Buruh Tambang Unjuk Rasa, Apa Kata Jero Wacik?

Posted on June 1, 2012

0


| Erlangga Djumena | Selasa, 29 Mei 2012 | 02:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Aksi unjuk rasa pekerja tambang menggelar di depan kantor Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) mendapat tanggapan dari Menteri ESDM Jero Wacik.

Unjuk rasa menentang kebijakan Peraturan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2012 tentang peningkatan nilai tambah mineral tersebut dinilai tidak akan membuat bangkrut perusahaan tempat buruh bekerja.

“Permen No 7/2012 itu tujuannya jelas. Saya bekas pengusaha, tidak pernah ada niat saya untuk membangkrutkan perusahaan,” ujar Jero ketika ditanya wartawan di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Senin (28/5/2012).

Jero mengatakan, peraturan menteri (permen) itu sesuai amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara. Menurutnya, dalam UU ini ditegaskan tidak boleh lagi ada mineral, tidak termasuk batu bara, diekspor secara mentah.

“Untuk mengamankan itu, mulai tahun ini kami harus sudah bersiap-siap. Pasalnya, membuat smeltertidak bisa simsalabim dalam satu hari. Harus ada programnya dari sekarang,” ujarnya.

Ia menegaskan, perusahaan mineral juga tidak boleh mengekspor mineral sejak 6 Mei sebelum mengajukan proposal peningkatan nilai tambah di dalam negeri.

Ditanya tentang efek pemutusan hubungan kerja akibat Permen No 7 tahun 2012, Jero mengatakan belum mendapat laporan resmi soal itu. “Kalau PHK (pemutusan hubungan kerja) itu hanya wartawan yang bilang,” ujarnya.

Jero justru mengatakan, permen ini mendorong pembangunan smelter dan pada gilirannya akan menciptakan lapangan kerja baru di dalam negeri. “Daripada menciptakan lapangan kerja di China atau Korea, lebih baik di sini karena tugas saya menciptakan pertumbuhan ekonomi juga harus menumbuhkan lapangan kerja,” tandasnya. (Petrus Sabu/Kontan)