PENGUNGSI LAMPUNG – Kami Kehilangan, tetapi Takkan Dendam

Posted on November 6, 2012

0


Kompas – Kamis, 01 November 2012

KOMPAS/HERLAMBANG JALUARDI
Pengungsi akibat konflik di Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan, menerima bantuan berupa pakaian layak pakai di aula Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Lampung, Rabu (31/10). Hingga kemarin, sekitar 2.000 orang mendiami empat aula di kompleks SPN. Bantuan bahan makanan dan pakaian berdatangan dari berbagai kalangan sejak Selasa. Namun, koordinasi jenis dan pendistribusian bantuan perlu diatur supaya terbagi rata.


HERLAMBANG JALUARDI dan Pascal bin Saju

Raut muka Nyoman Darsa (36) tampak risau, berbeda dengan rekan-rekan lainnya dari Desa Balinuraga, Kecamatan Way Panji, Kabupaten Lampung Selatan, yang sudah mengungsi di Sekolah Polisi Negara Polda Lampung. Sejak pertama tiba di pengungsian itu, Selasa siang, ayah mertuanya, Ladri (60), tidak terlihat.

Ada isu berembus, Ladri adalah salah satu korban jiwa akibat kericuhan pada Senin siang. ”Hari itulah saya terakhir melihatnya. Kami sedang berkumpul di rumah tetangga yang menjadi posko. Saat ada serangan, kami kocar-kacir menyelamatkan diri,” kata petani ini dengan terbata-bata, Rabu (31/10).

Darsa lalu sibuk berbicara dengan kerabatnya dalam bahasa daerah. Mereka baru menerima kabar dari saudara yang tak ikut mengungsi bahwa Ladri tidak berhasil melarikan diri. Dari obrolan itu tersirat kondisi jenazahnya mengenaskan. Saat berusaha ditegaskan, Darsa hanya menjawab singkat, ”Kami belum yakin,” lalu memalingkan muka.

Darsa melaporkan kabar itu kepada polisi yang bertugas di posko pengungsian. Dia menceritakan ciri-ciri mertuanya. Pakaian terakhir yang dikenakan Ladri adalah celana pendek, kaus, dan memakai topi. Polisi masih enggan membenarkan laporan tersebut.

Sebelumnya, Darsa mengaku sudah mencari di kamar jenazah Rumah Sakit Kalianda, tetapi hasilnya nihil. Ayah satu anak ini tetap ingin mencari Ladri, bagaimanapun kondisinya. Jikalau kemungkinan terburuk terjadi, keluarga Darsa berencana melakukan kremasi sesuai adat mereka.

Siap dari nol

Perasaan kehilangan lekat menyelimuti pengungsian yang hingga Rabu sore dihuni sekitar 2.000 orang itu. Tak cuma kehilangan sanak saudara, mereka juga kehilangan mata pencarian yang telah mereka geluti bertahun-tahun dan harta benda yang telah mereka kumpulkan.

Santri (50) adalah ayah dua anak kelahiran Nusa Penida, Bali, yang menjalani lebih dari separuh usianya dengan bertani di Balinuraga. Luas sawahnya sekitar 5.000 meter persegi.

Selain bertani, dia juga beternak babi. Terakhir, dia memiliki empat babi. Hewan itu biasanya dijual seharga Rp 500.000 per ekor. ”Tidak tahu apakah babi itu sekarang masih ada. Yang saya tahu rumah ikut terbakar,” katanya menceritakan kembali dari apa yang ia dengar dari tetangga.

Sejak keributan pada Sabtu malam, Santri belum kembali ke rumah. Kemeja kotak-kotak, kaus kuning, dan celana pendek belum digantinya sejak pertama kali menyelamatkan diri. Ada bekas getah karet di kausnya.

Santri sedih akan kerugian yang diderita, tetapi ia mengaku tidak menyimpan dendam. ”Buat apa (dendam)? Semua sudah diatur oleh Yang Kuasa. Nanti kalau teman-teman kembali ke Balinuraga, ya, saya akan ikut, dan bertani kembali,” katanya.

Perasaan serupa diutarakan petani muda, Made Rasta (30). Dia memang baru empat tahun tinggal di Balinuraga, tetapi keluarga besarnya, sekitar 40 orang, telah 30 tahun bercocok tanam di desa tersebut.

Made memiliki traktor bajak dan mesin perontok padi. Saat kerusuhan pecah, dia menyimpan 25 karung padi ciherang hasil panen. Setiap karung berisi 120 kilogram. Harganya mencapai Rp 500.000 per kuintal.

Seperti Santri, dia juga beternak. Made memiliki 2 babi dewasa dan 10 anakan, serta 2 sapi. ”Hasil panen dan alat-alat pertanian semua hangus. Ternaknya tidak tahu ke mana,” ujar Made yang rumahnya juga terbakar.

Made masih ingin kembali bertani di Balinuraga meskipun harus memulai dari nol. Dia berharap pemerintah membantu para petani memulai kembali kehidupan. ”Tidak ada perasaan dendam. Kami yakin bisa hidup kembali, saling menghormati seperti dulu,” katanya.

Bantuan berdatangan

Untuk saat ini Made, Santri, dan Darsa merasa terbebas dari kengerian yang mereka hadapi sepanjang akhir pekan lalu. Lokasi pengungsian di Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung, itu jauh dari tempat terjadinya keributan, yaitu sekitar dua jam perjalanan menggunakan mobil.

Para pengungsi menempati empat aula sekolah itu. Aula terbesar, yaitu Gedung Anton Sujarwo, ditempati 569 orang atau 114 keluarga. Di aula itu, mereka tidur beralaskan terpal. Ada yang menambahi dengan kasur, ada juga dengan tikar yang sempat mereka bawa.

Setiap aula dilengkapi kamar mandi. Air bersih dari PDAM setempat dan kepolisian. Namun, air itu cepat habis. Wayan Siti (38) terpaksa mengurungkan niatnya untuk mandi.

Bantuan bahan makanan dari individu dan kelompok masyarakat juga datang silih berganti, seperti mi instan, air minum kemasan, dan beras. Ada dua tenda dapur umum yang telah berdiri dari Dinas Sosial Provinsi Lampung dan Palang Merah Indonesia.

Menurut Maria Tamtina, Kepala Bidang Bantuan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Provinsi Lampung, setiap dapur umum sekali masak untuk 750 nasi bungkus. Satu hari dua kali masak. Romo Marius CP, rohaniwan yang menyalurkan bantuan, mengusulkan agar petugas dapur umum bisa ditambah dari sukarelawan dan pengungsi. Semangat untuk memulai hidup baru secara berdampingan yang diutarakan pengungsi harus tetap terjaga.

Posted in: Uncategorized