan oleh:
a. Menteri, beranggotakan gasal dan paling sedikit 7 (tujuh) orang
yang memiliki kompetensi di bidang pertambangan mineral
dan/atau batubara;
b. gubernur, beranggotakan gasal dan paling sedikit 5 (lima) orang
yang memiliki kompetensi di bidang pertambangan mineral
dan/atau batubara; dan
c. bupati/walikota, beranggotakan gasal dan paling sedikit 5 (lima)
orang yang memiliki kompetensi di bidang pertambangan mineral
dan/atau batubara.
(3) Dalam panitia lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat
mengikutsertakan unsur dari Pemerintah, pemerintah provinsi,
dan/atau pemerintah kabupaten/kota.
Pasal 12
Tugas dan wewenang panitia lelang WIUP mineral logam dan/atau batubara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 meliputi:
a. menyiapkan lelang WIUP;
b. menyiapkan dokumen lelang WIUP;
c. menyusun jadwal lelang WIUP;
d. mengumumkan waktu pelaksanaan lelang WIUP;
e. melaksanakan pengumuman ulang paling banyak 2 (dua) kali, apabila
peserta lelang WIUP hanya 1 (satu);
f. menilai kualifikasi peserta lelang WIUP;
g. melakukan evaluasi terhadap penawaran yang masuk;
h. melaksanakan lelang WIUP; dan – 6 –
i. membuat berita acara hasil pelaksanaan lelang dan mengusulkan
pemenang lelang WIUP.
Pasal 13
(1) Untuk mengikuti lelang, peserta lelang WIUP sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 10 ayat (1) harus memenuhi persyaratan:
a. administratif;
b. teknis; dan
c. finansial.
(2) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
untuk:
a. badan usaha, paling sedikit meliputi:
1. mengisi formulir yang sudah disiapkan panitia lelang;
2. profil badan usaha;
3. akte pendirian badan usaha yang bergerak di bidang usaha
pertambangan yang telah disahkan oleh pejabat yang
berwenang; dan
4. nomor pokok wajib pajak.
b. koperasi, paling sedikit meliputi:
1. mengisi formulir yang sudah disiapkan panitia lelang;
2. profil koperasi;
3. akte pendirian koperasi yang bergerak di bidang usaha
pertambangan yang telah disahkan oleh pejabat yang
berwenang; dan
4. nomor pokok wajib pajak.
c. orang perseorangan paling sedikit meliputi:
1. mengisi formulir yang sudah disiapkan panitia lelang;
2. kartu tanda penduduk; dan
3. nomor pokok wajib pajak.
d. perusahaan firma dan perusahaan komanditer paling sedikit
meliputi:
1. mengisi formulir yang sudah disiapkan panitia lelang;
2. profil perusahaan;
3. akte pendirian perusahaan yang bergerak di bidang usaha
pertambangan; dan
4. nomor pokok wajib pajak.
(3) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b paling
sedikit meliputi:
a. pengalaman badan usaha, koperasi, atau perseorangan di bidang
pertambangan mineral atau batubara paling sedikit 3 (tiga) tahun,
atau bagi perusahaan baru harus mendapat dukungan dari
perusahaan induk, mitra kerja, atau afiliasinya yang bergerak di
bidang pertambangan;
b. mempunyai paling sedikit 1 (satu) orang tenaga ahli dalam bidang
pertambangan dan/atau geologi yang berpengalaman paling sedikit
3 (tiga) tahun; dan
c. rencana kerja dan anggaran biaya untuk kegiatan 4 (empat) tahun
eksplorasi.
(4) Persyaratan finansial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
meliputi:
a. laporan keuangan tahun terakhir yang sudah diaudit akuntan publik; – 7 –
b. menempatkan jaminan kesungguhan lelang dalam bentuk uang
tunai di bank pemerintah sebesar 10% (sepuluh persen) dari nilai
kompensasi data informasi atau dari total biaya pengganti investasi
untuk lelang WIUP yang telah berakhir; dan
c. pernyataan bersedia membayar nilai lelang WIUP dalam jangka
waktu paling lambat 5 (lima) hari kerja, setelah pengumuman
pemenang lelang.
Pasal 14
(1) Prosedur lelang meliputi tahap:
a. pengumuman prakualifikasi;
b. pengambilan dokumen prakualifikasi;
c. pemasukan dokumen prakualifikasi;
d. evaluasi prakualifikasi;
e. klarifikasi dan konfirmasi terhadap dokumen prakualifikasi;
f. penetapan hasil prakualifikasi;
g. pengumuman hasil prakualifikasi;
h. undangan kepada peserta yang lulus prakualifikasi;
i. pengambilan dokumen lelang;
j. penjelasan lelang;
k. pemasukan penawaran harga;
l. pembukaan sampul;
m. penetapan peringkat;
n. penetapan/pengumuman pemenang lelang yang dilakukan
berdasarkan penawaran harga dan pertimbangan teknis; dan
o. memberi kesempatan adanya sanggahan atas keputusan lelang.
(2) Penjelasan lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf j wajib
dilakukan oleh panitia lelang WIUP kepada peserta pelelangan WIUP
yang lulus prakualifikasi untuk menjelaskan data teknis berupa:
a. lokasi;
b. koordinat;
c. jenis mineral, termasuk mineral ikutannya, dan batubara;
d. ringkasan hasil penelitian dan penyelidikan;
e. ringkasan hasil eksplorasi pendahuluan apabila ada; dan
f. status lahan.
Pasal 15
(1) Panitia lelang sesuai dengan kewenangannya yang diberikan oleh
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota dapat memberikan
kesempatan kepada peserta pelelangan WIUP yang lulus prakualifikasi
untuk melakukan kunjungan lapangan dalam jangka waktu yang
disesuaikan dengan jarak lokasi yang akan dilelang setelah
mendapatkan penjelasan lelang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14
ayat (1) huruf j.
(2) Dalam hal peserta pelelangan WIUP yang akan melakukan kunjungan
lapangan mengikutsertakan warga negara asing wajib memenuhi
persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Biaya yang diperlukan untuk melakukan kunjungan lapangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dibebankan kepada
peserta pelelangan WIUP. – 8 –
Pasal 16
(1) Jangka waktu prosedur pelelangan ditetapkan dalam jangka waktu
paling lama 35 (tiga puluh lima) hari kerja sejak pemasukan penawaran
harga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf k.
(2) Hasil pelaksanaan lelang WIUP dilaporkan oleh panitia lelang kepada
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
untuk ditetapkan pemenang lelang WIUP.
Pasal 17
(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
berdasarkan usulan panitia lelang sebagaimana dimaksud dalam Pasal
16 ayat (2) menetapkan pemenang lelang WIUP mineral logam
dan/atau batubara.
(2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
memberitahukan secara tertulis penetapan pemenang lelang WIUP
mineral logam dan/atau batubara kepada pemenang lelang.
Pasal 18
(1) Apabila peserta lelang yang memasukan penawaran harga sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf k hanya terdapat 1 (satu)
peserta lelang, dilakukan pelelangan ulang.
(2) Dalam hal peserta lelang ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tetap hanya 1 (satu) peserta, ditetapkan sebagai pemenang dengan
ketentuan harga penawaran harus sama atau lebih tinggi dari harga
dasar lelang yang telah ditetapkan.
Pasal 19
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara lelang WIUP diatur dengan
Peraturan Menteri.
Paragraf 3
Tata Cara Pemberian
WIUP Mineral Bukan Logam dan Batuan
Pasal 20
(1) Untuk mendapatkan WIUP mineral bukan logam atau batuan, badan
usaha, koperasi, atau perseorangan mengajukan permohonan wilayah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (4) kepada:
a. Menteri, untuk permohonan WIUP yang berada lintas wilayah
provinsi dan/atau wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil dari
garis pantai;
b. gubernur, untuk permohonan WIUP yang berada lintas wilayah
kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi dan/atau wilayah laut 4
(empat) mil sampai dengan 12 (dua belas) mil; dan
c. bupati/walikota, untuk permohonan WIUP yang berada di dalam 1
(satu) wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut sampai
dengan 4 (empat) mil.
(2) Sebelum memberikan WIUP mineral bukan logam atau batuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1):
a. Menteri harus mendapat rekomendasi terlebih dahulu dari gubernur
dan bupati/walikota; – 9 –
b. gubernur harus mendapat rekomendasi terlebih dahulu dari
bupati/walikota.
(3) Gubernur atau bupati/walikota memberikan rekomendasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari
kerja sejak diterimanya permintaan rekomendasi.
Pasal 21
(1) Permohonan WIUP mineral bukan logam dan/atau batuan yang terlebih
dahulu telah memenuhi persyaratan koordinat geografis lintang dan
bujur sesuai dengan ketentuan system informasi geografi yang berlaku
secara nasional dan membayar biaya pencadangan wilayah dan
pencetakan peta, memperoleh prioritas pertama untuk mendapatkan
WIUP.
(2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari kerja setelah
diterima permohonan wajib memberikan keputusan menerima atau
menolak atas permohonan WIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Keputusan menerima sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan
kepada pemohon WIUP disertai dengan penyerahan peta WIUP berikut
batas dan koordinat WIUP.
(4) Keputusan menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus
disampaikan secara tertulis kepada pemohon WIUP disertai dengan
alasan penolakan.
Bagian Ketiga
Pemberian IUP
Paragraf 1
Umum
Pasal 22
(1) IUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf b terdiri atas:
a. IUP Eksplorasi; dan
b. IUP Operasi Produksi.
(2) IUP Eksplorasi terdiri atas:
a. mineral logam;
b. batubara;
c. mineral bukan logam; dan/atau
d. batuan.
(3) IUP Operasi Produksi terdiri atas:
a. mineral logam;
b. batubara;
c. mineral bukan logam; dan/atau
d. batuan.
Paragraf 2
Persyaratan IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi
Pasal 23
Persyaratan IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi meliputi persyaratan:
a. administratif;
b. teknis; – 10 –
c. lingkungan; dan
d. finansial.
Pasal 24
(1) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf
a untuk badan usaha meliputi:
a. Untuk IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi mineral logam dan
batubara:
1. surat permohonan;
2. susunan direksi dan daftar pemegang saham; dan
3. surat keterangan domisili.
b. Untuk IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi mineral bukan logam
dan batuan:
1. surat permohonan;
2. profil badan usaha;
3. akte pendirian badan usaha yang bergerak di bidang usaha
pertambangan yang telah disahkan oleh pejabat yang
berwenang;
4. nomor pokok wajib pajak;
5. susunan direksi dan daftar pemegang saham; dan
6. surat keterangan domisili.
(2) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf
a untuk koperasi meliputi:
a. Untuk IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi mineral logam dan
batubara:
1. surat permohonan;
2. susunan pengurus; dan
3. surat keterangan domisili.
b. Untuk IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi mineral bukan logam
dan batuan:
1. surat permohonan;
2. profil koperasi;
3. akte pendirian koperasi yang bergerak di bidang usaha
pertambangan yang telah disahkan oleh pejabat yang
berwenang;
4. nomor pokok wajib pajak;
5. susunan pengurus; dan
6. surat keterangan domisili.
(3) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf
a untuk orang perseorangan meliputi:
a. Untuk IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi mineral logam dan
batubara:
1. surat permohonan; dan
2. surat keterangan domisili.
b. Untuk IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi mineral bukan logam
dan batuan:
1. surat permohonan;
2. kartu tanda penduduk;
3. nomor pokok wajib pajak; dan
4. surat keterangan domisili.
(4) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf
a untuk perusahaan firma dan perusahaan komanditer meliputi: – 11 –
a. Untuk IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi mineral logam dan
batubara:
1. surat permohonan;
2. susunan pengurus dan daftar pemegang saham; dan
3. surat keterangan domisili.
b. Untuk IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi mineral bukan logam
dan batuan:
1. surat permohonan;
2. profil perusahaan;
3. akte pendirian perusahaan yang bergerak di bidang usaha
pertambangan;
4. nomor pokok wajib pajak;
5. susunan pengurus dan daftar pemegang saham; dan
6. surat keterangan domisili.
Pasal 25
Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf b untuk:
a. IUP Eksplorasi, meliputi:
1. daftar riwayat hidup dan surat pernyataan tenaga ahli
pertambangan dan/atau geologi yang berpengalaman paling sedikit
3 (tiga) tahun;
2. peta WIUP yang dilengkapi dengan batas koordinat geografis lintang
dan bujur sesuai dengan ketentuan sistem informasi geografi yang
berlaku secara nasional.
b. IUP Operasi Produksi, meliputi:
1. peta wilayah dilengkapi dengan batas koordinat geografis lintang
dan bujur sesuai dengan ketentuan system informasi geografi yang
berlaku secara nasional;
2. laporan lengkap eksplorasi;
3. laporan studi kelayakan;
4. rencana reklamasi dan pascatambang;
5. rencana kerja dan anggaran biaya;
6. rencana pembangunan sarana dan prasarana penunjang kegiatan
operasi produksi; dan
7. tersedianya tenaga ahli pertambangan dan/atau geologi yang
berpengalaman paling sedikit 3 (tiga) tahun.
Pasal 26
Persyaratan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf c
meliputi:
a. untuk IUP Eksplorasi meliputi pernyataan untuk mematuhi ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup.
b. untuk IUP Operasi Produksi meliputi:
1. pernyataan kesanggupan untuk mematuhi ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup; dan
2. persetujuan dokumen lingkungan hidup sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan. – 12 –
Pasal 27
(1) Persyaratan finansial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf d
untuk:
a. IUP Eksplorasi, meliputi:
1. bukti penempatan jaminan kesungguhan pelaksanaan kegiatan
eksplorasi; dan
2. bukti pembayaran harga nilai kompensasi data informasi hasil
lelang WIUP mineral logam atau batubara sesuai dengan nilai
penawaran lelang atau bukti pembayaran biaya pencadangan
wilayah dan pembayaran pencetakan peta WIUP mineral bukan
logam atau batuan atas permohonan wilayah.
b. IUP Operasi Produksi, meliputi:
1. laporan keuangan tahun terakhir yang telah diaudit oleh akuntan
publik;
2. bukti pembayaran iuran tetap 3 (tiga) tahun terakhir;
dan
3. bukti pembayaran pengganti investasi sesuai dengan nilai
penawaran lelang bagi pemenang lelang WIUP yang telah
berakhir.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai jaminan kesungguhan diatur dengan
Peraturan Menteri.
Paragraf 3
IUP Eksplorasi
Pasal 28
IUP Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf a
diberikan oleh:
a. Menteri, untuk WIUP yang berada dalam lintas wilayah provinsi
dan/atau wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil dari garis pantai;
b. gubernur, untuk WIUP yang berada dalam lintas kabupaten/kota dalam
1 (satu) provinsi dan/atau wilayah laut 4 (empat) mil sampai dengan 12
(dua belas) mil dari garis pantai; dan
c. bupati/walikota, untuk WIUP yang berada dalam 1 (satu) wilayah
kabupaten/kota dan/atau wilayah laut sampai dengan 4 (empat) mil
dari garis pantai.
Pasal 29
(1) IUP Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 diberikan
berdasarkan permohonan dari badan usaha, koperasi, dan
perseorangan yang telah mendapatkan WIUP dan memenuhi
persyaratan.
(2) IUP Eksplorasi meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan
studi kelayakan.
Pasal 30
(1) Pemenang lelang WIUP mineral logam atau batubara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 harus menyampaikan permohonan IUP
Eksplorasi kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima)
hari kerja setelah penetapan pengumuman pemenang lelang WIUP. – 13 –
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi
persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23.
(3) Apabila pemenang lelang WIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dalam jangka waktu 5 (lima) hari kerja tidak menyampaikan
permohonan IUP, dianggap mengundurkan diri dan uang jaminan
kesungguhan lelang menjadi milik Pemerintah atau milik pemerintah
daerah.
(4) Dalam hal pemenang lelang WIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
telah dianggap mengundurkan diri, WIUP ditawarkan kepada peserta
lelang urutan berikutnya secara berjenjang dengan syarat nilai harga
kompensasi data informasi sama dengan harga yang ditawarkan oleh
pemenang pertama.
(5) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
melakukan lelang ulang WIUP apabila peserta lelang sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) tidak ada yang berminat.
Pasal 31
(1) Menteri menyampaikan penerbitan peta WIUP mineral bukan logam
dan/atau batuan yang diajukan oleh badan usaha, koperasi, atau
perseorangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (3) kepada
gubernur dan bupati/walikota untuk mendapatkan rekomendasi dalam
rangka penerbitan IUP Eksplorasi mineral bukan logam dan/atau
batuan.
(2) Gubernur menyampaikan penerbitan peta WIUP mineral bukan logam
dan/atau batuan yang diajukan oleh badan usaha, koperasi, atau
perseorangan kepada bupati/walikota untuk mendapatkan rekomendasi
dalam rangka penerbitan IUP Eksplorasi mineral bukan logam dan/atau
batuan.
(3) Gubernur atau bupati/walikota memberikan rekomendasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dalam jangka waktu paling lama 5
(lima) hari kerja sejak diterimanya tanda bukti penyampaian peta
WIUP mineral bukan logam dan/atau batuan.
Pasal 32
(1) Badan usaha, koperasi, atau perseorangan yang telah mendapatkan
peta WIUP beserta batas dan koordinat sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 31 dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah
penerbitan peta WIUP mineral bukan logam dan/atau batuan harus
menyampaikan permohonan IUP Eksplorasi kepada Menteri, gubernur,
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi
persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23.
(3) Apabila badan usaha, koperasi, atau perseorangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dalam jangka waktu 5 (lima) hari kerja tidak
menyampaikan permohonan IUP, dianggap mengundurkan diri dan uang
pencadangan wilayah menjadi milik Pemerintah atau milik pemerintah
daerah.
(4) Dalam hal badan usaha, koperasi, atau perseorangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) telah dianggap mengundurkan diri maka WIUP
menjadi wilayah terbuka. – 14 –
Pasal 33
Pemegang IUP Eksplorasi dapat mengajukan permohonan wilayah di luar
WIUP kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya untuk menunjang usaha kegiatan pertambangannya.
Paragraf 4
IUP Operasi Produksi
Pasal 34
(1) IUP Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1)
huruf b diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan
sebagai peningkatan dari kegiatan eksplorasi.
(2) Pemegang IUP Eksplorasi dijamin untuk memperoleh IUP Operasi
Produksi sebagai peningkatan dengan mengajukan permohonan dan
memenuhi persyaratan peningkatan operasi produksi.
(3) IUP Operasi Produksi meliputi kegiatan konstruksi, penambangan,
pengolahan dan pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan.
(4) IUP Operasi Produksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan
kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan yang memenuhi
persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23.
Pasal 35
(1) IUP Operasi Produksi diberikan oleh:
a. bupati/walikota, apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan
dan pemurnian, serta pelabuhan berada di dalam 1 (satu) wilayah
kabupaten/kota atau wilayah laut sampai dengan 4 (empat) mil dari
garis pantai;
b. gubernur, apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan
pemurnian, serta pelabuhan berada di dalam wilayah
kabupaten/kota yang berbeda dalam 1 (satu) provinsi atau wilayah
laut sampai dengan 12 (dua belas) mil dari garis pantai setelah
mendapat rekomendasi dari bupati/walikota; atau
c. Menteri, apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan
pemurnian, serta pelabuhan berada di dalam wilayah provinsi yang
berbeda atau wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil dari garis
pantai setelah mendapat rekomendasi dari gubernur dan
bupati/walikota setempat sesuai dengan kewenangannya.
(2) Dalam hal lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan pemurnian serta
pelabuhan berada di dalam wilayah yang berbeda serta kepemilikannya
juga berbeda maka IUP Operasi Produksi masing-masing diberikan oleh
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
Pasal 36
Dalam hal pemegang IUP Operasi Produksi tidak melakukan kegiatan
pengangkutan dan penjualan dan/atau pengolahan dan pemurnian, kegiatan
pengangkutan dan penjualan dan/atau pengolahan dan pemurnian dapat
dilakukan oleh pihak lain yang memiliki:
a. IUP Operasi Produksi khusus untuk pengangkutan dan penjualan;
b. IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan pemurnian; dan/atau
c. IUP Operasi Produksi. – 15 –
Pasal 37
(1) IUP Operasi Produksi khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36
huruf a diberikan oleh:
a. Menteri apabila kegiatan pengangkutan dan penjualan dilakukan
lintas provinsi dan negara;
b. gubernur apabila kegiatan pengangkutan dan penjualan dilakukan
lintas kabupaten/kota; atau
c. bupati/walikota apabila kegiatan pengangkutan dan penjualan
dalam 1 (satu) kabupaten/kota.
(2) IUP Operasi Produksi khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36
huruf b diberikan oleh:
a. Menteri, apabila komoditas tambang yang akan diolah berasal dari
provinsi lain dan/atau lokasi kegiatan pengolahan dan pemurnian
berada pada lintas provinsi;
b. gubernur, apabila komoditas tambang yang akan diolah berasal
dari beberapa kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi dan/atau
lokasi kegiatan pengolahan dan pemurnian berada pada lintas
kabupaten/kota; atau
c. bupati/walikota, apabila komoditas tambang yang akan diolah
berasal dari 1 (satu) kabupaten/kota dan/atau lokasi kegiatan
pengolahan dan pemurnian berada pada 1 (satu) kabupaten/kota.
(3) Dalam hal komoditas tambang yang akan diolah sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) berasal dari impor, IUP Operasi Produksi khusus untuk
pengolahan dan pemurnian diberikan oleh Menteri.
Pasal 38
Dalam hal berdasarkan hasil dokumen lingkungan hidup yang telah disahkan
oleh instansi yang berwenang berdampak lingkungan pada:
a. 1 (satu) kabupaten/kota, IUP Operasi Produksi diberikan oleh
bupati/walikota berdasarkan rekomendasi dari Menteri dan gubernur;
b. lintas kabupaten/kota, IUP Operasi Produksi diberikan oleh gubernur
berdasarkan rekomendasi dari bupati/walikota;
atau
c. lintas provinsi, IUP Operasi Produksi diberikan oleh Menteri berdasarkan
rekomendasi dari bupati/walikota dan gubernur.
Pasal 39
Badan usaha yang melakukan kegiatan jual beli mineral logam atau
batubara di Indonesia, harus memiliki IUP Operasi Produksi khusus untuk
pengangkutan dan penjualan dari Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 40
Pemegang IUP Operasi Produksi dapat mengajukan permohonan wilayah di
luar WIUP kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya untuk menunjang usaha kegiatan pertambangannya.
Pasal 41
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian IUP Operasi Produksi
khusus diatur dengan Peraturan Menteri. – 16 –
Bagian Keempat
Pemasangan Tanda Batas
Pasal 42
(1) Dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak diperolehnya IUP Operasi
Produksi, pemegang IUP Operasi Produksi wajib memberikan tanda
batas wilayah dengan memasang patok pada WIUP.
(2) Pembuatan tanda batas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
selesai sebelum dimulai kegiatan operasi produksi.
(3) Dalam hal terjadi perubahan batas wilayah pada WIUP Operasi
Produksi, harus dilakukan perubahan tanda batas wilayah dengan
pemasangan patok baru pada WIUP.
Pasal 43
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemasangan tanda batas WIUP
diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Kelima
Komoditas Tambang Lain Dalam WIUP
Pasal 44
(1) Dalam hal pada lokasi WIUP ditemukan komoditas tambang lainnya
yang bukan asosiasi mineral yang diberikan dalam IUP, pemegang IUP
Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi memperoleh keutamaan dalam
mengusahakan komoditas tambang lainnya yang ditemukan.
(2) Dalam mengusahakan komoditas tambang lainnya sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus membentuk badan usaha baru.
(3) Apabila pemegang IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi tidak
berminat atas komoditas tambang lainnya sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), kesempatan pengusahaannya dapat diberikan kepada pihak
lain dan diselenggarakan dengan cara lelang atau permohonan wilayah.
(4) Pihak lain yang mendapatkan IUP berdasarkan lelang atau permohonan
wilayah harus berkoordinasi dengan pemegang IUP Eksplorasi dan IUP
Operasi Produksi pertama.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian IUP baru sesuai
komoditas tambang lain diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Keenam
Perpanjangan IUP Operasi Produksi
Pasal 45
(1) Permohonan perpanjangan IUP Operasi Produksi diajukan kepada
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
paling cepat dalam jangka waktu 2 (dua) tahun dan paling lambat
dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sebelum berakhirnya jangka waktu
IUP.
(2) Permohonan perpanjangan IUP Operasi Produksi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) paling sedikit harus dilengkapi:
a. peta dan batas koordinat wilayah;
b. bukti pelunasan iuran tetap dan iuran produksi 3 (tiga) tahun
terakhir;
c. laporan akhir kegiatan operasi produksi; – 17 –
d. laporan pelaksanaan pengelolaan lingkungan;
e. rencana kerja dan anggaran biaya; dan
f. neraca sumber daya dan cadangan.
(3) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
dapat menolak permohonan perpanjangan IUP Operasi Produksi apabila
pemegang IUP Operasi Produksi berdasarkan hasil evaluasi, pemegang
IUP Operasi Produksi tidak menunjukkan kinerja operasi produksi yang
baik.
(4) Penolakan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus disampaikan
kepada pemegang IUP Operasi Produksi paling lambat sebelum
berakhirnya IUP Operasi Produksi.
(5) Pemegang IUP Operasi Produksi hanya dapat diberikan perpanjangan
sebanyak 2 (dua) kali.
(6) Pemegang IUP Operasi Produksi yang telah memperoleh perpanjangan
IUP Operasi Produksi sebanyak 2 (dua) kali, harus mengembalikan WIUP
Operasi Produksi kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 46
(1) Pemegang IUP Operasi Produksi yang telah memperoleh perpanjangan
IUP Operasi Produksi sebanyak 2 (dua) kali sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 45 ayat (6), dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sebelum
jangka waktu masa berlakunya IUP berakhir, harus menyampaikan
kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya mengenai keberadaan potensi dan cadangan mineral
atau batubara pada WIUP-nya.
(2) WIUP yang IUP-nya akan berakhir sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
sepanjang masih berpotensi untuk diusahakan, WIUPnya dapat
ditawarkan kembali melalui mekanisme lelang atau permohonan
wilayah sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.
(3) Dalam pelaksanaan lelang WIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
pemegang IUP sebelumnya mendapat hak menyamai.
BAB III
IZIN PERTAMBANGAN RAKYAT
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 47
(1) IPR diberikan oleh bupati/walikota berdasarkan permohonan yang
diajukan oleh penduduk setempat, baik orang perseorangan maupun
kelompok masyarakat dan/atau koperasi.
(2) IPR diberikan setelah ditetapkan WPR oleh bupati/walikota.
(3) Dalam 1 (satu) WPR dapat diberikan 1 (satu) atau beberapa IPR. – 18 –
Bagian Kedua
Pemberian IPR
Pasal 48
(1) Setiap usaha pertambangan rakyat pada WPR dapat dilaksanakan
apabila telah mendapatkan IPR.
(2) Untuk mendapatkan IPR, pemohon harus memenuhi:
a. persyaratan administratif;
b. persyaratan teknis; dan
c. persyaratan finansial.
(3) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a
untuk:
a. orang perseorangan, paling sedikit meliputi:
1. surat permohonan;
2. kartu tanda penduduk;
3. komoditas tambang yang dimohon; dan
4. surat keterangan dari kelurahan/desa setempat.
b. kelompok masyarakat, paling sedikit meliputi:
1. surat permohonan;
2. komoditas tambang yang dimohon; dan
3. surat keterangan dari kelurahan/desa setempat.
c. koperasi setempat, paling sedikit meliputi:
1. surat permohonan;
2. nomor pokok wajib pajak;
3. akte pendirian koperasi yang telah disahkan oleh pejabat yang
berwenang;
4. komoditas tambang yang dimohon; dan
5. surat keterangan dari kelurahan/desa setempat.
(4) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b berupa
surat pernyataan yang memuat paling sedikit mengenai:
a. sumuran pada IPR paling dalam 25 (dua puluh lima) meter;
b. menggunakan pompa mekanik, penggelundungan atau permesinan
dengan jumlah tenaga maksimal 25 (dua puluh lima) horse power
untuk 1 (satu) IPR; dan
c. tidak menggunakan alat berat dan bahan peledak.
(5) Persyaratan finansial sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c
berupa laporan keuangan 1 (satu) tahun terakhir dan hanya
dipersyaratkan bagi koperasi setempat.
BAB IV
IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 49
(1) IUPK diberikan oleh Menteri berdasarkan permohonan yang diajukan
oleh BUMN, BUMD, atau badan usaha swasta.
(2) IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah diperoleh
WIUPK yang telah ditetapkan oleh Menteri.
(3) Dalam 1 (satu) WIUPK dapat terdiri atas 1 (satu) atau beberapa IUPK. – 19 –
(4) Pemohon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat diberikan 1
(satu) WIUPK, kecuali pemohon merupakan badan usaha yang telah
terbuka dapat diberikan lebih dari 1 (satu) WIUPK.
(5) Ketentuan mengenai penetapan WUPK sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah tersendiri.
Pasal 50
IUPK diberikan melalui tahapan:
a. pemberian WIUPK; dan
b. pemberian IUPK.
Bagian Kedua
Pemberian WIUPK
Paragraf 1
Umum
Pasal 51
(1) Pemberian WIUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf a
terdiri atas WIUPK mineral logam dan/atau batubara.
(2) WIUPK diberikan kepada BUMN, BUMD, atau badan usaha swasta oleh
Menteri.
(3) Menteri dalam memberikan WIUPK sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) harus terlebih dahulu menawarkan kepada BUMN atau BUMD dengan
cara prioritas.
(4) Dalam hal peminat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) hanya ada 1
(satu) BUMN atau BUMD, WIUPK diberikan kepada BUMN atau BUMD
dengan membayar biaya kompensasi data informasi.
(5) Dalam hal peminat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) lebih dari 1
(satu) BUMN atau BUMD, WIUPK diberikan dengan cara lelang.
(6) Pemenang lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dikenai
kewajiban membayar biaya kompensasi data informasi sesuai dengan
nilai lelang.
Pasal 52
(1) Dalam hal tidak ada BUMN atau BUMD yang berminat, WIUPK
ditawarkan kepada badan usaha swasta yang bergerak dalam bidang
pertambangan mineral atau batubara dengan cara lelang.
(2) Pemenang lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai
kewajiban membayar biaya kompensasi data informasi sesuai dengan
nilai lelang.
Paragraf 2
Tata Cara Pemberian Prioritas WIUPK
Mineral Logam dan Batubara
Pasal 53
(1) BUMN dan BUMD yang telah mendapatkan WIUPK wajib mengajukan
permohonan IUPK mineral logam atau batubara kepada Menteri.
(2) Dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari kerja sejak
diterimanya permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri – 20 –
memberikan IUPK kepada BUMN atau BUMD setelah memenuhi
persyaratan.
Paragraf 3
Tata Cara Lelang
WIUPK Mineral Logam dan Batubara
Pasal 54
(1) Sebelum dilakukan pelelangan WIUPK mineral logam atau batubara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 dan Pasal 52, Menteri
mengumumkan secara terbuka WIUPK yang akan dilelang dalam jangka
waktu paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum pelaksanaan lelang.
(2) Dalam pelaksanaan pelelangan WIUPK sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), Menteri membentuk panitia lelang WIUPK mineral logam atau
batubara.
(3) Anggota panitia lelang WIUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
berjumlah gasal yang memiliki kompetensi di bidang pertambangan
mineral atau batubara.
Pasal 55
Tugas dan wewenang panitia lelang WIUPK mineral logam dan batubara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 meliputi:
a. penyiapan lelang WIUPK;
b. penyiapan dokumen lelang WIUPK;
c. penyusunan jadwal lelang WIUPK;
d. pengumuman waktu pelaksanaan lelang WIUPK;
e. pelaksanaan pengumuman ulang paling banyak 2 (dua) kali, apabila
peserta lelang WIUPK hanya 1 (satu);
f. penilaian kualifikasi peserta lelang WIUPK;
g. melakukan evaluasi terhadap penawaran yang masuk;
h. pelaksanaan lelang WIUPK; dan
i. pembuatan berita acara hasil pelaksanaan lelang dan mengusulkan
pemenang lelang WIUPK.
Pasal 56
(1) Untuk mengikuti lelang, peserta lelang WIUPK sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 51 ayat (5) dan Pasal 52 ayat (1) harus memenuhi
persyaratan:
a. administratif;
b. teknis; dan
c. finansial.
(2) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
meliputi:
a. mengisi formulir yang sudah disiapkan panitia lelang;
b. profil badan usaha;
c. akte pendirian badan usaha yang bergerak di bidang usaha
pertambangan yang telah disahkan oleh pejabat yang berwenang;
dan
d. nomor pokok wajib pajak.
(3) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
meliputi: – 21 –
a. pengalaman badan usaha di bidang pertambangan mineral atau
batubara paling sedikit 3 (tiga) tahun, atau bagi perusahaan baru
harus mendapat dukungan dari perusahaan induk, mitra kerja, atau
afiliasinya yang bergerak di bidang pertambangan;
b. mempunyai paling sedikit 1 (satu) tenaga ahli dalam bidang
pertambangan dan/atau geologi yang berpengalaman paling sedikit
3 (tiga) tahun;
c. rencana kerja dan anggaran biaya untuk kegiatan 1 (satu) tahun.
(4) Persyaratan finansial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
meliputi:
a. laporan keuangan tahun terakhir yang sudah diaudit akuntan publik;
b. menempatkan jaminan kesungguhan lelang dalam bentuk uang
tunai di bank pemerintah sebesar 10% (sepuluh persen) dari nilai
kompensasi data informasi atau total biaya pengganti investasi
untuk lelang WIUPK yang telah berakhir; dan
c. pernyataan bersedia membayar nilai sesuai surat penawaran lelang
dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah
pengumuman pemenang lelang.
Pasal 57
(1) Prosedur lelang meliputi tahap:
a. pengumuman prakualifikasi;
b. pengambilan dokumen prakualifikasi;
c. pemasukan dokumen prakualifikasi;
d. evaluasi prakualifikasi;
e. klarifikasi dan konfirmasi terhadap dokumen prakualifikasi;
f. penetapan hasil prakualifikasi;
g. pengumuman hasil prakualifikasi;
h. undangan kepada peserta yang lulus prakualifikasi;
i. pengambilan dokumen lelang;
j. penjelasan lelang;
k. pemasukan penawaran harga;
l. pembukaan sampul;
m. penetapan peringkat;
n. penetapan/pengumuman pemenang lelang yang dilakukan
berdasarkan penawaran harga dan pertimbangan teknis; dan
o. memberi kesempatan adanya sanggahan atas keputusan lelang.
(2) Penjelasan lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf j wajib
dilakukan oleh panitia lelang WIUPK kepada peserta pelelangan WIUPK
yang lulus prakualifikasi untuk menjelaskan data teknis berupa:
a. lokasi;
b. koordinat;
c. jenis mineral, termasuk mineral ikutannya, dan batubara;
d. ringkasan hasil penelitian dan penyelidikan;
e. ringkasan hasil eksplorasi pendahuluan apabila ada; dan
f. status lahan.
Pasal 58
(1) Panitia lelang sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Menteri
dapat memberikan kesempatan kepada peserta pelelangan WIUPK yang
lulus prakualifikasi untuk melakukan kunjungan lapangan dalam jangka
waktu yang disesuaikan dengan jarak lokasi yang akan dilelang setelah – 22 –
mendapatkan penjelasan lelang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57
ayat (1) huruf j.
(2) Dalam hal peserta pelelangan WIUPK yang akan melakukan kunjungan
lapangan mengikutsertakan warga negara asing wajib memenuhi
persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Biaya yang diperlukan untuk melakukan kunjungan lapangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dibebankan kepada
peserta pelelangan WIUPK.
Pasal 59
(1) Jangka waktu prosedur pelelangan ditetapkan dalam jangka waktu
paling lama 35 (tiga puluh lima) hari kerja sejak pemasukan penawaran
harga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 ayat (1) huruf k.
(2) Hasil pelaksanaan lelang WIUPK dilaporkan oleh panitia lelang kepada
Menteri untuk ditetapkan pemenang lelang WIUPK.
Pasal 60
(1) Menteri berdasarkan usulan panitia lelang sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 59 ayat (2) menetapkan pemenang lelang WIUPK mineral
logam dan/atau batubara.
(2) Menteri memberitahukan secara tertulis penetapan pemenang lelang
WIUPK mineral logam dan/atau batubara kepada pemenang lelang.
Pasal 61
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara lelang WIUPK diatur dengan
Peraturan Menteri.
Bagian Ketiga
Pemberian IUPK
Paragraf 1
Umum
Pasal 62
(1) IUPK diberikan oleh Menteri kepada BUMN, BUMD, atau badan usaha
swasta setelah mendapatkan WIUPK.
(2) IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. IUPK Eksplorasi terdiri atas mineral logam atau batubara;
dan
b. IUPK Operasi Produksi terdiri atas mineral logam atau batubara.
Paragraf 2
Persyaratan IUPK Eksplorasi dan
IUPK Operasi Produksi
Pasal 63
Persyaratan IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 62 harus memenuhi:
a. persyaratan administratif;
b. persyaratan teknis;
c. persyaratan lingkungan; dan
d. persyaratan finansial. – 23 –
Pasal 64
(1) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 huruf
a meliputi:
a. untuk IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi mineral logam dan
batubara yang diajukan BUMN atau BUMD yang diberikan
berdasarkan prioritas:
1. surat permohonan;
2. profil badan usaha;
3. akte pendirian badan usaha yang bergerak di bidang usaha
pertambangan yang telah disahkan oleh pejabat yang
berwenang;
4. nomor pokok wajib pajak;
5. susunan direksi dan daftar pemegang saham; dan
6. surat keterangan domisili.
b. untuk IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi mineral logam dan
batubara yang diajukan oleh pemenang lelang WIUPK:
1. surat permohonan;
2. susunan direksi dan daftar pemegang saham; dan
3. surat keterangan domisili.
(2) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 huruf b
meliputi:
a. pengalaman BUMN, BUMD, atau badan usaha swasta di bidang
pertambangan mineral atau batubara paling sedikit 3 (tiga) tahun;
b. mempunyai paling sedikit 1 (satu) orang tenaga ahli dalam bidang
pertambangan dan/atau geologi yang berpengalaman paling sedikit
3 (tiga) tahun; dan
c. rencana kerja dan anggaran biaya untuk kegiatan 1 (satu) tahun.
(3) Persyaratan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 huruf c
meliputi:
a. untuk IUP Eksplorasi meliputi pernyataan untuk mematuhi
ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup.
b. untuk IUP Operasi Produksi meliputi:
1. pernyataan kesanggupan untuk mematuhi ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup; dan
2. persetujuan dokumen lingkungan hidup sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(4) Persyaratan finansial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 huruf d
meliputi:
a. IUPK Eksplorasi, meliputi:
1. bukti penempatan jaminan kesungguhan pelaksanaan kegiatan
eksplorasi; dan
2. bukti pembayaran harga nilai kompensasi data informasi atau
sesuai dengan surat penawaran.
b. IUPK Operasi Produksi, meliputi:
1. laporan keuangan tahun terakhir yang telah diaudit oleh akuntan
publik; dan
2. bukti pembayaran iuran tetap 3 (tiga) tahun terakhir. – 24 –
Paragraf 3
Tata Cara Penerbitan IUPK
Eksplorasi Mineral Logam dan Batubara
Pasal 65
(1) BUMN atau BUMD yang diberikan WIUPK berdasarkan prioritas atau
pemenang lelang WIUPK mineral logam atau batubara, harus
menyampaikan permohonan IUPK Eksplorasi kepada Menteri dalam
jangka waktu paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah penetapan
pengumuman pemenang lelang WIUPK.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi
persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63.
(3) Apabila BUMN atau BUMD yang diberikan WIUPK berdasarkan prioritas
atau pemenang lelang WIUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dalam jangka waktu 5 (lima) hari kerja tidak menyampaikan
permohonan IUPK, dianggap mengundurkan diri.
(4) Dalam hal pemenang lelang WIUPK sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) telah dianggap mengundurkan diri, WIUPK ditawarkan kepada
peserta lelang urutan berikutnya secara berjenjang dengan syarat nilai
harga kompensasi data informasi sama dengan harga yang ditawarkan
oleh pemenang pertama.
(5) Menteri melakukan lelang ulang WIUPK apabila peserta lelang
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak ada yang berminat.
Pasal 66
Pemegang IUPK Eksplorasi atau pemegang IUPK Operasi Produksi, dapat
mengajukan permohonan wilayah di luar WIUPK kepada Menteri untuk
menunjang usaha kegiatan pertambangannya.
Paragraf 4
Tata Cara Penerbitan
IUPK Operasi Produksi Mineral Logam dan Batubara
Pasal 67
(1) IUPK Operasi Produksi diberikan kepada BUMN, BUMD, atau badan
usaha swasta sebagai peningkatan dari kegiatan eksplorasi.
(2) Pemegang IUPK Eksplorasi dijamin untuk memperoleh IUPK Operasi
Produksi sebagai peningkatan dengan mengajukan permohonan dan
memenuhi persyaratan peningkatan operasi produksi.
(3) IUPK Operasi Produksi diberikan oleh Menteri.
(4) IUPK Operasi Produksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi
kegiatan konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta
pengangkutan dan penjualan.
(5) IUPK Operasi Produksi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diberikan
kepada BUMN, BUMD, atau badan usaha swasta sebagai peningkatan
dari IUPK Eksplorasi yang memenuhi persyaratan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 63.
(6) WIUPK yang telah mempunyai data lengkap meliputi data eksplorasi,
studi kelayakan dan dokumen lingkungan hidup yang telah disetujui
oleh instansi yang berwenang dapat diberikan IUPK Operasi Produksi
kepada BUMN atau BUMD dengan cara prioritas atau pemenang lelang. – 25 –
Pasal 68
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian IUPK Operasi Produksi
diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Keempat
Pemasangan Tanda Batas
Pasal 69
(1) Dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak diperolehnya IUPK Operasi
Produksi, pemegang IUPK Operasi Produksi wajib memberikan tanda
batas wilayah dengan memasang patok pada WIUPK.
(2) Pembuatan tanda batas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
selesai sebelum dimulai kegiatan operasi produksi.
(3) Dalam hal terjadi perubahan batas wilayah pada WIUPK Operasi
Produksi, harus dilakukan perubahan tanda batas wilayah dengan
pemasangan patok baru pada WIUPK.
Pasal 70
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemasangan tanda batas WIUPK
diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Kelima
Komoditas Tambang Lain Dalam WIUPK
Pasal 71
(1) Dalam hal pada lokasi WIUPK ditemukan komoditas tambang lainnya
yang bukan asosiasi mineral yang diberikan dalam IUPK, pemegang
IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi memperoleh keutamaan
dalam mengusahakan komoditas tambang lainnya yang ditemukan.
(2) Dalam mengusahakan komoditas tambang lainnya sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus membentuk badan usaha baru.
(3) Apabila pemegang IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi tidak
berminat atas komoditas tambang lainnya sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), kesempatan pengusahaannya dapat diberikan kepada pihak
lain dan diselenggarakan dengan cara prioritas atau lelang.
(4) Pihak lain yang mendapatkan IUPK berdasarkan prioritas atau lelang
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus berkoordinasi dengan
pemegang IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi pertama.
Bagian Keenam
Perpanjangan IUPK Operasi Produksi
Pasal 72
(1) Permohonan perpanjangan IUPK Operasi Produksi diajukan kepada
Menteri paling cepat dalam jangka waktu 2 (dua) tahun dan paling
lambat dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sebelum berakhirnya
jangka waktu IUPK.
(2) Permohonan perpanjangan IUPK Operasi Produksi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) paling sedikit harus dilengkapi:
a. peta dan batas koordinat wilayah;
b. bukti pelunasan iuran tetap dan iuran produksi 3 (tiga) tahun
terakhir; – 26 –
c. laporan akhir kegiatan operasi produksi;
d. laporan pelaksanaan pengelolaan lingkungan;
e. rencana kerja dan anggaran biaya; dan
f. neraca sumber daya dan cadangan.
(3) Menteri dapat menolak permohonan perpanjangan IUPK Operasi
Produksi apabila pemegang IUPK Operasi Produksi berdasarkan hasil
evaluasi, pemegang IUPK Operasi Produksi tidak menunjukkan kinerja
operasi produksi yang baik.
(4) Penolakan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus disampaikan
kepada pemegang IUPK Operasi Produksi paling lambat sebelum
berakhirnya IUPK Operasi Produksi.
(5) Pemegang IUPK Operasi Produksi hanya dapat diberikan perpanjangan
sebanyak 2 (dua) kali.
(6) Pemegang IUPK Operasi Produksi yang telah memperoleh perpanjangan
IUPK Operasi Produksi sebanyak 2 (dua) kali, wajib mengembalikan
WIUPK Operasi Produksi kepada Menteri berdasarkan ketentuan
peraturan perundangundangan.
Pasal 73
(1) Pemegang IUPK Operasi Produksi yang telah memperoleh perpanjangan
IUP Operasi Produksi sebanyak 2 (dua) kali sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 72 ayat (6), dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sebelum
jangka waktu masa berlakunya IUPK berakhir, wajib menyampaikan
kepada Menteri mengenai keberadaan potensi dan cadangan mineral
logam atau batubara pada WIUPK-nya.
(2) WIUPK yang IUPK-nya akan berakhir sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) sepanjang masih berpotensi untuk diusahakan, Menteri dapat
menetapkan kembali WIUPK-nya untuk ditawarkan kembali dengan
cara prioritas atau lelang.
(3) Dalam pelaksanaan lelang WIUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
pemegang IUPK sebelumnya mendapat hak menyamai.
BAB V
PENCIUTAN WILAYAH IZIN USAHA PERTAMBANGAN
DAN WILAYAH IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS
Pasal 74
(1) Pemegang IUP sewaktu-waktu dapat mengajukan permohonan kepada
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
untuk menciutkan sebagian atau mengembalikan seluruh WIUP.
(2) Pemegang IUPK sewaktu-waktu dapat mengajukan permohonan kepada
Menteri untuk menciutkan sebagian atau mengembalikan seluruh
WIUPK.
(3) Pemegang IUP atau IUPK dalam melaksanakan penciutan atau
pengembalian WIUP atau WIUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (2) harus menyerahkan:
a. laporan, data dan informasi penciutan atau pengembalian yang
berisikan semua penemuan teknis dan geologis yang diperoleh pada
wilayah yang akan diciutkan dan alas an penciutan atau
pengembalian serta data lapangan hasil kegiatan;
b. peta wilayah penciutan atau pengembalian beserta koordinatnya;
c. bukti pembayaran kewajiban keuangan; – 27 –
d. laporan kegiatan sesuai status tahapan terakhir; dan
e. laporan pelaksanaan reklamasi pada wilayah yang diciutkan atau
dilepaskan.
Pasal 75
(1) Pemegang IUP Eksplorasi atau IUPK Eksplorasi mempunyai kewajiban
untuk melepaskan WIUP atau WIUPK dengan ketentuan:
a. untuk IUP mineral logam atau IUPK mineral logam:
1. pada tahun keempat wilayah eksplorasi yang dapat
dipertahankan paling banyak 50.000 (lima puluh ribu) hektare;
dan
2. pada tahun kedelapan atau pada akhir IUP Eksplorasi atau IUPK
Eksplorasi saat peningkatan menjadi IUP Operasi Produksi atau
IUPK Operasi Produksi wilayah yang dipertahankan paling banyak
25.000 (dua puluh lima ribu) hektare.
b. untuk IUP batubara atau IUPK batubara:
1. pada tahun keempat wilayah eksplorasi yang dapat
dipertahankan paling banyak 25.000 (dua puluh lima ribu)
hektare; dan
2. pada tahun ketujuh atau pada akhir IUP Eksplorasi atau IUPK
Eksplorasi saat peningkatan menjadi IUP Operasi Produksi atau
IUPK Operasi Produksi wilayah yang dipertahankan paling banyak
15.000 (lima belas ribu) hektare.
c. untuk IUP mineral bukan logam:
1. pada tahun kedua wilayah eksplorasi yang dapat dipertahankan
paling banyak 12.500 (dua belas ribu lima ratus) hektare; dan
2. pada tahun ketiga atau pada akhir IUP Eksplorasi saat
peningkatan menjadi IUP Operasi Produksi wilayah yang
dipertahankan paling banyak 5.000 (lima ribu) hektare.
d. untuk IUP mineral bukan logam jenis tertentu:
1. pada tahun ketiga wilayah eksplorasi yang dapat dipertahankan
paling banyak 12.500 (dua belas ribu lima ratus) hektare; dan
2. pada tahun ketujuh atau pada akhir IUP Eksplorasi saat
peningkatan menjadi IUP Operasi Produksi wilayah yang
dipertahankan paling banyak 5.000 (lima ribu) hektare.
e. untuk IUP batuan:
1. pada tahun kedua wilayah eksplorasi yang dapat dipertahankan
paling banyak 2.500 (dua ribu lima ratus) hektare; dan
2. pada tahun ketiga atau pada akhir tahap eksplorasi saat
peningkatan menjadi IUP Operasi Produksi wilayah yang
dipertahankan paling banyak 1.000 (seribu) hektare.
(2) Apabila luas wilayah maksimum yang dipertahankan sudah dicapai
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemegang IUP Eksplorasi atau
IUPK Eksplorasi tidak diwajibkan lagi menciutkan wilayah.
BAB VI
PENGHENTIAN SEMENTARA
KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN
Pasal 76
(1) Kegiatan usaha pertambangan dapat dilakukan penghentian sementara
apabila terjadi: – 28 –
a. keadaan kahar;
b. keadaan yang menghalangi; dan/atau
c. kondisi daya dukung lingkungan.
(2) Penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) tidak mengurangi masa berlaku IUP dan IUPK.
(3) Dalam hal terjadi keadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
a dan huruf b, penghentian sementara dilakukan oleh Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
berdasarkan permohonan dari pemegang IUP atau IUPK.
(4) Dalam hal terjadi keadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
c, penghentian sementara dilakukan oleh:
a. inspektur tambang;
b. Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya berdasarkan permohonan dari masyarakat.
Pasal 77
(1) Penghentian sementara karena keadaan kahar sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 76 ayat (1) huruf a harus diajukan oleh pemegang IUP atau
IUPK dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kalender
sejak terjadinya keadaan kahar kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya untuk memperoleh
persetujuan.
(2) Penghentian sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan
untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang
1 (satu) kali.
(3) Penghentian sementara karena keadaan yang menghalangi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (1) huruf b diberikan 1
(satu) kali dengan jangka waktu 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang
1 (satu) kali dengan jangka waktu 1 (satu) tahun pada setiap tahapan
kegiatan dengan persetujuan Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.
(4) Apabila jangka waktu penghentian sementara sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) telah berakhir, dapat diberikan perpanjangan jangka
waktu penghentian sementara dalam hal terkait perizinan dari instansi
lain.
Pasal 78
Permohonan perpanjangan penghentian sementara sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 77 ayat (3) diajukan secara tertulis dalam jangka waktu paling
lambat 30 (tiga puluh) hari kalender sebelum berakhirnya izin penghentian
sementara.
Pasal 79
(1) Pemegang IUP dan IUPK yang telah diberikan persetujuan penghentian
sementara dikarenakan keadaan kahar sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 76 ayat (1) huruf a, tidak mempunyai kewajiban untuk memenuhi
kewajiban keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan.
(2) Pemegang IUP dan IUPK yang telah diberikan persetujuan penghentian
sementara dikarenakan keadaan yang menghalangi dan/atau kondisi
daya dukung lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (1)
huruf b, dan huruf c wajib: – 29 –
a. menyampaikan laporan kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya;
b. memenuhi kewajiban keuangan; dan
c. tetap melaksanakan pengelolaan lingkungan, keselamatan dan
kesehatan kerja, serta pemantauan lingkungan.
Pasal 80
Persetujuan penghentian sementara berakhir karena:
a. habis masa berlakunya; atau
b. permohonan pencabutan dari pemegang IUP atau IUPK.
Pasal 81
Dalam hal jangka waktu yang ditentukan dalam pemberian persetujuan
penghentian sementara telah habis dan tidak diajukan permohonan
perpanjangan atau permohonan perpanjangan tidak disetujui, penghentian
sementara tersebut berakhir.
Pasal 82
(1) Apabila kurun waktu penghentian sementara belum berakhir dan
pemegang IUP atau IUPK sudah siap untuk melakukan kegiatan
operasinya kembali, dapat mengajukan permohonan pencabutan
penghentian sementara kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
menyatakan pengakhiran penghentian sementara.
Pasal 83
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penghentian sementara kegiatan
usaha pertambangan diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB VII
PENGUTAMAAN KEPENTINGAN DALAM NEGERI,
PENGENDALIAN PRODUKSI, DAN PENGENDALIAN PENJUALAN
MINERAL DAN BATUBARA
Pasal 84
(1) Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi harus
mengutamakan kebutuhan mineral dan/atau batubara untuk
kepentingan dalam negeri.
(2) Menteri menetapkan kebutuhan mineral dan batubara di dalam negeri
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kebutuhan untuk industri
pengolahan dan pemakaian langsung di dalam negeri.
(3) Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi dapat
melakukan ekspor mineral atau batubara yang diproduksi setelah
terpenuhinya kebutuhan mineral dan batubara dalam negeri
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengutamaan kebutuhan
mineral dan batubara untuk kepentingan dalam negeri diatur dengan
Peraturan Menteri. – 30 –
Pasal 85
(1) Pemegang IUP Operasi Produksi mineral dan batubara yang mengekspor
mineral dan/atau batubara yang diproduksi wajib berpedoman pada
harga patokan.
(2) Harga patokan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh:
a. Menteri untuk mineral logam dan batubara;
b. gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya untuk
mineral bukan logam dan batuan.
(3) Harga patokan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan
berdasarkan mekanisme pasar dan/atau sesuai dengan harga yang
berlaku umum di pasar internasional.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan harga patokan
mineral logam dan batubara diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 86
(1) Pemegang IUP dan IUPK harus mengutamakan penggunaan tenaga kerja
setempat.
(2) Dalam hal pemegang IUP dan IUPK menggunakan tenaga kerja asing,
terlebih dahulu mengajukan permohonan kepada Menteri.
(3) Menteri setelah menerima permohonan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) melakukan evaluasi teknis dan berkoordinasi dengan menteri
yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
ketenagakerjaan.
Pasal 87
(1) Pemegang IUP dan IUPK harus mengutamakan barang, peralatan, bahan
baku, dan/atau bahan pendukung dalam negeri serta produk impor
yang dijual di Indonesia dalam kegiatan usaha pertambangan mineral
dan batubara dengan ketentuan:
a. memenuhi standar kualitas dan layanan purna jual;
b. dapat menjamin kontinuitas pasokan dan ketepatan waktu
pengiriman.
(2) Rencana pembelian barang modal, peralatan, bahan baku, dan bahan
pendukung lainnya serta produk impor yang dijual di Indonesia
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan barang yang akan di impor
sendiri harus disampaikan kepada Menteri.
(3) Dalam hal pemegang IUP dan IUPK melakukan impor barang, peralatan,
bahan baku dan bahan pendukung wajib memenuhi ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang perdagangan.
Pasal 88
Ketentuan lebih lanjut mengenai pengadaan tenaga kerja, tata cara
pembelian barang modal, peralatan, bahan baku dan bahan pendukung lain
diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 89
(1) Menteri melakukan pengendalian produksi mineral dan batubara yang
dilakukan oleh pemegang IUP Operasi Produksi mineral atau batubara
dan IUPK Operasi Produksi mineral atau batubara.
(2) Pengendalian produksi mineral dan batubara sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan untuk:
a. memenuhi ketentuan aspek lingkungan; – 31 –
b. melakukan konservasi sumber daya mineral dan batubara;
c. mengendalikan harga mineral dan batubara.
Pasal 90
(1) Menteri melakukan penetapan besaran produksi mineral dan batubara
nasional pada tingkat provinsi.
(2) Menteri dapat melimpahkan kewenangan kepada gubernur untuk
menetapkan besaran produksi mineral dan batubara kepada masingmasing kabupaten/kota.
Pasal 91
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengendalian produksi mineral
dan batubara diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 92
(1) Menteri melakukan pengendalian penjualan mineral dan batubara yang
dilakukan oleh pemegang IUP Operasi Produksi mineral atau batubara
serta IUPK Operasi Produksi mineral atau batubara.
(2) Pengendalian penjualan mineral atau batubara sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan untuk:
a. memenuhi pasokan kebutuhan mineral dan batubara dalam negeri;
dan
b. stabilitas harga mineral dan batubara.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengendalian penjualan
mineral dan batubara diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB VIII
PENINGKATAN NILAI TAMBAH, PENGOLAHAN
DAN PEMURNIAN MINERAL DAN BATUBARA
Bagian Kesatu
Kewajiban Peningkatan Nilai Tambah,
Pengolahan dan Pemurnian
Pasal 93
(1) Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi mineral
wajib melakukan pengolahan dan pemurnian untuk meningkatkan nilai
tambah mineral yang diproduksi, baik secara langsung maupun melalui
kerja sama dengan perusahaan, pemegang IUP dan IUPK lainnya.
(2) Perusahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah mendapatkan
IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan pemurnian.
(3) IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan pemurnian
sebagaimana dimaksudkan pada ayat (2) diberikan oleh Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 94
(1) Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi batubara
wajib melakukan pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah
batubara yang diproduksi baik secara langsung maupun melalui kerja
sama dengan perusahaan, pemegang IUP dan IUPK lainnya.
(2) Perusahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah mendapatkan
IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan. – 32 –
(3) IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan batubara sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diberikan oleh Menteri, gubernur,
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
Bagian Kedua
Peningkatan Nilai Tambah Mineral dan Batubara
Pasal 95
(1) Komoditas tambang yang dapat ditingkatkan nilai tambahnya terdiri
atas pertambangan:
a. mineral logam;
b. mineral bukan logam;
c. batuan; atau
d. batubara.
(2) Peningkatan nilai tambah mineral logam sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf a dilaksanakan melalui kegiatan:
a. pengolahan logam; atau
b. pemurnian logam.
(3) Peningkatan nilai tambah mineral bukan logam sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b dilaksanakan melalui kegiatan pengolahan
mineral bukan logam.
(4) Peningkatan nilai tambah batuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf c dilaksanakan melalui kegiatan pengolahan batuan.
(5) Peningkatan nilai tambah batubara sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf d dilaksanakan melalui kegiatan pengolahan batubara.
Pasal 96
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara peningkatan nilai tambah
mineral dan batubara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 diatur dengan
Peraturan Menteri.
BAB IX
DIVESTASI SAHAM PEMEGANG IZIN USAHA PERTAMBANGAN
DAN IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS
YANG SAHAMNYA DIMILIKI OLEH ASING
Pasal 97
(1) Modal asing pemegang IUP dan IUPK setelah 5 (lima) tahun sejak
berproduksi wajib melakukan divestasi sahamnya, sehingga sahamnya
paling sedikit 20% (dua puluh persen) dimiliki peserta Indonesia.
(2) Divestasi saham sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara
langsung kepada peserta Indonesia yang terdiri atas Pemerintah,
pemerintah daerah provinsi, atau pemerintah daerah kabupaten/kota,
BUMN, BUMD, atau badan usaha swasta nasional.
(3) Dalam hal Pemerintah tidak bersedia membeli saham sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), ditawarkan kepada pemerintah daerah
provinsi atau pemerintah daerah kabupaten/kota.
(4) Apabila pemerintah daerah provinsi atau pemerintah daerah
kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak bersedia
membeli saham, ditawarkan kepada BUMN dan BUMD dilaksanakan
dengan cara lelang. – 33 –
(5) Apabila BUMN dan BUMD sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak
bersedia membeli saham, ditawarkan kepada badan usaha swasta
nasional dilaksanakan dengan cara lelang.
(6) Penawaran saham sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
dalam jangka waktu paling lambat 90 (sembilan puluh) hari kalender
sejak 5 (lima) tahun dikeluarkannya izin Operasi Produksi tahap
penambangan.
(7) Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah
kabupaten/kota, BUMN, dan BUMD harus menyatakan minatnya dalam
jangka waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari kalender setelah
tanggal penawaran.
(8) Dalam hal Pemerintah dan pemerintah daerah provinsi atau
pemerintah daerah kabupaten/kota, BUMN, dan BUMD tidak berminat
untuk membeli divestasi saham sebagaimana dimaksud pada ayat (7),
saham ditawarkan kepada badan usaha swasta nasional dalam jangka
waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender.
(9) Badan usaha swasta nasional harus menyatakan minatnya dalam jangka
waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender setelah tanggal
penawaran.
(10) Pembayaran dan penyerahan saham yang dibeli oleh peserta Indonesia
dilaksanakan dalam jangka waktu paling lambat 90 (sembilan puluh)
hari kalender setelah tanggal pernyataan minat atau penetapan
pemenang lelang.
(11) Apabila divestasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak tercapai,
penawaran saham akan dilakukan pada tahun berikutnya berdasarkan
mekanisme ketentuan pada ayat (2) sampai dengan ayat (9).
Pasal 98
Dalam hal terjadi peningkatan jumlah modal perseroan, peserta Indonesia
sahamnya tidak boleh terdilusi menjadi lebih kecil dari 20% (dua puluh
persen).
Pasal 99
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara divestasi saham dan mekanisme
penetapan harga saham diatur dengan Peraturan Menteri setelah
berkoordinasi dengan instansi terkait.
BAB X
PENGGUNAAN TANAH UNTUK KEGIATAN
OPERASI PRODUKSI
Pasal 100
(1) Pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi yang akan
melakukan kegiatan operasi produksi wajib menyelesaikan sebagian
atau seluruh hak atas tanah dalam WIUP atau WIUPK dengan pemegang
hak atas tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
(2) Pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi wajib
memberikan kompensasi berdasarkan kesepakatan bersama dengan
pemegang hak atas tanah. – 34 –
BAB XI
TATA CARA PENYAMPAIAN LAPORAN
Pasal 101
(1) Pemegang IUP dan IUPK wajib menyerahkan seluruh data yang
diperoleh dari hasil eksplorasi dan operasi produksi kepada Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Pemegang IUP yang diterbitkan oleh bupati/walikota wajib
menyampaikan laporan tertulis secara berkala atas rencana kerja dan
anggaran biaya pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral
atau batubara kepada bupati/walikota dengan tembusan kepada
Menteri dan gubernur.
(3) Pemegang IUP yang diterbitkan oleh gubernur wajib menyampaikan
laporan tertulis secara berkala atas rencana kerja dan anggaran biaya
pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral atau batubara
kepada gubernur dengan tembusan kepada Menteri.
(4) Pemegang IUP dan IUPK yang diterbitkan oleh Menteri wajib
menyampaikan laporan tertulis secara berkala atas rencana kerja dan
anggaran biaya pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral
atau batubara kepada Menteri.
Pasal 102
(1) Bupati/walikota harus menyampaikan laporan tertulis mengenai
pengelolaan kegiatan usaha pertambangan sesuai dengan
kewenangannya kepada gubernur secara berkala setiap 6 (enam)
bulan.
(2) Gubernur atau bupati/walikota harus menyampaikan laporan tertulis
mengenai pengelolaan kegiatan usaha pertambangan sesuai dengan
kewenangannya kepada Menteri secara berkala setiap 6 (enam) bulan.
Pasal 103
(1) Laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 memuat laporan
kemajuan kerja dalam suatu kurun waktu dan dalam suatu tahapan
kegiatan tertentu yang disampaikan oleh pemegang IUP Eksplorasi dan
IUPK Eksplorasi serta pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi
Produksi.
(2) Laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 disampaikan dalam
jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kalender setelah
berakhirnya tiap triwulan atau tahun takwim kecuali laporan dwi
mingguan dan bulanan tahapan kegiatan operasi produksi.
(3) Rencana kerja dan anggaran biaya tahunan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 101 disampaikan kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dalam jangka waktu
paling lambat 45 (empat puluh lima) hari kalender sebelum
berakhirnya tiap tahun takwim.
(4) Laporan dwi mingguan dan bulanan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) disampaikan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima)
hari kalender setelah berakhirnya tiap dwi mingguan atau bulan
takwim. – 35 –
Pasal 104
(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
dapat memberikan tanggapan terhadap laporan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 103 ayat (3) dan ayat (4).
(2) Tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus ditindaklanjuti
oleh pemegang IUP atau IUPK dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga
puluh) hari kalnder sejak diterimanya tanggapan dari Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 105
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaporan diatur dengan
Peraturan Menteri.
BAB XII
PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
DI SEKITAR WIUP DAN WIUPK
Pasal 106
(1) Pemegang IUP dan IUPK wajib menyusun program pengembangan dan
pemberdayaan masyarakat di sekitar WIUP dan WIUPK.
(2) Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dikonsultasikan
dengan Pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota,
dan masyarakat setempat.
(3) Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat mengajukan
usulan program kegiatan pengembangan dan pemberdayaan
masyarakat kepada bupati/walikota setempat untuk diteruskan kepada
pemegang IUP atau IUPK.
(4) Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diprioritaskan untuk masyarakat di sekitar WIUP dan
WIUPK yang terkena dampak langsung akibat aktifitas pertambangan.
(5) Prioritas masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan
masyarakat yang berada dekat kegiatan operasional penambangan
dengan tidak melihat batas administrasi wilayah
kecamatan/kabupaten.
(6) Program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dibiayai dari alokasi biaya program
pengembangan dan pemberdayaan masyarakat pada anggaran dan
biaya pemegang IUP atau IUPK setiap tahun.
(7) Alokasi biaya program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat
sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dikelola oleh pemegang IUP atau
IUPK.
Pasal 107
Pemegang IUP dan IUPK setiap tahun wajib menyampaikan rencana dan
biaya pelaksanaan program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat
sebagai bagian dari rencana kerja dan anggaran biaya tahunan kepada
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
untuk mendapat persetujuan.
Pasal 108
Setiap pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi wajib
menyampaikan laporan realisasi program pengembangan dan pemberdayaan – 36 –
masyarakat setiap 6 (enam) bulan kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 109
Ketentuan lebih lanjut mengenai pengembangan dan pemberdayaan
masyarakat diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB XIII
SANKSI ADMINISTRATIF
Pasal 110
(1) Pemegang IUP atau IUPK yang melakukan pelanggaran terhadap
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1), Pasal 69
ayat (1), Pasal 73 ayat (1), Pasal 79 ayat (2), Pasal 85 ayat (1), Pasal 93
ayat (1), Pasal 94 ayat (1), Pasal 97 ayat (1), Pasal 100 ayat (1) atau
ayat (2), Pasal 101 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4), Pasal 106
ayat (1), Pasal 107, atau Pasal 108 dikenai sanksi administratif.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi
Produksi mineral atau batubara; dan/atau
c. pencabutan IUP atau IUPK.
(3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan
oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
Pasal 111
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian sanksi administratif
diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB XIV
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 112
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku:
1. Kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan
batubara yang ditandatangani sebelum diundangkan Peraturan
Pemerintah ini dinyatakan tetap berlaku sampai jangka waktunya
berakhir.
2. Kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan
batubara sebagaimana dimaksud pada angka 1 yang belum memperoleh
perpanjangan pertama dan/atau kedua dapat diperpanjang menjadi
IUP perpanjangan tanpa melalui lelang dan kegiatan usahanya
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini
kecuali mengenai penerimaan negara yang lebih menguntungkan.
3. Kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan
batubara sebagaimana dimaksud pada angka 1 yang telah melakukan
tahap kegiatan operasi produksi wajib melaksanakan pengutamaan
kepentingan dalam negeri sesuai dengan ketentuan Peraturan
Pemerintah ini.
4. Kuasa pertambangan, surat izin pertambangan daerah, dan surat izin
pertambangan rakyat, yang diberikan berdasarkan ketentuan peraturan – 37 –
perundang-undangan sebelum ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini
tetap diberlakukan sampai jangka waktu berakhir serta wajib:
a. disesuaikan menjadi IUP atau IPR sesuai dengan ketentuan
Peraturan Pemerintah ini dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga)
bulan sejak berlakunya Peraturan Pemerintah ini dan khusus BUMN
dan BUMD, untuk IUP Operasi Produksi merupakan IUP Operasi
Produksi pertama;
b. menyampaikan rencana kegiatan pada seluruh wilayah kuasa
pertambangan sampai dengan jangka waktu berakhirnya kuasa
pertambangan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya;
c. melakukan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri dalam
jangka waktu paling lambat 5 (lima) tahun sejak berlakunya
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
dan Batubara.
5. Permohonan Kuasa Pertambangan yang telah diterima Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sebelum terbitnya Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara dan
telah mendapatkan Pencadangan Wilayah dari Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dapat diproses
perizinannya dalam bentuk IUP tanpa melalui lelang paling lambat 3
(tiga) bulan setelah berlakunya Peraturan Pemerintah ini.
6. Kuasa pertambangan, kontrak karya, dan perjanjian karya pengusahaan
pertambangan batubara yang memiliki unit pengolahan tetap dapat
menerima komoditas tambang dari Kuasa pertambangan, kontrak karya
dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara, pemegang
IUP, dan IPR.
7. Pemegang kuasa pertambangan yang memiliki lebih dari 1 (satu) kuasa
pertambangan dan/atau lebih dari 1 (satu) komoditas tambang
sebelum diberlakukannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tetap
berlaku sampai jangka waktu berakhir dan dapat diperpanjang menjadi
IUP sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.
8. Pemegang kuasa pertambangan, kontrak karya, dan perjanjian karya
pengusahaan pertambangan batubara pada tahap operasi produksi yang
memiliki perjanjian jangka panjang untuk ekspor yang masih berlaku
dapat menambah jumlah produksinya guna memenuhi ketentuan
pasokan dalam negeri setelah mendapat persetujuan Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
sepanjang memenuhi ketentuan aspek lingkungan dan konservasi
sumber daya batubara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
BAB XV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 113
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, semua peraturan
perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Peraturan
Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1969 Nomor 60, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2916) sebagaimana telah – 38 –
beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 75
Tahun 2001 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 141,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4154) dinyatakan
masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum dikeluarkan
peraturan pelaksana yang baru berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.
Pasal 114
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku:
1. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan
Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1969
Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
2916) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2001 tentang Perubahan Kedua
atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan
Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001
Nomor 141, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4154);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan
Bahan Galian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1980 Nomor
47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3174);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1986 tentang Penyerahan
Sebagian Urusan Pemerintahan Di Bidang Pertambangan Kepada
Pemerintah Daerah Tingkat I (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1986 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3340), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 115
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik
Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 1 Februari 2010
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 1 Februari 2010
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
PATRIALIS AKBAR
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 29 – 39 –
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 23 TAHUN 2010
TENTANG
PELAKSANAAN KEGIATAN USAHA
PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA
I. UMUM
Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 menegaskan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung
didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat. Mengingat mineral dan batubara sebagai kekayaan
alam yang terkandung di dalam bumi merupakan sumber daya alam yang tak
terbarukan, pengelolaannya perlu dilakukan seoptimal mungkin, efisien,
transparan, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan, serta berkeadilan
agar memperoleh manfaat sebesar-besar kemakmuran rakyat secara
berkelanjutan.
Sejalan dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009
tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, perlu melakukan penataan
kembali pengaturan yang berkaitan dengan kegiatan usaha pertambangan
mineral dan batubara, yang meliputi:
1. Pengusahaan pertambangan diberikan dalam bentuk Izin Usaha
Pertambangan, Izin Usaha Pertambangan Khusus, dan Izin Pertambangan
Rakyat.
2. Pengutamaan pemasokan kebutuhan mineral dan batubara untuk
kepentingan dalam negeri guna menjamin tersedianya mineral dan
batubara sebagai bahan baku dan/atau sebagai sumber energi untuk
kebutuhan dalam negeri.
3. Pelaksanaan dan pengendalian kegiatan usaha pertambangan secara
berdaya guna, berhasil guna, dan berdaya saing.
4. Peningkatan pendapatan masyarakat lokal, daerah, dan negara, serta
menciptakan lapangan kerja untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat.
5. Penerbitan perizinan yang transparan dalam kegiatan usaha
pertambangan mineral sehingga iklim usaha diharapkan dapat lebih
sehat dan kompetitif.
6. Peningkatan nilai tambah dengan melakukan pengolahan dan pemurnian
mineral dan batubara di dalam negeri.
Pengaturan-pengaturan tersebut di atas perlu dituangkan dalam Peraturan
Pemerintah ini.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Ayat (1)
Cukup jelas. – 40 –
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan mineral radioaktif dalam ketentuan ini
termasuk bahan galian nuklir.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 3
Cukup jelas.
Pasal 4
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Perseorangan dalam ketentuan ini adalah Warga Negara Indonesia.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 9
Cukup jelas. – 41 –
Pasal 10
Ayat (1)
Mengumumkan WIUP secara terbuka dalam ketentuan ini dilakukan:
a. paling sedikit di 1 (satu) media cetak lokal dan/atau 1 (satu) media
cetak nasional;
b. di kantor kementerian yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang mineral dan batubara;
c. di kantor pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.
Ayat (2)
Rekomendasi dalam ketentuan ini adalah rekomendasi dalam bentuk
pemberian pertimbangan yang berisi informasi mengenai pemanfaatan
lahan di WIUP dan karakteristik budaya masyarakat berdasarkan
kearifan lokal dalam rangka pelelangan WIUP.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 11
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan unsur dari Pemerintah dalam ketentuan ini
merupakan wakil dari kementerian yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang mineral dan batubara.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Ayat (1)
Huruf a
Pengumuman prakualifikasi dilakukan:
1. paling sedikit dimuat di 1 (satu) media cetak local dan/atau 1
(satu) media cetak nasional;
2. di kantor kementerian yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang mineral dan batubara; dan
3. di kantor pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas. – 42 –
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf j
Cukup jelas.
Huruf k
Cukup jelas.
Huruf l
Cukup jelas.
Huruf m
Cukup jelas.
Huruf n
Cukup jelas.
Huruf o
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Status lahan misalnya berada pada kawasan hutan dan kawasan
perkebunan.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Peraturan Menteri paling sedikit memuat mengenai tata cara penetapan
dan pengumuman pemenang lelang.
Pasal 20
Ayat (1) – 43 –
Cukup jelas.
Ayat (2)
Rekomendasi dalam ketentuan ini adalah rekomendasi dalam bentuk
pemberian pertimbangan yang berisi informasi mengenai pemanfaatan
lahan di WIUP dan karakteristik budaya masyarakat berdasarkan
kearifan lokal dalam rangka pelelangan WIUP.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Cukup jelas.
Pasal 23
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas
Pasal 29
Cukup jelas.
Pasal 30
Cukup jelas.
Pasal 31
Cukup jelas.
Pasal 32
Cukup jelas.
Pasal 33
Yang dimaksud dengan wilayah di luar WIUP dalam ketentuan ini adalah
project area yang dilarang untuk melakukan kegiatan tahap
penambangan.
Pasal 34
Cukup jelas. – 44 –
Pasal 35
Ayat (1)
Huruf a
Pelabuhan dalam ketentuan ini adalah pelabuhan khusus atau
terminal khusus yang dibangun oleh pemegang IUP Operasi Produksi.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 36
Cukup jelas.
Pasal 37
Cukup jelas.
Pasal 38
Cukup jelas.
Pasal 39
Cukup jelas.
Pasal 40
Yang dimaksud dengan wilayah di luar WIUP dalam ketentuan ini adalah
project area yang dilarang untuk melakukan kegiatan penambangan.
Pasal 41
Cukup jelas.
Pasal 42
Cukup jelas.
Pasal 43
Cukup jelas.
Pasal 44
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “komoditas tambang lainnya” dalam ketentuan
ini adalah antara lain apabila dalam WIUP komoditas tertentu terdapat
mineral lain atau batubara.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Pihak lain dalam ketentuan ini adalah badan usaha, koperasi, atau
perseorangan selain pemegang IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi
yang tidak berminat atas komoditas tambang tersebut.
Ayat (4)
Cukup jelas. – 45 –
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 45
Cukup jelas.
Pasal 46
Cukup jelas.
Pasal 47
Cukup jelas.
Pasal 48
Cukup jelas.
Pasal 49
Cukup jelas.
Pasal 50
Cukup jelas.
Pasal 51
Cukup jelas.
Pasal 52
Cukup jelas.
Pasal 53
Cukup jelas.
Pasal 54
Ayat (1)
Mengumumkan secara terbuka dalam ketentuan ini yaitu dilakukan:
a. paling sedikit dimuat di 1 (satu) media cetak lokal dan/atau 1
(satu) media cetak nasional; dan
b. di kantor kementerian yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang mineral dan batubara.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 55
Cukup jelas.
Pasal 56
Cukup jelas.
Pasal 57
Cukup jelas. – 46 –
Pasal 58
Cukup jelas.
Pasal 59
Cukup jelas.
Pasal 60
Cukup jelas.
Pasal 61
Cukup jelas.
Pasal 62
Cukup jelas.
Pasal 63
Cukup jelas.
Pasal 64
Cukup jelas.
Pasal 65
Cukup jelas.
Pasal 66
Yang dimaksud dengan wilayah di luar WIUPK dalam ketentuan ini adalah
project area yang dilarang untuk melakukan kegiatan penambangan.
Pasal 67
Cukup jelas.
Pasal 68
Cukup jelas.
Pasal 69
Cukup jelas.
Pasal 70
Cukup jelas.
Pasal 71
Cukup jelas.
Pasal 72
Cukup jelas.
Pasal 73
Cukup jelas.
Pasal 74
Ayat (1)
Cukup jelas. – 47 –
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan bukti pembayaran kewajiban keuangan dalam
ketentuan ini adalah iuran tetap, iuran produksi, dan pajak.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Pasal 75
Cukup jelas.
Pasal 76
Ayat (1)
Huruf a
Keadaan kahar dalam ketentuan ini antara lain meliputi perang,
kerusuhan sipil, pemberontakan, epidemi, gempa bumi, banjir,
kebakaran dan lain-lain bencana alam di luar kemampuan manusia.
Huruf b
Keadaan yang menghalangi dalam ketentuan ini antara lain meliputi
blokade, pemogokan, perselisihan perburuhan di luar kesalahan
pemegang IUP atau IUPK dan ketentuan peraturan perundangundangan yang diterbitkan oleh menteri yang menghambat kegiatan
usaha pertambangan mineral atau batubara yang sedang berjalan.
Huruf c
Kondisi daya dukung lingkungan dalam ketentuan ini adalah apabila
kondisi daya dukung lingkungan wilayah tersebut tidak dapat
menanggung beban kegiatan operasi produksi mineral dan/atau
batubara yang dilakukan diwilayahnya.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 77
Cukup jelas.
Pasal 78
Cukup jelas.
Pasal 79
Cukup jelas. – 48 –
Pasal 80
Cukup jelas.
Pasal 81
Cukup jelas.
Pasal 82
Cukup jelas.
Pasal 83
Cukup jelas.
Pasal 84
Cukup jelas.
Pasal 85
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Peraturan Menteri paling sedikit memuat biaya penyesuaian yang
dibebankan sebagai biaya penjualan.
Pasal 86
Cukup jelas.
Pasal 87
Cukup jelas.
Pasal 88
Cukup jelas.
Pasal 89
Cukup jelas.
Pasal 90
Cukup jelas.
Pasal 91
Cukup jelas.
Pasal 92
Cukup jelas.
Pasal 93
Cukup jelas. – 49 –
Pasal 94
Ayat (1)
Yang dimaksud pengolahan dalam ketentuan ini antara lain meliputi:
a. penggerusan batubara (coal crushing);
b. pencucian batubara (coal washing);
c. pencampuran batubara (coal blending);
d. peningkatan mutu batubara (coal upgrading);
e. pembuatan briket batubara (coal briquetting);
f. pencairan batubara (coal liquefaction); dan
g. gasifikasi batubara (coal gasification).
h. coal water mixer.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 95
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Peningkatan nilai tambah dalam ketentuan ini dilakukan dalam rangka
meningkatkan dan mengoptimalkan nilai tambang, tersedianya bahan
baku industri, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan penerimaan
negara.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 96
Cukup jelas.
Pasal 97
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “modal asing” adalah modal yang dimiliki oleh
negara asing, perseorangan warga negara asing, badan usaha asing,
badan hukum asing, dan/atau badan hukum Indonesia yang seluruh
modalnya dimiliki oleh pihak asing.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas. – 50 –
Ayat (8)
Cukup jelas.
Ayat (9)
Cukup jelas.
Ayat (10)
Cukup jelas.
Ayat (11)
Cukup jelas.
Pasal 98
Cukup jelas.
Pasal 99
Cukup jelas.
Pasal 100
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan kompensasi dalam ketentuan ini dapat berupa
sewa menyewa, jual beli, atau pinjam pakai.
Pasal 101
Cukup jelas.
Pasal 102
Cukup jelas.
Pasal 103
Cukup jelas.
Pasal 104
Cukup jelas.
Pasal 105
Cukup jelas.
Pasal 106
Cukup jelas.
Pasal 107
Cukup jelas.
Pasal 108
Cukup jelas.
Pasal 109
Cukup jelas.
Pasal 110
Cukup jelas. – 51 –
Pasal 111
Cukup jelas.
Pasal 112
Cukup jelas.
Pasal 113
Cukup jelas.
Pasal 114
Cukup jelas.
Pasal 115
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5111

_____

Posted in: PERTAMBANGAN