Piutang Korporasi China Naik

Posted on November 6, 2012

0


Kompas, Kamis 01 November 2012

Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Sudah Berdampak

AFP/WANG ZHAO

Sekelompok perempuan muda seusai berbelanja di Beijing, China, Rabu (31/10). Pemerintah China mengatakan, ekonomi mereka bertumbuh 7,4 persen pada kuartal ketiga tahun ini, melemah untuk yang ketujuh kalinya berturut-turut. Namun, analis ekonomi mengatakan, pertumbuhan ekonomi negeri itu mulai stabil.

Beijing, Rabu – Perusahaan China yang sudah tercatat di bursa saham dilaporkan mengalami kenaikan piutang pada kuartal ketiga ini. Keadaan ini merupakan pertanda paling jelas bahwa perekonomian China sedang menurun dan sudah memengaruhi neraca perusahaan.

Analisis dari Financial Times edisi Rabu (31/10) menemukan bahwa 66 persen perusahaan tercatat di bursa yang telah melaporkan laporan keuangan kuartal tiga menunjukkan ada kenaikan piutang, menurut data dari S&P Capital IQ.

Perekonomian China diperkirakan bertumbuh kurang dari 8 persen tahun ini. Pertumbuhan sebesar itu akan menjadi yang terendah dalam lebih dari satu dekade.

Sementara itu, masih banyak perusahaan yang berharap pertumbuhan China masih mencapai dua digit. Bertambahnya piutang adalah indikasi—betapapun kecilnya—perubahan pertumbuhan ekonomi China telah memengaruhi kinerja keuangan perusahaan.

Biasanya perusahaan tak langsung mendapat uang setelah menjual barang atau jasa, dan pembayaran dilakukan kemudian. Dalam perhitungan akuntansi perusahaan, tagihan tersebut dimasukkan dalam akun piutang. Semakin lama piutang ini dibayar, semakin lama pula perusahaan pemberi jasa atau barang mendapat uangnya sehingga membuat arus kas terganggu.

Arus kas bagaikan aliran darah dalam perusahaan sehingga kekurangan kas akan membahayakan perusahaan. Pihak yang memiliki utang mungkin kesulitan membayar karena kesulitan keuangan juga.

Infrastruktur

Perusahaan yang paling terkena dampak penurunan pertumbuhan ekonomi adalah perusahaan yang terkait sektor infrastruktur. Hal itu termasuk produsen mesin, pengolahan baja, dan perusahaan semen.

Sany Heavy misalnya. Produsen mesin terbesar kesembilan di dunia jika dilihat dari penjualannya melaporkan bahwa piutang melonjak 83 persen hingga akhir kuartal ketiga mencapai 21 miliar yuan. ”Karena dampak keadaan makroekonomi, pembayaran mengalami penundaan,” kata perusahaan tersebut.

Perusahaan produsen mesin lainnya, First Tractor dari Shanghai, melaporkan, piutangnya naik 169 persen dari awal tahun ini. Di Zoomlion, perusahaan produsen mesin lainnya, piutang naik 69 persen pada kuartal ketiga dari awal tahun.

Janet Zhang, ekonom pada GaveKal Dragonomics, menyatakan, meningkatnya piutang paling banyak terjadi pada Agustus dan September.

”Beberapa perusahaan menolak mengurangi produksi sehingga mereka terus memproduksi dan menjual barang walaupun pembelinya tak dapat membayar kepada mereka. Keadaan ini jauh berbeda dari tahun 2008 ketika terjadi penurunan permintaan yang menyebabkan perusahaan menurunkan produksi secara signifikan,” katanya.

Produser baja dan pertambangan batubara telah memangkas produksinya karena penurunan permintaan. Adapun Baosteel dan Jiangxi Copper, perusahaan baja dan tembaga terbesar yang tercatat di bursa, mengalami kenaikan piutang sebesar 52 persen dan 66 persen dari awal tahun.

Walaupun saat ini ada kenaikan piutang, beberapa orang berharap masalah ini akan sirna pada akhir tahun. Penyebabnya adalah langkah Beijing untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi akan mulai menunjukkan hasil.

”Ini mungkin hanyalah indikator yang tertinggal dan akan habis pada kuartal mendatang. Situasi finansial sudah membaik belakangan ini,” kata Frederic Neumann, ekonom pada HSBC.

Walaupun tampak ada kesulitan pada sektor manufaktur, perbankan China juga tak menunjukkan ada kenaikan kredit bermasalah. Pada akhir semester lalu, kredit bermasalah di perbankan hanya 0,9 persen. Angka ini merupakan angka terendah sejak dilakukannya rekapitalisasi perbankan di China, satu dekade lalu. (AFP/AP/JOE)