Jabar-DKI Bangun Waduk

Posted on November 6, 2012

0


Kompas, Kamis 01 November 2012

 

Jokowi dan Heryawan Bahas Jalur Khusus Bus Bogor-Jakarta

BANDUNG, KOMPAS – Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta sepakat membangun waduk penampungan air di daerah Ciawi, Bogor. Waduk ini rencananya akan digunakan untuk menampung sebagian air Sungai Ciliwung pada musim hujan sehingga bisa mengurangi dampak banjir di Jakarta.

Demikian salah satu hasil pertemuan antara Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, di Gedung Sate, Bandung, Rabu (31/10). Pertemuan kedua kepala daerah itu hanya berlangsung selama 30 menit.

Menurut Heryawan, belum ada kesepakatan yang mengikat. Namun, dengan adanya komitmen kerja sama tersebut pihaknya langsung melakukan pendataan permasalahan di wilayah yang akan dibangun dan akan dicarikan solusinya satu per satu. Pihaknya optimistis waduk tersebut nantinya selain berfungsi mengantisipasi banjir Jakarta, juga menjadi sumber air bagi kepentingan sektor pertanian.

Busway Bogor-Jakarta

Isu lain yang dibicarakan dalam pertemuan Heryawan dan Jokowi adalah rencana pembangunan jalur khusus bus koridor utama Jakarta-Bekasi. Menurut Jokowi, pihaknya siap mengucurkan dana sebesar Rp 50 miliar untuk pembangunan jalur yang melayani transportasi di perbatasan wilayah.

Bahkan, tambah Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta yang mendampingi Jokowi, untuk memaksimalkan angkutan publik tersebut di sepanjang jalur itu akan dibangun sembilan halte. Pemilihan jalur busway Jakarta-Bekasi dilakukan untuk mengimbangi jalur kereta komuter yang menghubungkan Bogor dengan Jakarta.

Menurut Heryawan, setidaknya ada 2,2 juta warga Jabar yang setiap hari pulang pergi ke Jakarta hanya untuk bekerja. Perpindahan itulah yang harus dilayani agar tidak muncul kemacetan di jalan.

Hujan angin

Pergantian musim atau pancaroba yang terjadi sejak Oktober hingga November di wilayah Jabodetabek ditandai curah hujan, dengan intensitas rendah hingga cukup tinggi dan angin kencang yang berpotensi puting beliung. Kecepatan angin sebesar 300-700 kilometer per jam dan intensitas curah hujan 50 sentimeter.

Hal ini akan terjadi di sejumlah titik di Tangerang Raya dan sekitarnya, termasuk Bogor dan Jakarta. Kondisi ini berbeda dengan daerah pantura, mulai dari Pantai Jakarta hingga Serang masih tetap kering hingga Desember minggu pertama.

”Curah hujan disertai angin kencang yang muncul secara tiba-tiba dapat terjadi di hampir seluruh Tangerang Raya dan sekitarnya, termasuk Jakarta dan Bogor. Warga diminta waspada karena cuaca berpotensi banjir dan banyak pohon serta reklame yang tumbang,” kata Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Pondok Betung, Tangerang Selatan, Sri Handayani.

Curah hujan disertai angin kencang terjadi secara sporadis, tidak merata di seluruh wilayah. Misalnya, di wilayah Curug atau sebagian Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang hujan sudah turun sejak Oktober minggu kedua. Sementara di daerah Balaraja, Kabupaten Tangerang, hujan akan terjadi pada minggu pertama bulan November.

Khusus wilayah Tangerang Selatan dan wilayah Jakarta bagian selatan dan Bogor, kata Handayani, curah hujan disertai angin kencang sudah terjadi sejak minggu kedua Oktober.

”Khusus untuk wilayah pantura curah hujan akan turun pada awal Desember,” kata Handayani.

Kepala BMKG Wilayah II Ciputat, Tangerang Selatan, Subardjo mengatakan, saat ini beberapa wilayah Indonesia termasuk Jabodetabek sedang memasuki masa perubahan dari musim kemarau ke musim hujan. Pada masa pancaroba ini sering ditandai dengan fenomena cuaca ekstrem.

Hal itu ditandai dengan suhu udara yang mengalami ketinggian pada siang hari dan tiba-tiba terbentuk awan gelap atau awan Cumulonimbus (CB). Pada sore turun hujan lebat sesaat, diikuti dengan petir dan angin kencang.

”Angin ini berasal dari awan CB berwarna abu-abu gelap, dengan kecepatan angin berkisar 30-40 knot atau 45-60 kilometer per jam. Angin mampu menggoyangkan pepohonan dan bisa merusak lingkungan sekitar,” kata Subardjo

Letak munculnya angin puting beliung, kata Subardjo, berpeluang sama terjadi di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Jabodetabek. Ciri-ciri angin puting beliung, pada saat siang hari terlihat awan putih seperti bunga kol, kemudian berkembang menjadi awan gelap disertai embusan udara dingin. Pada sore menuju malam hari angin semakin cepat diikuti hujan lebat dan disertai es.

Di Jakarta Selatan, warga pinggir kali, seperti warga RT 011 RW 003 Kampung Pulo, Cilandak, yang berada di tepi Pesanggrahan sudah bersiap diri sejak sepekan lalu. ”Barang-barang elektronik diungsikan ke lantai dua. Kami juga sudah sediakan tandon air tambahan dan genset supaya bisa tetap bertahan kalau tiba-tiba banjir,” kata Widi, warga setempat. (ELD/PIN/NEL)

Advertisements
Tagged: