Menguasai Tentara Pembebasan Rakyat

Posted on November 9, 2012

0


Jumat,
09 November 2012
AMBISI MILITER

Oleh René L Pattiradjawane

Bagi komunis China masih berlaku paradigma qianggan zi limian chu zhengquan (kekuatan politik keluar dari laras senapan). Ini adalah keniscayaan komunisme sejak masa Vladimir Lenin dengan Partai Komunis Uni Soviet yang sudah bubar, dan tetap menjadi paradigma penting dalam Kongres ke-18 Partai Komunis China pekan ini.

Sistem komando militer di China akan selalu terkait erat dengan kekuasaan partai, dan terbukti sejak era Deng Xiaoping, Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) dan struktur kekuasaan militer dipegang orang sipil tanpa latar belakang militer, seperti Jiang Zemin dan Sekretaris Jenderal Partai Komunis China (PKC) Hu Jintao.

Kekuasaan TPR dalam kehidupan politik China nyaris tak memiliki pengaruh karena asas kepemimpinan sipil atas kekuatan militer berhasil membentuk sistem komando yang dihormati. Terbukti, tak ada perwakilan TPR dalam Komite Tetap Politbiro, dan hanya dua perwira tinggi militer yang jadi anggota Politbiro— lembaga yang hanya berisi 25 orang.

Di balik pintu tertutup, PKC sudah menetapkan siapa menjadi Wakil Ketua Komisi Militer Pusat mendampingi Sekjen Hu Jintao yang akan tetap memegang jabatan ketua komisi militer tersebut, seperti yang dilakukan Jiang Zemin. Untuk pertama kali dalam sejarah partai militer, PKC menunjuk bekas pilot Jenderal Xu Qiliang, mantan komandan TPR Angkatan Udara (TPR AU), dan Jenderal Fan Changlong, mantan Panglima Wilayah Militer Jinan, sebagai wakil ketua mendampingi Hu.

Penetapan bekas pilot TPR AU menunjukkan kekuasaan komunis akan mempertahankan dan memperluas kekuatan militer di udara sebagai kekuatan strategis, terutama dalam menghadapi pergeseran konsentrasi payung keamanan militer AS di kawasan Asia Pasifik yang akan dilanjutkan presiden terpilih AS, Barack Obama.

Penunjukan Xu mengindikasikan tidak ada perubahan kekuatan strategis udara yang terbagi dalam tiga komponen. Komponen pertama terkait mempertahankan wilayah udara Beijing, markas PKC, dan pusat pemerintahan RRC. Di sekitar Beijing saja ada empat pangkalan udara.

Komponen kedua mempersiapkan serangan udara atas Taiwan, yang menurut China, wilayah kedaulatannya yang dikuasai kelompok nasionalis Kuomintang (Partai Nasionalis China). Beijing tak pernah mencabut ancaman militer terhadap Taiwan, dan kekuatan TPR AU akan jadi tulang punggung pertempuran.

Komponen ketiga memiliki misi strategis utama memproyeksikan kekuatan udara di Laut China Selatan dan Samudra Pasifik yang disebut dalam kamus militer China sebagai di er dao lian (rantai kepulauan kedua). Rantai strategis ini mencakup konsentrasi kekuatan udara AS di Pangkalan Udara Andersen di Guam sampai ke Jepang yang menjadi basis aju kekuatan militer AS di pangkalan Kadena, Yokota, dan Misawa.

Penetapan jenderal AU dalam Komisi Militer Pusat PKC juga mengindikasikan proyeksi kekuatan militer masif bersama Angkatan Laut RRC, yang akan diumumkan dalam anggaran belanja tahun depan dalam Kongres Rakyat Nasional. Posisi baru Xu dan Fan juga sekaligus menutup perpecahan di tubuh TPR akibat kejatuhan Bo Xilai.