DINAMIKA LAMPUNG Sai Bumi Ruwa Jurai, Semangat Kebinekaan

Posted on November 6, 2012

1


Kompas, 6 November 2013

 

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA

Miri (kiri) mengais barang yang masih bisa diselamatkan di rumahnya di Desa Balinuraga, Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan, Senin (5/11). Ia bersama 1.200 warga lain dipulangkan dari lokasi pengungsian di Sekolah Polisi Negara Polda Lampung dengan pengawalan petugas kepolisian. Warga yang kembali sementara tinggal di tenda sambil menunggu proses renovasi berlangsung.

Oleh Pascal S Bin Saju

Sinar matahari meredup ketika dialog bertajuk ”Damailah Lampungku” berakhir di kafe dan restoran Atmosphere, Bandar Lampung, Sabtu (3/11). Muncul tekad yang kuat untuk membangun perdamaian di Lampung, daerah yang dijuluki ”Sai Bumi Ruwa Jurai” (satu bumi dua suku), dan mencegah konflik komunal terulang.

”Hari ini saya memenuhi dua acara pernikahan. Satu acara dengan adat Lampung dan yang lainnya dengan adat Sunda,” kata Wahyu Sasongko, dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung, yang berdarah Jawa, Minggu. ”Mungkin besok dengan adat Bali atau Batak,” celetuk seorang koleganya yang duduk agak jauh dari Sasongko.

”Lampung itu miniatur Indonesia,” kata Sasongko. Di Lampung hidup beragam suku. Selain suku Lampung, juga ada Bali, Batak, Melayu, China, Padang, Sunda, Semendo (Sumatera Selatan), Banten, Madura, Bugis, dan yang paling banyak adalah suku Jawa. Bahkan, sebuah kelompok etnis yang kecil pun ada, yakni persatuan masyarakat Flores, Nusa Tenggara Timur.

”Mulai tahun 1963 sudah ada suku Bali sebagai ’orang Lampung’ di Lampung Selatan. Kalau saya mengunjungi saudara di Bali, mereka bilang, kapan pulang ke Lampung lagi,” kata I Made Bagiase, pengusaha dan tokoh Lampung berdarah Bali. ”Artinya, kami tidak lagi diakui sebagai warga Bali, tetapi telah menjadi warga Lampung,” ujarnya.

Apabila dilihat dari komposisi secara kuantitatif, sebenarnya penduduk asli yang disebut Ulun Lampung sekitar 19 persen, sesuai data menjelang Pemilu 2009, dari total jumlah penduduk di provinsi itu. Jumlah penduduk Lampung hingga pertengahan 2012 sekitar 7,6 juta jiwa. Karena yang paling banyak adalah etnis Jawa, pada suatu masa Lampung acap kali dijuluki ”Jawa Utara”.

Sejak Hindia Belanda

Kehadiran warga luar Lampung, selain karena ikatan perkawinan lintas etnis atau agama, juga karena ada perpindahan penduduk besar-besaran sejak zaman Hindia Belanda. Mereka bekerja dan dipekerjakan di sektor perkebunan karet, kelapa sawit, singkong, dan tebu pada masa penjajahan dan berlanjut hingga kini.

Selain karena perpindahan mandiri atau inisiatif sendiri, migrasi itu juga karena digerakkan dengan sengaja oleh Pemerintah Hindia Belanda. Upaya mendatangkan buruh atau kuli perkebunan dari luar Lampung, terutama Jawa, secara besar-besaran dimulai tahun 1905 yang disebut program ”kolonisasi” atau pada era kemerdekaan disebut ”program transmigrasi”.

Pada zaman kemerdekaan, setidaknya mulai tahun 1954, sudah ada penduduk Bali di Lampung. Khusus di Lampung Selatan, menurut catatan Made Bagiase, suku Bali secara resmi mulai eksis tahun 1963 dalam wadah keluarga besar Bali. Jumlahnya semakin banyak seiring dengan program transmigrasi yang terus digencarkan pada era Orde Baru.

Jika Sasongko menyebutkan Lampung sebagai ”Indonesia mini”, tentu karena ada fakta sejarah dan kondisi faktual saat ini. Karena itu, sangat disayangkan jika terjadi konflik komunal yang berulang di Lampung Selatan. Dalam terminologi Hartoyo, pemerhati masalah sosial dari Universitas Lampung, konflik terjadi karena soliditas atau ikatan sosial telah meredup.

Slogan Lampung

Lampung mempunyai moto yang selalu didengungkan oleh warganya dalam setiap kesempatan jika mereka berkumpul. Moto yang kini menjadi tagline provinsi di ujung selatan Sumatera itu ialah ”Sai Bumi Ruwa Jurai”, yang secara leksikal berarti satu bumi dua suku. Suku itu adalah Pepadun dan Saibatin, serta tidak mengenal istilah ”lokal dan pendatang”.

Slogan itu untuk memberikan satu kesadaran kepada masyarakat tentang adanya keberagaman. Ada satu (sai) bumi Lampung, dan di sana hidup secara berdampingan kelompok besar, yakni Ulun Lampung dan ”pendatang”.

Andy Achmad Sampurna Jaya, budayawan Lampung, dalam satu kesempatan mengatakan, Ulun Lampung memiliki falsafah hidup yang luar biasa gagah. Salah satunya terkait dengan tata hidup berdampingan satu sama lain dalam sai bumi Lampung, yakni falsafah nemui-nyimah dan nengah-nyampur. Falsafah itu mengajarkan kepada semua warga sai bumi untuk saling mengunjungi sebagai bagian dari bersilaturahim, saling menghargai, dan ramah menerima tamu (nemui-nyimah), serta aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis (nengah-nyampur). Keduanya mengajarkan toleransi, pembauran, kebersamaan, harmonisasi, dan persatuan.

Falsafah itu, yang bersama tiga falsafah hidup lainnya, yakni piil-pusanggiri, juluk-adok, dan sakai-sambaian, termaktub dalam buku Kuntara Raja Niti. Piil-pusanggiri berarti malu melakukan pekerjaan hina dan memiliki harga diri. Arti juluk-adok memiliki kepribadian. Sakai- sambaian berarti bergotong royong dan saling membantu.

Lima falsafah itu disimbolkan dengan lima kembang penghias siger pada lambang resmi Provinsi Lampung. Kini di semua tempat usaha serta kantor pemerintah dan swasta di daerah itu dipasangi siger. Bagi warga Lampung, dengan memasang siger saja meski tanpa dilekatkan dengan tagline ”Sai Bumi Ruwa Jurai”, semboyan itu seolah terpatri di sana.

Sekretaris Pemerintah Provinsi Lampung Berlian Tihang menjelaskan, semula semboyan itu berbunyi ”Sang Bumi Ruwa Jurai”, yang berarti Lampung terdiri dari ”pendatang dan penduduk lokal”. Saat ini slogan itu diganti dengan sai bumi, yang berarti, semua warga yang mendiami Lampung adalah warga Lampung yang satu, tidak ada lagi pemisahan.

”Warga Lampung ini satu. Sekarang ini telah ada kesepakatan untuk berdamai. Kami hanya hidup sekali, tidak dua kali. Mari kita bangun persaudaraan. Kita harus bersepakat, pertikaian yang baru saja berlalu merupakan kejadian terakhir dan tidak boleh terulang kembali,” kata Tihang di sela-sela penandatanganan kesepakatan damai di Bandar Lampung, Minggu lalu.

Posted in: Uncategorized