SKANDAL LIBOR – Jumat, 10 Agustus 2012

Posted on August 10, 2012

0


Aksi Penipuan di Tempat Terhormat

”Done… for you big boy.” Jika diterjemahkan, arti kalimat ini adalah ”Perintah telah dilaksanakan untukmu, sobat.” Ini adalah bagian dari surat elektronik yang dituliskan seorang bankir dari Barclays kepada karyawan Barclays di divisi perdagangan. Si bankir meminta si pedagang menuliskan suku bunga LIBOR dengan angka yang lebih rendah dari seharusnya.

”Dude, I owe you big time! Come over one day after work and I’m opening a bottle of Bollinger.” Atau, ”Sobat, saya berutang padamu! Singgahlah sejenak suatu hari usai kerja dan saya akan mentraktirmu sebotol Bollinger.” Ini adalah nama minuman alkohol tenar berharga mahal.

Percakapan lewat internet terkait kesediaan si pedagang memenuhi permintaan Barclays agar LIBOR dipatok rendah, sebagaimana ditulis di kantor berita Reuters, Jumat (20/7).

LIBOR kependekan dari London Interbank Offered Rate, atau suku bunga pinjaman antarbank di London. LIBOR ditetapkan berdasarkan rata-rata pinjaman antarbank, yang diawasi oleh Asosiasi Perbankan Inggris.

Tidak semua bank terlibat dalam penentuan LIBOR, hanya Norinchukin (Jepang), West LB (Jerman), UBS (Swiss), RBS (Inggris), RBC (Kanada), Rabobank (Belanda), JP Morgan (AS), HBOS (Inggris), HSBC (Inggris), Lloyds (Inggris), Deutsche Bank (Jerman), Credit Suisse (Swiss), Citibank (AS), Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ (BTMU) dari Jepang, Bank of America, dan Barclays (Inggris).

Mengapa LIBOR dipatok rendah? Menurut Reuters pada 11 Juli, ini untuk menunjukkan dalam keadaan uang ketat dan krisis keuangan, bank-bank kaliber internasional itu tetap bisa meraih dana berbunga murah.

Elizabeth Warren, anggota Kongres Amerika Serikat dari Partai Demokrat, yang pernah terlibat penanganan krisis keuangan AS memberi penjelasan dalam artikelnya di harian Washington Post edisi Jumat (20/7), berjudul ”Penipuan LIBOR menelanjangi kelompok korup dari akar Wall Street yang Buruk”.

Warren menulis, bagi peminjam dana, patokan suku bunga LIBOR yang rendah menguntungkan. Namun, tidak demikian bagi pemilik modal atau pemberi pinjaman. Lebih parah lagi, di pasar uang, ada triliunan dollar AS omzet transaksi derivatif, termasuk transaksi soal pergerakan suku bunga. Hal yang dipertaruhkan dalam transaksi derivatif ini antara lain pergerakan LIBOR. Pihak yang bisa memperkirakan secara tepat pergerakan LIBOR akan beruntung.

Dengan manipulasi LIBOR, bank-bank penentu LIBOR sudah tahu pergerakan LIBOR, yang sudah dimanipulasi sejak 2005. Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun, keuntungan diraih pelaku manipulasi dengan mengorbankan investor, yang tidak sadar bahwa taruhannya dipermainkan.

Mengapa praktik manipulasi berlangsung begitu lama? Ketika masih menjabat sebagai pimpinan Federal Reserve New York, Timothy Geihtner sudah memperingatkan ada yang salah dengan LIBOR, yang relatif rendah, di saat suku bunga harusnya sudah tinggi. Pekan lalu di Kongres AS, Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke sudah mengatakan tidak bisa memercayai penentuan LIBOR.

Berkelit

Mervyn King, Gubernur Bank Sentral Inggris berkelit. Dia mengatakan AS tidak pernah menyampaikan peringatan itu. Warren menyimpulkan skandal LIBOR memperlihatkan fenomena sistem yang korup di sistem keuangan global.

Ellen Brown, pengacara yang juga Presiden Public Banking Institute (AS), menuliskan skandal LIBOR merupakan fenomena gunung es. LIBOR hanya bagian kecil dari praktik penipuan di sistem keuangan global.

Mengapa tidak ada gerakan menuju pengusutan serius terhadap para penipu, yang sudah semakin marak dalam lima tahun terakhir ini?

Muncul dugaan, semua ini dimainkan para bankir yang turut main mata dengan para regulator. Artikel di harian Washington Post edisi 6 Juli berjudul ”The banking scandal Wall Street fears” secara implisit menuliskan kolaborasi antara regulator dan para bankir dalam melanggengkan manipulasi. Ini terjadi di tengah krisis keuangan, di mana lembaga bank dunia butuh duit banyak karena bangkrut, dan dana-dana diraih dengan cara apa pun, termasuk melakukan penipuan di tempat-tempat terhormat. (MON)

**

Mencari Alternatif Libor

Manipulasi tingkat suku bunga pinjaman antarbank, LIBOR, telah meracuni investor. Pemodal dikenakan suku bunga rendah berdasarkan LIBOR yang tak lagi sesuai pasar, tetapi berdasarkan pematokan 16 bank besar dunia. Terdapat hingga 600 triliun dollar AS dana investasi terkait LIBOR yang dimainkan dan merugikan investor karena tak bisa meramalkan suku bunga berdasarkan mekanisme pasar.

”Manipulasi LIBOR telah meracuni investor,” kata Adrian Pabst, dosen University of Kent, Inggris, dan juga di Institut d’Etudes Politiques de Lille Perancis, di harian The National edisi 18 Juli.

Dalam diamnya, dunia marah dan berang terhadap manipulasi ini. Ini kejahatan yang tiada tara dan amat tidak manusiawi. Manipulasi ini diduga kuat sengaja dibiarkan terjadi oleh para regulator, bahkan oleh Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat Ben Bernanke dan Gubernur Bank Sentral Inggris Mervyn King.

Di harian Washington Post edisi 20 Juli, Cornelius Hurley, profesor hukum di Boston University, mengindikasikan tidak ada upaya kuat dari Bank Sentral AS untuk mengusut kasus tersebut.

Hal ini membuat marah belahan bumi lain yang memiliki dana cukup besar, seperti Rusia, China, Timur Tengah, dan Asia. Mereka telah dipermainkan bank-bank AS dan Eropa, yang pada tingkat tertentu juga berkolaborasi dengan dua bank besar asal Jepang.

”LIBOR sudah dikacaukan dan tidak bisa diperbaiki, tetapi LIBOR bisa digantikan,” kata Gubernur Bank Sentral Kanada Mark Carney, sebagaimana dikutip kantor berita Reuters edisi 19 Juli.

Hal serupa juga dikatakan tokoh keuangan dunia. ”Kejadian ini benar-benar merusak kepercayaan,” kata Chief Executive Goldman Sachs Lloyd Blankfein.

Tidak heran jika dalam sebulan terakhir muncul ide soal penentuan suku bunga global, yang tidak lagi bisa ditentukan oleh London. Menkeu AS Timothy Geithner mengatakan, penentuan suku bunga ini tidak bisa didominasi London.

Lalu apa alternatif LIBOR (London interbank offered rate)? Ini belum jelas dan akan dibahas dalam pertemuan di Basel, Swiss, oleh sejumlah bank sentral dunia pada September mendatang. King dalam suratnya ke sesama gubernur bank sentral menekankan, diperlukan reformasi radikal atas LIBOR.

Saling menawarkan

Muncul diskusi bahwa suku bunga obligasi AS bisa jadi acuan baru untuk menggantikan LIBOR. Akan tetapi, sistem keuangan AS sedang krisis dan permintaan serta penawaran dana tidak lagi menggambarkan keadaan pasar yang normal. Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke menyimpulkan, suku bunga di AS tidak layak masuk hitungan.

NYSE Liffe US, kontrak berjangka yang diselenggarakan oleh NYSE Euronext, dikatakan bisa jadi alternatif LIBOR sebagaimana diutarakan CEO NYSE Liffe US CEO Tom Callahan.

Acuan suku bunga di Eropa, apalagi London juga sudah tidak layak. Kawasan Eropa juga sedang mengalami kekeringan dana sehingga transaksi keuangan tidak menggambarkan transaksi faktual.

Asia, Amerika Latin, dan Timur Tengah adalah pemilik modal, tetapi juga belum jelas apakah kawasan ini bisa menawarkan acuan baru. Di sisi lain, peran serta perbankan AS dan Inggris masih tetap besar walau tidak lagi jadi patokan utama.

Masih ditunggu, suku bunga apa yang menjadi acuan baru. Sembari menunggu itu, kini bermunculan acuan suku bunga baru. Kanada menawarkan acuan suku bunga yang berlaku di negaranya, begitu juga Australia. Di Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) didesak menjadikan Euribor dijadikan acuan.

Otoritas Keuangan Singapura juga mengatakan Singapore interbank offered rate (SIBOR) digunakan untuk penentu suku bunga di negara itu.

Carney menyarankan ”Canadian Dealer Offered Rate” yang ditentukan secara bersih. ”Mungkin kita akan berujung pada penggunaan suku bunga yang berbeda untuk berbagai jenis mata uang,” ujarnya.

Namun, penentuan suku bunga tidak perlu dikhawatirkan. Sejak skandal belum merebak, berbagai alternatif suku bunga sudah dipakai untuk penentuan suku bunga pinjaman. Syarat dari sebuah suku bunga adalah berada di atas angka inflasi dari setiap mata uang.

Selama ini LIBOR punya 10 jenis suku bunga untuk 10 kurs mata uang kuat dunia. Juga ada LIBOR untuk 15 jenis suku bunga bagi berbagai jangka waktu pinjaman, dari jangka pendek hingga panjang. Ini karena berbagai mata uang memiliki tingkat inflasi berbeda dan pinjaman memiliki masa jatuh tempo yang berbeda.

(Simon Saragih)

 

 

 

Advertisements
Tagged:
Posted in: EKONOMI