Pertumbuhan Ekonomi 2013

Posted on July 6, 2012

0


Pertumbuhan Optimistis

Kompas 6 Juli 2012, hal.17

Investasi Jadi Andalan Pertumbuhan Ekonomi 2013

Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo didampingi Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution (kiri) menghadiri rapat dengan Badan Anggaran DPR di ruang rapat Badan Anggaran, Lantai I Gedung Nusantara II DPR, Jakarta, Kamis (5/7). Rapat yang dipimpin oleh Ketua Badan Anggaran Melchias Markus Mekeng membahas, antara lain, Penyampaian Pokok-pokok RUU tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2011.

Jakarta, kompas – Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat sepakat mematok pertumbuhan ekonomi pada 2013 sebesar 6,8-7,2 persen. Perhitungan ini tergolong optimistis di tengah situasi pelemahan ekonomi dunia yang sedikit banyak berdampak ke Indonesia.

Patokan kisaran pertumbuhan ekonomi tersebut merupakan hasil pembicaraan pendahuluan dalam penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2013 antara Badan Anggaran DPR dan pemerintah. Wakil Ketua Badan Anggaran DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Djoko Udjianto, menyampaikannya dalam Rapat Paripurna DPR di Jakarta, Kamis (5/7).

Tidak ada catatan dari satu fraksi pun mengenai pertumbuhan ekonomi pada 2013 sebesar 6,8-7,2 persen. Artinya, kesepakatan itu bulat. Target pertumbuhan ekonomi dan asumsi dasar ekonomi makro lain selanjutnya akan digunakan sebagai asumsi dasar pembahasan RAPBN 2013 pada tahap berikutnya.

Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo, menjawab pertanyaan Kompas, menyatakan, sumber pertumbuhan ekonomi pada 2013 dipatok optimistis karena pemerintah yakin pada sumber-sumber pertumbuhan ekonomi seperti investasi, konsumsi domestik, dan ekspor. Hal ini juga didukung usaha peningkatan kualitas belanja pemerintah.

”Nah angka-angka itu yang kita yakini akan membuat pertumbuhan ekonomi (pada 2013) bisa cukup baik. Yang mencolok adalah investasi yang kita harapkan bisa tumbuh di atas 10 persen pada tahun 2013. Itu akan membuat kondisi kita jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya mengandalkan konsumsi,” kata Agus.

Komponen produk domestik bruto (PDB)—untuk mengukur pertumbuhan ekonomi—terdiri dari konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, dan ekspor-impor. Dalam kerangka ekonomi makro yang disusun pemerintah, komponen PDB pengeluaran pada 2013 terdiri dari 53,9 persen konsumsi rumah tangga, 34,6 persen investasi, 9,6 persen belanja pemerintah, 29,3 persen ekspor, dan 27,9 persen impor.

Direktur Institute for Development of Economic and Finance Enny Sri Hartati berpendapat, target itu optimistis, tetapi dapat tercapai jika pemerintah konsisten menggenjot infrastruktur dan dibarengi efisiensi anggaran. ”Kuncinya pada infrastruktur. Infrastruktur mendorong investasi. Investasi menciptakan lapangan pekerjaan sehingga pendapatan masyarakat naik. Ujung-ujungnya, konsumsi domestik naik. Ini namanya optimalisasi potensi dalam negeri,” kata Enny. (LAS)

Asumsi Makro Berpotensi Meleset
Seputar Indonesia, Friday, 06 July 2012
JAKARTA– Sejumlah asumsi makro berpotensi meleset dari perkiraan yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2012.

Dari enam asumsi makro yang ditetapkan dalam APBN-P 2012 yakni pertumbuhan ekonomi, inflasi,suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), harga minyak, serta lifting minyak, hanya inflasi yang realisasinya diprediksi lebih bagus dari perkiraan awal.Bila pada APBN-P 2012 inflasi ditetapkan sebesar 6,8%, realisasi inflasi hingga akhir tahun diperkirakan hanya 4,8%.

Inflasi yang jauh lebih rendah ini tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pemerintah yang menangguhkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). “Inflasi pada semester II diperkirakan mencapai 3,79% atau lebih rendah dari semester I yang mencapai 5,54%. Inflasi sampai akhir tahun adalah 4,5% plus minus 1 dengan kisaran berada di 4,8%,” tutur Menteri Keuangan Agus Martowardojo, di Kompleks Parlemen Senayan,Jakarta kemarin.

Agus Marto memperkirakan, pertumbuhan berada di level 6,3–6,5% atau masih dalam level yang diperkirakan APBNP yakni 6,5%. Mantan Dirut Bank Mandiri tersebut meyakini, pertumbuhan di semester II mencapai 6,5% atau sedikit lebih baik daripada semester I yang hanya 6,4%. Agus mengingatkan, kondisi perekonomian dunia yang belum juga membaik masih menekan pertumbuhan ekonomi di semester II.

Namun,tren masih cukup tingginya pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap berlanjut. Secara umum, pada kuartal II tahun 2012,sebagian besar sektor diperkirakan meningkat sehingga mendorong pertumbuhan ke tingkat yang lebih tinggi. “Kita lihat outlook akan ada di kisaran 6,3–6,5% dan hal itu sudah memperhitungkan kondisi ekonomi dunia yang telah lalu 4,4%, sekarang jadi 3,5%. Kita juga melihat bahwa ada dampak ke Indonesia melalui jalur perdagangan dan keuangan, itu bisa berdampak ke Indonesia,” imbuhnya.

Asumsi makro yang hampir pasti meleset adalah lifting minyak. Sampai pada Mei 2012, realisasi lifting hanya mencapai 877.300 barel per hari atau sedikit lebih rendah bila dibandingkan dengan realisasi semester I/2011 sebesar 879.000 barel per hari. Sementara, pada semester II/2012 diprediksi hanya 923.000 barel per hari.Hingga akhir tahun lifting minyak diperkirakan berada pada level 900.000 barel/ hari.

Pencapaian ini jauh di bawah target yang ditetapkan dalam APBN-P 2012 sebesar 930.000 per barel. Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya realisasi lifting antara lain permasalahan teknis yang terkait dengan adanya peningkatan kadar air,usia sumur-sumur migas yang sudah tua, dan beberapa produksi awal dari beberapa kontraktor yang mengalami kemunduran.

Masalah cuaca dan kurangnya ketersediaan kapal pengangkut juga turut mengganggu proses pencapaian target lifting minyak. “Untuk ICP (Indonesia crude price/harga minyak mentah Indonesia), pada tahun ini diperkirakan pada kisaran USD110 per barel atau di atas asumsi APBN-P 2012 USD105 per barel,”tambah Agus. Asumsi lain yang diprediksi meleset adalah suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan (%).

Pemerintah memperkirakan bahwa suku bunga SPN 3 bulan hingga akhir tahun berada pada level 3,9% atau jauh di bawah prediksi awal 5,6%. Seperti Semester I, suku bunga SPN 3 bulan pada Semester II masih akan mengalami tekanan terutama karena melambatnya aliran modal yang masuk ke dalam negeri.

Untuk nilai tukar rupiah, pemerintah memprediksi bahwa rata-rata nilai tukar rupiah sampai akhir tahun akan berada pada besaran Rp9.250 per dolar AS.Nilai tukar rupiah ini sedikit masih berada dalam kisaran yang diperkirakan Bank Indonesia (BI) yaitu Rp9.100–9.300 per dolar AS. Gubernur BI Darmin Nasution meyakini bahwa tekanan pada rupiah pada semester II akan mereda seiring dengan langkah perbaikan di negara-negara Eropa.

“Kami memperkirakan, tekanan pada nilai tukar akan sedikit mereda pada paruh II tahun 2012 karena sebetulnya sudah terlihat gambaran perbaikan di Eropa walaupun masih perlu waktu,”ujarnya. maesaroh

Advertisements
Posted in: EKONOMI