Pengungsi Kembali Pulang Rehabilitasi di Lampung Selatan Segera Dijalankan

Posted on November 6, 2012

1


Kompas-Selasa, 06 November 2012

 

Kalianda, Kompas – Ribuan warga Desa Balinuraga dan Sidoreno, Kecamatan Way Panji, Kabupaten Lampung Selatan, Senin (5/11), mulai kembali ke tempat tinggal mereka. Meski demikian, untuk mencapai perdamaian sejati, kesepakatan warga Lampung dan Bali harus terus dipelihara.

Sejak terjadinya konflik berdarah, Minggu (28/10)—yang melibatkan Desa Agom, Desa Balinuraga, dan Sidoreno, serta menewaskan 14 orang itu—warga diungsikan ke Sekolah Kepolisian Negara Polda Lampung di Kemiling, Bandar Lampung. Senin, sebanyak 1.200 warga Lampung keturunan Bali ini kembali ke Way Panji menggunakan bus-bus dan truk-truk milik Polri.

Tiba di desanya, sebagian warga syok dan tak mampu menahan tangis saat melihat rumah mereka rusak dan hancur terbakar. Data Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan mencatat total 342 rumah rusak berat dan tak bisa ditempati.

Meski demikian, warga tetap menerima kenyataan. Mereka mengais puing-puing rumahnya dan mencari benda yang bisa digunakan. ”Barang-barang saya habis. Untuk masak saja sudah tidak bisa. Malam ini belum tahu mau tidur di mana,” ujar Suciati (50), warga Balinuraga.

Perlu sosialisasi

Ia berharap pemerintah segera memperbaiki dan membangun kembali rumah-rumah mereka yang rusak. Saat ini warga tinggal di tenda yang didirikan di depan rumah mereka yang hancur. ”Memang belum seluruhnya. Nanti didirikan bertahap,” ujar Bambang Susiyanto, Ketua Posko Bantuan di Desa Balinuraga.

Meskipun sudah ada kesepakatan damai, ribuan aparat polisi dan TNI lengkap dengan kendaraan taktisnya masih berjaga-jaga di Way Panji. Selain terkonsentrasi di Desa Balinuraga, petugas juga tersebar di sekitar Natar dan Sidomulyo.

Direktur Samapta Bhayangkara Polda Lampung Komisaris Besar (Pol) Ery Nursatari mengatakan, sesuai instruksi Kepala Polri, mereka akan terus berjaga-jaga di Lampung Selatan hingga situasi kondusif.

Seusai menerima kunjungan Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan utusan tokoh masyarakat Bali, Gubernur Lampung Sjachroedin ZP mengaku ragu dengan efektivitas kesepakatan damai yang dicapai para tokoh masyarakat jika tidak diikuti dengan pengawasan dan sosialisasi para tokoh agama, adat, pemuda, dan aparatur pemerintah.

”Kesepakatan telah ditandatangani dua pihak, tetapi tidak boleh berhenti di situ. Menyosialisasiksan perdamaian itu jauh lebih penting,” katanya.

Pastika berpendapat sama. ”Tak mudah mencapai perdamaian sejati. Sosialisasi ke tingkat bawah, terutama pihak yang bertikai, harus efektif. Saya menitipkan mereka semua,” ujarnya.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Kepolisian Negara RI (Polri) Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar di Jakarta menyatakan, kesepakatan damai akan selalu dievaluasi, tanpa mengabaikan penegakan hukum terhadap para pemicu konflik.

Sementara itu, tokoh masyarakat dan agama di Bali meminta pemerintah memulihkan kondisi masyarakat, merehabilitasi rumah yang hancur, dan menjamin kebinekaan dan pluralisme yang hidup di Indonesia.

Adapun untuk merehabilitasi dan merekonstruksi permukiman korban konflik, pemerintah pusat segera memperbaiki dan membangun rumah-rumah yang rusak dan tidak layak huni.

”Anggaran telah disiapkan dan Kementerian Perumahan Rakyat segera mewujudkan program rehabilitasi tersebut,” ujar Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto,

setelah mengikuti rapat membahas pemulihan korban konflik di Lampung, di Istana Wakil Presiden, Jakarta.

(JON/CAL/HEI/ZAL/FER/ATO)

Posted in: Uncategorized