Musik Indonesia, Kompas 21.09.2012

Posted on September 21, 2012

0


INDUSTRI MUSIK INDONESIA

Upaya Menahan Kemerosotan

KOMPAS/PRIYOMBODO

 

Oleh FITRISIA MARTISASI dan DWI AS SETIANINGSIH

Bak matahari dalam perjalanan tenggelam, sinar kejayaan industri musik Indonesia makin meredup. Dalam 15 tahun terakhir, produk rekaman musik merosot 80 persen dari angka puluhan juta menjadi belasan juta kopi. Sementara pembajakan tetap sulit diperangi, keterpurukan diperparah oleh pengunduhan musik digital secara ilegal jutaan kali setiap hari. Nilai kerugian per tahun mencapai triliunan rupiah.

Kreativitas bermusik nyaris tak dihargai. Dalam ungkapan Wakil Ketua Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (Asiri) Gumilang Ramadhan, hari ini lagu direkam, besok sudah ada di pasar bajakan dan dunia internet secara ”cuma-cuma”. Apresiasi dalam bentuk membeli secara sah—layaknya jual beli produsen dan konsumen—tinggal sebatas kenangan.

Berdasarkan data Asiri, pengunduhan musik Indonesia secara ilegal diperkirakan mencapai 70 juta pengunduhan setiap bulan. Kerugiannya mencapai Rp 12 triliun.

Penjualan produk rekaman musik di Indonesia mengonfirmasi keluhan Gumilang. Pada 1996 di saat format rekaman kaset masih marak, angka penjualan mencapai 77,5 juta kopi, termasuk bentuk CD (compact disc) dan VCD (video compact disc). Setahun berselang, jumlahnya merosot 13 persen. Begitu seterusnya sampai Asiri mencatat angka penjualan tersisa 15 juta kopi pada 2011.

”Kemerosotan juga bisa dilihat dari jumlah industri yang tergabung dalam Asiri. Dulu pernah sampai 140-an anggota. Sekarang tinggal 69 anggota,” kata Gumilang, pekan lalu. ”Banyak yang rontok. Tidak tahan.”

Piyu, gitaris grup Padi, menggambarkan kejamnya pembajakan musik dengan mencontohkan apa yang terjadi pada CD musik karya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. ”CD musik Presiden saja dibajak sampai beliau mengeluh. Kalau beliau saja mengeluh, bagaimana kita.”

Bersama dengan grup musik semacam Sheila On7, Jamrud, dan Peterpan. Padi pernah mencetak penjualan kaset dan CD musiknya sampai dua juta kopi. ”Bulan madu itu terjadi pada dekade 2000-an,” ujar Piyu, pekan lalu. ”Sekitar tahun 2003, situasinya makin parah. Sekitar 90 persen CD dan kaset yang beredar adalah bajakan, bahkan pernah sampai 99 persen.”

Pembajakan yang makin marak membuat penjualan produk musik Padi tergerus, dari jutaan kopi menjadi cuma puluhan ribu kopi. ”Menyakitkan,” kata Piyu.

Bahkan, grup musik Slank—yang memiliki kekuatan komunitas penggemar yang loyal—terkena imbas pembajakan. Album Virus (2001) sempat mencetak 1,5 juta kopi. Bandingkan dengan album Jurus Tandur No 18 (2010) yang terjual secara legal hanya 50.000 kopi.

Pendiri sekaligus pemilik perusahaan rekaman dan distribusi Aquarius, Johannes Soerjoko, juga sangat merasakan kemerosotan industri musik Indonesia. Aquarius menikmati kejayaannya pada 1982 saat total penjualan kaset mencapai 80 juta kopi setahun. ”Seingat saya pada tahun 2010 format fisik hanya tersisa di bawah 10 juta kaset dan CD. Penjualan diambil alih oleh format digital dalam bentuk RBT,” kata Soerjoko dalam wawancara melalui surat elektronik.

Revolusi teknologi yang membuat orang mudah mengunduh lagu dari internet diakui Soerjoko menjadi pemicu perubahan pembeli rekaman musik. ”Ini menjadi penyebab utama toko kaset dan CD tutup. Otomatis distribusi yang ada menjadi lumpuh,” kata Soerjoko yang bahkan mengaku toko kaset utamanya di Jalan Mahakam, Jakarta, menunjukkan gejala penurunan penjualan. ”Saya tidak tahu sampai kapan bisa bertahan.”

RBT ikut jeblok

Kehilangan ladang dalam penjualan fisik CD dan kaset, industri musik pun mengalihkan perhatian pada penjualan nada sambung pribadi yang dikenal sebagai ringback tone (RBT). Label-label besar—seperti Sony BMG Music Indonesia, Warner Music Indonesia, Universal Music Indonesia, Musica Studio’s—berlomba-lomba memproduksi RBT yang dijual oleh sejumlah perusahaan telekomunikasi seluler, antara lain XL, Esia, Telkomsel, Indosat, Axis, dan Flexi. Angka penjualannya mengagumkan. Titik tertingginya dalam data Asiri hampir mencapai 25 juta pengguna.

”RBT yang hanya berdurasi 30 detik pada masanya adalah ladang baru label musik. Mereka untung besar,” kata pengamat musik, Bens Leo, Selasa (18/9).

Harga berlangganan RBT beragam, bergantung pada masa pakainya: harian, mingguan, atau bulanan. Telkomsel, misalnya, mematok tarif Rp 500 per lagu untuk masa aktif 3 hari, Rp 3.000 (7 hari), Rp 5.000 (15 hari), dan Rp 9.000 (30 hari).

Bisa dibayangkan betapa industri RBT menangguk untung besar saat itu. Mengasumsikan pengguna berlangganan bulanan dan tak tahu cara memutuskan, nilai penjualannya per tahun bisa mencapai Rp 2,7 triliun.

”Yang paling untung adalah jaringan telekomunikasi yang memperoleh separuhnya. Separuhnya lagi dibagi antara label musik dan artis,” kata Bens Leo seraya mengisahkan bagaimana pencipta lagu yang merangkap sebagai penyanyi paling banter mendapat 9 persen dari nilai penjualan.

”Saya anti-RBT. Ini industri musik semu. Band baru cuma dibikinkan single, tak pernah sampai ke album. Baru sebentar, namanya hilang. Iklim rekaman seperti ini tidak sehat. Artis berbakat tidak punya ruang berkreasi,” ujar Bens.

Kejayaan RBT tak lepas dari cara kerja sejumlah content provider nakal yang membuat pelanggan sulit menghentikan layanan nada sambung pribadi. Akibatnya, tanpa disadari mereka berlangganan terus-menerus sehingga konsumen menuding cara ini sebagai pencurian pulsa.

Surat edaran Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) No 177/BRTI/X/2011 yang ditandatangani ketuanya, Syukri Batubara, pada 18 Oktober 2011, memerintahkan semua operator seluler melakukan semacam pendaftaran ulang—dengan melakukan ”unreg”—bagi pelanggan SMS premium, termasuk RBT. Hasilnya, pelanggan merosot dari 25 jutaan menjadi sisa 3 juta saat ini.

Bagi industri musik dan operator seluler, kebijakan itu memaksa mereka tiarap. Pejabat Operasional Harian dari Head of Corporate Communication Group Telkomsel Ricardo Indra menyebutnya sebagai ”tsunami untuk RBT”. Vice President PT E-Motion Entertainment Muhammad Soufan, yang pernah bekerja untuk Sony Music Indonesia, menggambarkan bagaimana petinggi label musik langsung terenyak.

”Orang-orang di industri berpikir, apa yang bisa saya bikin ke depan,” kata pria yang akrab dipanggil Munna ini. ”Meskipun RBT masih ada, pelanggan sudah tak tertarik lagi.”

Harus kreatif

Perpaduan antara pembajakan, pengunduhan ilegal, dan kandasnya RBT membuat industri kelabakan. Baik Gumilang maupun Munna mengakui, label musik terlena selama ini. ”Kami terlambat mengantisipasi,” kata Gumilang. Munna mengibaratkan pihaknya sebagai petani yang lupa mendiversifikasi tanaman.

Label besar akhirnya ”menyerah” pada strategi baru pemasaran model penggabungan produk (bundling). Jalur yang saat ini paling cemerlang adalah lewat Music Factory yang didirikan oleh Kentucky Fried Chicken Indonesia. Jadilah musik dijual bersama dengan ayam di semua gerai KFC yang berjumlah 428 buah di seluruh Indonesia.

Nama-nama besar pun bermunculan di sini. ”Saat ini di Music Factory ada Cinta Laura, Agnes Monica, Rossa, Ari Lasso, Slank, Opick, Armada, Semmy (mantan vokalis Kerispatih), nanti akan ada Kotak,” kata Harun Nurasyid, Managing Director and Executive Producer PT Music Factory Indonesia.

Angka penjualannya yang lumayan fantastis—Cinta Laura, misalnya, menggaet 800.000 kopi—membuat banyak musisi, artis, dan label melirik untuk kerja sama. ”Awalnya tidak mudah. Kami setahun hanya menjual 33.000 kopi. Naik ke 240.000 untuk satu artis. Puncaknya, untuk artis yang tidak dikenal, lagunya bisa laku 1,2 juta kopi. Sekarang setahun 10-20 juta kopi untuk beberapa artis,” kata Harun.

Industri musik Indonesia memang harus lebih kreatif dalam memasarkan diri. Jika tidak, mereka akan tergulung ”tsunami” berikutnya

**

MUSIK INDIE

Bukan karena Ingin Kaya Raya

Rabu (19/9) pukul 05.00, Andhika (20) terbangun dari tidurnya oleh bunyi alarm yang dia pasang di telepon selulernya. Lagu alarm yang dia pilih cukup ampuh, sebuah lagu milik band indie Efek Rumah Kaca.

”Aku pasang ’Cinta Melulu’ karena lagunya berisik,” ujar Andhika. Bersama ”Cinta Melulu”, Andhika memulai hari-harinya. Pilihan lagu alarm itu bukan tanpa alasan. Andhika adalah satu dari sekian banyak penggemar Efek Rumah Kaca (ERK) yang beranggotakan Cholil Mahmud, Adrian Yunan Faisal, dan Akbar Bagus Sudibyo itu.

Selain ERK, Andhika juga menggemari Stereomantic, Tantrum, The Milo, Gentle Sons, Fstvlst, dan Rocket Rockers. Semuanya band indie asal Indonesia. ”Aku sudah enggak pernah dengerin band-band mainstream lagi. Malas. Lagu mereka menye-menye, liriknya tidak masuk akal. Semuanya tentang cinta. Hidup kan tidak melulu soal cinta,” lontar Andhika.

Dia mencontohkan sejumlah lagu milik ERK yang temanya sangat beragam, namun nyata terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Soal hujan, kemajuan teknologi, hingga kenakalan remaja.

Aztari Ayu Nadya (18) juga penggemar band indie. ”Aku suka Mocca, The Trees and The Wind, White Shoes and The Couples Company, sama Sore,” ujar Nadya. Serupa dengan Andhika, Nadya juga tidak terlalu gemar band-band mainstream. Hanya beberapa band saja yang masih dia dengarkan, seperti Sheila On7 dan Maliq and D’esentials.

Menurut Nadya, jenis musik band indie jauh lebih menarik ketimbang band-band mainstream. ”Yang mainstream kadang-kadang alay. Tidak berani beda dan itu-itu aja, hampir sama satu sama lain. Isinya semua tentang cinta yang menye-menye,” papar Nadya. Sedangkan tema cinta di tangan band-band indie menurut dia diutarakan dengan lirik yang bagus.

Selain lirik, performa band indie yang unik dan kadang nyentrik juga jadi alasan. Andhika dan Nadya pun mengejar konser band indie favorit, memburu CD yang kerap dikemas serupa karya seni, dan membeli pernik-pernik (merchandise) yang dibuat terbatas.

Didasari kecintaan

Di jajaran band indie Tanah Air, nama ERK tak asing. Kedua album ERK, Efek Rumah Kaca dan Kamar Gelap, terjual antara 7.000-9.000 keping. Lumayan untuk ukuran band indie.

Di luar aktivitas panggung dan urusan rekaman album baru, Cholil, vokalis Efek Rumah Kaca, adalah pekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang hukum. Dua personel ERK, Adrian dan Akbar, juga memiliki pekerjaan lain. ”Saya tinggal rayu-rayu bos agar tetap bisa menjalani aktivitas bermusik saya,” ujar Cholil seraya tersenyum.

”Kami main musik karena kami mencintai musik. Karena kecintaan, sering kali hasilnya lebih maksimal. Masalah orang suka atau tidak, tak masalah,” ujar Cholil.

Penjualan cakram padat (CD) yang hanya 7.000-9.000 keping, bukan masalah bagi mereka. Yang terpenting bagi mereka, bagaimana menyalurkan kreativitas musik. Berapa pun apresiasi yang mereka terima, mereka syukuri. ”Karena kami punya pekerjaan, bila terjadi apa-apa kami tidak khawatir. Setidaknya kami punya jalan keluar,” tutur Cholil.

Arian, vokalis band indie Seringai bergenre rock cadas menuturkan hal serupa. ”Kami bersenang-senang dengan musik kami. Tujuan kami bukan untuk jadi kaya raya,” tuturnya.

Meski belum sampai mencetak angka penjualan CD hingga puluhan ribu keping, album terbaru Seringai, Taring, laris-manis diburu penggemar mereka. CD versi eksklusif seharga Rp 75.000– yang mereka produksi sebanyak 999 keping–ludes dalam dua hari. Sementara CD versi reguler yang dibanderol Rp 35.000, hingga saat ini sudah terjual sebanyak 7.000 keping. ”Dengan penjualan CD eksklusif selama dua hari itu, kami sudah balik modal rekaman,” ungkap Arian.

Sejak rilis Taring, jadwal manggung Seringai penuh hingga Desember 2012. ”Tetapi kami hanya main weekend (akhir pekan) karena di hari biasa kami harus bekerja,” kata Arian yang berprofesi sebagai ilustrator.

Grup indie White Shoes and The Couple Company juga mencatat penjualan sebanyak 10.000 keping CD untuk album kedua mereka, Vakansi. Piringan hitam mereka yang diproduksi 300 buah dengan harga Rp 275.000 habis dalam waktu dua minggu di dalam negeri.

Angka itu belum termasuk yang terjual di luar negeri. Jadwal manggung mereka juga nyaris penuh setiap akhir pekan, rata-rata 8-9 kali dalam satu bulan.

Para personel White Shoes sepakat bahwa tugas musisi adalah berkarya dengan memegang kaidah tidak menyepelekan dan bertanggung jawab kepada pendengar mereka. ”Jadi jangan berpikir kalau pendengar kita bodoh. Jangan anggap mereka sebagai obyek, hanya untuk beli benda saja,” tambah Sari.

”Bila yang dikejar hanya uang, ingin cepat kaya, maka tidak akan pernah ada puasnya, kurang terus. Selama kita selalu kreatif, pasti bisa bertahan,” ujar Saleh.

Sebagaimana ERK dan Seringai, White Shoes juga mengeluarkan pernik-pernik secara terbatas. ”Untuk satu produk maksimal 100 buah,” papar manajer White Shoes, Indra Ameng.

Sementara Seringai, misalnya, untuk satu desain kaus bisa menjual 200-300 lembar dengan harga Rp 125.000. Saat ini Seringai setidaknya memiliki 11 desain. ”Ini yang tidak dimiliki industri musik mainstream,” papar Arian.

Tidak heran bila di tengah lesunya industri musik Tanah Air, band-band indie seolah bergeming. Mereka menunjukkan daya tahan dengan tetap berstrategi menghadapi perubahan zaman.

(Dwi As Setianingsih)

**

HAK CIPTA

Cari Cara Melawan “Pencuri” Karya Kreatif

Dunia sudah berubah. Itu pesan yang disampaikan lewat dunia musik. Produk rekaman musik secara fisik hampir berakhir. Sekurangnya, tak lagi diminati. Ini berlaku di seluruh muka bumi, sejauh jaringan internet ada, sejauh layanan telepon seluler terjangkau.

Dalam enam tahun terakhir, penurunan nilai penjualan fisik rekaman musik di seluruh dunia mencapai 40 persen. Berdasarkan data yang dibuat eMarketer dan dilansir oleh http://www.grabstats.com, pada 2006 nilainya masih mencapai 33,1 miliar dollar AS. Setahun kemudian nilainya turun menjadi 30,6 miliar dollar AS dan terus merosot menjadi 27,5 miliar dollar AS (2008), 24,6 miliar dollar AS (2009), 22,2 miliar dollar AS (2010), dan 19,9 miliar dollar AS (2011).

”Era digital membuat fisik album musik sekarang peminatnya turun. Ini terjadi di seluruh dunia,” kata pengamat musik, Bens Leo.

Namun, ada persoalan dengan Indonesia yang masih bersoal dengan kesadaran untuk menghargai karya cipta seseorang. Pengunduhan musik digital lebih banyak dilakukan secara ilegal.

Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (Asiri) mengutip data International Federation of Phonographic Industry (IFPI) menyebutkan, ada sekitar 70 situs jejaring yang biasa diakses orang untuk mengunduh musik dan lagu Indonesia tanpa bayar. Tiga di antaranya adalah gudanglagu.com, index-of-MP3.com, dan 4shared.com.

Situs yang paling banyak diunduh adalah 4shared.com dengan sekitar 65 juta pengunduhan dengan jumlah pengunjung 7,5 juta. Diperkirakan nilai yang diunduh mencapai Rp 12 triliun.

Direktur E-Business pada Kementerian Komunikasi dan Informatika Azhar Hasyim, Selasa (18/9), mengakui sulitnya mengatasi masalah pengunduhan ilegal. ”Diblokir satu, muncul lagi dengan nama lain. Begitu seterusnya,” kata Azhar.

Keluhan yang datang dari industri musik semakin meyakinkan pihaknya untuk segera bertindak dengan mengundang para penyelenggara penyedia layanan internet (internet service provider/ISP). Mereka diminta untuk tidak membiarkan sebagai tempat diunggahnya musik yang secara legal memiliki hak cipta.

”Kalau mereka tidak melakukan, kami yang akan memblokir,” ujar Azhar.

Ada dua cara yang bisa dilakukan. Pertama, langsung memblokir situsnya. Kedua, memblokir URL (uniform resource locator). ”Kalau situsnya banyak manfaatnya, yang diblokir URL-nya saja,” kata Azhar.

Kepala Sub-Direktorat Teknologi dan Infrastruktur E-Business Noor Iza menambahkan, pihaknya telah berkomunikasi dengan pihak Google. Sejauh ini, Google telah memiliki content identification management yang bisa mengidentifikasi musik atau video yang telah didaftarkan hak ciptanya.

”Karena itu, kami minta industri musik untuk proaktif lapor kepada situs seperti 4shared. Lalu kami akan mendukung,” ujar Noor Iza.

UU direvisi

Selama ini, Indonesia masih menggunakan payung hukum Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta dalam masalah ini. ”Perkembangan teknologi informasi luar biasa. Karena itu, sekarang UU itu tengah dalam proses revisi,” ujar Direktur Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) Ahmad Ramli, pekan lalu.

Ia lantas menunjukkan beberapa materi baru yang akan ditambahkan, seperti ”konten hak cipta dan hak yang berkaitan dengan hak cipta dalam teknologi informasi dan komunikasi” (Pasal 50-52).

Pasal 51 Ayat (1), misalnya, berbunyi, ”Dalam hal terdapat bukti pelanggaran Hak Cipta dan Hak yang Berkaitan dengan Hak Cipta, menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang telekomunikasi dan informatika dapat menutup konten yang melanggar Hak Cipta dalam sistem elektronik atau menjadikan layanan sistem elektronik tidak dapat diakses.”

Ramli mengatakan, ke depannya Indonesia harus memiliki lembaga manajemen kolektif (collecting management organization/CMO) yang berbentuk badan hukum. ”Begitulah yang berlaku di negara maju sehingga karya intelektual seperti musik terus dihargai. Kreativitas pekerja seni tidak padam karena pembajakan,” katanya.

Mencari I-Pop

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Pangestu mengakui, persoalan hak atas kekayaan intelektual harus dimulai sejak anak-anak. ”Harus diajarkan sejak dari sekolah bahwa melanggar HKI sama dengan mematikan industri kreatif,” ujarnya, Rabu (19/9).

Namun, dari sisi industri sendiri, ia berharap juga terus mencari cara baru untuk bisa dikenal dan memasarkan diri. Mari lantas mencontohkan bagaimana industri pop Korea—yang dikenal sebagai K-Pop—kini merambah ke seluruh dunia.

”Kita juga harus bisa mencari sesuatu yang sangat I (Indonesia)-Pop, entah dari sisi musiknya atau koreografinya, harus kelihatan khas Indonesia,” kata Mari.

Melihat kemerosotan industri rekaman musik Indonesia, Mari mengatakan bahwa pihaknya akan terus mendorong tumbuhnya berbagai festival dan konser musik. Ia ingat apa yang dikatakan musisi jazz kondang, Quincy Jones, bahwa seorang musisi harus terus tampil di panggung dan tidak hanya berkutat di jalur rekaman. Alasannya, bagaimana ia bisa terkenal jika konsumen tidak pernah melihat.

”Yang dimaksud panggung itu bisa secara fisik maupun virtual,” kata Mari.

Beberapa panggung yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun ini antara lain Indonesia Cutting Edge Music Award dan Festival Lagu Anak. Selain itu, tahun depan juga akan digelar Pesta Musik Rakyat yang diharapkan digelar secara simultan di sejumlah daerah sebelum berpuncak di tingkat nasional.

”Genre musik kita ini besar sekali. Kita punya kekuatan dalam bermusik dan bernyanyi. Tinggal mendorongnya,” kata Mari. (FIT/DOE)

**

JAJAK PENDAPAT

Generasi Penikmat Musik Gratisan

Perkembangan teknologi turut memberi andil menggeser perilaku publik dalam menikmati musik. Jika sebelumnya musik banyak dinikmati melalui kaset atau cakram padat atau CD, kini publik lebih banyak menikmati musik melalui telepon seluler dengan cara mengunduhnya lewat internet.

Jajak pendapat Kompas pekan lalu yang diselenggarakan di 12 kota besar mengungkap proporsi terbesar responden mendengarkan musik melalui telepon genggam. Tak bisa dimungkiri, perkembangan teknologi telepon genggam memungkinkan pengguna menikmati berbagai fitur menarik. Beberapa di antaranya adalah ragam permainan, akses internet, menonton TV, dan video call yang memungkinkan pengguna satu dengan lainnya berkomunikasi tatap muka, serta sebagai pemutar musik format MP3.

Teknologi internet dan komputer ikut andil dalam memudahkan publik mengakses musik-musik pilihan. Jaringan internet dan komputer memungkinkan publik mengakses dan mengunduh–juga melalui telepon seluler–berbagai musik pilihan. Separuh responden survei ini mengakui mengunduh lagu-lagu favorit mereka secara gratis melalui internet.

Jika dicermati lebih jauh, perilaku mengunduh musik secara gratis sangat ditentukan oleh usia seseorang. Semakin muda usia, perilaku mengunduh musik lewat internet semakin sering. Jajak pendapat ini menunjukkan perilaku mengunduh musik gratisan lebih banyak dilakukan kalangan anak muda usia di bawah 25 tahun (88,46 persen). Hanya 10 persen responden di kelompok usia tersebut yang tidak melakukannya.

Sebaliknya, responden yang berusia di atas 46 tahun lebih banyak (67,98 persen) tidak mengunduh musik dari internet dibandingkan yang berusia di bawah 25 tahun.

Di samping menikmati musik gratisan, survei ini juga mengungkap kecenderungan perilaku publik yang lebih suka membeli kaset atau CD bajakan. Sepertiga bagian responden mengaku lebih memilih membeli kaset atau CD musik bajakan ketimbang produk asli. Faktor ekonomi bisa diduga sebagai pendorong utama.

Gambaran ini diperkuat oleh tak adanya anggaran khusus yang disisihkan oleh responden untuk membeli koleksi musik favorit. Mayoritas responden (87,7 persen) menyatakan tak menganggarkan dana secara khusus untuk menambah koleksi lagu-lagunya. Kalaupun ada, hanya 10 persen responden yang menyisihkan dana kurang dari Rp 100.000 per bulan.

Selain telepon seluler, radio, dan televisi merupakan medium yang juga banyak dipilih responden untuk mendengarkan alunan musik kesayangan mereka. Hampir setiap jam, pendengar radio bisa menikmati program musik yang diudarakan. Bahkan, musik melalui radio merupakan kawan setia pengguna mobil melewati kemacetan di jalan-jalan Jakarta.

Hal serupa bisa dijumpai pada medium televisi. Berbagai program musik menghiasi layar kaca dari pagi hingga malam hari di banyak stasiun televisi, nasional maupun internasional.

Terpuruk

Pergeseran perilaku itu turut andil dalam semakin terpuruknya industri musik Indonesia. Berdasarkan catatan Asiri (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia), total produksi album rekaman tahun 2010 tinggal sekitar 11,4 juta kopi. Bandingkan dengan angka total penjualan kaset dan CD yang mencapai 77,5 juta kopi.

Angka-angka ini menunjukkan era kejayaan industri musik Indonesia mulai pupus. Pada masa keemasaan tersebut, yakni sekitar tahun 1990-an hingga awal 2000-an, total penjualan album rekaman musik, baik kaset maupun CD, mencapai puluhan juta kopi per tahun. Di era tersebut, banyak band musik mencatatkan penjualan album di atas satu juta kopi. Sebut saja misalnya Dewa 19, Jamrud, Padi, Peterpan, dan Sheila on 7.

Industri musik Indonesia terpuruk setelah dihantam pembajakan. Menurut catatan Asiri, angka pembajakan musik berupa kaset atau CD di Indonesia tahun 2008 mencapai 550 juta kopi. Padahal, 12 tahun sebelumnya pembajakan baru tercatat 20 juta kopi album. Rasio peredaran album musik bajakan dan legal pun telah mencapai 96 persen berbanding 4 persen. Angka ini disinyalir akan terus bertambah.

(ERI/LITBANG KOMPAS)

**

Posted in: Uncategorized