KESEJAHTERAAN DAERAH Sulsel Cukup Kokoh sebagai Lumbung Beras

Posted on October 1, 2012

0


Senin,01 Oktober 2012

 

KOMPAS/NASRULLAH NARA

Petani di Cikuale, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, menanam padi untuk paruh kedua tahun 2012, Rabu (22/8). Musim kemarau tidak menjadi penghalang bagi petani setempat untuk terus menanam padi karena tersedianya aliran air dari sistem irigasi yang bersumber dari Bendung Benteng.

ASWIN RIZAL HARAHAP dan NASRULLAH NARA

Kemarau membuat lahan persawahan di sebagian wilayah Tanah Air kekeringan, tapi tidak di Sulawesi Selatan. Malah, Anas Tika (43), petani di Kabupaten Pinrang, baru saja membeli mobil Avanza dari hasil panen Agustus lalu. Panenan padi Anas menjadi bagian dari beras yang diantarpulaukan dari Pelabuhan Makassar ke sejumlah provinsi lain.

Sekali panen Anas mampu mengantongi pembelian gabah Rp 24 juta dengan produksi rata-rata tujuh ton per hektar. Harga gabah Rp 3.400 per kilogram. Setelah dikurangi ongkos kerja dan sarana produksi (benih, pupuk, dan obat-obatan) sebesar Rp 5 juta, penghasilan bersih yang dia dapat Rp 18 juta.

Bila dalam setahun panen 2-3 kali (termasuk palawija), Anas mampu meraup penghasilan bersih Rp 60 juta-Rp 70 juta per tahun per hektar. Sekarang Anas menggarap tiga hektar sawah, satu hektar miliknya sendiri dan dua hektar lainnya milik kerabatnya.

”Saya berani membeli mobil ketika petugas diler mendatangi saya sehabis panen,” ujar ayah dari dua anak ini.

Gambaran petani yang miskin tidak ditemukan pada diri Anas dan para petani lain di Pinrang dan sentra beras lainnya seperti Sidenreng Rappang. Ditopang keorganisasian melalui kelompok tani, para petani di daerah ini amat berdaya melawan praktik tengkulak dan rentenir. Bisa ditelusuri para istri petani mampu naik haji dan rata-rata bisa menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi.

Anugerah iklim

Gairah di sektor pertanian Sulawesi Selatan tidak lepas dari anugerah kondisi iklim. Provinsi seluas 62.482 kilometer persegi itu dikaruniai hujan sepanjang tahun. Musim hujan berlangsung secara silih berganti di tiga wilayah, yakni wilayah barat, timur, dan peralihan.

Musim hujan di sektor barat yang meliputi Kabupaten Jeneponto, Takalar, Kepulauan Selayar, Maros, Pangkajene Kepulauan, Barru, Pinrang, dan Kota Parepare terjadi pada periode Oktober-Maret. Puncak curah hujan di wilayah itu terjadi Desember-Januari dengan rataan tertinggi mencapai 700 milimeter.

Sementara musim hujan di sektor timur yang terdiri dari Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai, Sidenreng Rappang, dan Pinrang terjadi pada April-September. Curah hujan tertinggi di wilayah itu terjadi pada April-Mei dengan rataan maksimal 300 mm.

Wilayah bagian utara Sulsel, yakni Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, Enrekang, Tana Toraja, dan Toraja Utara, masuk dalam sektor peralihan. Daerah ini dikenal beriklim basah karena rata-rata curah hujan per bulan tak pernah di bawah 80 milimeter. Puncak curah hujan terjadi Mei-Juni yang mencapai 280 mm.

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sulsel Lutfi Halide mengemukakan, kondisi iklim tersebut membuat petani bisa menanam padi dan palawija sepanjang tahun. ”Jika pada bulan November-Januari sektor barat memulai musim tanam rendengan, maka sektor timur memasuki musim tanam gadu. Begitu pula sebaliknya pada periode tanam kedua April-Juni,” ungkapnya.

Tingginya intensitas hujan menjadi berkah bagi lahan sawah tadah hujan yang luasnya mencapai 289.731 hektar dari total areal tanam tahun ini 958.203 hektar. Sementara areal tanam seluas hampir 670.000 hektar telah ditopang sarana irigasi teknis, irigasi sederhana, dan irigasi desa yang dinding salurannya masih berupa tanah.

Berkah alam yang didukung sarana irigasi memadai itu menunjang program surplus 2 juta ton beras tahun lalu. Berdasarkan data dinas pertanian, produksi padi Sulsel tahun 2011 mencapai 4,5 juta ton gabah kering giling. Hasil itu setara dengan 2,932 juta ton beras. Setelah dikurangi kebutuhan 8,2 juta penduduk Sulsel sebesar 895.074 ton setahun, surplus beras tahun lalu mencapai 2.037.537 ton.

Menurut Lutfi, realisasi surplus 2 juta ton beras itu dua tahun lebih cepat dari yang ditargetkan. Hal itu tidak lepas dari berbagai bantuan benih dan pupuk, sentuhan teknologi, dan mengedepankan kearifan lokal.

Bantuan benih itu mulai dari cadangan benih nasional, benih hibrida dan nonhibrida, hingga benih untuk lahan kering. Tahun lalu, bantuan berbagai jenis unggul itu diberikan untuk sawah seluas 393.700 hektar.

Sementara sentuhan teknologi dilakukan pada metode penanaman padi. Pola tanam tandur jajar (menanam padi dengan ukuran 25 x 25 cm) diganti dengan pola tandur jajar legowo 21 yang menanam padi secara berselang-seling. Pola baru ini mampu meningkatkan populasi padi dari 160.000 rumpun per hektar jadi 210.000 rumpun.

Yang tak kalah penting, petani di sentra beras tetap mengedepankan musyawarah ”tudang sipulung” setiap memasuki masa tanam. Tudang sipulung adalah sebuah tradisi turun-temurun pada masyarakat Bugis-Makassar yang dihadiri tokoh masyarakat, pemerintah, dan akademisi untuk menentukan pedoman menanam bagi petani. Pada kesempatan itu tokoh adat dimintai pandangannya untuk menyinkronkan ramalan cuaca bersama perhitungan dari instansi terkait.

Selain berasal dari pemerintah pusat, bantuan operasional pertanian itu dialokasikan dalam APBD Sulsel. Sejak tahun 2008, anggaran pertanian terus meningkat seiring pertumbuhan produksi padi dan palawija Sulsel. Tahun ini, anggaran yang dialokasikan untuk pertanian mencapai Rp 187,14 miliar. Jumlah itu meningkat 60 persen dibandingkan anggaran pertanian tahun lalu.

Tingginya komitmen pemerintah itu tak lepas dari potensi pertanian yang dimiliki Sulsel. Menurut Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Sulawesi Selatan Rahman Daeng Tayang, 70 persen dari 5,6 juta jiwa penduduk usia produktif bekerja sebagai petani.

Dinas Pertanian Sulsel mencatat pertumbuhan produksi padi periode 2006-2009 sebesar 11,07 persen, yakni dari 3.306.507 ton (2006) menjadi 4.324.193 ton (2009). Program penambahan luas areal tanam dan penggunaan benih unggul membuat produksi 2010-2011 meningkat hingga 15 persen.

Mengekspor beras

Itu sebabnya sejak tahun 2009 Sulsel memperluas jangkauan pengiriman beras ke daerah lain. Tak hanya 12 provinsi yang ada di wilayah Indonesia timur, beras Sulsel turut menopang kebutuhan sejumlah daerah di Kalimantan dan Sumatera. Tahun lalu, ketika sebagian besar daerah di Pulau Jawa mengalami gagal panen, Sulsel mengirim 20 persen dari 1,8 juta ton surplus beras ke Jawa Timur dan DKI Jakarta.

Tahun 2011 pula menjadi momentum Sulsel memulai ekspor beras kelas premium, seperti kristal Celebes I, kepala super, dan kepala spesial. Kuota 50.000 ton dari Kementerian Perdagangan dimanfaatkan untuk mengekspor beras ke Ghana, Brunei, Filipina, dan Korea Selatan.

Sementara ekspor beras ke Malaysia dan Singapura terganjal kesepakatan antarpemerintah kedua negara tetangga itu dengan Thailand. ”Mereka telah mengikat kontrak lebih dulu dengan Thailand sehingga kami tak bisa mengekspor beras begitu saja,” ujar Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Sulsel Muhammad Aris.

Tahun ini Sulsel kembali mendapat jatah ekspor 50.000 ton. Selain masih terikat kontrak dengan empat negara di atas, Sulsel tengah menjajaki peluang ekspor ke Timor Leste dan Papua Niugini. Harga jual beras ekspor berkisar Rp 9.500-Rp 10.500 per kilogram.

Menurut Aris, pengiriman beras antarpulau dan ekspor itu memberikan pendapatan yang signifikan bagi negara. Dengan modal biaya operasional Rp 387 miliar dari APBD dan APBN tahun lalu, penjualan beras Sulsel menghasilkan Rp 17 triliun.

Pemerintah pusat mematok Sulsel agar dapat berkontribusi terhadap program surplus beras 10 juta ton pada 2014.

 

 

 

Posted in: Uncategorized