Labuan Bajo – Kompas, Senin, 24 September 2012

Posted on September 24, 2012

0


KESEJAHTERAAN DAERAH

Labuan Bajo Terus Menggeliat

Kompas/Frans Sarong

Satu dari lima hotel berbintang di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Hingga pertengahan 2012 ini, Labuan Bajo menjadi satu-satunya daerah di Nusa Tenggara Timur yang dilengkapi hotel berbintang.

Oleh FRANS SARONG dan SAMUEL OKTORA

Labuan Bajo baru sembilan tahun berstatus sebagai ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, terhitung sejak pemekaran dari induknya, Manggarai, tahun 2003. Namun, pertumbuhannya sangat fenomenal. Labuan Bajo kini menjadi satu-satunya kota kabupaten di NTT yang telah didukung hotel berbintang.

Di Labuan Bajo, hotel berbintang sebenarnya baru hadir tahun 2007. Hingga saat ini kelompok hotel dimaksud berjumlah lima unit, termasuk satu di antaranya dalam proses perampungan. Dengan kata lain, selama lima tahun Labuan Bajo ”melahirkan” lima hotel berbintang!

Termasuk kelas bintang, Labuan Bajo kini memiliki 43 hotel, home stay, hingga losmen. Totalnya berkapasitas 585 kamar atau 780 tempat tidur. Harga kamar per malam bervariasi, dari Rp 15.000 (Losmen Kembang Ragi) sampai Rp 2 juta (Hotel Bintang Flores).

Selain di Labuan Bajo, sejumlah hotel berbintang juga telah hadir di Kupang, bahkan sejak tahun 1990-an. Kehadiran akomodasi itu tentu dipandang wajar karena posisi Kota Kupang sebagai ibu kota Provinsi NTT sekaligus daerah otonom Pemerintah Kota Kupang.

Labuan Bajo yang kini berpenduduk sekitar 12.000 jiwa adalah kota pelabuhan di ujung barat Pulau Flores. Posisinya langsung menghadap Taman Nasional Komodo (TNK) di perairan Selat Sape. Karena posisinya itu pula hingga Labuan Bajo sekaligus menjadi gerbang masuk ke TNK. TNK meliputi 264 pulau, dua di antaranya, Komodo dan Rinca, merupakan habitat utama binatang purba komodo.

Keberadaan biawak raksasa itu, apalagi setelah berhasil menjadi tujuh keajaiban dunia, terasa semakin menyihir dunia. Daya hipnotis menjadi pendongkrak utama pertumbuhan Labuan Bajo yang semakin menggeliat, seiring kehadiran pelancong dari mancanegara ke TNK yang terus meningkat.

”Kami pantas bersyukur memiliki TNK yang dua pulaunya menjadi habitat utama komodo. Binatang purba itu memiliki daya pikat sangat luar biasa hingga jumlah wisatawan asing ke TNK terus menunjukkan tren naik secara tajam,” tutur Kepala Dinas Pariwisata Manggarai Barat Theodorus Suardi, di Labuan Bajo, Senin (27/8) siang.

Kunjungan wisatawan asing—setidaknya selama lima tahun terakhir—memang terus mengalami peningkatan. Dinas Pariwisata Manggarai Barat mencatat, jumlah wisatawan ke TNK tahun 2008 totalnya 21.773 orang. Menyusul tahun 2010 melonjak menjadi 41.117 orang, dan 41.443 orang pada tahun 2011. Lebih dari 90 persen para pelancong itu berasal dari mancanegara.

Khusus untuk tahun 2012 ini, data wisatawan asing yang berkunjung ke TNK hingga Mei tercatat 13.674 orang. ”Jumlah mereka hingga akhir tahun ini bisa mencapai 50.000, bahkan 51.000 orang karena musim kunjungan padat ke TNK antara Juni hingga Oktober,” kata Theodorus.

500 tong sampah

Labuan Bajo sendiri sebenarnya belum cukup siap menyongsong geliat pariwisata. Sebut misalnya gundukan sampah yang masih berserakan di mana-mana. Tim yang melibatkan unsur pemda setempat bersama lembaga swadaya masyarakat (LSM), termasuk Pastor Marselinus Agot SVD sebagai penggeraknya, sejak Januari lalu aktif menyingkirkan sampah itu sekaligus memotivasi masyarakat agar tidak membuang sampah di sembarang tempat.

”Labuan Bajo memang belum sepenuhnya menjadi kota bersih. Namun, warga mulai sadar untuk membuang sampah di tempat seharusnya,” tutur Marsel Agot ketika bersama timnya membersihkan sampah di Labuan Bajo, Jumat (24/8).

Kesadaran lainnya ditandai dengan pengadaan 500 tong sampah sejak tahun lalu. Ratusan wadah tersebut disebarkan di titik-titik strategis, pusat perkampungan, pertokoan, atau sepanjang tepi jalan utama dalam kota. Masyarakat pun mulai diarahkan agar membuang sampah melalui tong-tong yang tersedia di sekitarnya, sebelum mobil khusus mengangkutnya ke tempat pembuangan akhir.

Pemda terus berupaya mengatasi keterbatasan air bersih yang dikeluhkan warga Labuan Bajo. Air bersih yang sejak lama mengandalkan sumber dari Mbeliling, belakangan tak mampu lagi memenuhi kebutuhan Labuan Bajo. Untuk mengatasinya, kini sedang diupayakan mengalirkan air baku dari sumber Wae Watunggelek di hulu Labuan Bajo.

Usaha warung, terutama ikan bakar skala layar tancap pun, tumbuh di Labuan Bajo. Salah satu contohnya di Kampung Ujung. Setidaknya sejak tiga tahun lalu puluhan lapak ikan bakar dan jenis makanan lain telah tumbuh sepanjang garis pantai.

”Penghasilannya memang belum seberapa, tapi kami bangga karena tidak sedikit wisatawan asing hingga tamu hotel berbintang memilih makan malam di warung kami,” tutur Yulianus Jefri (36), di Kampung Ujung, Labuan Bajo, Kamis (23/8).

Seperti diakui Camat Komodo Abdullah Nur, kehadiran puluhan usaha skala kecil di Kampung Ujung semuanya sesuai penataan serta arahan pemerintah setempat. ”Mimpi kami ke depannya, kawasan itu nantinya sekaligus menjadi obyek wisata kuliner,” kata Abdullah Nur. Kecamatan Komodo meliputi Labuan Bajo dan sekitarnya di daratan Flores, juga di kawasan TNK.

Pemda Manggarai Barat juga gencar mendandani garis pantai di Labuan Bajo, terutama di sekitar Kampung Tengah. Perairan di sekitar bibir pantainya direklamasi, yang selanjutnya menjadi fondasi jalan setapak. Infrastruktur itu sudah dibangun dan masyarakat diizinkan membuka usaha ikan bakar atau sejenisnya di sekitarnya.

Keterbatasan SDM

Theodorus mengakui keterbatasan SDM lokal menjadi kecemasan yang terasa mengganggu seiring geliat pariwisata Manggarai Barat. ”Kesiapan SDM dimaksud ke depan ini menjadi perhatian serius hingga warga lokal tak menjadi penonton dalam geliat usaha jasa pariwisata di daerah ini,” katanya.

Terkait kendala SDM itu, Pemda Manggarai Barat dengan dukungan dana Rp 60 juta, tahun lalu mengirim sejumlah penggiat jasa pariwisata di Labuan Bajo untuk mengikuti pelatihan khusus di Sekolah Tinggi Pariwisata Bali. Upaya serupa terus berlanjut tahun ini dengan dukungan dana dari APBD NTT dan beberapa LSM.

Apa pun usaha dilakukan, tujuannya agar masyarakat setempat ikut menikmati percikan rezeki dari geliat pariwisatanya.

**

KEMANUSIAAN

Masyarakat Sambut Pengobatan Gratis

Labuan Bajo, Kompas – Pengobatan dan khitanan massal gratis dari Dana Kemanusiaan Kompas dan Pertamina berlangsung di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Minggu (23/9). Kegiatan yang merupakan rangkaian dari Kompas Jelajah Sepeda Bali-Komodo ini digelar di kantor Camat Komodo di Labuan Bajo.

Hingga Minggu petang, warga yang mendapat pelayanan pengobatan sebanyak 156 orang dan khitanan 126 anak usia 6-12 tahun. Pelayanan pengobatan dan khitanan melibatkan 10 dokter, termasuk Kepala Puskesmas Labuan Bajo dr Maria sebagai koordinatornya.

”Saya sudah lebih setahun merasa kesemutan di bagian pinggang. Mudah-mudahan sembuh setelah mendapat pengobatan hari ini,” tutur Mama Sarialang dari Desa Gorontalo, Labuan Bajo.

”Masyarakat, terutama dari keluarga tak mampu, merasa sangat terbantu dengan pengobatan gratis seperti ini,” tutur dr Maria kepada Pemimpin Redaksi Kompas Rikard Bagun.

Camat Komodo Abdullah Nur yang sedang mengikuti pendidikan dan pelatihan di Kupang sejak dua pekan lalu secara khusus menyampaikan permohonan maaf karena tidak sempat menyaksikan langsung pelayanan kesehatan dan khitanan massal yang melibatkan masyarakat setempat.

”Namun, atas nama pemerintah bersama masyarakat Kecamatan Komodo, saya menyampaikan terima kasih paling mendalam kepada Kompas bersama jajaran pendukungnya,” kata Nur melalui telepon.

Pemeriksaan pasien dilakukan di tenda depan kantor camat, sementara khitanan massal diadakan di ruang kantor camat. (ANS)

**

JELAJAH SEPEDA BALI-KOMODO

Menteri Kehutanan Sambut Tim Sepeda di Garis Finis

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Peserta tim Jelajah Sepeda Bali-Komodo beristirahat di Kapal Dewana Dharma saat melintasi Selat Sape dari Labuan Sape, Kabupaten Bima, menuju Labuan Bajo, Kabupaten Mangarai Barat, saat menuju titik finis di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Minggu (23/9).

Labuan Bajo, Kompas – Sebanyak 67 anggota tim Kompas Jelajah Sepeda Bali-Komodo akhirnya sampai di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, Minggu (23/9) pukul 19.00 Wita. Kedatangan mereka langsung disambut oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan dan Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dulla di pelabuhan feri setempat.

Sesaat setelah turun dari kapal, Menteri Kehutanan Zulkifli langsung mendatangi dan menyalami tim jelajah sepeda. ”Bagaimana perjalanannya, capek ya? Hebat ya bisa menempuh perjalanan panjang,” kata Zulkifli kepada para peserta tim jelajah.

Meski terlihat lelah, anggota tim jelajah terlihat gembira ketika Zulkifli datang dan memberi selamat. Malam itu tim jelajah juga dijemput Pemimpin Redaksi Kompas Rikard Bagun dan Bupati Ngada Marianus Sae.

Setelah itu, tim jelajah pun melanjutkan perjalanan dari Labuan Bajo ke rumah dinas Bupati Manggarai Barat. Perjalanan sejauh 10 kilometer itu menjadi perjalanan terakhir dalam etape terakhir Kompas Jelajah Sepeda Bali-Komodo.

Di rumah dinas bupati, peserta disambut secara adat, manuk kapu. Pada acara itu diserahkan seekor ayam jantan dari tetua rumah sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang dianggap sangat istimewa.

Di hadapan wartawan, Menteri Kehutanan mengucapkan terima kasih kepada Kompas dan Kompas TV karena telah memperkenalkan keindahan dan potensi Bali hingga Komodo. Ia juga memberikan apresiasi tinggi kepada peserta jelajah yang telah menempuh perjalanan 620 kilometer menyeberangi selat di lima pulau.

”Saya berterima kasih kepada harian Kompas yang telah menggelar Jelajah Sepeda Bali-Komodo. Jelajah seperti ini selain untuk menikmati dan menghargai keindahan alam wilayah Bali, NTB, dan NTT, termasuk habitat komodo, dan Pink Beach yang tiada duanya di dunia. Peserta juga mengunjungi kawasan-kawasan konservasi. Ini akan menumbuhkan pengetahuan masyarakat akan pentingnya menjaga dan melestarikan kawasan konservasi alam,” kata Zulkifli.

57 kilometer

Kemarin, tim jelajah menyelesaikan etape VI dengan menempuh perjalanan sejauh 57 kilometer, yakni dari Bima-Sape-Labuan Bajo. Peserta bertolak dari Kota Bima pukul 06.15, dilepas Wali Kota Bima Qurais Abidin dan Kepala Desk Nusantara harian Kompas Tri Agung Kristanto.

Qurais mengharapkan tim Jelajah Sepeda dapat datang kembali ke Bima. Pemerintah Kota Bima dan segenap masyarakat akan menerima dengan tangan terbuka. ”Jelajah sepeda ini dapat terselenggara karena kerja sama yang baik dengan banyak pihak, juga adanya kebersamaan yang indah, yang akan memperkuat pula ikatan Bhinneka Tunggal Ika. Saya juga berharap Pemkot Bima dan harian Kompas dapat menjalin kerja sama lebih baik lagi sehingga nama Kota Bima dapat terangkat, dan mendorong investasi mengalir di Bima demi mengejar ketertinggalan dari daerah lain,” ujar Qurais.

Sebelum meninggalkan Bima, tim jelajah dilepas secara adat oleh masyarakat Bima dengan upacara adat Ampa Fare, di situs Uma Lengge, Desa Maria, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima. Ampa Fare adalah ritual memasukkan padi ke dalam lumbung, yang dilanjutkan dengan drama adat Padi Menangis.

Jelajah Sepeda Bali-Komodo akan berakhir Senin (24/9) ini, dengan menyelesaikan etape VII dan berwisata ke Pulau Komodo untuk menyaksikan reptilia purba komodo (Varanus komodoensis). Total jarak tempuh jelajah sepeda ini 620 kilometer dengan melintasi lima pulau, yaitu Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, dan Pulau Komodo, selama tujuh hari. (NIT/SEM/RUL/ANS/JAN)

Posted in: Uncategorized