Perubahan Wajah Kroni Penguasa Myanmar – Jerome e WiraWan, Media Indonesia-01 Mei 2012

Posted on May 1, 2012

0


LAMBORGHINI kuning me talik itu parkir di depan sebuah rumah megah ber gaya neoklasik di kawa san permukiman elite kota terbe sar Myanmar, Yangon. Tatkala Myanmar didera sejumlah sanksi ekonomi dan sekitar 37% dari 54 juta penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan, keberadaan mo bil buatan Italia itu masuk kategori sangat langka.

Namun, warga Yangon dan Myan mar urung mengernyitkan dahi saat mengetahui empunya kendaraan.
Dia adalah Tay Za, salah seorang dari 20 kepala keluarga konglomerat Myanmar. Di negara tersebut, Tay Za memegang sejumlah perusahaan di bawah bendera Htoo Group yang bergerak di industri hulu hingga hilir, seperti usaha penebangan hutan, pe nambangan mineral, minyak sawit, konstruksi, real estat, pariwisata, dan penerbangan.

Kerajaan bisnis Tay Za sejatinya berakar dari budaya kolusi dan nepotisme. Selama junta militer me nguasai Myanmar, Tay Za menjalin koneksi dengan pemimpin junta Jen deral Senior Than Shwe dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Thura Shwe Mann. Sejumlah diplomat Barat me ngatakan Tay Za memberikan bagian keuntungan kepada anakanak Than Shwe dan jenderaljenderal lainnya demi memperoleh kontrak bisnis khusus dan izin impor di berbagai sektor, semisal logistik, properti, industri pertanian, pariwisata, dan perminyakan.
Berubah Kini, angin perubahan di Myan mar mulai berhembus. Than Shwe telah lengser dari kekuasaan dan menyerahkan tampuk pemerintahan kepada sipil. Kemudian, Thura Shwe Mann menanggalkan seragam mi liternya dan menjadi ketua majelis rendah di parlemen Myanmar.

Adapun tokoh prodemokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi, terpi lih sebagai anggota parlemen setelah memenangi pemilihan umum sela pada 1 April lalu. Situasi tersebut, menurut para pengamat, merupakan keuntungan bagi Myanmar. Pasal nya, kehadiran Suu Kyi di parlemen akan melegitimasi sistem politik pe merintah. Lebih jauh, pencabutan sanksi yang lama diberlakukan ne garanegara Barat akan terjadi dalam waktu dekat.

Saat berkunjung ke Myanmar ak hir tahun lalu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton menyatakan siap membuka keran investasi ke Yangon. Namun, lanjut nya, AS akan memastikan langkah tersebut bakal jatuh ke masyarakat luas, alihalih ke segelintir orang.

Sindiran Clinton yang mengarah kepada konglomeratkonglomerat Myanmar sepertinya mengena. Ber dasarkan reportase kantor berita Reuters, kaum the haves Myanmar akhirakhir ini sibuk mengubah citra mereka menjadi pengusaha yang taat hukum dan peduli kepada rakyat.
Ubah wajah Ketika ditemui di Kandawgyi Palace Hotel, yang dibeli Tay Za dua tahun lalu, Pye Phyo Tay Za berbica ra panjang lebar mengenai kiprah ayahnya itu.

“Bagi dia, semuanya kini berbeda,“ ujar pria berusia 25 tahun itu. “Dia lebih banyak bekerja untuk yayasan yang dia dirikan. Dia menyumbang lebih banyak untuk masyarakat. Me ngurangi ketamakan,“ jelas Pye Phyo, merujuk Tay Za.

Pengubahan citra juga dilaku kan Zaw Zaw, konglomerat Myan mar yang beroperasi di bidang penebangan hutan, penambangan batu alam, hingga pembangunan resor. Pada 2007, surat diploma tik rahasia AS yang dibocorkan Wikileaks menggambarkan Zaw Zaw sebagai sosok yang memiliki simbiosis mutualisme dengan para jenderal penguasa junta militer. Ke menterian Keuangan AS menjuluki Zaw Zaw `kroni rezim’.

Namun, kini Zaw Zaw mengubah strateginya. Dia melepas sektor kon struksi yang didominasi perusahaan perusahaan yang dekat dengan pe nguasa. “Anda tidak bisa mengelola semuanya seorang diri. Kami harus mencari bisnis mana yang baik un tuk masa depan, bisnis mana yang bisa menjadikan kami sebagai mitra dengan perusahaanperusahaan a sing,“ tutur Zaw Zaw saat ditemui di kantornya, di Yangon.

Saat ditanya apakah dia kroni pe nguasa junta militer, Zaw Zaw meng gelengkan kepalanya. Menurut dia, junta memilih dia karena kualitas pekerjaannya. “Kami tidak pernah melakukan bisnis yang ilegal,“ kata dia. Dia berkeras hubungannya de ngan Than Shwe murni bisnis. “Saya bisa berteman dengan siapa saja.“

Meski demikian, dia tidak menge lak bahwa hubungan pertemanan terkadang menguntungkan. Saat mendapat proyek pembangunan Royal Kumudra Hotel di ibu kota Myanmar, Naypyidaw, Zaw Zaw bu kan dibayar dengan uang, melainkan 10 izin impor mobil senilai US$180 ribu masingmasing.
Generasi kedua Kini, seiring dengan rencana ne gara Barat untuk mencabut sanksi ekonomi, perusahaanperusahaan AS dan Eropa ditengarai gencar melobi pemerintah Myanmar. Mereka akan berhadapan dengan jaringan kroni generasi baru Myanmar mengingat usia Tay Za, Zaw Zaw, dan konglome rat properti Khin Shwe sudah tidak muda lagi.

Tay Za, misalnya, akan digantikan Pye Phyo Tay Za. Kemudian Khin Shwe telah menyiapkan putranya, Zay Thiha, dengan menunjuknya sebagai wakil ketua perusahaan properti keluarga, Zaykabar. Bah kan, Khin Shwe telah menikahkan putrinya, Zay Zin Latt, dengan Toe Naing Mann, pendiri perusahaan telekomunikasi Redlink Toe Co. Hal itu kian mempererat hubungan keluarga Khin Shwe dengan Thura Shwe Mann mengingat Toe Naing Mann adalah putra mantan jenderal itu. (Reuters/Jer/I3) jerome@mediaindonesia.com

Mantan Aktivis yang Berangkulan dengan Junta

BERBEDA dengan beberapa konglomerat Myanmar yang terlahir di keluarga berada, Zaw Zaw lahir dan dibesarkan dalam situasi penuh keprihatinan di kawasan Delta Irrawaddy. Semasa kecil, Zaw Zaw biasa menyambung hidup dengan membersihkan jalanan dan kuil.

Jalan hidup Zaw Zaw mulai menemui titik terang ketika dapat mengenyam pendidikan di universitas. Menjelang kelulusan pada 1988, dia bergabung dengan gerakan prodemokrasi di Yangon. Se telah itu, dia kembali ke desanya untuk membantu kelancaran revolusi.

Setahun kemudian, junta militer mulai brutal. Korps berseragam loreng itu menekan gerakan prodemokrasi sehingga menyebabkan ribuan orang tewas. Seperti sebagian besar aktivis lainnya, Zaw Zaw menyelamatkan diri ke luar negeri. Dia tiba di Singapura dan bekerja untuk perusahaan perkapalan Pacific Carriers Ltd.

Tahun berikutnya, Zaw Zaw kembali bermigrasi. Kali ini ia ikut kakaknya yang telah lebih dulu berada di Tokyo, Jepang. Untuk memenuhi keperluan hidupnya, dia bekerja di restoran hotel di kawasan Ginza pada malam hari dan siangnya di bengkel mobil. “Saya hampir tidak pernah tidur,“ kata pria yang saat itu menyempatkan belajar bahasa Jepang di kala senggang.

Usahanya pun berbuah. Ia berhasil mendapatkan banyak kenalan.
Salah satu kenalan mengajaknya berbisnis ekspor mobil ke Selandia Baru, Afrika, dan Asia Tenggara.

Pada 1995, Zaw Zaw kembali ke Myanmar dan mendirikan Max Myanmar Group, perusahaan yang menangani impor mobil, bus, dan mesin-mesin berat. Dari situlah dia mulai menjalin relasi dengan junta militer yang menjadi penguasa Myanmar kala itu. Karena itu, tidak mengherankan apabila Max Myanmar Group mendominasi bisnis impor otomotif di Myanmar hingga saat ini. Sekadar catatan, pemasukan tahunan perusahaan itu mencapai US$500 juta.

Namun, pencapaian tersebut harus dibayar Zaw Zaw dengan cap yang menempel di dirinya. `Persahabatannya dengan mantan diktator Than Shwe membuat dia seorang kroni rezim’, tulis Reuters mengutip Kementerian Keuangan Amerika Serikat.

Zaw pun terkena imbas ketika Myanmar dijatuhi sanksi oleh dunia internasional. Kementerian Keuangan Amerika Serikat (AS) memasukkannya ke daftar hitam target sanksi yang dijatuhkan tiga tahun lalu. (DK/Reuters/I-1) Max MyanMar Group mendominasi bisnis impor otomotif di Myanmar. Pemasukan tahunan perusahaan itu mencapai uS$500 juta.

K
Shin Shwe, Kawinkan Dinasti Bisnis dan politik

Perkawinan itu serupa persekutuan yang sekali mendayung, kepentingan bisnis dan politik terlampaui.”

“SEBENARNYA kami ingin istirahat,“ ucap Khin Shwe, 60, seorang taipan properti berpengaruh di Myanmar. “Tapi kami tidak bisa.“

Ucapan itu ibarat cermin kondisi Myanmar yang kini begitu dirasuki dinasti bisnis. Yakni, sebuah kelompok besar bersama menguatnya era junta militer selama puluhan tahun berkuasa. Sampai akhirnya, mereka berkembang menjadi kaum multijutawan di tengah-tengah lautan kelaparan. Madu pembangunan itu pun terlalu sayang untuk dilepaskan begitu saja. Hal itu seperti yang dirasakan Khin Shwe.

Kroni yang juga pendukung peta jalan junta militer ini merupakan pemilik Zaykabar Company, perusahaan pelopor real estat di Myanmar.
Kedekatan dengan militer telah membuatnya bisa meraup proyek semudah membalikkan telapak tangan.

Sejumlah proyek yang tergolong berprofil raksasa milik pemerintah menjadi garapannya, antara lain Yangon Industrial Park, Royal Golf and Country Club Mingalodon, Taman Alam dan Zona Rekreasi Kandawgyi, Mya Yeik Nyo Royal Hotel, Pyay Garden Condominium, dan Karaweik Palace reception hall and restaurant di Danau Kandawgyi, Rangoon.

Tak berhenti di proyek, tangannya pun menggurita di jabatan-jabatan publik. Shwe tercatat menjadi Presiden Asosiasi Pengusaha Konstruksi Myanmar (MCEA) sekaligus Ketua Myanmar Hotelier Association.
Lantaran kedua posisi tersebut, dia diklaim telah memainkan peran utama dalam mengembangkan dan mempromosikan industri pariwisata Myanmar.

Organisasi silaturahim antarnegara pun ia pegang. Misalnya, Asosiasi Persahabatan Jepang-Myanmar, Asosiasi Persahabatan Myanmar-Korea, dan Kerja Sama Pembangunan Myanmar-Thailand.

Pada 1997, ia sebenarnya sempat menyewa perusahaan humas AS, Bain and Associates Inc, untuk meningkatkan hubungan dengan AS.

Namun pada 2007, ia ditempatkan dalam daftar personal yang terkena cekal AS akibat kedekatannya dengan junta.

Ia memperluas pengaruhnya de ngan melakukan langkah kuda pada Pemilu Myanmar 2010. Ketika itu, partai Aung San Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD),

melakukan boikot nasional setelah merebaknya kecurangan pesta demokrasi di seantero Myanmar.

Pada pemungutan suara 5 September 2010 itu, ia mewakili daerah pemilihan 9 Amyotha Hluttaw, di Yangon. Dapil tersebut meliputi Kawhmu, Kungyangone, dan Twante Townships. Ia pun berhasil meraih kursi lewat Partai Uni Solidaritas dan Pembangunan (USDP) yang menjadi pemenang pemilu. Di parlemen, ia menjadi bagian penyusun konstitusi yang membentengi kekuasaan junta.

Tak beda dengan keluarga konglomerat yang besar karena kekuasaan seperti di Indonesia, Khin Shwe juga memberikan tempat istimewa secara cuma-cuma bagi keluarganya alias nepotisme. Sang anak, Zay Thiha, diketahui merupakan wakil pemimpin Grup Zaykabar.

Guna makin meluaskan kekuasaannya, Shwe juga menjalankan taktik perkawinan antardinasti bisnis dan politik. Anaknya yang lain yang merupakan adik Zay Thiha, Zay Zin Latt, dinikahkan dengan Toe Naing Mann, pendiri perusahaan telekomunikasi Redlink Toe Co.

Usut punya usut, Mann merupa

kan putra anggota majelis rendah Thura Shwe Mann, pensiunan jenderal dan salah satu kandidat presiden yang potensial menggantikan Thein Sein. Maka jadilah perka winan itu serupa persekutuan yang sekali mendayung, kepentingan bisnis dan politik terlampaui.

Para penerus Khin Shwe ini pun dipandang akan memperkuat cengkeraman kuku taipan kroni junta.

Meskipun generasi kedua ini tak begitu ‘tercemar’ politik junta, ayah mereka yang merupakan generasi pertama tetap begitu memengaruhi dalam pencarian legitimasi baru di Myanmar pascareformasi. Yang tentunya, semua itu demi mengekalkan kepentingan dan kuasa fulus mereka. (Reuters/Myanmar Times/ Mizzima/IF/I-2)


Posted in: Uncategorized