TERORISME DI POSO Warga yang Ditangkap Akui Dianiaya

Posted on November 6, 2012

0


Kompas-Selasa, 06 November 2012

 
Poso, Kompas – Warga yang ditangkap pasca-penyergapan terduga teroris di Kelurahan Kayamanya, Kecamatan Poso Kota, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Sabtu (3/11), mengaku dianiaya oleh sejumlah petugas.

Mereka mendatangi Rumah Sakit Umum Daerah Poso, Senin, untuk meminta visum sebagai bukti pengajuan gugatan praperadilan terhadap Polri.

Sebanyak tiga dari 22 warga yang pernah ditangkap pasca-penyergapan datang didampingi Azriadi Bachry Malewa, salah seorang tim pengacara Koalisi Pembela Korban Kekerasan Poso. Koalisi ini merupakan gabungan dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat di Poso.

Ketiga korban adalah Indo (27), Jamil (40), dan Nurkholis (40). ”Saat itu petugas datang mengetuk pintu dan bertanya, apakah ada orang? Saat itu saya baru mau buka pintu, lalu tiba-tiba mereka mendorong dengan keras sehingga saya jatuh dan terkena pintu,” ungkap Indo, warga Kelurahan Kayamanya, yang menderita luka di pelipis sebelah kiri.

Adapun Jamil yang menderita luka di pelipis kanan mengaku saat itu ada di rumah adiknya untuk mengamankan keponakannya. ”Lalu terdengar suara tembakan. Kami semua ketakutan dan tidak berani keluar. Petugas datang bertanya, apakah ada orang? Karena takut, kami tidak menjawab. Namun, mereka mendobrak pintu,” paparnya.

Azriadi menuding tindakan petugas sebagai perbuatan melawan hukum. ”Kami mempertanyakan, bagaimana yang disebut penegakan hukum?” tanyanya.

Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar, seusai bertemu tim lapangan konflik Poso di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), merasa ada keganjilan penanganan.

”Dalam penyergapan hari Sabtu yang tewas adalah PNS Dinas Kehutanan yang dituduh membuat peta gunung dan hutan untuk teroris. Padahal, yang bersangkutan memiliki peta karena pekerjaannya. Itu yang memicu aksi warga,” kata Haris.

Namun, Kepala Kepolisian Daerah Sulteng Brigadir Jenderal (Pol) Dewa Parsana menepis tudingan koalisi. ”Semua yang dilakukan polisi sesuai prosedur,” ujarnya. Ia menolak data koalisi yang menyebut 22 orang yang ditangkap pasca-penyergapan.

Sementara, dua hari pasca-penyergapan, aktivitas belajar- mengajar dan perekonomian di Poso berangsur pulih. Siswa SD Negeri 27, yang menjadi lokasi penyergapan, mulai bersekolah kembali. Sejak pukul 07.30 Wita, siswa dan guru bergotong royong membersihkan halaman sekolah. Demikian pula aktivitas pedagang di Pasar Sentral Poso.

Polri terus ungkap

Di Jakarta, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar mengatakan, Polri terus mengungkap jaringan kelompok terorisme di Poso.

Menurut Boy, Sutomo bin Sudarto alias MY, salah seorang yang ditangkap, diduga terlibat aksi pelatihan, penembakan anggota polisi, dan tahu rencana pembunuhan anggota polisi di Desa Tamanjeka, Poso. Adapun Abdul Khalid yang tewas diduga terlibat pelatihan teror di Gunung Biru, Poso.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyaad Mbai mengatakan, masyarakat di Poso sadar dan tidak mau diadu domba.

(RIZ/REN/AGS/FER/ONG)

Posted in: Uncategorized