FOKUS – Tak Ada Lagi Euforia Obamamania

Posted on November 6, 2012

0


Kompas, 02 november 2012
 

Dwi As Setianingsih

Pemilihan presiden Amerika Serikat tinggal empat hari lagi, tetapi tidak tampak pemandangan istimewa di SDN 01 Menteng, Jakarta Pusat. Padahal, empat tahun lalu, saat Barack Obama mencalonkan diri sebagai presiden AS untuk pertama kali, guru, siswa, dan orangtua murid sekolah ini larut dalam kegembiraan.

Acara nonton bareng penghitungan cepat hasil pemilihan pada 5 November 2008 digelar. Saat itu, para siswa duduk lesehan, menyaksikan tayangan lewat siaran televisi yang dipancarkan melalui sebuah layar lebar.

Dukungan mereka terlihat dari foto Obama yang dipasang di dekat televisi. Di bawah foto tertulis kalimat: ”The Big of Family of Menteng 01, Support for Barack Obama to be American President” (Keluarga Besar SDN 01 Menteng, mendukung Barack Obama menjadi Presiden Amerika).

Setiap kali Obama mengungguli rivalnya saat itu, John McCain, gemuruh tepuk tangan terdengar membahana. ”Obama… Obama… we love you…,” teriak siswa-siswa SD itu.

”Anak-anak ikut bangga karena ada alumnus sekolah mereka mencalonkan diri sebagai presiden,” kenang Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SDN 01 Menteng Ihal. Alumni SDN 01 Menteng, yang notabene merupakan teman-teman satu kelas Obama, memfasilitasi acara itu.

SDN 01 Menteng atau yang dikenal dengan nama SD Besuki adalah salah satu sekolah masa kecil Obama. Sebelumnya, dia bersekolah di SD St Fransiskus Asisi Tebet selama tiga tahun. Dari sana, Obama pindah ke SDN 01 Menteng selama hampir dua tahun.

Meski mengenyam pendidikan di dua sekolah, orang lebih mengenal SDN 01 Menteng sebagai SD Obama. Salah satu bentuk ”ikatan” antara sekolah itu dan Obama dilambangkan dalam sebuah patung yang diletakkan di halaman sekolah.

Patung yang terbuat dari perunggu itu menggambarkan Obama kecil yang mengenakan kaus dan bercelana pendek serta bersepatu. Tangan kanannya menunjuk ke udara.

Patung yang digagas Yayasan Friends of Obama ini semula diletakkan di Taman Menteng. Namun, protes keras masyarakat membuat patung itu dipindahkan ke SDN 01 Menteng pada Februari 2010. ”Kami terima karena memang dia (Obama) dulu pernah sekolah di sini,” kata Ihal.

Siswa bangga dengan keberadaan patung Obama kecil. Raihan Filardi Malano (8) dan Balzary Pradia (8) adalah dua dari sekian banyak siswa SDN 01 Menteng yang terinspirasi oleh sejarah itu dan bertekad mengikuti jejak Obama. ”Iya, aku juga pengin jadi presiden,” kata Raihan.

Meski tak ada lagi euforia soal Obama seperti empat tahun lalu, patung Obama masih punya sedikit daya tarik. Banyak turis yang datang untuk melihat dan berfoto bersama patung Obama serta menyaksikan kelas yang pernah ditempati Obama.

Setiap pekan setidaknya ada satu turis yang datang untuk melihat dan berfoto dengan patung Obama. Ada yang datang dari Korea, AS, dan negara-negara Afrika.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Arie Budhiman menuturkan, pihaknya tidak ikut berperan dalam perencanaan pembangunan patung masa kecil Obama.

Meskipun demikian, Arie menyambut baik saat patung itu menjadi daya tarik tersendiri bagi turis-turis asal AS yang berkunjung ke Indonesia.

”Tentu, para turis itu ingin napak tilas ke sekolah di mana Presiden AS Barack Obama di masa kecil pernah bersekolah. Kunjungan itu tentu wajar bagi warga AS yang kebetulan berkunjung ke Indonesia untuk mengetahui di mana dan bagaimana sekolahnya itu,” ujarnya.

Harapannya, dengan patung masa kecil Obama di Indonesia yang dikunjungi para turis AS, hal itu dapat mengikat hubungan kedua negara. Lebih jauh lagi dapat meningkatkan hubungan Indonesia dengan Pemerintah AS di bidang politik ataupun ekonomi dan investasi.

Belum ada manfaat

Dalam Pemilu Presiden AS, 6 November 2012, Obama akan bertarung melawan Mitt Romney. Di dalam negeri, tidak ada reaksi istimewa seperti euforia yang terjadi saat Obama mencalonkan diri untuk pertama kali.

Teman masa kecil Obama di SDN 01 Menteng, Rully Daasad, menuturkan, dukungan terhadap Obama kali ini ”sepi” dan tidak terasa geregetnya karena ini merupakan pencalonan Obama yang kedua. ”Wajar saja. Kalau dulu, kan masih pertama kali, orang senang,” ujar Rully.

Meski dia memuji kinerja Obama, dalam hubungan dengan Indonesia, masih banyak hal yang harus dibenahi. Fakta bahwa Obama pernah tinggal di Jakarta, menurut Rully, tidak membawa pengaruh berarti, misalnya dalam kaitan kontrak karya perusahaan pertambangan dan embargo senjata.

”Intinya, sejauh ini belum ada manfaatnya. Paling-paling hanya pertukaran pelajar,” kata Rully.

Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ikrar Nusa Bhakti, secara terpisah menuturkan, meski Presiden Obama pernah mengenyam pendidikan dasar di Jakarta beberapa tahun, dalam politik internasional tetap harus dibedakan antara hubungan dan kepentingan personal dengan hubungan dan kepentingan negara.

”Meski Obama pada masa kecil pernah bersekolah dan tinggal beberapa tahun di Jakarta, tak berarti faktor tersebut akan ikut memengaruhi setiap kebijakan politik negara yang diputuskannya saat ia menjadi Presiden AS. Kepentingan personal dan kepentingan negara adalah dua hal yang berbeda dan tidak bisa dilihat menjadi satu kesatuan,” kata Ikrar.

Hal itu terbukti saat Obama menjadi Presiden AS atau Paul Wolfowitz menjadi Wakil Menteri Pertahanan AS. ”Waktu mantan Duta Besar AS di Jakarta Paul Wolfowitz menjadi Wakil Menteri Pertahanan AS, tak ada pengaruh khusus bagi Indonesia meskipun Paul Wolfowitz pernah tinggal beberapa tahun di Jakarta,” katanya.

Bahkan, saat Obama menjadi presiden, Pemerintah Indonesia terkejut dengan beberapa kebijakan Presiden Obama yang dinilai pernah tak berpihak pada politik dan ekonomi Indonesia. Misalnya, soal penempatan 2.500 personel Marinir AS di Australia dan desakan membuat klausul dalam perjanjian AS dengan Indonesia untuk membayar ganti rugi jika kebijakan Pemerintah Indonesia dianggap merugikan perusahaan AS.

Oleh sebab itu, lanjut Ikrar, tak mengherankan jika saat ini, meskipun Obama maju lagi menjadi calon presiden AS 2012, tak ada lagi euforia Obamamania seperti empat tahun silam. (SUHARTONO)

Posted in: Uncategorized