Pejabat Diminta Melayani China Maju secara Ekonomi, tetapi Muncul Kerawanan Sosial

Posted on November 5, 2012

0


Kompas – Senin, 05 November 2012

Beijing, Minggu – Para pejabat senior Partai Komunis menekankan bahwa para pemimpin harus memiliki devosi tinggi untuk bekerja dan melayani. Para pemimpin tak boleh menuntut hak istimewa dan harus dekat dengan warga. Para pemimpin itu tidak berada di atas hukum.

Demikian pesan dari beberapa pejabat Partai Komunis China menjelang Kongres Nasional ke-18 Partai Komunis China, yang berlangsung pada 8 November mendatang. Pesan itu diberitakan harian China Daily, Minggu (4/11). Kongres ini akan resmi menunjuk generasi kelima pemimpin China untuk 10 tahun mendatang, menggantikan generasi Presiden China saat ini, Hu Jintao.

”Jabatan yang kita miliki merupakan tanggung jawab, bukan untuk sok kuasa,” kata Yu Zhengsheng, Sekretaris Partai Komunis China Komite Kotapraja Shanghai. Yu termasuk salah satu pejabat Partai Komunis yang aktif berkomunikasi dengan rakyat lewat Sina Weibo, situs microblogging di China yang mirip dengan situs Twitter.

Zhang Qingli, Sekretaris Partai Komunis Komite Kotapraja Hebei, mengatakan hal serupa. ”Kita harus memberi kesempatan kepada setiap orang yang mau bekerja, memberi panggung bagi warga yang punya kemampuan, memberi posisi penting bagi pekerja yang energik dan antusias untuk bekerja,” kata Zhang.

”Sebaliknya, kita mengkritik pejabat yang hanya pintar bicara. Kita harus benar-benar bisa membuktikan apa yang kita ucapkan,” kata Zhang, yang juga aktif berkomunikasi dengan warga lewat jejaring sosial.

Zhang Baoshun, Sekretaris Partai Komunis Komite Provinsi Anhui, juga menyampaikan pesan senada. Dia mengatakan, para pejabat di semua lini harus jujur dan dekat dengan publik.

”Jabatan yang kita miliki bukan untuk disombongkan. Kita harus dekat dengan publik dan mengurangi birokrasi,” kata Zhang Baoshun.

Putra tokoh terkenal

Pesan lebih kurang serupa juga disampaikan Hu Deping. Dia adalah putra almarhum Hu Yaobang, yang pernah menjadi Ketua Partai Komunis China semasa hidupnya. Dia meminta para pemimpin negara serius melakukan perbaikan di bidang politik dan ekonomi seiring akan berlangsungnya peralihan kepemimpinan di China.

”Reformasi tidak bisa disia- siakan, janji-janji tidak bisa diabaikan,” kata Hu Deping lewat tulisannya di Economic Observer, surat kabar ekonomi yang berbasis di Beijing.

Hu menulis, persoalan yang dihadapi China sekarang tidak hanya mengancam hasil pembangunan, tetapi juga melanggar hak asasi dan melemahkan legitimasi Partai Komunis untuk memimpin. Hu Deping mengingatkan sejumlah kasus di China, seperti pencaplokan lahan dan pencemaran lingkungan hidup yang sudah meresahkan warga.

Dia berbicara menjelang peralihan kepemimpinan dari Presiden Hu Jintao kepada Wakil Presiden Xi Jinping. Xi Jinping akan memimpin generasi kelima pemimpin China setelah Mao Zedong yang membawa Partai Komunis berkuasa tahun 1949, disusul Deng Xiaoping, Jiang Zemin, dan Hu Jintao.

Semua pesan ini menggambarkan tentang keadaan China yang maju secara ekonomi, tetapi juga memunculkan kerawanan sosial. China juga didera masalah korupsi dan ulah para pejabat yang terkesan cenderung membela para kapitalis ketimbang membela warga.

Perdebatan

Kemajuan ekonomi China juga telah melahirkan sejumlah perdebatan keras. Negara ini juga dilanda isu ketimpangan sosial, kesenjangan pendapat di antara warga kaya dan miskin.

”Ada debat besar dan ketidaksepakatan di antara para elite politik dan ekonomi tentang cara penanganan atas sejumlah masalah yang muncul,” kata Ding Xueliang, profesor dari Hong Kong University of Science and Technology.

Dalam perkembangan terbaru, terdapat dua mantan pejabat tinggi China yang sudah resmi dipecat dari Partai Komunis terkait sejumlah masalah itu. Mereka adalah Bo Xilai, mantan Menteri Perdagangan dan Pemimpin Partai Komunis Chingqing, serta Liu Zhijun, mantan Menteri untuk Urusan Kereta Api.

Bo dituduh melakukan korupsi serta terseret dengan keterlibatan istrinya, Gu Kailai, dan wakilnya yang juga Kepala Polisi Chongqing, Wang Lijun, dalam pembunuhan pengusaha Inggris, Neil Heywood. Adapun Liu dikecam dan dianggap bertanggung jawab atas terjadinya kecelakaan kereta cepat pada Juli 2011 yang menewaskan sekitar 35 penumpang.

(AFP/AP/REUTERS/MON)

Tagged: