Dunia dan Pemilihan Presiden AS

Posted on November 8, 2012

0


OPINI – KORAN TEMPO – KAMIS, 08 NOVEMBER 2012

Joseph E. Stiglitz,
PERAIH HADIAH NOBEL EKONOMI, GURU BESAR EKONOMI PADA COLUMBIA UNIVERSITY; PENGARANG BUKU THE PRICE OF INEQUALITY: HOW TODAY’S DIVIDED SOCIETY ENDANGERS OUR FUTURE

Sebagian besar orang di dunia tidak bisa ikut dalam pemilihan presiden di Amerika Serikat, walaupun mereka punya taruhan yang besar pada hasil pemilihan ini. Kebanyakan di antara mereka memilih Barack Obama ketimbang penantangnya Mitt Romney. Ada alasan yang kuat atas hal ini.

Menyangkut persoalan ekonomi, efek kebijakan Romney yang bakal menciptakan masyarakat yang lebih tidak setara dan terpecah-belah memang tidak akan langsung dirasakan di luar negeri. Tapi, di masa lalu, baik-buruknya negara-negara lain sering mengikuti contoh yang diberikan Amerika. Banyak pemerintah di dunia dengan cepat mengikuti kebijakan Ronald Reagan mengenai deregulasi pasar–kebijakan yang akhirnya menimbulkan resesi global yang paling parah sejak 1930-an. Negara-negara lain yang mengikuti kebijakan Amerika ini mengalami peningkatan ketidaksetaraan–lebih banyak uang menumpuk di atas, lebih parah kemiskinan mengendap di bawah, dan lebih melemahnya kelas menengah.

Kebijakan yang diusulkan Romney, yaitu mengurangi defisit secara dini, sementara ekonomi masih rapuh, hampir pasti bakal melemahkan pertumbuhan Amerika yang sudah kurang darah itu. Dan, jika krisis euro memburuk, ia bisa menyebabkan terjadinya lagi resesi. Pada titik ini, dengan merosotnya permintaan, negara-negara lainnya di dunia bakal benar-benar secara langsung merasakan efek ekonomi dari terpilihnya Romney.

Kemungkinan ini menimbulkan persoalan globalisasi yang menyangkut perlunya tindakan bersama masyarakat internasional di banyak bidang. Tapi apa yang dibutuhkan mengenai perdagangan, keuangan, perubahan iklim, dan berbagai bidang lainnya ini tidak dilakukan. Banyak orang mengatakan kegagalan ini sebenarnya karena tidak adanya kepemimpinan Amerika. Tapi, sementara Romney mungkin memamerkan kegagahan dan retorika, para pemimpin di dunia tidak bakal mengikutinya, karena keyakinan (yang menurut saya benar) bahwa ia bakal membawa AS–dan mereka–ke jalan yang keliru.

“Kekecualian” Amerika ini mungkin berlaku di dalam negeri, tapi tidak di luar negeri. Perang Irak yang dilancarkan Presiden George W. Bush–yang melanggar hukum internasional–menunjukkan bahwa, walaupun Amerika membelanjakan uang untuk militer sama banyaknya dengan yang dibelanjakan oleh seluruh negara di dunia, ia tidak berhasil mengamankan suatu negara dengan jumlah penduduk kurang dari 10 persen penduduk Amerika dan dengan PDB kurang dari 1 persen PDB Amerika.

Lagi pula, ternyata bahwa kapitalisme gaya Amerika tidak efisien dan tidak stabil. Dengan pendapatan sebagian besar warga Amerika yang stagnan selama 15 tahun terakhir, jelas bahwa model ini sudah meletus bahkan sebelum Bush meninggalkan kursi kepresidenannya. Bersama pelanggaran hak asasi manusia di bawah pemerintahannya, terjadi Resesi Besar–akibat dari kebijakan ekonomi yang bisa diprediksi (dan sudah diprediksi)–yang sama kuatnya dalam memperlemah soft power Amerika, seperti perang di Irak dan Afganistan, seperti dalam memperlemah kredibilitas kekuatan militer Amerika.

Menyangkut persoalan nilai–yaitu nilai Romney dan calon pendampingnya, Paul Ryan–ini pun sama buruknya. Misalnya, setiap negara maju lainnya di dunia mengakui hak memperoleh layanan kesehatan dan undang-undang Affordable Care Act yang diajukan Obama merupakan langkah yang berarti ke arah tercapainya tujuan itu. Tapi Romney mengecam upaya ini, dan tidak menawarkan apa pun sebagai penggantinya.

Amerika sekarang terkenal di antara negara-negara maju sebagai negara yang paling sedikit menawarkan kesetaraan peluang bagi rakyatnya. Dan pemotongan anggaran yang drastis yang diusulkan Romney bagi masyarakat miskin dan kelas menengah bakal lebih menghambat mobilitas sosial. Pada saat yang sama, Romney akan meningkatkan belanja untuk senjata-senjata yang tidak mempan terhadap musuh-musuh yang tidak ada, seraya memperkaya pemasok-pemasok senjata, seperti Halliburton, yang mengorbankan investasi publik yang sangat dibutuhkan di bidang pembangunan infrastruktur dan pendidikan.

Walaupun Bush bukan lagi calon dalam pemilihan saat ini, Romney sebenarnya tidak menjauhkan dirinya dari kebijakan era pemerintahan Bush. Sebaliknya, kampanyenya menampilkan penasihat-penasihat yang sama, perhatian yang sama pada belanja militer yang tinggi, keyakinan yang sama bahwa pemotongan pajak bagi orang-orang kaya merupakan solusi setiap masalah ekonomi, dan tidak jelasnya hitungan-hitungan anggaran yang sama.

Lihat saja, misalnya, ketiga persoalan yang berada pada pusat agenda yang dibahas sebelum ini: perubahan iklim, regulasi keuangan, dan perdagangan. Romney bungkam mengenai persoalan yang pertama, dan banyak di antara tokoh dalam partainya merupakan “penyangkal perubahan iklim”. Dunia tidak bisa mengharapkan kepemimpinan yang murni dari Romney dalam hal ini.

Menyangkut regulasi keuangan, sementara krisis yang terjadi baru-baru ini telah menyoroti perlunya peraturan yang lebih ketat, kesepakatan mengenai banyak persoalan belum tercapai, sebagian karena pemerintahan Obama terlalu dekat dengan sektor keuangan. Dengan Romney, bakal tidak ada jarak sama sekali: secara metaforis, Romney adalah sektor keuangan itu sendiri.

Satu persoalan keuangan yang sudah ada kesepakatan globalnya adalah perlunya menutup bank-bank lepas pantai tempat berlabuhnya simpanan para pengemplang pajak, pencuci uang, dan koruptor. Uang tidak mengalir ke Cayman Islands untuk menikmati sinar matahari yang mempercepat pertumbuhannya; uang ini tumbuh justru karena tidak adanya sinar matahari. Tapi, dengan Romney yang tidak menyesal karena memanfaatkan bank-bank di Caymans Islands, kita tidak bakal melihat kemajuan dalam hal ini.

Menyangkut perdagangan, Romney berjanji akan melancarkan perang dagang terhadap Cina, dan menyatakan Cina sebagai manipulator perdagangan pada hari pertama kepresidenannya–janji yang tidak banyak memberinya ruang untuk berkelit. Ia menolak mengakui bahwa apresiasi riil mata uang Cina renminbi yang tinggi pada tahun-tahun terakhir ini, atau mengakui bahwa kendati perubahan dalam nilai tukar mata uang Cina ini bisa mempengaruhi defisit perdagangan bilateral, yang penting adalah defisit perdagangan multilateral Amerika. Renminbi yang kuat cuma bakal berarti beralihnya AS dari Cina ke negara-negara produsen tekstil, pakaian, dan barang-barang lainnya yang lebih murah.

Ironisnya–yang sekali lagi tidak disadari Romney–adalah bahwa negara-negara lainnya menuduh Amerika melakukan manipulasi mata uang. Bukankah salah satu manfaat kebijakan quantitative easing Federal Reserve–mungkin satu-satunya saluran yang membawa efek yang berarti terhadap ekonomi rill–timbul dari depresiasi dolar AS?

Dunia banyak berharap dari pemilihan yang berlangsung di AS ini. Sayangnya, sebagian besar orang yang bakal terpengaruh oleh pemilihan ini–hampir di seluruh dunia–tidak punya pengaruh pada hasilnya.

Hak cipta: Project Syndicate, 2012.

Advertisements