BERHARAP REFORMASI PADA SANG PANGERAN

Posted on November 9, 2012

0


Republika – 09 November 2012

BERHARAP REFORMASI PADA SANG PANGERAN

Kepemimpinan baru Partai Komunis Cina bakal segera diumumkan pekan ini. Banyak yang ber harap perubahan pada Xi Jinping, tak sedikit yang pesimistis.

Partai Komunis Cina bak kisah dongeng yang ter – lalu rumit untuk dicer- itakan. Bukan rahasia lagi, selain profesional- itas, ada juga koneksi dan \”keturunan siapa\” yang turut me – nentukan di posisi mana seseorang akan duduk. Dalam kaitan ini, Xi Jin – ping disebut-sebut jelas di atas angin.
Sejak tahun 2008, Xi telah menjadi orang nomor dua dalam partai paling besar dan berpengaruh di Cina. Bagi Cina yang menganut sistem satu partai, pe lantikan Xi sebagai ketua Partai Ko – munis secara otomatis menempat kan – nya dalam posisi tertinggi di negara de – ngan penduduk terbanyak di dunia itu.
Meskipun demikian, secara formal, pengambilan sumpah presiden baru dilangsungkan pada Maret 2013 men- datang. Jika tak ada sandungan apa pun, dia akan menjadi pemimpin Cina keenam setelah Mao Zhedong.
Pria 59 tahun ini dipandang sebagai \”pa ngeran\”–istilah yang digunakan untuk para pejabat senior yang keluar – ga nya merupakan tokoh Partai Ko – munis–dalam jajaran petinggi partai saat ini. Ia juga salah satu wakil ketua Komisi Militer Pusat Partai Komunis, yang mengontrol tentara.
Lahir di Beijing tahun 1953, Xi ada – lah putra dari veteran revolusi Xi Zhong xun, salah satu pendiri Partai Ko – munis. Xi Zhongxun disingkirkan dari jabatan wakil perdana menteri pada 1962 sebelum Revolusi Kebudayaan dan akhirnya dipenjara. Xi Jinping muda kemudian dikirim untuk bekerja di pedesaan seperti kebanyakan pemuda intelektual waktu itu.
Dia melanjutkan untuk belajar tek – nik kimia di Universitas Tsinghua di Bei – jing, yang telah menghasilkan ba nyak pemimpin saat ini, termasuk Hu Jintao.
Sebagai pengganti Presiden Hu, Xi dihadapkan pada beragam isu yang harus ditanganinya, mulai dari persoal – an Suriah, Iran, ataupun Korea Uta ra hingga sengketa pulau di Laut Cina Selatan dengan Jepang, Vietnam, Fili – pina, dan lainnya. Banyak yang meni- tipkan harapan kepadanya, tak terke- cuali pemimpin Tibet di pengasingan, Dalai Lama. Ia menyatakan, reformasi ekonomi pada kepemimpinan sebelum- nya di Cina telah berhasil dengan gemi- lang. Langkah selanjutnya, katanya, ada lah reformasi politik. Soal Tibet, mi – salnya, dia berkomentar singkat, \”Kami hanya ingin otonomi yang diperluas.\”
Namun, alih-alih melakukan geb – rakan, sejumlah analis memprediksi Xi tidak akan melakukan banyak peru – bahan pada kebijakan-kebijakan yang sudah digariskan. Terutama, dalam bidang ekonomi, tempat dia turut andil mengarahkan langkah.
Di Meksiko pada 2009, ia pernah mengecam kekhawatiran segelintir pemimpin negara atas kekuatan eko – nomi Cina. \”Beberapa orang asing de – ngan perut gendut menunjuk-nunjuk – kan jarinya pada kami,\” katanya. \”Sa – ya tegaskan. Pertama, Cina tidak me ng – ekspor revolusi. Kedua, tidak mengek- spor kelaparan dan kemiskinan. Dan ketiga, tidak main-main dengan Anda.\”
Soal Tibet, ia tak akan bergeser jauh dari kebijakan pendahulunya. Ia bersumpah untuk \”menghancurkan\”
setiap upaya untuk mengguncang Tibet.
Butuh perubahan Tuntutan perubahan dari rakyat Cina mengental dalam dasawarsa ini.
Ekonomi Cina yang terdongkrak dengan cepat tak selalu mengantarkan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya.
Tanpa kebijakan untuk meresponsnya, kondisi bisa memburuk dengan cepat.
Cina menghadapi serangkaian an – cam an. Jurnal resmi negeri itu meng – gam barkannya sebagai \”saling ber – taut an seperti gigi anjing\”. Masyarakat miskin kian meradang karena kesen- jangan ekonomi yang kian menganga, korupsi yang kian kasat mata, serta lingkungan dan lahan yang dipere- butkan oleh para pejabat. Kelas me ne – ngah mempersoalkan keamanan pa – ngan, melindungi tabungan mereka de ngan mengirimkan uang ke luar ne – geri, serta mendaftar untuk menda – patkan paspor asing, sedangkan kaum kaya kian rakus untuk menguasai lebih banyak \”kue\” ekonomi. \”Cina tak sta – bil di tingkat akar rumput,\” demikian analisis The Economist.
\”Problem ini berpadu dengan kelas menengah yang gelisah dan kelas atas yang makin keluar kendali.\”
Tugas Xi Jinping jauh lebih sulit dari tugas Hu, tutur pengamat Ben Simpfendorder yang juga direktur operasional Silk Road Associates yang bermarkas di Hong Kong. Tanpa refor- masi, dia akan makin sulit melangkah.
Barangkali inilah yang menye- babkan beberapa pekan menjelang kongres, dia bak ditelan bumi, tak se – orang pun tahu keberadaannya. Bah – kan, beberapa acara resmi kenegaraan yang biasa dihadirinya, dilewatkan begitu saja.
Pertanyaan tentang keberadaannya pertama muncul pada pertengahan bulan lalu, saat pertemuan yang dijad- walkan dengan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton dibatalkan. Hal yang sama terjadi hari itu untuk pertemuan dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.
Ada spekulasi yang menyebut Pemerintah Cina merasa dilecehkan Clinton, terkait keterlibatan Amerika Serikat yang terlalu agresif dalam sen- gketa wilayah Beijing dengan tetang- ganya di Laut Cina Selatan. Narasi itu, bagaimanapun, tidak cukup klop.
Ditanya mengenai Xi dalam kon- ferensi pers bersama dengan Clinton pada Rabu lalu, Menteri Luar Negeri Yang Jiechi menjawab, kedatangan Hillary sudah dijadwalkan jauh hari sebelumnya dan tak ada agenda bertemu presiden atau wakil presiden.
\”Saya berharap orang-orang tidak akan menambah spekulasi yang tidak perlu,\” katanya.
Ada laporan jika Xi terluka pung- gungnya saat bermain sepak bola.
Spekulasi lain menyebut, ia menjadi target sebuah upaya pembunuhan.
Namun, situs yang berbasis di AS, Boxun.com, dengan cepat menurunkan laporan yang mengatakan sumber tepercaya menyebut masalah kese- hatan Xi tidak serius. Xi bak ditelan bumi, ternyata karena sibuk memper- siapkan diri untuk menjadi pimpinan Partai Komunis yang baru dalam kongres pekan ini. Seperti ramalan Boxun, sang satria piningit, leader in waitingitu bersungging senyum mun – cul pekan ini.
**

Janji Demokrasi di Kongres Partai

Ketika Presiden Cina Hu Jintao berpidato dalam pembukaan Kongres Partai Komunis ke-17, lima tahun lalu, ia menggunakan kata `Min – zhu\’–demokrasi–sebanyak 69 kali. Selain berbicara tentang demokrasi akar rumput, demokrasi sosialis, demokrasi dalam partai, Hu menjelaskan bagaimana partai sedang membangun sebuah kekuatan yang kaya, kuat, demokratis, beradab, dan harmonis dalam kerangka sosialis modern.
Kini dalam Kongres Partai ke-18, Hu melangkah ke podium dengan hanya satu minggu yang tersisa sebagai pemimpin partai yang lebih kaya, kuat, modern, dan memiliki anggota lebih dari 10 juta, lebih banyak dari lima tahun yang lalu. Demokratis? Nanti dulu.
Hari ini, hajatan lima tahunan Partai Komunis Cina memasuki hari kedua. Sebanyak 2.000 lebih perwakilan partai hadir untuk memilih pengurus baru.
Kata `memilih\’ sebetulnya tak terlalu tepat. Pasalnya, nama calon ketua sudah disebut, Xi Jinping. Nasibnya pada masa mendatang juga sudah jelas. Jika tak ada aral melintang, Xi menjadi presiden Cina selanjutnya.
Namun, awal pekan ini, para petinggi partai menya – ta kan janji, yaitu mendorong Partai Komunis yang ber kua – sa untuk mengadopsi proses yang lebih demokratis. Sum – ber yang dekat dengan partai ini menyatakan, langkah ini dila kukan demi mendongkrak dukungan publik.
Presiden Hu Jintao dan ahli warisnya, Xi Jinping, telah mengusulkan Kongres Partai ke-18, yang dibuka pada Kamis, harus mengadakan pemilihan untuk elite Politbiro, yang untuk pertama kalinya akan ada calon lebih dari kursi yang tersedia, dan hanya tiga sumber yang memiliki hubungan dengan pimpinan partai. Dalam proposal mereka, akan ada sampai 20 persen kandidat melebihi kursi di Politbiro baru dalam pemilu yang akan diadakan minggu depan, kata sumber tersebut.
\”Hu ingin memperluas demokrasi partai menjadi salah satu warisannya,\” kata sumber itu. \”Ini juga akan baik bagi citra Xi.\”
Tiga dekade membangun reformasi ekonomi dan berhasil mendongkrak tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata mendekati 10 persen, partai kini berada di bawah tekanan lebih untuk mereformasi sistem otoriter menjadi lebih demokratis.
\”Saat ini, hal yang terpenting adalah reformasi politik,\” kata Ren Yi, cucu mantan pemimpin reformis Cina, Ren Zhongyi. \”Demokrasi harus menjadi agenda besar selanjutnya.\”
Zhang Jian, seorang profesor di Universitas Peking, mengatakan selama tiga dekade partai bak memetik buah yang bergantung rendah. Kini, ketika semua serbaberubah, \”Saatnya untuk mereformasi pohon itu sendiri,\” ujarnya. (siwi tri puji b)

**