Posted on September 21, 2012

0


Jumat,21 September 2012

HITUNG CEPAT “KOMPAS”

Laju Foke Tak Cukup Bendung Jokowi

Oleh Bestian Nainggolan

Upaya keras yang dilakukan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli untuk mendongkrak perolehan suara dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah DKI Jakarta putaran kedua menuai hasil yang signifikan. Namun, peningkatan suara tersebut belum juga mampu menutup celah keunggulan kekuatan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama.

Kesimpulan itu tampak dari kajian terhadap dinamika perubahan suara antara putaran pertama dan kedua dari setiap tempat pemungutan suara (TPS) hitung cepat atau dari hasil exit poll Kompas.

Hasil hitung cepat yang dilakukan Kompas pada putaran kedua dengan 200 TPS sampel terpilih menunjukkan keunggulan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) atas pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara). Dengan perkiraan selisih ketidakakuratan +/- 0,5 persen, diprediksikan tidak kurang dari 52,97 persen suara diraih Jokowi-Ahok, meninggalkan pasangan Foke-Nara yang meraih 47,03 persen suara.

Namun, jika dibandingkan dengan hasil pilkada putaran pertama, 20 Juli 2012, pencapaian dari kedua pasangan yang bertarung ini menunjukkan dinamika laju perubahan suara yang berbeda. Peningkatan perolehan suara pasangan Foke-Nara tampak sangat signifikan, melebihi laju peningkatan suara yang diraih pasangan Jokowi-Ahok.

Pada pilkada putaran pertama, setidaknya Foke-Nara meraih 34,05 persen suara. Dengan perolehan putaran kedua yang diperkirakan 47,03 persen suara, pasangan ini diperkirakan berhasil meningkatkan suara hingga 13 persen. Sementara proporsi peningkatan yang diraih pasangan Jokowi-Ahok sebesar 10,37 persen suara.

Agresivitas peningkatan suara pasangan Foke-Nara juga terlihat dalam rekaman perolehan di setiap TPS sampel hitung cepat (Grafik). Dari 200 TPS sampel, 84 TPS (42 persen) mencatatkan peningkatan suara Foke-Nara lebih dari separuh proporsi suara yang mereka raih pada putaran pertama. Sebagai contoh, TPS 20 Kelurahan Koja, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, jika pada putaran pertama pasangan ini hanya meraih 37 suara, pada putaran kedua meningkat empat kali lipat menjadi 186 suara. Namun, terdapat pula sebagian TPS yang justru berkurang dibandingkan dengan putaran pertama. Di TPS 91 Kelurahan Sunter Jaya, Tanjung Priok, misalnya, suara pasangan ini merosot dari 25 menjadi 5 pemilih.

Bagi pasangan Jokowi-Ahok, peningkatan perolehan suara drastis tercatat di 44 TPS. Sebagai contoh, TPS 37 Kelurahan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, dari perolehan 91 suara (putaran pertama) kini meraih 249 suara, jauh meninggalkan pasangan Foke-Nara yang meraih 13 suara. Berbeda dengan pasangan Foke-Nara, menurunnya perolehan suara pasangan Jokowi-Ahok terdapat di satu TPS, yaitu TPS 06 Kembangan Utara. Di putaran pertama, pasangan ini mengumpulkan 233 suara, tetapi kini menjadi 208 suara.

Asal suara

Jika ditelusuri, peningkatan suara Foke-Nara tidak lepas dari tambahan pemilih di setiap TPS sampel. Menariknya, peningkatan ini disumbangkan dari TPS yang sebelumnya justru lebih banyak memilih lima calon lain. Tidak kurang dari 75 persen TPS yang saat itu mencoblos selain kedua pasangan yang bertarung di putaran kedua ini dukungannya lebih tertuju kepada pasangan Foke-Nara. Hanya 25 persen yang tertuju kepada pasangan Jokowi-Ahok.

Pada pemandangan lain, pasangan Foke-Nara juga berhasil menjaga wilayah-wilayah yang sebelumnya mereka kuasai. Tidak kurang dari 86,8 persen TPS yang mereka kuasai bisa mereka pertahankan.

Tambahan dari suara pemilih pasangan lain ataupun upaya keras untuk tetap menjaga dominasi TPS seperti pada putaran pertama tampaknya tidak cukup menggoyang wilayah penguasaan pasangan Jokowi-Ahok. Apalagi, kondisi suara yang diraih pada setiap TPS yang dikuasai pasangan Jokowi-Ahok relatif terjaga laju peningkatannya.

Hasil exit poll yang dilakukan Kompas terhadap para pemilih pun menguatkan hal ini. Pada level individu, setiap pemilih, yang pada putaran pertama memilih salah satu di antara kedua kandidat yang kini bertarung, mengaku loyal kepada calon yang telah dipilihnya. Pemilih pasangan Jokowi-Ahok pada pilkada kali ini 87 persen mengaku kembali memilih pasangan ini. Sementara dalam proporsi yang tidak jauh berbeda, 89 persen tetap memilih Foke-Nara.

Dukungan terhadap Foke-Nara memang berdatangan dari para pemilih yang mengaku memilih pasangan lain. Para pemilih pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini, misalnya, cenderung memilih Foke-Nara. Begitu pun pasangan yang memilih Alex Noerdin-Nono Sampono. Akan tetapi, semua dukungan tersebut pada kenyataannya belum mampu meruntuhkan benteng pertahanan Jokowi-Ahok karena pasangan ini pun menerima dukungan dari para pemilih Hidayat-Didik dan Alex-Nono walau dengan proporsi lebih kecil.

(Litbang Kompas)

**

Kompas, Jumat,21 September 2012

PILKADA DKI JAKARTA

Figur Menangkan Jokowi-Ahok

 

Oleh BAMBANG SETIAWAN

Kemenangan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama dalam Pemilu Kepala Daerah DKI Jakarta putaran kedua, Kamis (20/9), banyak dipengaruhi oleh dua hal, yaitu modal kapasitas individu dan buruknya citra pihak lawan.

Pasangan yang akrab dipanggil Jokowi-Ahok tersebut dinilai memiliki integritas moral yang baik serta memiliki keberanian dan ketegasan dalam melaksanakan gagasannya. Selain itu, Jokowi yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Solo dan Ahok yang mantan Bupati Belitung Timur ini juga dipandang lebih aspiratif daripada pasangan petahana Fauzi Bowo dan mantan Kepala Lembaga Sandi NegaraNachrowi Ramli.

Meski demikian, kekuatan karakter pasangan ini saja tampaknya tidak cukup menjadi bekal untuk merebut kursi DKI-1 karena lawan mereka cukup tangguh. Fauzi Bowo (Foke) dinilai cukup menonjol dalam pengalaman memerintah Jakarta dan sudah lebih dikenal oleh masyarakat setelah lima tahun memimpin.

Adalah proses politik sepanjang masa kampanye putaran kedua yang turut menentukan jatuhnya citra kepemimpinan Foke. Lemahnya kepiawaian pasangan Foke-Nara dalam membaca karakter publik Jakarta menjadi berkah bagi pasangan lawannya.

Citra

Sikap Foke-Nara atau timnya dalam menghadapi persoalan perbedaan etnis, agama, ataupun dalam mendekati calon pemilih menampilkan sisi miring yang cukup memberatkan langkah pasangan nomor urut satu ini. Buruknya citra juga diperparah oleh sikap elite-elite partai politik yang ramai-ramai mendukung pasangan ini sehingga justru menimbulkan gelombang kritik dan kecaman publik.

Bandul pilihan akhirnya justru mengarah ke calon yang terlihat low profile dalam menyikapi berbagai tuduhan. Model kampanye negatif berbau SARA yang dialamatkan kepada pasangan Jokowi-Ahok justru merugikan pasangan Foke Nara.

Dukungan terhadap Jokowi-Ahok pun mengalir, sebagaimana terlihat dari hasil survei pasca-pemilihan (exit poll). Mereka yang pada putaran pertama golput, lebih mengarahkan dukungan kepada pasangan nomor urut tiga ini.

Dalam hitung cepat yang dilakukan Litbang Kompas, pasangan Jokowi-Ahok unggul dengan perolehan suara 52,97 persen, sementara pasangan Foke-Nara diprediksi hanya mendapat sekitar 47,03 persen. Dukungan terhadap Jokowi-Ahok juga didapat dari pemilih-pemilih yang sebelumnya pada putaran pertama mencoblos pasangan lain, terutama limpahan dari pemilih pasangan Faizal Basri-Biem Benyamin.

Pasangan Jokowi-Ahok juga mendapat simpati dari kalangan berpendidikan tinggi dan kelas menengah atas yang relatif mandiri dalam pengambilan keputusan. Dilihat dari karakter lingkungan, dukungan terhadap pasangan ini banyak diperoleh dari lingkungan kompleks perumahan daripada dariperkampungan yang relatif mudah dijangkau tim kampanye.

(Litbang Kompas)

 

 

 

Kompas, Jumat,21 September 2012

Sengketa Diantisipasi

Pada Pilkada Kalbar, Cornelis-Christiandy Klaim Unggul Sementara

 

PONTIANAK, KOMPAS – Pemilihan Umum Kepala Daerah Kalimantan Barat dilaksanakan serentak di 11.009 tempat pemungutan suara, Kamis (20/9). Komisi Pemilihan Umum Kalimantan Barat mengantisipasi sengketa hasil dengan menyiapkan dokumen perhitungan.

Ketua KPU Kalbar AR Muzammil mengatakan, seluruh penyelenggara pemilu sudah diminta untuk menjalankan tugasnya dengan baik. Salah satunya adalah dengan menyusun dokumen penghitungan suara dengan benar dan lengkap serta tidak berpihak kepada salah satu pasang calon.

Pilkada Kalbar diikuti empat pasang calon. Keempat pasang calon itu adalah Cornelis-Christiandy Sanjaya (petahana), Armyn Ali Anyang-Fathan A Rasyid, Morkes Effendi-Burhanuddin A Rasyid, dan Abang Tambul Husin-Barnabas Simin. KPU Kalbar akan berpegangan pada hasil penghitungan surat suara mulai dari tempat pemungutan suara (TPS) hingga KPU di tingkat kota/kabupaten sehingga belum ada hasil sementara dari pemungutan suara.

Panitia Pengawas Pemilu Kepala Daerah Kalbar juga mempersiapkan penanganan sengketa pemilu bersama dengan penyidik kepolisian dan jaksa. Ketua Panwaslu Kalbar Hawat Sriyanto mengungkapkan, sudah dibuat nota kesepahaman dengan Kepolisian Daerah Kalbar dan Kejaksaan Tinggi Kalbar untuk menangani bersama sengketa pemilu.

Pantauan sepanjang Kamis menunjukkan, masyarakat menyalurkan hak pilih mulai dari pukul 07.00 hingga pukul 13.00 sesuai dengan jadwal yang ditetapkan KPU Kalbar. Setelah pukul 13.00, Panitia Pemungutan Suara (PPS) menolak warga yang hendak mencoblos. Kondisi keamanan Kalbar juga kondusif selama kampanye hingga hari pemungutan suara.

Terkait hasil pilkada, Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kalbar melakukan penghitungan cepat bersama lembaga Rekode. Hasil penghitungan cepat dipaparkan oleh calon gubernur Kalbar sekaligus petahana Cornelis dalam jumpa pers di kantor DPD PDI-P Kalbar, Kamis malam.

Cornelis mengatakan, data yang sudah masuk menunjukkan, pasangan Cornelis-Christiandy mendapatkan 51,2 persen dengan data yang masuk sebanyak 85 persen. Tingkat partisipasi pemilih 67 persen.

Jatim cari sosok

Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Jawa Timur kini sedang melaksanakan survei untuk mencari sosok calon gubernur dan wakil gubernur. Ketua DPD Partai Golkar Jatim Martono di Surabaya, Kamis, mengatakan, paling lambat Oktober, nama bakal calon gubernur dan wakilnya dari partai ini sudah diumumkan.

Sementara itu, Kepala Polda Sulawesi Tenggara Brigadir Jenderal (Pol) Tubagus Anis Angkawijaya menegaskan kesiapan jajarannya mengamankan pilkada 4 November. Sebanyak 4.000 personel siap dikerahkan.

Pilkada Sultra memasuki tahapan verifikasi yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum Sultra. Terdapat enam pasang bakal calon yang telah mendaftarkan diri. Mereka adalah petahana Nur Alam-Saleh Lasata, Buhari Matta-Amirul Tamim, Ridwan BAE- Haerul Saleh, Ali Mazi-Wuata Saranani, Sabaruddin Labamba-Kasir, dan Laode Asis-Jusrin.

(AHA/ENG/ETA/ELD)

Jumat,
21 September 2012

MENJAGA NUSANTARA

Mengamankan Menipo, Menghormati Leluhur Menifon

 

KOMPAS/FRANS SARONG

Taman Wisata Alam Menipo di Desa Enoraen, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat (14/9). Karena merupakan habitat 250 rusa timor, di taman wisata ini tidak sulit untuk menyaksikan satwa liar itu sedang minum air, merumput, atau mencari hijauan baru.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur memiliki sejumlah taman wisata alam. Salah satu di antaranya adalah Taman Wisata Alam Menipo di Desa Enoraen, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang. Ternyata Menipo adalah perubahan sebutan dari Menifon, yang adalah leluhur terhormat masyarakat Enoraen dan sekitarnya.

Menifon adalah paduan dua nama leluhur yang merupakan pasangan suami-istri, Meni dan Fon. Menurut kisahnya, pasangan tetua itu di waktu silam memperlakukan rusa (rusa timor atau Cervus timorensis) seperti hewan piaraan meski hidupnya secara liar di kawasan hutan. Jika suatu ketika membutuhkan daging untuk lauk di rumah atau keperluan lainnya, Menifon mudah saja ”memanggil” kawanan rusa hanya dengan meniupkan feku agar satwa liar itu mendekat ke sekitar rumah.

Meski akrab dengan kawanan rusa, Menifon selalu berusaha menjaganya agar tidak sampai punah hanya karena keserakahan manusia. Salah satu penegasannya adalah agar rusa yang ditangkap untuk kebutuhan di rumah tidak boleh berlebihan. Cukup disesuaikan dengan kebutuhan. Mengabaikan larangan itu akan langsung merenggangkan keakraban dengan kawanan rusa, juga terancam petaka.

Memasuki usia senja, Menifon merasakan relasinya dengan kawanan rusa kian luntur. Butuh kesabaran disertai perjuangan serius untuk memanggil kawanan rusa agar mendekat ke rumah mereka. Setelah diusut, ternyata ada leluhur lain di lingkungan Menifon, yang bertindak serakah dengan menangkap kawasan rusa secara berlebihan untuk bersenang-senang.

Mengetahui tindakan negatif yang dilakukan lingkungan kerabatnya, Menifon segera bertindak. Sepasang rusa (jantan dan betina) hasil panggilannya langsung ditangkap dan kemudian dilepasliarkan kembali di sebuah kawasan relatif aman, yang belakangan bernama Menipo, dan berstatus taman wisata alam sejak tahun 1992.

”Kawasan aslinya dahulu bernama Menifon, yang belakangan mengalami perubahan sebutan menjadi Menipo. Kata menifon sendiri paduan nama suami istri, Meni dan Fon, yang adalah leluhur terhormat masyarakat Enoraen dan sekitarnya,” tutur Kristofel Taopan (54), tetua Enoraen di Menipo, Jumat (14/9) malam.

Penjelasan Kristofel Taopan diamini tetua lainnya, Ruben Amfoni (52), yang disebut sebut sebagai turunan lurus leluhur Menifon. ”Yang kami tahu leluhur Menifon dahulu memindah klan sepasang rusa ke Menipo agar binatang kesayangannya itu tidak sampai punah akibat keserakahan manusia,” kisahnya.

Kawasan cagar alam Menipo seluas 2.449,50 hektar, jaraknya dari Kota Kupang—arah timur bagian selatan—sekitar 119 km bila melalui Oekabiti. Atau sejauh 124 km jika bepergian melalui Batuputih, wilayah kabupaten tetangga, Timor Tengah Selatan. Kawasannya berkarakter ganda, yakni menjadi pulau tersendiri saat pasang naik atau menyatu dengan daratan Timor saat pasang surut. Permukaan kawasan berbalut sabana dan ditumbuhi ribuan lontar (Borassus flabellifer), cemara laut (Casuarina equisetifolia) serta mangrove jenis Rhizophora mucronata dan Bruguiera spp.

Berbalut garis pantai berpasir putih gemulai yang sekaligus menjadi tempat penyu bertelur, kawasan cagar alam itu kini merupakan habitat utama sekitar 250 ekor rusa timor. Satwa lainnya yang juga hidup di sana adalah kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea), buaya muara (Crocodylus porosus), dan kalong (Pteropus vampyrus).

Relatif terjaga

Keberadaan Menipo beserta berbagai jenis satwanya memang relatif terjaga. Salah satu faktor pendukungnya adalah karena sikap positif masyarakat sekitarnya yang secara aktif membantu petugas konservasi mengamankan kawasan itu.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT Wiratno mengakui, Taman Wisata Alam Menipo menyimpan sejumlah keunikan, mulai dari keberadaan berbagai satwanya seperti rusa timor, penyu, kakatua, dan buaya, termasuk gundukan daratannya yang berkarakter ganda. Bila cuaca sedang cerah dan disertai alat bantu teropong, kelap-kelip cahaya lampu malam di tepi pantai utara Australia bisa disaksikan langsung dari Menipo.

Keunikan Menipo memang tidak terbantahkan. Keberadaan kawasan dan berbagai satwanya relatif terjaga, berkat pengabdian total kalangan petugas disertai dukungan kuat masyarakat setempat. Sikap positif, terutama dari warga, tentu juga bersumber penghormatan mereka bagi leluhurnya, pasangan Meni dan Fon atau Menifon. Hingga sekarang, masyarakat setempat tetap beranggapan bahwa keberadaan rusa timor di Menipo harus dijaga karena merupakan harta peninggalan leluhur mereka, Menifon. (Frans Sarong)

 

Jumat,
21 September 2012

Partisipasi Pemilih Meningkat

Putaran I 63,62 Persen, Putaran II 65,52 Persen

 

KOMPAS/RIZA FATHONI

Spanduk imbauan untuk menyambut pemimpin baru terpasang di kawasan Tebet, Jakarta, Kamis (20/9). Masyarakat DKI Jakarta menyambut pasangan Jokowi-Ahok hasil pilkada.

Jakarta, Kompas – Secara keseluruhan, partisipasi pemilih dalam Pilkada DKI Jakarta putaran kedua meningkat. Hitung cepat Litbang Kompas menunjukkan partisipasi pemilih naik sekitar 2 persen, yaitu dari 63,62 persen pada putaran I menjadi 65,52 persen pada putaran II.

Adapun jumlah yang tidak berpartisipasi sebesar 34,48 persen atau sekitar 2,4 juta pemilih, menurun dibandingkan dengan putaran pertama (36,38 persen).

Kondisi ini seperti terpantau pada beberapa tempat pemungutan suara (TPS) di wilayah Jakarta Timur. Di TPS 29, Batu Ampar, Kramat Jati, tempat calon wakil gubernur Nachrowi Ramli menggunakan hak suaranya, tingkat partisipasinya naik 16 persen.

Pada putaran pertama, pemilih yang datang ke TPS 29 sebanyak 267 orang, sedangkan putaran kedua 318 orang. Jumlah pemilih terdata di daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 479 orang.

Di kampung Tanah Merah, Kelurahan Rawa Badak Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, warga bahkan sudah mendatangi TPS sejak pagi. Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) TPS 66 Kampung Tanah Merah, Rawa Badak Selatan, Koja, Naman merasa tidak menemui kendala dalam pelaksanaan pemungutan suara.

Slamet (38), warga RT 008 RW 004, Kelurahan Warakas, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (20/9), mengaku antusias memberikan suara. Bahkan, banyak yang datang pagi sebelum TPS buka. Warga juga tidak terpengaruh dengan berbagai isu negatif yang muncul menjelang putaran kedua.

Selepas melihat hasil hitung cepat, warga juga tak mempermasalahkan siapa yang menang. Mereka hanya berharap siapa pun yang menjadi gubernur bisa memperbaiki kehidupan mereka. ”Siapa pun yang jadi, kami ingin Jakarta yang lebih baik,” kata Roy Mangindaan, warga RT 001 RW 014, Muara Karang, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara.

Menurut Roy, warga sangat antusias memberikan suaranya. Dari 584 pemilik suara di RT 001 RW 014, sebanyak 418 di antaranya menggunakan suara pada putaran kedua.

Di Jakarta Selatan, rata-rata pemilih yang menggunakan haknya bahkan di atas 70 persen. Beberapa pemilih mengaku tergerak memilih karena merasa ada calon pemimpin yang membuatnya terpikat.

”Waktu masih banyak calon di putaran pertama kemarin malah enggak nyoblos, malas. Tetapi, beberapa minggu terakhir saya mulai banyak mengikuti berita tentang kedua calon dan tertarik nyoblos,” kata Alexia (28), warga Pondok Indah.

Aman

Dari pantauan di sejumlah daerah, baik waktu pemilihan maupun seusai pemilihan, suasana Jakarta terlihat aman. Di kawasan bekas kebakaran di RT 008/009 RW 001, Kelurahan Tanah Sereal, Kecamatan Tambora, dan di RT 004 RW 002, Kelurahan Tambora, Kecamatan Tambora, warga menyatakan bisa memilih dengan bebas.

”Kami bisa memilih sesuai keinginan, tidak ada yang mengancam atau mengintimidasi. Warga, meski berbeda pilihan, juga tidak ada masalah,” kata Aceng (50), warga RT 004 RW 002, Kelurahan Tambora.

Menurut Aceng, sebelum pemilihan memang sempat ada rumor meresahkan. ”Tapi kami tidak takut, kami tetap memilih,” kata Aceng di TPS 04.

Peran banyak pihak

Hal ini juga tidak terlepas dari peran banyak pihak. Petugas KPPS di TPS 15 Kelurahan Gedong, Kecamatan Pasar Rebo, misalnya, berupaya meningkatkan partisipasi pemilih dengan menggelar hiburan musik di TPS yang disajikan pemusik jalanan.

”Pada putaran pertama, tingkat partisipasi di TPS hanya 68 persen dari 531 pemilih dalam DPT. Putaran kedua, jumlah pemilih yang datang mencapai hampir 70 persen,” kata Ketua KPPS TPS 15 Eddy Suyono.

Untuk meningkatkan partisipasi pemilih, petugas di TPS 22 Kelurahan Kenari, Kecamatan Senen, juga sempat mendatangi dua pasien yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Kedua pasien itu sedang menderita sakit ginjal.

Gubernur nilai antusias

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo saat meninjau ke sejumlah TPS menilai, masyarakat antusias mengikuti pilkada putaran kedua.

”Ini barangkali boleh dikatakan kesadaran berdemokrasi masyarakat tinggi karena kita lihat tadi kegembiraan masyarakat dan rasa cinta mereka pada persatuan. Meskipun platform politik mereka berseberangan, warga tetap menjaga kerukunan,” kata Fauzi.

Sementara itu, Manajer Riset Lingkaran Survei Indonesia Setia Darma menilai, peningkatan partisipasi pemilih tergolong tidak terlalu signifikan karena masih sama dengan Pilkada DKI 2007, yaitu 65 persen. ”Hanya ada peningkatan sedikit,” katanya.

Berdasarkan pengaduan yang masuk ke Kompas, tidak signifikannya peningkatan partisipasi pemilih bisa juga diakibatkan masih lemahnya sistem pendaftaran pemilih. Sejumlah warga mengeluhkan, mereka tidak bisa memilih pada putaran kedua, padahal pada putaran pertama bisa memberikan s uara.

(FRO/RWN/MDN/RAY/NEL/ART)

Jumat,
21 September 2012

Penambangan Emas Tradisional

 

KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Penambangan emas tradisional beroperasi di Sungai Melawi, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, Kamis (20/9). Di sekitar Kabupaten Melawi tersisa banyak bekas kawasan hutan yang tidak lagi produktif dan terbengkalai. Sebagian kawasan tersebut didiami masyarakat yang mencari nafkah dengan membuka perkebunan atau menambang secara tradisional.

**

Jumat,
21 September 2012

Parpol Bukan Jaminan

Figur Calon Lebih Menentukan dalam Pemilu

Jakarta, Kompas – Hasil hitung cepat Pemilihan Umum Kepala Daerah DKI Jakarta semestinya menjadi peringatan bagi partai politik besar. Mesin parpol yang dalam survei dinilai berelektabilitas relatif baik terbukti bukan jaminan untuk memenangkan calon dalam pemilihan umum.

Demikian dikatakan pengajar Ilmu Politik Universitas Airlangga, Surabaya, Haryadi, dan pakar hukum tata negara Saldi Isra di Jakarta secara terpisah, Kamis (20/9).

Mereka menanggapi hasil hitung cepat Pilkada DKI Jakarta yang menunjukkan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama mengungguli pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli.

Joko Widodo-Basuki didukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Gerakan Indonesia Raya. Sementara Fauzi-Nachrowi didukung parpol-parpol besar seperti Partai Demokrat dan Partai Golkar.

”Makna kemenangan sementara Jokowi-Ahok (Joko Widodo-Basuki) adalah mesin partai-partai besar tidak menjamin kemenangan calon pasangan,” kata Saldi Isra.

Secara substansial, kata Haryadi, pemilihan gubernur memang berbeda dengan pemilu legislatif. Namun, pemilihan gubernur DKI Jakarta merupakan ajang uji coba mesin partai.

”Parpol-parpol besar yang kerap dipersepsi baik harus berkaca sebab dinamika politik sangat cepat, massa mengambang banyak, dan pemilih mula pada 2014 diperkirakan 15-20 persen dari jumlah pemilih,” ujarnya.

Saldi mengatakan, parpol tidak menjamin kemenangan calon dalam pemilu karena parpol selama ini masih konservatif dalam menentukan calon pemimpin. Parpol lemah menawarkan pemimpin-pemimpin baru.

Menurut Saldi, kemenangan Jokowi-Ahok jelas lebih didasarkan kepada keyakinan masyarakat terhadap figur. ”Figur Jokowi-Ahok dinilai dapat memberi harapan dan masa depan yang lebih baik. Mereka harus membuktikan,” katanya.

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Saan Mustofa pun mengakui, keunggulan Jokowi-Ahok mengonfirmasi untuk kesekian kalinya bahwa figur sangat penting dalam setiap pemilihan kepala daerah. Koalisi partai tidak efektif untuk mengalahkan popularitas calon. ”Figur tetap dominan, terutama figur yang dinilai sesuai dengan perasaan pemilih,” katanya.

Demokrasi rakyat

Sosiolog Thamrin Amal Tamagola mengatakan, kemenangan Jokowi-Ahok, meskipun masih sementara, menunjukkan nurani masyarakat ingin menerima keberagaman dan hidup dalam kebinekaan. Kecenderungan itu jadi tanda positif dalam kehidupan demokrasi di Indonesia.

”Isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) tidak mempan bagi masyarakat. Isu SARA hanya dimakan atau dikunyah oleh basis atau kelompok fanatik tertentu,” kata Thamrin.

Hal senada dikatakan Saldi. Kemenangan Jokowi-Ahok menunjukkan isu SARA tidak mempan. Akal sehat dan rasionalitas pemilih lebih menonjol. ”Ini positif untuk pertumbuhan demokrasi,” katanya.

Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Syariefuddin Hasan, pun mengatakan, kemenangan Jokowi-Ahok merupakan cermin demokrasi rakyat yang sesungguhnya. ”Kami menghargai dan menghormati pilihan rakyat. Ini merupakan proses demokrasi yang makin baik di Indonesia,” kata Syarif.

Dari sisi parpol pendukung, keunggulan Jokowi-Ahok dalam hitungan cepat Pilkada DKI Jakarta, kata Saldi, menguntungkan PDI-P dan Gerindra. Kepercayaan diri semakin tinggi untuk melangkah ke Pemilu 2014 meski tetap harus hati-hati.

”Bagi PDI-P, hasil Pilkada DKI Jakarta ini sangat berarti. Ini menunjukkan kemenangan dari kerja keras yang disertai keyakinan ideologis dan prinsip kebangsaan, kerja mesin partai dan relawan, serta keinginan akan perubahan dan spirit kebersamaan yang teraktualisasi pada sosok Jokowi,” kata Wakil Sekretaris Jenderal PDI-P Harto Kristiyanto.

(ina/fer/ato/osa/why)

Jumat,
21 September 2012

HITUNG CEPAT “KOMPAS”

Laju Foke Tak Cukup Bendung Jokowi

Oleh Bestian Nainggolan

Upaya keras yang dilakukan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli untuk mendongkrak perolehan suara dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah DKI Jakarta putaran kedua menuai hasil yang signifikan. Namun, peningkatan suara tersebut belum juga mampu menutup celah keunggulan kekuatan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama.

Kesimpulan itu tampak dari kajian terhadap dinamika perubahan suara antara putaran pertama dan kedua dari setiap tempat pemungutan suara (TPS) hitung cepat atau dari hasil exit poll Kompas.

Hasil hitung cepat yang dilakukan Kompas pada putaran kedua dengan 200 TPS sampel terpilih menunjukkan keunggulan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) atas pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara). Dengan perkiraan selisih ketidakakuratan +/- 0,5 persen, diprediksikan tidak kurang dari 52,97 persen suara diraih Jokowi-Ahok, meninggalkan pasangan Foke-Nara yang meraih 47,03 persen suara.

Namun, jika dibandingkan dengan hasil pilkada putaran pertama, 20 Juli 2012, pencapaian dari kedua pasangan yang bertarung ini menunjukkan dinamika laju perubahan suara yang berbeda. Peningkatan perolehan suara pasangan Foke-Nara tampak sangat signifikan, melebihi laju peningkatan suara yang diraih pasangan Jokowi-Ahok.

Pada pilkada putaran pertama, setidaknya Foke-Nara meraih 34,05 persen suara. Dengan perolehan putaran kedua yang diperkirakan 47,03 persen suara, pasangan ini diperkirakan berhasil meningkatkan suara hingga 13 persen. Sementara proporsi peningkatan yang diraih pasangan Jokowi-Ahok sebesar 10,37 persen suara.

Agresivitas peningkatan suara pasangan Foke-Nara juga terlihat dalam rekaman perolehan di setiap TPS sampel hitung cepat (Grafik). Dari 200 TPS sampel, 84 TPS (42 persen) mencatatkan peningkatan suara Foke-Nara lebih dari separuh proporsi suara yang mereka raih pada putaran pertama. Sebagai contoh, TPS 20 Kelurahan Koja, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, jika pada putaran pertama pasangan ini hanya meraih 37 suara, pada putaran kedua meningkat empat kali lipat menjadi 186 suara. Namun, terdapat pula sebagian TPS yang justru berkurang dibandingkan dengan putaran pertama. Di TPS 91 Kelurahan Sunter Jaya, Tanjung Priok, misalnya, suara pasangan ini merosot dari 25 menjadi 5 pemilih.

Bagi pasangan Jokowi-Ahok, peningkatan perolehan suara drastis tercatat di 44 TPS. Sebagai contoh, TPS 37 Kelurahan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, dari perolehan 91 suara (putaran pertama) kini meraih 249 suara, jauh meninggalkan pasangan Foke-Nara yang meraih 13 suara. Berbeda dengan pasangan Foke-Nara, menurunnya perolehan suara pasangan Jokowi-Ahok terdapat di satu TPS, yaitu TPS 06 Kembangan Utara. Di putaran pertama, pasangan ini mengumpulkan 233 suara, tetapi kini menjadi 208 suara.

Asal suara

Jika ditelusuri, peningkatan suara Foke-Nara tidak lepas dari tambahan pemilih di setiap TPS sampel. Menariknya, peningkatan ini disumbangkan dari TPS yang sebelumnya justru lebih banyak memilih lima calon lain. Tidak kurang dari 75 persen TPS yang saat itu mencoblos selain kedua pasangan yang bertarung di putaran kedua ini dukungannya lebih tertuju kepada pasangan Foke-Nara. Hanya 25 persen yang tertuju kepada pasangan Jokowi-Ahok.

Pada pemandangan lain, pasangan Foke-Nara juga berhasil menjaga wilayah-wilayah yang sebelumnya mereka kuasai. Tidak kurang dari 86,8 persen TPS yang mereka kuasai bisa mereka pertahankan.

Tambahan dari suara pemilih pasangan lain ataupun upaya keras untuk tetap menjaga dominasi TPS seperti pada putaran pertama tampaknya tidak cukup menggoyang wilayah penguasaan pasangan Jokowi-Ahok. Apalagi, kondisi suara yang diraih pada setiap TPS yang dikuasai pasangan Jokowi-Ahok relatif terjaga laju peningkatannya.

Hasil exit poll yang dilakukan Kompas terhadap para pemilih pun menguatkan hal ini. Pada level individu, setiap pemilih, yang pada putaran pertama memilih salah satu di antara kedua kandidat yang kini bertarung, mengaku loyal kepada calon yang telah dipilihnya. Pemilih pasangan Jokowi-Ahok pada pilkada kali ini 87 persen mengaku kembali memilih pasangan ini. Sementara dalam proporsi yang tidak jauh berbeda, 89 persen tetap memilih Foke-Nara.

Dukungan terhadap Foke-Nara memang berdatangan dari para pemilih yang mengaku memilih pasangan lain. Para pemilih pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini, misalnya, cenderung memilih Foke-Nara. Begitu pun pasangan yang memilih Alex Noerdin-Nono Sampono. Akan tetapi, semua dukungan tersebut pada kenyataannya belum mampu meruntuhkan benteng pertahanan Jokowi-Ahok karena pasangan ini pun menerima dukungan dari para pemilih Hidayat-Didik dan Alex-Nono walau dengan proporsi lebih kecil.

(Litbang Kompas)

 

 

Posted in: Uncategorized