AS Cemaskan Kekuatan China

Posted on November 9, 2012

0


Jumat,
09 November 2012

Dalam Dua Tahun, Kapal Selam China Akan Membawa Senjata Nuklir
AFP/MARK RALSTON
Polisi menghalangi pengambilan gambar di luar Balai Agung Rakyat saat berlangsung sidang pembukaan Kongres Ke-18 Partai Komunis China di Beijing, China, Kamis (8/11). Kongres lima tahunan akan menentukan pemimpin China untuk 10 tahun mendatang.
WASHINGTON DC, KAMIS – China diyakini telah berada di posisi menjelang titik puncak menuju penguasaan tritunggal kemampuan persenjataan nuklirnya. Penilaian itu muncul dalam draf laporan sebuah komisi yang ditunjuk Kongres Amerika Serikat.

Menurut Komisi Peninjau Keamanan dan Ekonomi China, yang dibentuk atas mandat Kongres AS, China makin mendekati tritunggal kemampuan persenjataan nuklirnya, yakni kemampuan meluncurkan rudal balistik berhulu ledak nuklir dari tiga matra, yaitu dari peluncur di darat, bawah laut, dan dari udara.

Secara spesifik, draf laporan komisi itu, yang terungkap hari Kamis (8/11), menyebutkan, dalam dua tahun mendatang armada kapal selam China akan dilengkapi teknologi peluncuran rudal berhulu ledak nuklir.

Sejak beberapa dekade lalu, Angkatan Laut China diketahui memiliki kemampuan meluncurkan peluru kendali. Akan tetapi, belakangan ini China semakin agresif dalam mengembangkan kemampuan armada perang lautnya.

Jika dibandingkan dengan negara-negara utama pemilik senjata nuklir lain, seperti AS, Rusia, Inggris, dan Perancis, ”Negeri Tirai Bambu” saat ini adalah satu-satunya negara yang terus berupaya mengembangkan kemampuan persenjataan nuklir.

Ambisi China memperkuat kemampuan militernya itu terungkap dalam pernyataan Presiden China Hu Jintao dalam pidatonya di sesi pembukaan Kongres Ke-18 Partai Komunis China (PKC) di Beijing, Kamis.

Dalam pidatonya itu, Hu menyebut China harus memodernisasi angkatan perangnya, terutama untuk melindungi kepentingan-kepentingan maritimnya sekaligus untuk menyiapkan diri menghadapi ”perang lokal” di era informasi sekarang.

”Kita harus meningkatkan kemampuan mengeksploitasi sumber-sumber daya maritim, secara tegas melindungi hak-hak dan kepentingan maritim China, sekaligus membangun kekuatan maritim yang kita punya,” kata Hu.

China akhir-akhir ini terlibat ketegangan dengan beberapa negara tetangganya soal klaim teritorial di wilayah laut, baik di Laut China Timur maupun Laut China Selatan.

Libatkan China

Dengan kondisi seperti itu, komisi bentukan Kongres AS tersebut merekomendasikan pentingnya melibatkan China secara aktif mulai sekarang dalam setiap pembicaraan pengurangan senjata nuklir di masa mendatang.

Selama ini China telah menjadi bagian dari sejumlah pakta perjanjian yang isinya mengatur soal penggunaan materi dan persenjataan nuklir di dunia.

Akan tetapi, China diketahui masih berada di luar ikatan dan ketentuan pembatasan persenjataan nuklir yang ada, seperti Traktat Pengurangan Senjata Strategis yang ditandatangani April 2010 dan Traktat Persenjataan Nuklir Jarak Menengah tahun 1987.

Dalam sejarahnya, Amerika Serikat baru melakukan pendekatan intensif terkait pengurangan senjata nuklir ini dengan bekas seterunya di era Perang Dingin, Rusia.

Komisi tersebut juga mengusulkan agar Kongres AS segera menugaskan Departemen Luar Negeri AS mengupayakan sejumlah langkah yang dapat mengintegrasikan China ke dalam sejumlah aturan pembatas senjata nuklir.

Hingga saat ini China dinilai belum terbuka, baik soal postur pertahanan maupun jumlah persenjataan nuklir yang mereka miliki.

Sebuah kelompok nonpartisan di Washington, yakni Asosiasi Pengawasan Persenjataan, memperkirakan, China memiliki sedikitnya 240 hulu ledak nuklir. Sebagai pembanding, AS saat ini diketahui memiliki 5.113 hulu ledak nuklir, termasuk dalam bentuk senjata-senjata taktis, strategis, dan cadangan.

(REUTERS/DWA)