Mendulang Suara, Menuai Harapan

Posted on September 24, 2012

0


KAWASAN KUMUH

Empat kecamatan di Jakarta Barat yang menjadi salah satu penentu utama kemenangan dalam setiap Pemilihan Umum Kepala Daerah DKI didominasi kaum urban Jawa. Keempat kecamatan tersebut adalah Kecamatan Cengkareng, Kalideres, Kebon Jeruk, dan Tambora.

Sebagian besar warga bekerja di sektor informal, seperti pedagang kecil—bahan pokok, makanan, barang bekas, mainan anak-anak—pemulung, dan buruh lepas konfeksi.

Meski sebagian besar masih hidup di bawah garis kemiskinan, daya juang warga di sana kuat karena mendapat dukungan kerabat mereka di kampung. Permukiman kumuh kaum urban di Jakarta seolah menjadi denyut nadi desa.

Di Kampung Janis, Pekojan, Tambora, misalnya. Tujuh dari 12 RT di RW 007 di sana dilalap api, Sabtu (28/7), mengakibatkan 197 rumah hangus.

Meski demikian, satu setengah bulan setelah kebakaran hebat itu, tampak belasan rumah berukuran rata-rata 3 meter x 6 meter berlantai dua tumbuh kembali di sela reruntuhan bangunan.

Salah satu pemilik rumah adalah Tatang (58).

”Saya mendapat pinjaman untuk kembali membangun rumah dari saudara-saudara di kampung. Lima tukang dan kenek yang membangun pun adalah para keponakan yang datang dari kampung,” tutur Tatang saat ditemui di sela kesibukannya membangun rumah, beberapa hari lalu.

Selama bekerja, mereka hanya mendapat makan dan minum. Namun, mereka bangga bisa membantu Tatang dan keluarganya yang murah hati berbagi rezeki di kampung, terutama saat Lebaran tiba.

Tatang dan tetangganya yang lain, Nursidi (45), Amat (42), Fauzi (37), dan Sumartono (38), berharap gubernur baru DKI mau memberikan perhatian pada kawasan rawan kebakaran, seperti Tambora. Sebab, kebakaran membuat warga harus mulai lagi meniti usaha mereka dari bawah dengan belitan utang serta memberatkan perekonomian kerabat di kampung.

Lebih baik

Salah seorang warga Rumah Susun (Rusun) Angke, Tambora, Slamet Widodo yang juga Ketua RT 013 RW 011 menambahkan, secara bertahap kawasan kumuh padat penduduk seharusnya diubah menjadi lebih baik dengan pembangunan rusun. Hal ini akan membuat warga memiliki lebih banyak ruang untuk jalan lintasan, taman, dan tempat olahraga, juga tempat ibadah yang lebih luas.

Meski demikian, Slamet mengingatkan, sebaiknya Pemprov DKI tak hanya membangun, tetapi juga mengawasi rusun. Lemahnya pengawasan membuat lingkungan kembali kumuh.

”Itu mobil-mobil yang parkir di halaman rusun bukan mobil penghuni. Juga sebagian gerobak di sana,” ujar Slamet.

Slamet juga kesal melihat jalan lintasan menjadi sempit oleh lapak-lapak liar.

Sulastri (32), penghuni Rusun tipe 21 di Blok B Nomor 5, menyampaikan hal serupa. ”Kalau yang ngatur cuma orang sini, ya, ribut melulu,” ucapnya.

Ketua RW 007, Kampung Janis, Minggus Januari menambahkan, lebih baik DKI Jakarta dipimpin seorang gubernur yang berani bertangan besi, tetapi bersih dan mampu menyejahterakan warganya.

Masih segudang lagi harapan warga yang tinggal di kawasan kumuh, tetapi yang terpenting buat mereka, ”Pelayanan penanggulangan kebakaran serta pembangunan rusun.” Buat mereka, kedua hal ini bisa mengubah kawasan kumuh menjadi lebih stabil, produktif, tertata, dan manusiawi.

Jokowi-Ahok yang lebih banyak mendulang suara dari kawasan kumuh tentu tak boleh menutup mata terhadap harapan mereka.

Kantong pemenang

Data terakhir Badan Pusat Statistik (tahun 2010) menyebutkan, wilayah Jakarta Timur (Jaktim) menduduki peringkat pertama terbanyak penduduknya, 2.687.027 jiwa, diikuti Jakarta Barat 2.278.825 jiwa dan Jakarta Selatan dengan total penduduk 2.057.080 jiwa.

Di antara 44 kecamatan di DKI, Kecamatan Cengkareng, Jakbar, menjadi kawasan terbanyak penduduknya, 510.798 jiwa, diikuti Kecamatan Cakung, Jaktim, 503.174 jiwa, dan Kecamatan Kalideres, Jakbar, yang berpenduduk 394.214 jiwa.

Di Jakbar, empat kecamatan terbanyak penduduknya adalah Kecamatan Cengkareng 304.428 jiwa, Kalideres 252.337 jiwa, Kebon Jeruk 228.155 jiwa, dan Tambora 214.271 jiwa. Selisih antara jumlah penduduk dan pemilik suara tak berbeda jauh.

Pada putaran kedua Pilkada DKI lalu, Jokowi-Ahok mendulang suara terbanyak di Cengkareng, Kalideres, dan Tambora, sementara pasangan Fauzi- Nachrowi hanya unggul di Kebon Jeruk. Menurut Wakil Camat Cengkareng Didit, Jumat (21/9), Jokowi mendapat 123.472 suara (56,34 persen) dan Fauzi mendapat 995.679 suara (43,66 persen). ”Golput-nya 79.480 atau 26,41 persen. Suara tak sah 2.575 atau 6,94 persen,” tutur Camat Cengkareng Junaedi.

Di Kelurahan Kapuk, kelurahan berpenduduk terbanyak di Cengkareng, Jokowi merebut 40.371 suara atau 61 persen.

Di Kecamatan Tambora, kata Camat Isnawa Aji, Jokowi unggul setelah mendapat 73.278 suara (57,83 persen). Di Kecamatan Kalideres, Jokowi mendapat 89.058 suara (51,93 persen). Namun, di Kecamatan Kebon Jeruk, kata Camat Hendra Hidayat, Fauzi unggul setelah mendapat 76.450 suara (51,28 persen). (WINDORO ADI)

Advertisements
Posted in: Uncategorized