TAJUK RENCANA – Tragedi Berdarah di Way Panji

Posted on November 6, 2012

1


Kompas, Kamis 01 Nocember 2012

 

 

Banyak pihak memprihatinkan bentrokan yang menewaskan belasan orang di Kecamatan Way Panji, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

Dampak tragedi berdarah pekan lalu itu memang luar biasa. Korban tewas dilaporkan 12 orang, bahkan ada yang menyebutkan 14 orang. Korban cedera mencapai puluhan. Bentrokan berdarah di Way Panji bertambah dramatis karena 2.050 penduduk terpaksa mengungsi. Suasana dilaporkan masih mencekam.

Dengan memperhatikan jumlah korban tewas yang begitu banyak, segera terbayang tragisnya bentrokan berdarah di Way Panji. Sekitar 2.000 aparat keamanan dari kepolisian dan militer sempat kewalahan menghadapi massa yang beringas. Tentu menjadi pertanyaan tersendiri tentang kemampuan mobilisasi, kesiapan, dan kesiagaan aparat keamanan dalam menghadapi amukan massa seperti terjadi di Way Panji dan tentu juga kemungkinan di wilayah lain di Indonesia.

Pertanyaan itu semakin relevan karena kebetulan pada saat yang bersamaan muncul konflik di Tapanuli Selatan. Ratusan orang hari Selasa lalu membakar kantor camat dan merusak polsek di Kecamatan Batangtoru ketika memprotes kasus pembuangan limbah sebuah perusahaan yang mengotori sungai.

Rangkaian peristiwa kekerasan itu lagi-lagi memunculkan gugatan, mengapa warga masyarakat begitu sensitif, gampang mengamuk dan melakukan kekerasan. Bentrokan di Way Panji, misalnya, berawal dari masalah sepele. Dua gadis dikatakan jatuh dari sepeda motor karena diganggu oleh pemuda desa.

Kiranya perlu kajian serius atas perilaku masyarakat Indonesia yang begitu mudah marah, tersinggung, serta melakukan kekerasan dan bentrokan. Sudah pasti penyelesaian tragedi Way Panji akan menjadi ujian bagi aparat keamanan dan negara dalam mengatasi dan menyelesaikan konflik horizontal secara cepat, tepat, dan adil.

Pola penyelesaian cepat, tepat, dan adil akan menjadi model penyelesaian berbagai konflik horizontal yang setiap saat bisa saja pecah di bagian lain wilayah Indonesia. Upaya penyelesaian bertele-tele tidak hanya memperburuk keadaan dan memperpanjang rasa dendam, tetapi juga akan mengurangi kredibilitas terhadap penegakan hukum sekaligus menyuburkan perilaku main hakim sendiri.

Kecenderungan main hakim sendiri bisa saja karena dorongan psikologis pribadi yang destruktif, tetapi tidak sedikit sebagai dampak atas sikap tidak percaya lagi pada proses penegakan hukum. Sebelum semuanya menjadi runyam, upaya penegakan hukum secara tegas, jelas, dan adil harus dilakukan, termasuk kasus di Way Panji.

Pihak-pihak yang terbukti bertanggung jawab harus dihukum secara setimpal. Rasa keadilan akan terganggu jika orang-orang yang bertanggung jawab dalam aksi kekerasan dan main hakim sendiri dibiarkan bebas bergerak begitu saja tanpa jeratan hukum.

Posted in: Uncategorized