Warga Lampung Selatan Resmi Berdamai

Posted on November 5, 2012

0


Koran Tempo – SENIN, 05 NOVEMBER 2012

BANDAR LAMPUNG — Warga suku Lampung dan suku Bali di Lampung Selatan bersepakat saling memaafkan dan tidak saling serang. Perwakilan kedua pihak yang bertikai secara resmi meneken 10 poin perjanjian damai kemarin.

“Mudah-mudahan dengan perdamaian ini semua perselisihan selesai dan mereka bisa hidup berdampingan,” kata Sekretaris Provinsi Lampung Berlian Tihang seusai penandatanganan perjanjian damai di gedung Balai Keratun Ruang Abung Kompleks Perkantoran Pemerintah Provinsi Lampung.

Acara maaf-maafan dan komitmen melupakan permusuhan itu diawali dengan permintaan maaf warga suku Bali di Lampung Selatan kepada suku Lampung. “Dari lubuk hati yang paling dalam dan niat setulus-tulusnya, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada saudara kami suku Lampung,” kata Sudarsana, perwakilan warga Balinuraga.

Surat pernyataan maaf itu ditandatangani oleh 10 warga Bali di Lampung Selatan. Pernyataan tersebut terkait dengan tindakan warga suku Bali di Lampung Selatan yang dinilai telah menyakiti suku Lampung dan suku-suku lain di daerah itu. “Kami berjanji tidak akan mengulangi segala bentuk perbuatan atau ucapan yang dapat menimbulkan perpecahan dan perselisihan di antara warga Lampung Selatan, suku Bali, dan warga suku lainnya,” kata dia.

Selain meminta maaf, warga suku Bali berjanji akan memberi sanksi adat kepada anggotanya yang memicu konflik serupa terulang dengan mengusir dari desa mereka. Mereka juga bersedia hidup berdampingan dengan suku lain di Lampung. “Kami mengakui ada cara hidup kami yang cenderung eksklusif dan tertutup, terutama di Desa Balinuraga,” kata Wayan Gambar, salah seorang tokoh adat Bali.

Setelah menyampaikan permintaan maaf, warga terutama keluarga korban menandatangani 10 kesepakatan damai. Mereka adalah ahli waris korban tewas dari kedua belah pihak, kepala kampung di Kecamatan Kalianda dan Desa Balinuraga Ketut Wardane, dan sejumlah tokoh adat.

“Draf perjanjian yang ditandatangani ini merupakan kerja bertahap dan melalui proses mendekatkan antara kedua belah pihak,” kata Kepala Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Sugiyarto, yang membidani perdamaian tersebut.

Saat Kepala Desa Agom Muchsin Syukur bertemu dengan Kepala Desa Balinuraga Ketut Wardane, keduanya saling peluk dan menangis. “Ini adalah pertemuan kami setelah perang itu,” kata Muchsin. Bentrok antarwarga berawal dari cekcok antara warga Desa Agom dan Desa Balinuraga. Bentrokan selama dua hari mengakibatkan 14 orang tewas.

Meski perdamaian sudah resmi tercapai, polisi belum akan menarik aparat dari daerah bentrokan. “Kita baru menarik pasukan setelah kondisi kembali normal,” kata Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo.

Selain menjaga keamanan, pasukan gabungan itu akan dikerahkan membantu warga kedua desa dalam rekonstruksi dan rehabilitasi kerusakan akibat bentrok. Para petugas akan membantu warga membersihkan puing-puing dan membangun kembali rumah mereka bersama sukarelawan lain. “Mereka akan membantu warga agar proses rehabilitasi berjalan dengan cepat,” katanya.NUROCHMAN ARRAZIE

Advertisements
Posted in: Uncategorized