Konsistensi Kebijakan

Posted on September 25, 2012

0


 

Selasa,25 September 2012
STABILISASI KEDELAI
Tak berapa lama setelah Pemerintah Indonesia memutuskan untuk memberi tugas tambahan kepada Perum Bulog dalam hal stabilisasi harga kedelai, sinyal keberatan muncul dari Pemerintah Amerika Serikat.

Kedutaan Besar AS di Indonesia, 13 September lalu, menggelar diskusi bertema ”Ketahanan Pangan dan Pengaruh Harga Komoditas”. Sebagai panelis Kepala Ekonom USAID James Whitaker, Guru Besar Fakultas Ekonomi UI Anwar Nasution, serta pakar ekonomi bidang pertanian dan perdagangan IPB sekaligus ekonom USAID, Wayan Susila. Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso datang sebagai pendengar.

Kendati diskusi tidak mencerminkan sikap resmi Pemerintah AS, hal itu cukup memberi sinyal kegelisahan AS atas kebijakan Pemerintah Indonesia ini.

Para panelis tidak sepakat penugasan Bulog karena membebani subsidi APBN. Peta perdagangan kedelai dunia berubah. Bulog tidak punya pengalaman teknis membeli kedelai dengan pola komersial. Bantuan kredit lunak AS tidak ada lagi. KUD yang dulu menjadi sarana pengadaan Bulog tak ada lagi.

Panelis juga menilai respons pemerintah menurunkan bea masuk tepat. Monopoli Bulog hanya akan jadi pintu masuk KKN. Pemberian kuota impor juga bukan solusi baik. Hambatan perdagangan ditentang.

Sinyal keberatan dari AS terkait kebijakan tata niaga kedelai di Indonesia ini bisa dipahami. AS merupakan eksportir utama kedelai dunia.

Ada dua tujuan masuknya Bulog dalam stabilisasi kedelai, yaitu untuk menjaga harga dan mendorong produksi.

Kalau produksi kedelai nasional naik, tentu AS akan kehilangan sebagian pendapatan dari ekspor kedelai. Ada yang lebih mengkhawatirkan lagi.

Kebijakan baru kedelai ini bukan tidak mungkin menginspirasi negara-negara lain. Kalau ini terjadi, tentunya merupakan langkah mundur bagi liberalisasi pangan.

Kedelai memang bukan komoditas asli Indonesia. Meski begitu, alasan Indonesia tidak akan mampu mengembangkan kedelai tidak cukup masuk akal. Sawit juga bukan tanaman asli Indonesia. Begitu pula padi.

Memang benar, kedelai bukan komoditas strategis layaknya beras yang kalau terjadi gejolak bisa mengancam eksistensi pemerintah. Namun, perajin tahu-tempe merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat kecil. Pemasok protein utama, terutama bagi warga menengah-bawah di Indonesia.

Melambungnya harga tempe-tahu sedikit banyak berpengaruh pada asupan protein warga. Akhirnya akan berdampak pada tingkat kecerdasan orang Indonesia. Orang Indonesia yang cerdas sangat diperlukan untuk membangun bangsa di tengah ketatnya persaingan bebas. (HERMAS E PRABOWO)

Posted in: Uncategorized