Membangkitkan Antusiasme Publik dalam Berpolitik

Posted on September 24, 2012

0


Senin,24 September 2012
 PARTISIPASI PEMILIH
Di tengah semakin menurunnya tingkat partisipasi pemilih dalam berbagai ajang kontestasi politik di negeri ini, meningkatnya angka partisipasi pemilih yang menggunakan hak pilihnya di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta layak menjadi awalan bagi upaya membangkitkan antusiasme publik dalam berpolitik.Dapat dimaklumi jika warga semakin apatis dalam berbagai ajang kontestasi politik selama ini. Bagaimana tidak, berbagai produk pemilu yang semula menjadi harapan tidak juga mampu memenuhi kehendak rakyat. Justru yang terjadi pengingkaran, sejalan dengan maraknya kasus-kasus korupsi yang melibatkan kalangan legislatif dan eksekutif produk pemilu. Tidak heran, Pemilu 1999 hingga 2009 ataupun berbagai ajang pilkada menunjukkan kian rendahnya partisipasi pemilih.Pilkada DKI sebenarnya tidak luput dalam persoalan semacam itu. Semakin menurunnya partisipasi pemilih pada putaran kedua menjadi kecenderungan dalam pemilu. Namun, kali ini di DKI Jakarta justru ada peningkatan. Memang, dalam angka agregrat, tidak terlalu mencolok. Diperkirakan sekitar 2 persen, dari sebelumnya 63,6 persen pada putaran pertama menjadi 65,5 persen dari total jumlah pemilih yang tercatat pada daftar pemilih tetap (DPT). Demikian pula jika dibandingkan dengan Pilkada DKI 2007, peningkatan tersebut seolah tidak lagi signifikan mengingat saat itu tercatat partisipasi pemilihnya 65,4 persen.Akan tetapi, jika ditelusuri berdasarkan dinamika yang terjadi di setiap TPS, gejolak antusiasme publik lebih nyata tergambarkan. Dari 200 TPS yang dicermati, faktanya terdapat 178 TPS yang meningkat angka partisipasi pemilihnya. Tercatat hanya 16 TPS yang justru menurun, dan 6 TPS yang tetap jumlah pemilihnya dibanding putaran pertama lalu. Di TPS 54 Pegadungan, Kalideres, Jakarta Barat, misalnya, terdapat peningkatan hingga 31 persen pemilih. Pasangan Foke-Nara menikmati peningkatan ini dengan meraup tambahan 161 pemilih, sedangkan Jokowi-Ahok hanya 24 pemilih. Lain halnya di TPS 37 Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara, ada peningkatan hingga 46 persen. Di TPS tersebut, pasangan Jokowi-Ahok mendapat tambahan 158 suara, sedangkan Foke-Nara justru kehilangan 34 suara dari jumlah perolehannya di putaran pertama. Jika dikalkulasi seluruh TPS, pada putaran kedua ini tidak kurang tercatat 6,8 persen pemilih yang bertambah dari jumlah putaran sebelumnya.Kajian terhadap survei longitudinal prapemilu dan pascapemilu (exit poll) Kompas juga menjelaskan fenomena tersebut. Antusiasme pemilih meningkat. Pada level individu, sebelum ajang pilkada putaran kedua, masih terdapat sekitar 13 persen pemilih putaran pertama yang mengaku merasa belum yakin apakah akan menggunakan hak pilihnya pada putaran kedua. Akan tetapi, setelah putaran kedua berjalan, tinggal 3 persen yang menyatakan tetap tidak datang ke TPS.Jika ditelisik, mereka yang tidak datang pun disertai alasan terbesar yang tidak bersifat ideologis. Persoalan-persoalan teknis, antara lain ada keperluan khusus yang tidak dapat ditinggalkan, seperti bekerja dan keperluan keluarga menjadi alasan mayoritas.(Bestian Nainggolan/Litbang Kompas)
Posted in: Uncategorized