Keinginan Perubahan dari Kawasan Timur Indonesia

Posted on September 27, 2012

0


Kamis,27 September 2012
FORUM KTI VI

Kami tak mau bersalah pada anak-anak cucu

Kami tak mau bersalah pada anak-anak cucuHarus ada perubahan…. Harus ada perubahan…Harus ada perubahan…. Perubahan…..Penggalan syair dari lagu ”Suara Kemiskinan” karya Franky Sahilatua itu menggelora, berulang-ulang, di Hotel Swiss Belhotel Palu, Sulawesi Tengah, tempat diselenggarakannya Festival Forum Kawasan Timur Indonesia VI. Syair itu tak hanya dinyanyikan sejumlah penyanyi di atas panggung, tetapi juga oleh ratusan peserta festival secara spontan.”Harus ada perubahan…” seperti menjadi kesimpulan yang menutup kegiatan tukar inspirasi dan membangun jaringan dari pelaku pembangunan di 12 provinsi kawasan Timur Indonesia (KTI), yang digelar sejak Senin (24/9) selama dua hari itu. Seruan ”Harus ada perubahan” kembali bergemuruh, juga disuarakan warga Kota Palu, dalam Pesta Rakyat di Pantai Talise, Teluk Palu, Selasa malam. Pesta Rakyat itu digelar sebagai bagian dari penutupan Festival Forum KTI VI.Sepanjang festival digelar, tidak seorang pun inspirator dan motivator yang berbicara secara khusus tentang perubahan. Namun, dalam kegiatan rutin yang digelar Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (Bakti) itu hampir semua orang, yang mencerminkan wajah Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan berbicara tentang kemandirian untuk mengubah kawasan itu.Tidak lagi berbicara soal menuntut pemerintah pusat saja, atau bahkan merdeka dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka yang selama ini berkarya di KTI seperti menyadari bahwa perkembangan daerah itu harus berangkat dari diri mereka sendiri. Kehendak ini tergambar dalam tema yang diangkat dalam festival karena bursa inspirasi dipadukan dengan pesta rakyat, Forum KTI VI, yakni Merajut Inspirasi: Persembahan dari Timur untuk Indonesia.”Kini kami tak hanya menuntut, atau saling menjegal, tetapi satu suara. Dalam perencanaan pembangunan nasional, suara KTI ber-12 ini diperhatikan,” kata Pembina Yayasan Bakti Marwah Daud Ibrahim.Anggota DPR Fary Djeny Francis, yang juga Pembina Yayasan Bakti, saat menutup Festival Forum KTI VI, meminta pelaku pembangunan di kawasan KTI untuk percaya diri karena sebenarnya wilayah ini sangat kaya. KTI mempunyai lahan yang luas, gunung, laut, dengan hasil yang melimpah, serta berbagai kekayaan alam lain. Hal itu mirip dengan lirik Suara Kemiskinan, yaitu, ”Kami tidur di atas emas, berenang di atas minyak.”Ketua Kelompok Kerja Forum KTI Winarni Monoarfa menambahkan, sejak diinisiasi tahun 2004, dengan menggelar Forum KTI I di Makassar (Sulsel), beragam praktik cerdas dari warga kawasan Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua ditampilkan, serta menginspirasi warga lain untuk berubah, menjadi lebih baik. Lebih sejahtera. Bahkan, praktik cerdas itu juga menginspirasi warga di kawasan barat Indonesia. Warga KTI tak lagi hanya mengeluh dengan ketertinggalannya.Pertumbuhan dan kemiskinanKetika membuka Festival Forum KTI VI, Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola memaparkan, data pertumbuhan ekonomi di 12 provinsi kawasan itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu, yaitu 7,70 persen (tahun 2010) dan 6,76 persen (2011), tidak bisa segera mengentaskan warga KTI dari kemiskinan.Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi juga menunjukkan angka kematian ibu hamil di KT masih tinggi. Tantangan ini dijawab, misalnya dengan praktik cerdas membangun rumah tunggu bagi ibu hamil di Kabupaten Maluku Tenggara Barat (Maluku) dan SMS Sang Penyelamat di Kabupaten Flores Timur, NTT. Praktik cerdas ini bisa dikembangkan pula di daerah lain.Untuk meretas kemiskinan, Geng Motor Imut di NTT membagi pengalamannya memberdayakan warga dengan segenap potensi yang ada. Saidah, warga Buton, Sultra, pun membebaskan terumbu karang di daerahnya dari bom ikan. Ia tahu jika terumbu karang rusak, nelayan akan kehilangan penghasilan. Raden Mohamad Rais mendorong lahirnya aturan adat yang melindungi perempuan dan anak-anak di Mambalan, Kabupaten Lombok Barat, NTB.Dengan prakarsa dan praktik sendiri, memanfaatkan potensi yang melimpah, dan ditunjukkan dengan praktik cerdas dari warga lain sebenarnya warga KTI dapat menyejahterakan dirinya sendiri. Hanya perubahan yang dibutuhkan. (tra)

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized