Bom Solo September 2012

Posted on September 7, 2012

0


FOKUS

Teror Solo, Betulkah Mereka Kelompok Baru?

Menurut polisi mereka adalah teroris jaringan baru.

Senin, 3 September 2012, 00:00Ismoko Widjaya, Eko Priliawito, Eko Huda S, Fajar Sodiq (Solo)
Lokasi penembakan Solo

Lokasi penembakan Solo(ANTARA/Andika Betha)
Class-it

VIVAnews – Ribuan orang berarak ke makam. Menghembuskan nafas terakhir di Solo Jawa Tengah, Minggu 2 September 2012 itu Suherman di makamkan di kampung halamannya, nun jauh di Pinrang Sulawesi Selatan. Dia dimakamkan secara militer. Di Taman Makam Pahlawan. Sanak saudara, kerabat dan keluarga berlinang air mata melepas jenasah.

Tahira, ibunda almarhum, yang mengenakan mukena histeris sepanjang jalan. Sebelum Lebaran kemarin, Tahira, suami dan adik perempuan Suherman berkunjung ke Jakarta. Mereka datang menjengkuk sang anak sulung itu, sebab saat Idul Fitri tiba dia tak bisa mudik. Di Jakarta mereka sempat foto bersama. Suherman memakai seragam Densus 88. Keluarga ini bangga sebab si sulung itu sukses menjadi polisi, pilihan hidupnya sendiri.

Ketika jenasah sang anak dimasukkan ke liang lahat, Tahira dan anak perempuannya kian histeris. Tubuh mereka lunglai. Tembakan salvo menggelegar. Banyak orang menangis.

Lahir 9 Oktober 1988 di Padang Loang, sebuah desa di Pinrang Sulawesi Selatan, Suherman mati dalam baku tembak dengan kelompok yang diduga teroris di Solo Jumat 31 Agustus 2012. Dia tewas sebab peluru teroris itu menghantam perut. Jenazah anggota Brimob lulusan tahun 2009 di Pusat Pendidikan Brimob Watukosek, Jawa Timur itu, tiba Sabtu malam di Pinrang. Mendiang yang berpangkat Bripda itu kemudian dinaikkan pangkatnya menjadi Briptu.

Kepergian Suherman meninggalkan luka tak terkira bagi kedua orang tuanya, Baharuddin dan Tahira. Juga adik perempuan semata wayang dan sanak keluarga. Yang juga dirundung duka di pemakaman itu adalah Rahmah, wanita asal Bone yang dijanjikan Suherman ke pelaminan November nanti. Rahma datang jauh dari Makasar demi memakamkan sang kekasih.

Kisah kasih Suherman dan Rahmah sudah berumur 3 tahun. Waktu yang dirasa cukup oleh keduanya untuk saling mengenal. Itu sebabnya mereka berencana ke jenjang yang lebih serius. Orang tua keduanya sudah merestui. Dan sedang mempersiapkan pernikahan November itu. (Baca: Rencana Menikah Terkubur di Pemakaman)

Akan halnya dua jasad terduga teroris itu. Sudah diautopsi di Rumah Sakit Polri di Jakarta. Seluruh proses identifikasi medis sudah selesai. Kini kepolisian menunggu data pembanding, guna memastikan identitas mereka. Proses autopsi itu melibatkan delapan dokter forensik, DNA, odontologi, dan INAFIS. “Hasilnya sudah diserahkan kepada Densus,” kata Kepala Rumah Sakit Polri, Brigadir Jenderal Agus Prayitno, kepada VIVAnews, Minggu, 2 September 2012.

Baku Tembak di Malam Hari

Baku tembak dengan tiga orang yang diduga menjadi bagian dari kelompok teroris itu, terjadi setelah polisi bekerja keras melacak  jaringan mereka.  Jumat malam 31 Agustus 2012 itu, polisi mengendus bahwa tiga terduga teroris ini berada di Solo. Mereka antara lain F dan M. Para pelaku diduga beberapa kali menyerang polisi. Mereka ini diduga membunuh Bripka Dwi Data Subekti di Pos Polisi Singosaren, beberapa hari lalu.

Sesudah melewati pengintaian, membuntuti keduanya dan mendapat kepastian bahwa mereka memang target polisi, maka dilakukan upaya penyergapan. Dan penyergapan itu dilakukan di sekitar supermarket Lotte Mart di Kota Solo.

Begitu hendak ditangkap keduanya malah melepas tembakan. ” Maka terjadilah baku tembak itu,” kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Polisi Anang Iskandar, Sabtu 1 September 2012. Dalam baku tembak yang sengit itu, Bripda Suherman dan dua terduga teroris tewas. Satu orang ditangkap. Densus terpaksa menembak karena dua terduga teroris itu bersenjata dan melawan.

Sejumlah barang bukti dikumpulkan dari kelompok ini. Di antaranya adalah sepucuk pistol Pietro Baretta buatan Italia. “Di sisi sebelah bertuliskan PNP Property Philipines National Police,” kata Anang. Polri belum mengetahui bagaimana para terduga teroris Solo ini mendapatkan pistol polisi Filipina ini. Apakah mereka mencurinya? Mereka ini, kata Anang, diduga terkait dengan jaringan di Mindanao, Filipina. Selain pistol, polisi juga berhasil menyita 43 peluru kaliber 9 mm merk Luger, tiga magazen, dan 9 holopoint CBC.

Jaringan Baru Terduga Teroris

Kapolri Jenderal Timur Pradopo menegaskan bahwa tiga terduga teroris di Solo itu berasal dari kelompok baru. Berdasarkan penyelidikan sementara kepolisian, ketiganya diketahui pernah menyelundupkan senjata api dan amunisi dari Filipina ke Indonesia. Sesuatu yang dilarang keras di Indonesia.

Timur Pradopo terkejut mengetahui bahwa usia para pelaku masih sangat belia untuk ukuran dunia keras seperti terorisme. “Ini kelompok jaringan baru. Saya juga kaget karena usia pelaku masih sangat muda yakni 19 tahun,” kata Timur di Mapolresta Solo, Sabtu 1 September 2012.

Meski diduga jaringan baru, polisi akan terus menyelidki apakah ketiga terduga teroris ini memiliki keterkaitan dengan jaringan kelompok lama. Para penyidik akan menggali soal ini dari keterangan tersangka berinisial B yang berhasil ditangkap hidup-hidup. Timur menyebutkan bahwa untuk sementara diduga bahwa motif para pelaku adalah balas dendam. Balas dendam sebab polisi bekerja keras memberantas terorisme selama ini.

Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai, jaringan ini diduga telah mempersiapkan sebuah serangan yang sangat berbahaya. “Mereka mempersiapkan teror bom lain,” kata Ansyad kepada VIVAnews. Namun, Ansyaad enggan membuka secara spesifik apa saja yang menjadi target pemboman kelompok ini.  Yang jelas, katanya, jaringan ini berencana membidik simbol-simbol negara. Kemudian perorangan dan anggota polisi.

Menurut Ansyaad, jaringan Solo ini terkait dengan jaringan besar teroris di Indonesia dan Filipina. Sejumlah barang bukti yang ditemukan, katanya, memperkuat dugaan ini. Dari fakta jenis peluru yang digunakan, identik dengan peluru yang digunakan jaringan lain.

2 Teroris Itu Jebolan Pesantren Ngruki

Direktur Al-Mukmin, “Kami masih menahan ijazah mereka.”

Senin, 3 September 2012, 21:26Arfi Bambani Amri, Nila Chrisna Yulika, Fajar Sodiq (Solo)
Lokasi baku tembak Densus 88 dan terduga teroris di Solo

Lokasi baku tembak Densus 88 dan terduga teroris di Solo(ANTARA/Akbar Nugroho Gumay)
Class-it

 

VIVAnews – Dua tersangka teroris yang tewas dalam baku tembak dengan polisi diketahui pernah bersekolah di Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Solo. Kedua pemuda yang diduga bagian dari jaringan terorisme Abu Umar itu adalah Farhan Mujahid dan Muchsin Tsani. Mereka tewas dalam baku-tembak dengan aparat pada Jumat malam kemarin, 31 Agustus 2012.

Direktur Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Ustadz Wahyuddin, menjelaskan Farhan memang pernah bersekolah di pesantren ini namun tidak sampai lulus. Dia tidak meneruskan pendidikannya di Ngruki karena tidak bisa melunasi biaya. Adapun Muchsin masuk ke Ponpes Al-Mukmin Ngruki saat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Keduanya tidak bisa mengambil ijazah. Kami juga masih menahan ijazah mereka karena seluruh biaya administrasi kedua siswa itu bermasalah,” kata Wahyuddin, Senin, 3 September 2012.

Berdasarkan catatan akademik di pesantren, Farhan yang kelahiran 14 November 1993 masuk Ngruki pada tahun 2005 menggunakan ijazah dari salah satu sekolah dasar swasta di Pulau Sebatik, Kalimantan Timur. Di Ponpes Al-Mukmin, dia menempuh pendidikan di Madrasah Tsanawiyyah (setingkat SMP) hingga 2008.

Wahyuddin menceritakan saat ayahnya, Muh. Aris, meninggal ekonomi keluarga Farhan murat-marit. Meski demikian, keluarga Farhan tidak meminta keringanan khusus kepada pengelola pondok. Dengan kondisi sulit itu, dia tetap melanjutkan pendidikan melalui program reguler dan tak mampu membayar.

“Dulu seharusnya dia masuk dengan jalur khusus untuk keluarga tak mampu, sehingga akan diupayakan sebagai anak asuh,” ujar Wahyuddin.

Hal serupa dialami oleh Muchsin Tsani. Dia tercatat sebagai putra Muslimin yang beralamat di Jalan Batu Ampar, Kramatjati, Jakarta Timur. Muchsin merupakan siswa lulusan SMPN 126 Jakarta, lalu masuk Kuliyyatul Mu’alimin Al-Islamiyyah (KMA, sekolah khusus agama setingkat SLTA) di Pesantren Ngruki. Mengingat Muchsin berasal dari sekolah umum, maka dia harus terlebih dulu mengikuti pendidikan takhassus (persiapan) selama setahun.

“Ijazah KMA dia juga masih ada di sini. Dia masih memiliki tanggungan biaya administrasi. Dia juga belum mengikuti program dakwah selama setahun setelah lulus KMA,” tuturnya. “Oleh sebab itu kedua anak ini, kami sebut sebagai jebolan, bukan lulusan.”

Jaringan Abu Umar

Sejak meninggalkan Al-Mukmin, pengelola pesantren pun kehilangan kontak. “Ada yang mengatakan setelah keluar dari Ngruki, Farhan kembali ke Pulau Sebatik, Kalimantan. Ada pula yang mengatakan dia menyeberang ke Filipina dan bergabung dalam konflik Mindanao. Kami tidak tahu pasti ke mana dia setelah keluar,” kata Wahyuddin.

Wahyuddin menyatakan pesantrennya tak bisa bertanggung jawab atas tindakan kedua pemuda itu. Menurut dia, bisa saja keduanya terpengaruh hasutan orang lain, bukan karena ajaran di pondok ini.

Markas Besar Kepolisian RI mengungkapkan dua sekawan yang diduga terlibat aksi teror di Solo pada 17, 18, dan 30 Agustus 2012 ini terkait dengan jaringan Abu Umar. Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Pol. Boy Rafli Amar, Farhan merupakan anak tiri Abu Umar.

“Setelah ayahnya wafat, ibunya menikah dengan Abu Umar,” kata Boy di Gedung DPR, Senin.

Abu Umar merupakan pimpinan kelompok teroris yang menyelundupkan senjata api gelap kepada para teroris di tanah air. Dia ditangkap pada Juli 2011 lalu. Jaringan Abu Umar terbongkar berkat keterangan salah satu anggotanya–berinisial M–yang menyerahkan diri ke Densus 88 pada Februari 2011.

Abu Umar, yang memiliki nama lain Muhammad Ichwan, ditangkap saat hendak menyelundupkan senjata ke Indonesia dari Filipina. Dia telah dicari aparat kepolisian sejak tahun 1999 karena terlibat percobaan pembunuhan terhadap mantan Menteri Pertahanan Matori Abdul Jalil.

Keberangkatan Farhan ke Filipina, menurut Boy, juga ada campur tangan Abu Umar. “Farhan ini sepertinya ingin membuka hubungan dengan kelompok teroris di Filipina,” kata dia.

Meski begitu, jaringan yang beraksi di Solo ini adalah jaringan baru. Pasalnya, Mabes Polri belum menemukan keterlibatan mereka dalam peristiwa teror sebelumnya. “Tapi di antara mereka (jaringan baru dan lama) memang memiliki keterkaitan emosional yang cukup erat dengan jaringan sebelumnya,” kata dia.

Boy mengatakan kelompok ini terafiliasi dengan kelompok Hisbullah dan beberapa kelompok teroris lain yang selama ini sudah terungkap. Selain dengan Abu Umar, mereka diyakini juga memiliki hubungan dengan Sigit Tardowi yang pernah tertangkap, setelah baku-tembak dengan aparat, setahun lalu.

Kesaksian Bayu

Posisi Farhan sebagai pemimpin kelompok teroris ini terungkap berdasarkan pemeriksaan atas Bayu, yang berhasil ditangkap hidup-hidup. Tiga aksi penembakan pada bulan Agustus kemarin juga dilakukan sendiri oleh Farhan.

“Setiap melakukan aksinya itu ada yang bertindak sebagai eksekutor, ada yang melakukan pengamatan, dan membantu mem-back up,” kata Boy.

Peran Bayu dalam kelompok ini adalah ikut merencanakan ketiga aksi itu. Contohnya, Bayu terlibat dalam perencanaan aksi penembakan di Pos Pengamanan Lebaran di Gemblengan pada 17 Agustus 2012, yang dikaitkan dengan Hari Proklamasi. Bayu juga yang menukar pelat-pelat nomor kendaraan yang akan dipakai beraksi.

Selain dari keterangan, Polisi juga menggali informasi dari sejumlah barang bukti yang berhasil didapat. Di antaranya, dari surat-surat yang ditemukan di dalam tas yang dibawa Farhan. Boy menambahkan selain surat, di dalam tas itu polisi mendapati tiga magasin peluru dan tiga hollowpoint ukuran 9 mm.

Surat itu merupakan salinan dari surat yang asli. Surat yang ditemukan Densus 88 saat penyergapan di Solo, Jawa Tengah, memuat sejumlah kata sandi seperti “pengantin” dan “main bola”. Kata “pengantin” merujuk pada “pengebom bunuh diri”. “Kalau ‘main bola’ itu artinya ingin melakukan penyerangan terhadap petugas,” kata Boy.

Dari surat-surat yang ditemukan, komplotan ini terlihat sangat teliti dalam beraksi, termasuk, menentukan hari pelaksanaan. Juga, diketahui bahwa Farhan dan komplotannya merupakan jaringan teroris lama. Mereka misalnya tergabung di Jamaah Islamiyah yang ingin mendirikan negara Islam di Indonesia.

Kelompok ini juga menjelaskan alasan mereka membalas dendam terhadap polisi. Mereka merasa kecewa atas penangkapan tokoh-tokoh komplotan ini. “Itu yang terungkap dalam surat itu, sehingga mereka balas dendam,” tutur dia.

 

Setelah Kelompok Teroris Solo Kembali Diringkus

Polisi kembali meringkus terduga teroris. Jebolan pesantren Ngruki.

Rabu, 5 September 2012, 21:15Aries Setiawan, Syahrul Ansyari, Hadi Suprapto, Darmawan (Depok)
Penggerebekan Teroris Depok, Jawa Barat

Penggerebekan Teroris Depok, Jawa Barat (VIVAnews/ Muhamad Solihin)(VIVAnews/ Muhamad Solihin)
Class-it

VIVAnews – Polisi kembali meringkus terduga teroris. Rabu pagi, 5 September 2012, pasukan Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri mengepung salah satu rumah di Perumahan Taman Anyelir 2, Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Depok, Jawa Barat. (Lihat: Video Penyergapan Teroris di Depok)

Sebagian pintu rumah warga diketuk. Polisi meminta warga ke luar rumah dan mengamankan diri. Hanya ada dua rumah yang tidak diketuk polisi, yakni di Blok F2 nomor 9 dan Blok E1 nomor 1.

Rumah di Blok F2 nomor 9 dan Blok E1 nomor 1 di wilayah RT 03 RW 010 itu, diduga tempat persembunyian buronan polisi. Firman, pria berusia 20 tahun, terduga teroris.

Dari pantauan wartawan VIVAnews di lokasi, sebelum meringkus Firman, terlihat pasukan Densus 88 bersiaga di sejumlah titik.

Mereka mengenakan rompi anti peluru dan bersenjata lengkap. Mereka sudah mengintai dua rumah itu sejak malam.

Petugas keamanan Perumahan Taman Anyelir, Mursyid, kepada VIVAnews menjelaskan, Selasa malam, sekitar pukul 23.30 WIB, sejumlah anggota Densus 88 meminta izin untuk mengintai target mereka. “Mereka izin ke saya untuk mengintai,” kata Mursyid.

Kemudian pada pukul 04.30 WIB, anggota Densus 88 mulai bertambah. Sekitar 30 anggota Densus bersenjata lengkap berdatangan, dan langsung menyebar, mengepung perumahan itu. Sejumlah petugas naik ke atap rumah warga yang dekat dengan dua lokasi target.

Satu jam berlalu, tepatnya pukul 05.30 WIB, pasukan Densus 88 mulai menembaki rumah di Blok F2 Nomor 9.

Menurut Mursyid, rumah yang ditembaki itu kosong, alias tak berpenghuni. “Polisi langsung berganti target, mengincar rumah keluarganya (Firman) di Blok E1, yang terletak tepat di depan rumah itu,” jelasnya.

Di rumah inilah, Firman akhirnya diringkus. Rumah di Blok E1 itu adalah milik keluarga Nasuha, yang tak lain adalah pamannya. Firman menyerah, ditangkap tanpa melakukan perlawanan.

Firman kemudian digelandang masuk ke dalam minibus hitam. Turut diamankan pula satu unit laptop dan tas ransel warna hitam milik Firman. (Lihat: Foto Penggerebekan Teroris di Solo)

Peran Firman

Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Inspektur Jenderal Polisi Anang Iskandar menyatakan, pelaku yang diketahui bernama Firman itu, diduga anggota jaringan teroris di Solo.

Keberadaan Firman sudah diketahui, setelah operasi penangkapan di Solo pada 31 Agustus 2012 lalu. “Keterlibatannya kami ketahui dari yang ditangkap di Solo,” katanya kepadaVIVAnews. “Kami mengejarnya hingga ke Depok. Dia masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) kami,” tambahnya.

Firman diduga terlibat dan memiliki peran penting dalam aksi teror di Solo belakangan ini. Pada Jumat 17 Agustus 2012, Pos Pengamanan Lebaran di Gemblengan diberondong senjata api. Akibat peristiwa itu, dua anggota yang sedang bertugas mengalami luka tembak.

Selang sehari, Pos Pengamanan Gladak dilempar granat oleh dua orang. Meski tak ada korban jiwa, aksi teror ini membuat panik.

Penyerangan kembali terjadi pada Kamis malam, 30 Agustus 2012. Pos Polisi Singosaren diberondong senjata api. Seorang anggota polisi, Bripka Dwi Data Subekti yang sedang bertugas tewas diterjang empat peluru tajam.

Kapolri Jenderal Timur Pradopo menyatakan, Firman diduga terlibat dalam tiga aksi tersebut. “Dia terlibat dari tiga kejadian. Mulai dari yang ada di pos pengamanan lebaran, termasuk korban meninggal dunia di salah satu pos polisi di Solo,” kata Kapolri Jenderal Timur Pradopo di Halim Perdanakusumah, Jakarta.

Namun, orang nomor satu di Kepolisian Republik Indonesia itu enggan menyebut secara detil peran Firman dalam jaringannya. Polisi masih memperdalam peranan Firman dalam jaringan teroris di Indonesia.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigadir Jenderal Jenderal Boy Rafli Amar menyebutkan peran Firman dalam aksi teror di Solo.

Pada aksi serangan pos polisi, malam 17 Agustus 2012, Firman berperan membonceng Farhan –tewas dalam penyergapan pada 31 Agustus 2012 malam. Farhan sendiri berperan sebagai penembak dalam aksi malam lebaran itu.

Sementara itu, kata Boy, dua terduga lainnya, Bayu dan Muchsin–tewas bersama Farhan– melakukan pengamatan lingkungan di sekitar lokasi pada aksi tersebut. “Mereka ikut dengan motor lain,” ujar Boy.

Firman, tambah Boy, juga terlibat dalam serangan di pos polisi Singosaren pada 30 Agustus 2012. Bripka Dwi Data Subekti tewas dalam serangan ini. “Peran Firman adalah yang membonceng, sedang pelaku penembakan adalah Farhan dengan senjata yang dipegangnya,” ujar Boy.

Sebelum melakukan aksinya, mereka terlebih dulu latihan menembak. Latihan itu digelar sebelum melancarkan serangkaian aksi teror.

“Yang bersangkutan (Firman) telah ikut kegiatan latihan di wilayah Gunung Merbabu, Boyolali,” kata Boy Rafli.

Bersama Farhan dan Muchsin, Firman berlatih senjata. Menurut Boy, latihan itu meliputi cara menembak dan bongkar pasang senjata. “Selain itu, juga melakukan latihan fisik lainnya,” tutur Boy.

Boy juga mengatakan, instruktur latihan tembak kelompok ini lebih dari satu orang. Pasalnya, dua terduga teroris yang tewas dalam baku tembak dengan Densus 88 itu dikenal mahir menggunakan senjata api. Meski usia mereka masih sangat muda.

Kelompok Solo

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar mengatakan, teroris di Solo ini merupakan kelompok baru.

Anggotanya pun tidak banyak. Hanya beberapa orang saja. “Mereka hanya sekitar 10 orang,” kata Boy.

“DPO ada beberapa kami dalami, tapi kami tidak publikasikan agar tidak semakin jauh. Ada beberapa yang masih dalam pendalaman. Munculnya nama belum bisa kami sampaikan,” ujarnya.

“Orangnya tidak banyak, di bawah 10 orang. Tetapi yang jelas sudah diketahui, termasuk tempat mereka menyusun strategi,” lanjutnya.

Kelompok teroris ini dalam menjalankan aksinya kerap melakukan kejahatan-kejahatan lain. Salah satunya merampok. “Mereka ingin mencari dan mendapatkan dana dengan cara merampok toko emas. Itu pernah dinyatakan (Bayu),” kata Boy.

Bayu sendiri adalah salah satu anggota teroris di Solo, Jawa Tengah yang ditangkap Densus 88 dalam keadaan hidup. Dua rekannya, Farhan dan Muchsin tewas dalam penggerebekan Jumat malam, 31 Agustus 2012 di Solo. Dari keterangan Bayu, kepolisian dapat melakukan pengembangan terkait teror di Solo.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Timur Pradopo juga menyatakan, teroris di Solo merupakan kelompok baru. Berdasarkan penyelidikan sementara kepolisian, para pelaku diketahui pernah menyelundupkan senjata api dan amunisi dari Filipina ke Indonesia. Sesuatu yang dilarang keras di Indonesia.

Timur Pradopo terkejut mengetahui bahwa usia para pelaku masih sangat belia untuk ukuran dunia keras seperti terorisme. “Ini kelompok jaringan baru. Saya juga kaget karena usia pelaku masih sangat muda yakni 19 tahun,” kata Timur di Mapolresta Solo.

Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai, jaringan ini diduga telah mempersiapkan sebuah serangan yang sangat berbahaya. “Mereka mempersiapkan teror bom lain,” kata Ansyad kepada VIVAnews.

Namun, Ansyaad enggan membuka secara spesifik apa saja yang menjadi target pemboman kelompok ini. Yang jelas, katanya, jaringan ini berencana membidik simbol-simbol negara. Kemudian perorangan dan anggota polisi.

Menurut Ansyaad, jaringan Solo ini terkait dengan jaringan besar teroris di Indonesia dan Filipina. Sejumlah barang bukti yang ditemukan, katanya, memperkuat dugaan ini. Dari fakta jenis peluru yang digunakan, identik dengan peluru yang digunakan jaringan lain.

Pesantren Ngruki 

Sama seperti Farhan dan Muchsin, Firman juga pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah.

“Muchsin, Firman dan Farhan juga sama-sama berasal dari Ponpes Ngruki. Yang bukan alumni adalah Bayu,” kata Boy Rafli.

Meski begitu, Boy menegaskan, tidak serta merta lembaga pendidikan itu terlibat dalam serangkaian aksi teror di Solo. Menurutnya, Polri akan tetap berusaha proporsional dalam menuntaskan kasus terorisme.

“Bukan berarti karena mereka alumni Ngruki lantas kemudian secara kelembagaan Ngruki terlibat. Kan perencanaan penembakan tidak di sana,” katanya.

Kepolisian tidak melihat adanya keterlibatan pondok pesantren yang pernah dipimpin oleh Abu Bakar Ba’asyir itu terlibat dalam berbagai aksi bekas santrinya. Dia melihat Ngruki hanya sebuah lembaga pendidikan yang tidak pernah mengajarkan terorisme.

“Sejauh ini tidak ada bukti yang menyebutkan bahwa mereka ada di balik aksi teror. Kecuali ada bukti-bukti kita bisa melakukan penangkapan,” Boy menegaskan.

Direktur Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Ustadz Wahyuddin, sebelumnya menyatakan Farhan dan Muchsin, dua terduga teroris yang tewas dalam baku tembak adalah bekas santri Ngruki.

Namun Wahyuddin menegaskan, pihaknya tidak tahu-menahu menyangkut kasus terorisme yang dilakukan bekas santrinya itu. Selain itu, pihaknya juga tidak lagi bertanggungjawab dengan kegiatan para santrinya yang sudah keluar dari Ngruki.

Wahyuddin mengatakan, setelah ke luar dari Ngruki bisa saja mereka bergaul dengan banyak orang dengan berbagai pengalaman. (eh)

 

Teka-teki Toriq, Teror Racun, dan Jaringan Teroris Solo

Teroris siapkan sianida untuk dimasukkan ke makanan di kantin polisi.

Kamis, 6 September 2012, 22:51Anggi Kusumadewi, Siti Ruqoyah, Syahrul Ansyari
Lokasi penemuan bom rakitan di kawasan Tambora, Jakarta Barat..

Lokasi penemuan bom rakitan di kawasan Tambora, Jakarta Barat..(VIVAnews/Fernando Randy)
Class-it

VIVAnews – Rabu, 5 September 2012, asap putih mengepul membumbung tinggi dari rumah Muhammad Toriq, tukang jual pulsa dan servis ponsel yang tinggal di Jalan Teratai 4, Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat.

Warga sontak menyangka ada kebakaran. Apalagi kawasan Tambora telah beberapa kali menjadi korban amukan si jago merah. Maka, khawatir api menyambar ke rumah lain, warga berinisitif mendobrak rumah Toriq.

Tapi anehnya, di dalam rumah, Toriq yang mengenakan celana pendek dan kaos oblong justru tampak santai. Padahal bau mesiu menguar sampai ke saluran di belakang rumahnya. Kecurigaan warga pun terbit. Polisi dipanggil. Benar saja, ketika polisi tiba, Toriq telah kabur.

Polisi pun memasuki dan memeriksa rumah Toriq yang berukuran sekitar 5 x 7 meter persegi. Di rumah itu, ditemukan bahan-bahan kimia, termasuk mesiu. Bahan-bahan itu dibungkus dalam plastik yang masih terasa hangat.

Ditemukan pula timbangan dan dus yang berisi tiga botol plastik yang diduga bahan peledak. Ada pula coretan tangan Toriq di atas kertas. Di kertas itu, Toriq seperti sedang menyusun konsep rakitan yang berisi tulisan senyawa kimia. Belakangan, polisi menyatakan kertas itu adalah panduan merakit bom.

Itu belum semua. Polisi juga menemukan black powder, belerang, paralon berisi kabel dan paku, detonator, serta lembaran berisi cara membuat racun yang kerap disebut Bubur California. Setelah digeledah, ternyata di rumah Toriq lengkap ditemukan buku jihad, buku panduan meracik bom, buku panduan meracik racun, lima bom siap ledak.

Teror Racun

Buku panduan meracik racun yang dimiliki Toriq sontak mengingatkan akan teror racun terhadap kepolisian. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyad Mbai, pernah mengatakan polisi berhasil membongkar teror racun itu pada tahun 2011.

Ketika itu Tim Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri berhasil mengungkap jaringan teroris yang berencana meracuni para anggota polisi. “Tahun lalu kan sempat heboh di Kemayoran, ketika ada yang berencana meracuni makanan di kantin kantor-kantor polisi,” kata Ansyaad, Kamis 6 September 2012.

Saat itu, teroris menyiapkan racun sianida untuk dimasukkan ke dalam makanan dan minuman yang tersedia di sejumlah kantin polisi. Oleh karena itu, Ansyad mengatakan ada kemungkinan Toriq memiliki kaitan dengan jaringan teroris racun itu. Namun, polisi harus menyelidiki hal itu lebih lanjut untuk memastikannya.

Rencana meracun polisi ini termasuk modus baru dalam rangkaian serangan teroris terhadap aparat kepolisian. “Bila selama ini modelnya bom bunuh diri, maka kini ada gaya baru,” kata Kepala Bagian penerangan Umum Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Pol. Boy Rafli Amar beberapa waktu lalu.

Sejak tahun 2006, aparat kepolisian memang menjadi target baru kelompok teroris di Indonesia. “Mereka menebar kebencian terhadap aparat negara. Mereka merasa musuh utama mereka adalah polisi,” kata Boy, Rabu 5 September 2012.

Teror itu nyata dan terlihat pada kasus bom bunuh diri di Masjid Polresta Cirebon, penyerangan terhadap Polsek Hamparan Perak Medan, sampai yang terakhir penembakan terhadap polisi di dua Pos Lalu Lintas di Solo.

Boy menjelaskan, teroris saat ini melihat polisi sebagai penghalang tujuan mereka. Polisi pula lah yang sebelumnya melakukan berbagai penangkapan atas sejumlah pendahulu mereka dalam aksi terorisme. Dokumen-dokumen milik teroris yang disita selama ini, kata Boy, menunjukkan bahwa teroris memang mengincar dan menjadikan polisi sebagai target sasaran.

Jaringan Solo?

Kepala BNPT menyatakan, bom yang diracik Toriq di rumahnya di Tambora, Jakarta Barat, ternyata sama dengan bom yang pernah digunakan oleh pelaku bom bunuh diri di Gereja Kepunton, Solo, September 2011. Ketika itu, pelaku bom bunuh diri, Ahmad Yosepa Hayat, tewas di tempAt.

Oleh sebab itu Ansyaad menduga Toriq kemungkinan besar juga termasuk salah satu anggota jaringan Abu Omar. Apalagi pernah ada penangkapan anggota jaringan itu di Jakarta Barat tahun lalu. Abu Omar sendiri telah ditangkap Juli 2011 saat hendak menyelundupkan senjata dari Filipina ke Indonesia.

Abu Omar alias Muhammad Ichwan memang salah satu tokoh jaringan pemasok senjata dari Filipina ke Indonesia. Ia telah divonis 10 tahun penjara pada 14 Mei 2012 oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Namun, anak tiri Abu Omar, Farhan, ternyata belakangan diketahui terlibat dalam rangkaian aksi teror di Solo, Jawa Tengah.

Polisi menduga Farhan ingin membuka hubungan dengan kelompok teror di Filipina. Farhan yang merupakan pimpinan kelompok teroris Solo akhirnya tewas dalam baku tembak dengan personel Densus 88 di Jalan Veteran, Solo, Jawa Tengah, 31 Agustus 2012. Namun, salah satu rekannya, Bayu, berhasil ditangkap dalam keadaan hidup.

Berdasarkan informasi dari Bayu itulah, polisi kemudian menguntit dan membekuk Firman di Depok, Rabu 5 September 2012. Peran Firman dan Farhan terkait erat dalam aksi penembakan pos polisi di Solo, dini hari 17 Agustus 2012. Saat itu Farhan lah yang melakukan penembakan, sedangkan Firman mengendarai sepeda motor.

Firman ditangkap dini hari kemarin di Depok. Siang harinya tak dinyana kawasan Tambora, Jakarta Barat, digegerkan dengan penemuan bom rakitan di rumah salah satu warganya, Toriq. Toriq sendiri sejak kecil memang tinggal di rumah Tambora itu.

Penggerebekan teroris di Depok dan penggeledahan di Tambora yang terjadi dalam sehari sekaligus cukup menarik perhatian. Terlebih, salah satu tetangga Toriq, Ahmad, mengaku pernah beberapa kali melihat Toriq dikunjungi oleh tiga orang berjenggot berbadan tegap yang membawa bungkusan. “Mereka sering datang ke rumah Toriq. Bukan untuk beli pulsa, tapi seperti bertamu. Tapi saat itu kami tidak curiga karena siapa pun bisa bertamu,” kata Ahmad.

Toriq saat ini masih dalam pengejaran polisi. Polisi berharap ia menyerahkan diri dan bekerja sama dengan mereka.

Kapolres Metro Jakarta Barat, Komisaris Besar Sutana, mengungkapkan bahwa Toriq selama ini memang masuk pantauan polisi karena dia masuk dalam salah satu kelompok radikal. Namun, polisi belum tahu persis Toriq masuk ke kelompok mana. Meski lahir dan besar di Tambora, Toriq memang tergolong jarang bergaul dan cenderung bersifat tertutup.

Lantas benarkah Toriq terkait dengan jaringan teroris Solo? Mabes Polri belum berani memastikan. “Sampai saat ini kami belum melihat adanya kaitan antara Toriq dengan jaringan Solo. Tapi kami masih mendalami lebih lanjut soal kemungkinan keterkaitannya dengan Solo,” kata Brigjen Pol Boy Rafli Amar, Kamis 6 September 2012.

Posted in: Uncategorized