Potret Buram Pelayaran Nusantara

Posted on September 24, 2012

0


JELAJAH BALI-KOMODO

Pelabuhan Sape yang biasa tenang mendadak kisruh, Minggu (23/9). Para sopir truk mendatangi petugas perusahaan penyeberangan. Mereka protes karena sudah lima hari menunggu, tetapi truk mereka belum juga terangkut kapal ke Labuan Bajo.

Penyeberangan Sape-Labuan Bajo menjadi potret minimnya fasilitas pelayaran di wilayah timur Nusantara. Kapal reguler yang baru saja berangkat ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), hanya mampu memuat delapan truk, padahal ada sekitar 20 truk yang mengantre.

Kapal harian yang beroperasi di jalur Sape-Labuan Bajo hanya ada satu. Kapal tambahan datang dua hari sekali karena rute yang ditempuh harus melewati Pulau Sumba terlebih dulu. Mereka pun menuntut agar bisa masuk ke kapal yang sudah disewa tim Jelajah Sepeda Kompas Bali-Komodo. Padahal, tempat untuk truk sangat terbatas.

Sejauh perjalanan dari Jawa ke Flores (NTT), penyeberangan yang paling berat bagi pengguna jasa memang dari Sape menuju Labuan Bajo. Gerah, berdesakan, antre berhari-hari untuk naik kapal adalah hal biasa.

Waktu tempuh yang panjang tak dibarengi ketersediaan fasilitas. Di kapal reguler tak ada tempat duduk yang nyaman. Di kapal semuanya jadi mahal. Jika ingin sekadar merebahkan badan, penumpang harus sewa alas tidur busa dengan harga Rp 30.000. Makan siang dengan semangkuk mi instan bertarif Rp 15.000.

Untuk bisa naik kapal menuju Labuan Bajo dan sebaliknya, pengemudi truk Jawa-Flores harus tidur berhari-hari di tempat parkir pelabuhan untuk mengantre.

Seperti awal September lalu, belasan truk besar terpaksa menunggu jadwal malam untuk bisa menyeberang. ”Kapal reguler yang datang pagi adalah kapal dengan dek kendaraan yang pendek. Jadi, kami tak bisa masuk karena ketinggian truk kami lebih dari 3,6 meter. Terpaksalah kami menunggu kapal dengan dek yang lebih tinggi. Jadwalnya tidak setiap hari,” kata Hans Bout (45), pengemudi truk besar yang memuat ban dan perkakas bengkel dari Surabaya.

Pelabuhan Sape dan Labuan Bajo selama ini adalah penghubung utama Nusa Tenggara Barat (NTB) dan NTT. Pelabuhan itu adalah penyambung arus mobilisasi warga dan barang dari Flores ke Sumbawa.

Dari pelabuhan itu berbagai barang pabrikan dari Jawa, seperti ikan asin, sabun mandi, dan ban mobil, dikapalkan ke Flores. Hasil bumi dari Flores, seperti pisang dan kacang mete, pun dibawa ke Sumbawa, Lombok, Bali, dan Jawa. Barang-barang itu diangkut belasan truk ekspedisi yang melintas setiap hari.

Namun, dari belasan truk yang hendak menyeberang, hanya 6-9 unit yang bisa terangkut kapal karena harus berbagi ruang juga dengan mobil dan sepeda motor milik penumpang. Sisanya harus antre menanti kapal selanjutnya.

Pada saat tertentu, seperti menjelang Lebaran dan Natal, antrean akan bertambah panjang. Pada Lebaran, Agustus lalu, Egidius (45), sopir truk dari Surabaya, terpaksa tinggal di Pelabuhan Sape selama sebulan lebih untuk menanti giliran menyeberang. Saat itu, ia membawa truk berisi paket kiriman ke Flores.

”Saya datang pada awal puasa, tetapi baru bisa menyeberang seusai shalat Idul Fitri. Rasanya lega, tetapi pelanggan telanjur marah-marah karena paketnya baru sampai sesudah Lebaran” kata Egidius.

Untuk bisa menyeberang lebih dulu, pengemudi truk terpaksa membeli nomor antrean. Jual-beli nomor antrean sudah biasa di kalangan para pengemudi. Pengemudi yang datang lebih dulu bisa menjual nomor dengan harga Rp 2 juta-Rp 2,5 juta kepada pengemudi lain yang datang lebih lambat, tetapi butuh segera menyeberang. Biasanya para pembeli nomor itu adalah para pengemudi yang membawa telur, pisang, atau bahan lain yang cepat rusak. Jika sudah membawa bahan mudah rusak itu, Yan Jentan (50), pengemudi asal Manggarai, terpaksa jalan tanpa istirahat agar bisa cepat naik kapal dan bisa sampai di Bali secepatnya.

Banyaknya biaya tambahan itu membuat biaya angkut barang dari NTB dan NTT juga turut membengkak. Efeknya harga barang-barang ketika sampai di tempat tujuan akan berharga mahal. Pisang, misalnya, ketika sampai di Bali bisa berharga Rp 1.500-Rp 2.000 sepotong, padahal di Flores, sesisir pisang hanya Rp 5.000-Rp 10.000. Ikan teri asin pun melonjak dari Rp 23.000 menjadi Rp 40.000 per kilogram karena tingginya biaya menyeberang dari Sumbawa ke Flores. Apalagi jika kapal tak beroperasi karena cuaca buruk, barang jadi langka.

Gusti Putu Wartana (54), sopir truk ekspedisi asal Tabanan, Bali, mendesak pemerintah mengoperasikan feri dengan kapasitas lebih besar agar antrean berkurang. ”Antrean kendaraan ini sudah terjadi bertahun-tahun, tetapi tidak ada upaya untuk mencari solusi. Mungkin karena jauh dari Jakarta sehingga tak mendapat perhatian pemerintah pusat,” ujar Wartana.

Penambahan kapal

Manajer PT Dharma Lautan Utama Cabang Sape Andri Gunawan mengatakan, pihaknya pernah menambah penyeberangan hingga dua kali dalam sehari (pagi-sore). Namun, penyeberangan sore cenderung sepi kendaraan. ”Kami dengan pihak ASDP (angkutan sungai, danau, dan penyeberangan) kemudian sepakat, jika terjadi antrean panjang di lintasan ini, kami baru mengoperasikan feri dua kali sehari. Jika kondisi normal, hanya sekali sehari (pagi hari),” katanya.

Minimnya daya angkut dan jumlah kapal diakui oleh PT ASDP Sape. Namun, menurut Slamet dari ASDP Cabang Sape, penambahan kapal belum memungkinkan karena tingkat muatannya rendah. Hanya pada saat tertentu saja penumpang membanjir.

Persoalan antrean itu sebenarnya sudah berjalan bertahun-tahun, tetapi hampir tidak pernah ada pembenahan, baik frekuensi pelayaran maupun jumlah dermaga. Sudah saatnya ASDP mengizinkan perusahaan swasta memasukkan kapal lebih besar untuk melayani penyeberangan sehingga persoalan antrean bisa terurai. Apalagi, ASDP tidak pernah menambah kapal baru. Peran ASDP sebagai regulator dan operator juga harus dipisahkan agar pengaturan frekuensi pelayaran lebih adil.

Sebetulnya frekuensi kapal dan kendaraan ibarat gula dan semut. Semakin tinggi pelayaran, kecenderungan kendaraan memanfaatkan jasa penyeberangan akan kian tinggi pula. Sebagai negara kepulauan, pembenahan infrastruktur seharusnya menjadi prioritas.

(NIT/SEM/JAN/RUL)

Posted in: Uncategorized