Pasca-Penangkapan Teroris di Poso Konflik Warga Dikhawatirkan Terulang

Posted on November 5, 2012

0


Koran Tempo – SENIN, 05 NOVEMBER 2012

JAKARTA – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) khawatir konflik terbuka antarwarga di Poso kembali berkobar setelah penangkapan teroris di sana. “Kekerasan berawal dari aksi teroris. Kalau polisi terus salah kelola, bisa berimbas ke konflik antarwarga,” kata Wakil Koordinator Kontras Syamsul Nur Alam di kantornya kemarin.

Peningkatan aksi teror dan kekerasan di Poso, Sulawesi Tengah, Syamsul melanjutkan, di antaranya terjadi akibat salah kelola oleh kepolisian dan pemerintah daerah. Menurut dia, polisi dan pemerintah daerah tidak mengedepankan dialog dan mempertimbangkan kondisi psikologis warga. Padahal, kata Syamsul, wilayah yang menjadi target operasi polisi saat ini merupakan wilayah yang dulunya mengalami konflik. “Proses pemulihan warga belum berjalan sempurna,” kata dia.

Pertikaian antarwarga dengan motif suku, agama, ras, dan antargolongan pernah terjadi di Poso pada 1998. Perjanjian Malino, yang ditandatangani pada 20 Desember 2001, kemudian dibuat untuk mengakhiri konflik antara kelompok muslim dan Kristen di sana.

Deputi Bidang Koordinasi Komunikasi, Informasi, dan Aparatur Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Marsekal Muda Agus Ruchyan Barnas, mengakui rumitnya konflik di Poso. Soalnya, dia mengatakan bahwa operasi kepolisian di satu sisi memang ditolak oleh masyarakat, namun di sisi lain polisi memang memiliki bukti untuk mengejar target-target mereka. Agus menegaskan, permasalahan Poso tak bisa disederhanakan dan tak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Karena itu, kata dia, “Warga perlu bersabar karena ini masih proses.”

Pada Sabtu lalu keadaan Poso sempat mencekam. Ratusan warga menutup Jalan trans Sulawesi dengan balok kayu dan membakar ban bekas. Kemarahan warga dipicu penyergapan oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror pada Sabtu pagi di Lorong Merpati, Jalan Pulau Sabang, Kelurahan Kayamanya, Kota Poso. Satu terduga teroris, Abdul Khalid Tumbigo, tewas; dan seorang lagi, M. Yasin, ditangkap. Warga marah karena Khalid dan Yasin dianggap sebagai tokoh masyarakat setempat.

Sumber Tempo mengatakan, Yasin alias Sutomo pernah divonis 5 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Palu, Sulawesi Tenggara, dalam kasus kerusuhan Poso pada 2007. Yasin, kata sumber ini, pernah tinggal lama di Semarang. “Yasin masuk Poso sejak konflik Poso pecah pada 1999,” kata dia. Umur Yasin saat ini sekitar 40 tahun. Baru pada 2009 Yasin bebas dari penjara.

Polisi membenarkan informasi itu. “Dia termasuk salah satu tersangka yang ditangkap ketika ada penangkapan besar-besaran pada 2007 lalu,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar saat dihubungi kemarin. Yasin, kata Boy, diduga ikut merencanakan rangkaian aksi teror serta mengetahui lokasi persembunyian Santoso, teroris yang jadi buron utama polisi. Boy mengatakan, Yasin memang dikenal sebagai tokoh masyarakat di Poso. ARYANI | RIZKI | SUBKHAN | ROFIUDDIN | AMAR

Posted in: Uncategorized