Situasi Poso Mulai Normal

Posted on November 5, 2012

0


Kompas, Senin,05 November 2012

Kota Poso berangsur pulih setelah hari Sabtu terjadi penyergapan terhadap sejumlah terduga teroris (satu orang tewas dan 14 lainnya ditangkap), yang mengakibatkan kerusuhan karena warga membalas dan memblokade sejumlah ruas jalan.

Poso, Kompas – Situasi keamanan di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, sepanjang Minggu (4/11) makin kondusif. Aktivitas warga mulai berjalan normal walau masih tidak seramai hari biasa. Namun, di Kelurahan Kayamanya, Kecamatan Poso Kota, yang menjadi tempat penyergapan terduga teroris, Sabtu lalu (Kompas, 4/11), masih belum terlihat aktivitas warga.Dari pantauan di Kota Poso dan sejumlah kecamatan di luar kota, bekas penyergapan dan bentrok seperti kayu barikade di jalan dan sisa ban yang dibakar di tengah jalan sudah dibersihkan. Lalu lintas dalam kota dan jalur trans-Sulawesi juga mulai normal.Di wilayah Poso Pesisir dan Poso Kota Utara, sebagian besar rumah warga tertutup rapat. Tidak banyak warga yang berkeliaran di luar rumah selain pengendara yang melintas. Jalan di sepanjang Poso Pesisir hingga Poso Pesisir Utara, yang termasuk jalur trans-Sulawesi dan jalan provinsi, pada Sabtu lalu sempat lumpuh total.Di Pasar Sentral Poso, sebagian pedagang sudah membuka kiosnya. Markas Polres Poso, yang Sabtu lalu sangat sibuk dengan mobilitas pasukan, tampak lengang. Penjagaan pada hari Minggu hanya dilakukan di pos jaga dekat pintu masuk markas.Fatmawaty, pedagang di Pasar Sentral Poso, mengaku menjual lebih sedikit kue dibanding hari biasa. ”Jika biasanya ratusan biji saya jual, termasuk kue yang tahan sampai sore, sekarang hanya setengahnya. Masih cemas, jika menjual banyak kue, kejadian seperti Sabtu lalu terjadi lagi,” katanya.Menurut Sri Rahayu, pemilik warung makan Banyuwangi di dekat Polres Poso, pedagang masih khawatir jika membuka warung atau toko. Namun, situasi hari Minggu memang lebih tenang, tak menakutkan lagi.Sebagian toko di Pasar Sentral masih tutup. Sebagian lagi sudah mulai buka meski hanya setengah dari pintunya yang terbuka. ”Jaga-jaga jika rusuh, gampang untuk langsung menutupnya,” kata Suardin, pemilik toko.Sebaliknya, Sabtu malam, jenazah Abdul Khalid (27), yang tewas dalam penyergapan tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri di Kayamanya, dimakamkan oleh keluarganya. Jenazah Khalid dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Palu untuk otopsi dan identifikasi. Namun, keluarganya mendesak agar jenazahnya dipulangkan dan dimakamkan.Penjagaan merataKepala Polda Sulteng Brigadir Jenderal (Pol) Dewa Parsana menuturkan, meski situasi Poso kian kondusif, penjagaan masih dilakukan secara merata di sejumlah wilayah. ”Ada wilayah tertentu yang penjagaannya lebih diperhatikan,” katanya.Sabtu lalu situasi di Poso mencekam dan diwarnai bentrok. Ini bermula saat tim Densus Antiteror melakukan penyergapan di Kayamanya. Satu warga tewas, yakni Abdul Khalid, dan seorang lainnya, MY, ditangkap. Kejadian ini mengundang unjuk rasa keluarga korban dan warga lain di depan Polres Poso, yang berubah menjadi huru-hara.Massa berusaha menyerang petugas dan Polres Poso. Situasi kian kacau karena di tengah aksi ada lemparan bom kepada petugas. Suara rentetan tembakan terdengar di mana-mana. Poso mencekam saat sebagian warga beramai-ramai memukul tiang listrik sehingga membuat warga berlarian pulang dan sebagian lagi berkumpul di Polres Poso.Situasi mereda pada sore hari. Sebanyak 13 orang ditangkap terkait unjuk rasa itu. Menurut Kepala Polda Sulteng, 13 warga yang ditangkap itu masih dimintai keterangan di Polres Poso. MY yang ditangkap dalam penyergapan dibawa ke Mabes Polri.”Mereka yang 13 orang masih didalami, apakah terlibat kriminal atau simpatisan dari orang yang ditangkap,” kata Dewa.Di Jakarta, Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar, Minggu, meminta pemerintah, DPR, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, dan Ombudsman Republik Indonesia serius menangani kasus Poso. Berbagai kerumitan salah urus itu, ditambah ketidakadilan dan penegakan hukum yang minim, membuat masalah di Poso menjadi makin kompleks dan memicu radikalisasi.Menurut Haris, program pemulihan pascakonflik yang tidak memadai, ditambah operasi represif dari polisi, menimbulkan trauma baru. Kontras menemukan ada salah kelola pasca-Deklarasi Malino I tahun 2001 untuk perdamaian di Poso.(REN/riz/EDN)
Advertisements
Posted in: Uncategorized