Eropa Membutuhkan Peran Asia agar Keluar dari Krisis : Asia Perlu Penjelasan Eropa

Posted on November 5, 2012

0


Kompas – Senin,05 November 2012

AFP/HOANG DINH NAM

Tentara menjaga jalan menuju Bandara Internasional Wattay, Vientiane, Laos, saat delegasi dari 49 negara Asia dan Eropa berdatangan untuk mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Eropa (ASEM) ke-9, Minggu (4/11). Dalam pertemuan itu, para pemimpin negara-negara Eropa yang terjerat krisis utang membujuk kekuatan ekonomi Asia untuk membantu meringankan krisis di zona euro.

Vientiane, Minggu – Pertemuan puncak Asia-Eropa diprediksi akan didominasi isu bagaimana Eropa keluar dari krisis utang. Asia berharap pemimpin Eropa bisa meyakinkan mitra Asia bahwa solusi terhadap krisis utang di zona euro benar-benar dijalankan.

Sebanyak 49 negara hadir pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Eropa (ASEM) di Vientiane, Laos, selama dua hari, dimulai Senin (5/11). Presiden Perancis Francois Hollande, Perdana Menteri Italia Mario Monti, Presiden Komisi Uni Eropa Jose Manuel Barroso, serta Presiden Uni Eropa Herman Van Rompuy turut hadir, juga Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Presiden didampingi Ny Ani Yudhoyono serta rombongan tiba di Bandara Wattay, Minggu (4/11), seperti dilaporkan wartawan Kompas, J Osdar dan Eny Prihtiyani, dari Vientiane. Yudhoyono disambut Presiden Laos Choummaly Sayasone dengan upacara militer di halaman Istana Ho Kham, dilanjutkan dengan pembicaraan bilateral kedua negara.

Tak ada pemeriksaan ketat bagi rombongan saat masuk istana. Hampir tidak ada pemeriksaan menggunakan alat pemindai. Dalam kunjungan ini, Presiden didampingi antara lain Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Menteri Perindustrian MS Hidayat, Sekretaris Kabinet Dipo Alam, Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh.

Atasi krisis

Pada KTT ini, pemimpin Asia menginginkan penjelasan pemimpin Eropa tentang bagaimana mereka mengatasi krisis di Yunani, Spanyol, Italia, Irlandia dan zona euro pada umumnya. Sejak terpukul krisis utang tahun 2008, perekonomian zona euro terkontraksi dan turut menarik ke bawah laju pertumbuhan ekonomi global.

Ini sehubungan dengan makin eratnya hubungan ekonomi Asia dan Eropa, terutama dalam 10 tahun terakhir. Pada tahun 2012 ekspor Uni Eropa ke Asia mencapai 30 persen dari total ekspor, naik dari 22 persen pada tahun 2000. Pangsa pasar impor Uni Eropa dari Asia naik dari 36 persen pada tahun 2000 menjadi 44 persen pada tahun 2012.

”Krisis zona euro memperlihatkan betapa kedua pihak merasa saling ketergantungan secara ekonomi. Eropa butuh peran Asia, dan Asia merasakan kerawanan krisis Eropa,” kata Shada Islam, Kepala Kebijakan Friends of Europe yang bermarkas di Brussels, Belgia.

Eropa diprediksi akan menjawab keinginan Asia itu. Sumber dari kalangan diplomat ASEAN kepada kantor berita Agence France-Presse mengatakan, Eropa semakin sadar pentingnya peran Asia sebagai mesin pertumbuhan ekonomi global.

”Eropa akan memanfaatkan kesempatan ini untuk meyakinkan Asia bahwa meski belum ada cara cepat menangani krisis, zona euro tidak akan retak,” kata sumber itu.

KTT ASEM diadakan tiap dua tahun sejak tahun 1996 dan jadi ajang peningkatan hubungan ekonomi Asia dan Eropa. Menteri Tenaga Kerja Spanyol Michael Sapin mengatakan, dunia memang prihatin saat Eropa dalam masalah. ”Kami harus menunjukkan kepada dunia bahwa Eropa tidak akan mundur, tetapi terus maju,” katanya.

Eropa berharap, terutama kepada China, agar bersedia menggunakan sebagian dari tiga triliun dollar AS cadangan devisa mereka untuk diinvestasikan di zona euro, yang terlilit utang dan membutuhkan sumber utang baru. Pasar sudah tidak percaya pada zona euro seperti sedia kala. Namun, China sudah berkali-kali meminta ketegasan dari Eropa dan menawarkan bantuan, dengan syarat Eropa harus serius mengatasi krisis.

Kantor berita China, Xinhua, memberitakan bahwa China ingin kejelasan dari KTT soal komitmen Eropa. ”Dari sisi China, jelas ada keinginan agar KTT ini berlangsung sukses,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hong Leo di Beijing.

Xinhua menegaskan bahwa Perdana Menteri China Wen Jiabao menginginkan jawaban dan gambaran jelas dari Eropa soal penanganan krisis. Hal ini juga memperlihatkan kekhawatiran Asia akan potensi retaknya zona euro dan bubarnya penggunaan mata uang tunggal, euro.

Pada hari Minggu di Berlin, Kanselir Jerman Angela Merkel menekankan kembali bahwa zona euro harus serius tentang cara penyelamatan krisis ekonomi. Menurut Merkel, dunia kini sedang menunggu komitmen penuh Eropa untuk menjalankan resep ekonomi sehingga tertarik kembali melakukan investasi di zona euro.

(REUTERS/AP/AFP/MON)