Kontestasi yang Terkotak-kotak

Posted on September 24, 2012

0


 

Senin,24 September 2012

 

Survei Kompas

 

Oleh Bestian Nainggolan

Pengelompokan pemilih dalam berbagai kesamaan identitas politik, sosial, ataupun ekonomi kental terlihat dalam ajang Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta putaran kedua. Akan tetapi, kekuatan itu belum mampu menumbangkan tuntutan perubahan, hanya sebatas peningkatan gairah memilih.

Sebagai ajang kontestasi politik, ukuran kualitas Pilkada DKI putaran pertama dan kedua bisa jadi paling menarik dari berbagai pertarungan politik sejenis selama ini. Menjadi menarik lantaran tidak sekadar menjawab keingintahuan mengenai siapa yang memenangi pertarungan ketat penguasaan suara pemilih tersebut. Tidak pula sekadar memahami kekuatan atau kelemahan dari kedua sosok berikut program atau rencana mereka terhadap ibu kota negara ini. Namun, sisi menarik kualitas kontestasi itu tergambarkan dari sedemikian kuatnya tautan sisi rasional dan emosional pemilih yang menempatkan mereka dalam segmen-segmen identitas politik, sosial, dan ekonomi yang berbeda.

Kecenderungan semacam itu tampak dalam kajian hasil survei longitudinal Kompas yang dilakukan sebelum (survei prapemilu) ataupun sesaat setelah Pilkada DKI putaran kedua berlangsung (survei pascapemilu).

Pada segmen identitas politik, pengelompokan pemilih didasarkan pada karakteristik kesamaan partai pilihannya dengan calon yang dipilih tampak menonjol. Dengan kata lain, loyalitas pemilih terhadap partai terjadi dalam berbagai gradasi dukungan. Pemilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Gerakan Indonesia Raya tampak menonjol memilih pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok).

Sebaliknya, pendukung pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) dominan berasal dari pemilih partai berbasis massa Islam, seperti Partai Persatuan Pembangunan, sebagian besar Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Kebangkitan Bangsa. Dari sisi partai bercorak nasionalis, proporsi pendukung Partai Golkar juga dominan. Namun, tidak demikian dengan pendukung Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional (PAN) yang tampak terbelah (lihat grafik).

Pola dukungan berdasarkan kesamaan identitas kepartaian ini semakin jelas pada putaran kedua dibanding putaran pertama. Pada pilkada pertama, masing-masing pendukung partai masih terdapat sebagian pemilih yang belum menentukan pilihan, tetapi pada putaran kedua pilihan yang dijatuhkan cenderung sesuai calon yang diusung parpol mereka. Artinya, di saat krusial itu eksistensi parpol sebagai rujukan pendukungnya sulit diingkari.

Sekalipun signifikansi parpol masih tampak, kesamaan pilihan berdasarkan identitas sosial ataupun ekonomi juga menonjol. Dari sisi pendidikan, misalnya, proporsi dukungan kalangan berpendidikan menengah hingga tinggi nyata tertuju pada Jokowi-Ahok. Semakin pula diperkuat oleh kesamaan kelompok ekonomi menengah ke atas yang tertuju pada pasangan ini. Jika ditelurusi, kedua faktor ini pula yang turut memisahkan loyalitas pemilih pada parpol, seperti yang terjadi khususnya pada PAN dan Demokrat. Menurut hasil survei, pada para pemilih PAN dan Demokrat, semakin tinggi jenjang pendidikan cenderung semakin memilih pasangan Jokowi-Ahok.

Kecenderungan terkotak-kotaknya pemilih berdasarkan identitas semakin nyata jika ditelusuri dari beragam latar belakang. Dari sisi usia, misalnya, kecenderungan usia muda yang menjatuhkan pilihannya pada pasangan Jokowi-Ahok ketimbang Foke-Nara lebih nyata terlihat. Terlebih pada latar belakang identitas primordial seperti pada sebagian kelompok suku bangsa dan agama yang memang signifikan tertuju pada masing-masing pasangan calon gubernur. Persoalannya kemudian, jika pola-pola segmentasi berdasarkan kesamaan identitas politik, ekonomi, atau sosial pemilih menjadi faktor yang kental kehadirannya dalam Pilkada DKI kali ini, seberapa dominan pengaruh faktor-faktor itu terhadap pilihan seseorang?

Melihat kualitas keterlibatan faktor-faktor di atas, eksistensi parpol dan loyalitas pendukung misalnya, sekalipun dirasakan kehadirannya, tampaknya tidak cukup kuat menjadi penentu utama. Kecenderungan kuatnya dorongan suatu perubahan–yang termanifestasikan dalam kemunculan sosok Jokowi-Ahok—lebih menonjol ketimbang kekuatan status quo.

Sekalipun menguat, pengotak-kotakan identitas belum mampu memorak-porandakan kekuatan perubahan. Penguatan identitas, di sisi lain, justru mendorong peningkatan antusiasme pemilih. Konfigurasi politik demikian, tarik-menarik antara kekuatan perubahan dan kekuatan mempertahankan kuasa, akan menjadi replika ajang pertarungan kepemimpinan pada 2014. Pemilih pun potensial terkotak-kotak dalam identitasnya. (Litbang Kompas)

Advertisements
Posted in: Uncategorized