NEGARA KERUSUHAN

Posted on November 9, 2012

0


Republika – 09 November 2012

Reportase: Mursalin Yasland, Aghia Khumaesi

Ketegasan pemerintah dipertanyakan menyusul terus terjadinya konflik horizontal di Tanah Air.

Awalnya, rencana dua gadis belasan tahun, Emilia dan Nurdian, sederhana saja. Pada Sabtu (27/10) malam, dua penduduk Desa Agom, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, ini berboncengan naik sepeda motor menuju Desa Sidoreno di Ke – camatan Way Panji. Me reka berdua hen dak berbelanja di salah satu pasar mini di Sidoreno.
Selepas berbelanja, menurut Emilia, mereka berdua berniat langsung pulang ke rumah. Suasana jadi tak sedap di perjalanan menuju rumah. Menurut Emilia, mereka diadang beberapa pe – muda yang mengendarai sepeda onthel di salah satu jalan utama Sidoreno.
Emilia yang saat itu memegang kemudi mencoba menghindari adangan sehing- ga terjatuh.
Begitu terjatuh, para pemuda berse – pe da yang diketahui warga Desa Bali – nuraga, Kecamatan Way Panji, kemu- dian menghampiri. Di sini masalah jadi pelik. Menurut Emilia dan Nurdian, mereka mengalami pelecehan selepas terjatuh dari sepeda motor. \”Kami ma – sih kesakitan dan terluka, tiba-tiba mereka datang dan memegangi tubuh kami,\” ujar Nurdian, saat ditemui di Rumah Sakit Umum Kalianda, tempat- nya dirawat, Senin (29/10).
Sementara, menurut saksi mata dari Desa Balinuraga, tak ada pelecehan.
Pemuda yang mengerumuni Emilia dan Nurdian justru hendak menolong. Me – nurut warga Balinuraga, tak mung kin menolong orang jatuh dari sepeda motor tanpa menyentuh korban.
Bagaimanapun, sekam sudah telan- jur tersulut api. Warga Agom yang men – dengar cerita Emilia dan Nurdian me – radang. Ahad (28/10) pagi, warga Desa Agom meminta bantuan sejumlah war – ga desa sekitar menggeruduk Desa Ba – linuraga. Baru sampai di Sidoreno, ben- trokan pecah. Warga Balinuraga yang sudah mengetahui rencana penye – rangan sudah bersiap-siap. Tiga pen- duduk Desa Agom tewas saat kejadian, satu tewas di rumah sakit dan enam lainnya dari kedua belah pihak luka- luka akibat bentrok pada Ahad itu.
Menyusul bentrokan, sekitar dua ribuan lebih aparat keamanan dari Polres Lampung Selatan, Brimob Polda Lampung dan Banten, juga TNI AD Korem Garuda Hitam, bersiaga di lo – kasi kejadian. Petugas keamanan ga – bungan juga memblokir akses jalan masuk dan keluar menuju Desa Balinu – raga, Kecamatan Way Panji, dan akses jalan Simpang Way Harong menuju Desa Agom.
Namun, amarah belum surut. Warga Desa Agom masih mencoba merangsek ke Balinuraga. Pada Senin (30/10) si – ang, ribuan warga akhirnya berhasil menembus blokade aparat dengan menyusuri jalan-jalan tikus dan per- sawahan menuju Desa Balinu raga.
Herlina (12 tahun), warga Balinu – raga, ingat pada Senin pagi itu ia sudah siap berangkat kesekolah, tetapi dice – gah oleh kedua orang tuanya, Made Camin dan Nyoman Supria. Herlina, yang ditemui di tempat pengungsian warga Balinuraga di Sekolah Polisi Negara (SPN) Kemiling, Bandar Lam – pung, mengatakan, dari pagi ia bersem- bunyi di dalam rumah, sementara para orang dewasa ber kum pul.
Saat situasi makin mencekam, ia sekeluarga mengungsi ke kebun yang dinilai lebih aman. Keputusan itu me – nyelamatkan nyawa Herlina sekeluar- ga. Sebelum diungsikan ke SPN Kemi – ling, ia dan orang tuanya sempat me – nyaksikan rumahnya yang tinggal din – ding saja. \”Buku-buku dan tas saya habis terbakar, tidak ada sisa lagi,\”
tutur Herlina yang kini duduk di kelas 6 SD Negeri 2 Way Panji.
Akibat bentrok susulan ini, sepuluh orang tewas dan sebanyak 450 rumah di Balinuraga juga hangus terbakar. Be – berapa warga menuturkan, warga Desa Balinuraga dan warga Desa Agom se – jatinya tak begitu akrab. \”Kejadian kemarin puncaknya,\” kata Sulasmo, warga yDesa Patok, yang berada di an – tara Desa Agom dan Balinu raga.
Menurut dia, kedua belah pihak juga jarang bercampur dan bergaul.
Kejadian demi kejadian sebelumnya antara warga asli dan pendatang selalu memicu konflik antarkampung.
Kata damai akhir nya dicapai sepekan kemudian. Kedua belah pihak sepakat, tak ada alasan untuk bertikai lagi. Warga Balinuraga juga menyam- paikan permintaan maaf.
Api padam sementara di satu tempat, namun berkobar lagi di tempat lain. Tak sampai sehari se lepas nota perdamaian diteken di Lam pung, tepat- nya pada Ahad (4/11) ma lam, sebanyak 15 rumah dibakar me nyusul bentrok antarwarga di perbatasan Desa Bi – nangga dan Desa Pa dende, Ke camatan Marawola, Sigi, Su la wesi Tengah.
Menurut kepolisian setempat, ben – trok dipicu perselisihan dua pemuda, masing-masing dari Binangga dan Pa – dende. Cekcok pribadi itu kemudian melebar dan melibatkan warga kedua kampung. Parang, tombak, ketapel, sampai senjata api rakitan keluar se – mua saat bentrok terjadi. Beruntung tak ada yang tewas dalam bentrok pada Ahad malam itu. Akan tetapi, beberapa bulan lalu, da lam bentrokan antara dua desa yang sama, dua orang tewas.
Ahad itu juga, terjadi bentrokan mas sal di Kabupaten Nabire, Papua.
Kali ini masalahnya soal sengketa Pemilu kada Kabupaten Dogiyai yang bertetanggaan dengan Nabire. Seng – karut Pemilukada Dogiayi membuat pemungutan suara mesti diulang. Dua kubu dengan perolehan sua ra tertinggi adalah calon bupati Thomas Tigi dengan 28.155 suara dan Natalis De gei dengan 26.463 suara.
Puluhan pendukung dari dua kubu tersebutlah yang bentrok di jalan masuk asrama polisi, di Kelurahan Bumi Wonorejo, Nabire. Akibat ben- trokan tersebut, enam orang terluka kena panah dan lemparan batu.
Aneka bentrokan di berbagai wila – yah Tanah Air seperti meng ingatkan kenyataan menyedihkan soal rentannya hubungan sosial di Indone sia. Melihat yang terjadi di Lampung Selatan, Ketua Informasi Provinsi Lampung Juniardi berpendapat, aparat pemerin- tah tak cakap membina ma syarakat.
Menurut Juniardi, seharusnya apa – rat dapat melakukan upaya preventif di daerah-daerah yang berpotensi ter – jadi konflik. Terlebih lagi, bentrokan- bentrokan yang terjadi di berbagai daerah biasanya sudah bisa diprediksi.
Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Gerindra, Martin Huta barat, menilai, terus munculnya konflik sosial karena sistem keamanan nasional belum efek – tif. Menurut dia, dengan jumlah hampir 800.000 orang aparat keaman an, baik Polri maupun TNI, penangan an dan pencegahan konflik mestinya lebih baik. (antara, ed:fitriyan zamzami)

Dari Mana Datangnya Konflik
Oleh Bilal Ramadhan, Muhammad Fakhrudin

Pakar antropologi dari Lem – baga Ilmu Pengetahuan In – donesia (LIPI) Fathi Roy yani menilai, belakangan ini isu etnis masih menjadi isu yang sensitif sebagai pemicu keru suhan. \”Ketika isu agama sudah dapat dimainkan, isu suku ini yang secara emosi dapat disulut untuk menjadi konflik yang lebih besar,\” kata Fathi.
Semakin kerap bersinggungan- nya etnis berbeda di Indonesia, jika tak disikapi bijaksana, mudah di – sulut jadi bentrokan. Masalah kecil bisa jadi besar bila persoalan etnis dan identitas sudah dicampur aduk – kan ke dalamnya.
Sosiolog Imam B Prasodjo me – nilai, Indonesia tengah mengalami proses perubahan yang luar biasa.
Penduduk usia muda yang mencapai jumlah sekitar 70 juta menciptakan tekanan yang belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia.
Sementara, masih banyak ka – wu la muda yang tidak terhimpun dalam aktivitas produktif di bidang ekonomi, sosial, dan olahraga.
Masyarakat juga membentuk berbagai kelompok, di antaranya, didasari etnis dan kelompok wila – yah. Warga mengelompok dalam wadah yang tidak memiliki orientasi dan visi yang jelas. \”Lem baga formal dan informal tidak bisa menyerap aspirasi mereka,\” kata Imam.
Selain itu, kelompok yang terse – kat satu dengan yang lainnya tidak memiliki program dan upaya untuk memfasilitasi jaringan kerja sama dalam bentuk kegiatan olah raga, budaya, dan ekonomi. \”Afiliasi yang bersifat lintas kelompok tidak juga disambut. Sehingga, terjadi se perti yang di Lampung,\” kata Imam.
Imam juga mengkritisi program transmigrasi bedol desa yang mem – buat kantong etnis di daerah trans- migrasi. Misalnya, Kampung Bali dan Kampung Jawa. \”Ini program transmigrasi yang dirancang secara keliru,\” ungkapnya.
Terlebih, bila pendatang lebih baik secara ekonomi dibandingkan de ngan penduduk lokal. Kondisi ini menjadi api dalam sekam yang se – waktu-waktu dapat terbakar de ngan hebat. Menurut Imam, pemerintah tidak cukup hanya menjadi mediator dalam mendamaikan konflik yang terjadi. Pemerintah juga harus berperan aktif dalam membangun interaksi antarwarga dan tokoh masyarakat. \”Kalau konflik disele- saikan dengan tanda tangan, itu ha – nya menyelesaikan di permukaan- nya,\” kata Imam.
Mantan kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal (Purn) AM Hendropriyo menambahkan, akar permasalahan yang menyebabkan banyak terjadinya konflik horizontal adalah pudarnya peran negara dan semakin rendahnya disiplin sosial.
Sehingga, masalah yang sangat kecil sekalipun bisa mendadak menjadi besar karena ikut cam- purnya kekuatan-kekuatan liar dalam konflik. \”Kelompok liar terse- but adalah kelompok massa yang mengambil alih kewenangan pemerintah dalam melindungi rakyat,\” ungkap Hendropriyono.
Menurut Hendropriyono, konflik yang terjadi saat ini adalah kon- struksi sosial yang tercipta akibat ketidakpercayaan terhadap negara dalam melindungi rakyat. (ed:fitriyan zamzami)

KEJADIAN KONFLIK SOSIAL YANG MENGEMUKA PADA 2012:

28-30 OKT
Bentrokan antarwarga Desa Agom, Kecamatan Kalianda, dengan Desa Balinuraga, Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan, 14 orang tewas.

11 OKT
Tawuran antar fakultas di Universitas Negeri Makassar, dua orang tewas.

Bentrokan antarwarga Desa Lewonara dengan Lewobunga di Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, satu orang tewas.

26 SEPT
Tawuran antarpelajar SMA Kartini Zeni Tebet dengan SMA Yayasan Karya 66 di
Jakarta, satu orang tewas.

24 SEPT
Tawuran antarpelajar SMAN 70 dengan SMAN 6 di Jakarta, satu orang tewas.

26 AGT
Penyerangan terhadap kelompok Syiah di Sampang,Madura, satu orang tewas.

2 JUL
Bentrok antara ormas FBR dan Pemuda Pancasila di Jakarta Barat, satu orang tewas.

18 JUN
Bentrokan antarkelompok massa di Batam, Kepulauan Riau, satu orang tewas.

27 MEI:
Pengeroyokan selepas pertandingan Persib Bandung kontra Persija Jakarta di Jakarta,
tiga orang tewas

7 MAR
Bentrokan antarkampung di Saparua, Maluku Tengah, satu orang tewas.

14-18 FEB
Bentrok antarpendukung calon bupati di Tolikara, Papua, 11 orang tewas.

Sumber: Kementerian Dalam Negeri, Pusat Data Republika Foto: Antara, Infografis: Ali Imron/Republika
Posted in: Uncategorized