Warga Berinisiatif Kelola Sungai di Tengah Kampung

Posted on November 6, 2012

0


Kompas, 01 November 202

KALI SENTIONG

Anak Kali Sentiong itu membelah permukiman penduduk di gang-gang padat di Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat. Lebarnya tidak lebih dari dua meter saja. Namun, beban anak kali ini setali tiga uang dengan sungai besar di Jakarta.

Anak Kali Sentiong melewati rumah petak warga yang rapat di dalam gang. Di kiri-kanan sungai juga terdapat puluhan industri rumahan. Sebagian besar adalah perajin tempe dan tahu. Ada juga pembuat plakat, warung makan, sampai pengumpul barang bekas. Dengan aktivitas yang tinggi bisa dibayangkan limbah cair hingga sampah padat yang dibuang warga sekitar.

”Dulu sungai ini baunya minta ampun,” ujar Udin Syamsudin, Ketua RT 009 RW 002, Kelurahan Kampung Rawa, Kecamatan Johar Baru.

Sejak 2,5 tahun lalu, warga bersama Lurah Kampung Rawa Sudarmadi menggagas gerakan mengurangi sampah yang menumpuk. Mereka membuat penghambat laju sampah yang terbawa air. Ada dua titik yang dipasangi penghambat. Satu penghambat dibuat dari bambu dan dipasang di RW 004 yang terletak lebih ke hulu. Satu lagi di RW 002 yang dipasangi jeruji besi. Dengan cara itu sampah yang terbawa air tertambat di bambu atau jeruji besi. Saban hari ada petugas yang mengambili sampah tersangkut.

Gerakan ini juga diimbangi dengan kampanye untuk tidak membuang sampah ke kali. Kampanye digarap warga setempat. Mereka menegur warga yang kedapatan membuang sampah ke sungai.

Sebagai gantinya, petugas sungai berkeliling ke rumah- rumah warga untuk mengambili sampah rumah tangga. Dari situ warga memberikan balas jasa serelanya.

”Kalau dulu sampah dari kali ini bisa bermacam-macam, termasuk kasur. Sekarang sudah banyak berkurang. Dulu kami bisa mengangkat sampai tiga truk sampah dalam seminggu. Sekarang paling tujuh gerobak sampah saja,” kata Udin yang juga menjadi pengawas kali ini.

Hal ini membuat badan sungai yang semula penuh dengan endapan sampah kini mulai berkurang. Kalau dulu air di sungai tingginya nyaris sama dengan permukaan tanah, sekarang kedalaman sungai sekitar 80 cm bisa terlihat.

Tidak hanya itu, warga di hilir yang kerap kebanjiran sekarang sudah mulai berkurang. Daerah hilir memang rawan karena badan sungai menyempit hingga tersisa 1,2 meter.

”Sekarang masih ada beberapa daerah yang rawan banjir seperti RT 009 dan RT 010,” kata Ketua RW 002, Kelurahan Kampung Rawa, Arifin.

Belum sempurna

Baik Arifin maupun Udin mengakui gerakan ini belum sempurna, salah satunya karena masih terpusat di anak sungai yang ada di wilayah Kampung Rawa. Sementara itu, hulu anak sungai terletak di kelurahan lain yang tidak bisa diintervensi langsung oleh warga.

Selain itu, lapisan lumpur yang sudah tebal juga berpengaruh pada kapasitas tampung sungai. ”Sudah lebih 20 tahun sungai tidak dikeruk,” kata Udin.

Pengerukan sungai memang pernah dilakukan pemerintah, tapi tidak menyeluruh sehingga tidak terlalu terasa. ”Kami sudah berkali-kali mengusulkan pengerukan sungai dalam forum musyawarah perencanaan pengembangan, tapi belum ada realisasinya,” ujar Arifin.

Gerakan kecil dari warga ini perlu mendapatkan perhatian pemerintahan Jakarta Baru.(Agnes Rita Sulistyawaty)