RI Berbagi soal Atasi Krisis

Posted on November 5, 2012

0


kompas, Senin, 05 November 2012

KTT Ke-9 Asia-Eropa Dibuka di Laos

 

Jakarta, Kompas – Indonesia akan membagi pengalaman soal penanganan krisis ekonomi dalam Konferensi Tingkat Tinggi Ke-9 Asia-Eropa di Vientiane, Laos. Di tengah kelesuan ekonomi dunia, perekonomian Indonesia tetap akan tumbuh stabil dengan laju tingkat inflasi yang terkendali.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo, di Vientiane, Laos, Minggu (4/11), seperti dilaporkan wartawan Kompas Eny Prihtiyani dan J Osdar.

”Kita akan berbagi soal pengalaman menghadapi krisis ekonomi dan upaya mencapai millennium development goals. Di tengah krisis, kita masih stabil. Kita juga akan bahas soal pembiayaan usaha kecil,” katanya.

KTT ASEM di Vientiane, 5-6 November, diikuti 48 delegasi. KTT ke-9 ini mengambil tema ”Friends for Peace, Partners for Prosperity”. Isu-isu utama yang akan dibahas adalah konektivitas kedua kawasan, fasilitas perdagangan, terorisme, keamanan energi dan pangan, serta perubahan iklim. KTT juga akan menyoroti perkembangan dinamika di Timur Tengah.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan, forum tersebut sangat penting sebagai media komunikasi di antara kedua kawasan. ”Lewat komunikasi yang baik, kerja sama kedua kawasan, khususnya bidang perdagangan dan investasi, bisa lebih baik. Ke depan, kita harus lebih banyak memanfaatkan ASEM untuk kepentingan branding, ekonomi, dan lainnya,” ujarnya.

Forum ini pertama kali digelar tahun 1996. Konferensi berlangsung setiap tahun, tetapi pertemuan level kepala negara berlangsung setiap dua tahun. Dalam KTT di Laos, tiga negara, yakni Norwegia, Banglades, dan Swiss, akan bergabung dengan Forum Asia-Eropa. Saat ini ada 48 anggota ASEM, yakni 10 negara ASEAN, Jepang, Korea Selatan, China, India, Pakistan, Mongolia, sekretariat ASEAN, 27 negara Uni Eropa, Rusia, Australia, Selandia Baru, dan Komisi Eropa. Kini ada 51 anggota ASEM.

Inggris soroti kebijakan

Sementara itu, kebijakan pemerintah untuk mengatur kepemilikan toko modern, menurut Gita Wirjawan, mendapat sorotan dari Inggris. Mereka mengkritik kebijakan tersebut karena dianggap membatasi bisnis dan investasi.

Indonesia menampik tudingan tersebut karena pengaturan dilakukan untuk mendorong pemerataan bisnis dan menghindari monopoli.

”Mereka mempertanyakan alasan pengaturan kepemilikan tersebut. Wajar mereka mengkritik karena ada beberapa waralaba mereka yang bakal terkena aturan tersebut, seperti Hero dan Giant. Kami sudah jelaskan, alasan kebijakan tersebut adalah mendorong kesempatan usaha yang lebih luas,” katanya.

Gita mengatakan, pihaknya sudah memprediksi kebijakan tersebut akan mendapatkan tentangan dari sejumlah kalangan. Meski begitu, ia tak gentar dan akan terus mengatur waralaba. ”Termasuk ada kemungkinan judicial review, kami sudah mengantisipasinya. Di Eropa dan Amerika, tidak ada seseorang yang memiliki banyak minimarket. Mereka mewaralabakan usaha dengan para mitra usaha,” tuturnya.

Posted in: EKONOMI