ANTIDISKRIMINASI – Haruskah Minah Terpancung Terjadi Lagi?

Posted on November 5, 2012

0


Senin,05 November 2012

“Mas, izinkan aku jadi TKI ya…. Aisyah butuh sekolah. Boleh ya….” Inilah awal dari kisah nyata perjalanan Aminah alias Minah, seorang tenaga kerja Indonesia, beberapa tahun lalu yang berharap rezeki di Arab Saudi. Tanpa berbekal keterampilan, hanya semangat mengais rezeki, Minah berangkat menjadi pembantu rumah tangga.

Peristiwa menyedihkan derita TKI itu bisa hadir kembali menimpa kakak beradik, Ferry dan Dhary Frully. Bukan di Arab Saudi, tetapi justru di negara terdekat, Malaysia. Keduanya dituduh membunuh pencuri yang masuk ke toko milik tuannya. Kalau Pemerintah Indonesia gagal memenangkan perkaranya di pengadilan, ancaman hukum gantung hingga mati bakal jadi kenyataan. Haruskah ”Minah Terpancung” menjadi episode baru ”Kakak Beradik Tergantung”?

Perjalanan Minah yang digambarkan secara apik dalam film karya Denny JA dan Hanung Bramantyo itu menjadi rangkaian kampanye antidiskriminasi masyarakat sipil bekerja sama dengan Yayasan Denny JA menyambut peringatan Sumpah Pemuda (28 Oktober 2012). Usia muda dan produktif di tengah deraian kesusahan hidup di pedesaan membuat orangtua Minah rela menggadaikan sepetak sawahnya senilai Rp 10 juta.

Bergegas Minah mengurus keberangkatannya menjadi TKI di perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI). Dalam waktu singkat, uangnya Rp 4 juta terkuras habis untuk persiapan alakadarnya, mulai pelatihan, cek kesehatan, asuransi, hingga jasa PJTKI. Berangkatlah Minah mengadu nasib di negeri orang.

Itulah awal dari segala malapetaka. Kultur masyarakat Indonesia yang ramah membuat senyum Minah khas Indonesia pun disalahartikan oleh tuan majikan. Sampai suatu saat, setelah delapan bulan bekerja tanpa kepastian menerima gaji, Minah diperkosa. Berkali-kali.

Maksud hati Minah menceritakan perilaku buruk tuannya, tetapi justru nyonya majikannya memaki-maki, memukuli, bahkan mengunci di dalam kamar tanpa makanan. Minah dituduh menggoda tuannya. Minah sempat berpikir untuk bunuh diri. Sampai suatu saat, percobaan perkosaan terjadi lagi. Minah membela diri. Gunting terhujam ke perut tuannya.

Tewasnya sang tuan mengantar Minah ke balik jeruji besi. Tanpa pembelaan yang kuat, Minah dijatuhi hukuman pancung. Dalam doanya, Minah pun menuliskan peristiwa menyakitkan itu. ”Aku ikhlas mati asal punya arti. Aku memilih mati demi kehormatan oleh hukum dunia yang disebut pembunuhan,” ujar Minah. Minah pun dipancung.

Koordinator Divisi Kebijakan Migrant Care Harsono Nur Harsono mengatakan, ”Ini sebuah kegagalan pemerintah menciptakan lapangan kerja. Ekonomi pedesaan sulit. Mereka terpinggirkan. Padahal, minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya sangat tinggi.”

Ketika harus memulai diskusi, Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dita Indah Sari yang dahulu lantang mengkritik pemerintah justru mengatakan, ”Kebanyakan ekspose yang ditampilkan di masyarakat tidak berimbang. Banyak kok TKI yang berhasil.”

Dita menyebutkan, masalah-masalah yang membuat masyarakat pedesaan memilih menjadi TKI adalah aspek pendidikan yang rendah. Pergaulan terbatas lalu pergi ke luar negeri naik pesawat ke negara yang kulturnya berbeda menjadi sasaran empuk tindak kejahatan.

Masalah lain adalah pola pikir TKI yang hanya menjadi komoditas untuk mengeruk keuntungan. Oknum-oknum nakal membuat fungsi perlindungan TKI menjadi sangat minimal. Koordinasi peran pemerintah daerah juga perlu diperkuat, tetapi ironisnya kepala desa juga menjadi calo penyaluran TKI.

”Upaya terakhir adalah diplomasi. Pertanyaan mendasarnya adalah seberapa kuat diplomasi pemerintah kita? Kasus kakak beradik di Malaysia, pemerintah akan all out membantu. Namun, bila kegagalan terjadi, semua kelak berpulang pada diplomasi politik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,” ujar Dita. (Stefanus Osa)

Tagged:
Posted in: BURUH