SUKSESI CHINA

Posted on November 9, 2012

0


Jumat,09 November 2012

Korupsi Merusak Partai dan Negara
Beijing, Kamis – Presiden China Hu Jintao mengingatkan para pemimpin muda China yang segera mengambil alih kekuasaan. Hu menyatakan, korupsi mengancam dan bisa menjatuhkan Partai Komunis dan negara.

Hal itu dikatakan Hu saat membuka Kongres Ke-18 Partai Komunis China yang dihadiri 2.268 delegasi mewakili 80 juta anggota partai, Kamis (8/11), di Balai Agung Rakyat, Beijing. Pembukaan kongres dihadiri mantan Presiden Jiang Zemin, yang kini berusia 86 tahun.

Kongres berlangsung sepekan dan akan menunjuk Wakil Presiden Xi Jinping menggantikan Hu Jintao. ”Kemarahan publik akibat korupsi telah melemahkan dukungan pada partai dan mendorong aksi protes. Memberantas korupsi dan meningkatkan integritas politik, yang merupakan keprihatinan terbesar rakyat, jelas merupakan komitmen partai,” ujar Hu.

”Jika kita gagal mengatasi ini, akibatnya bisa fatal bagi partai dan bisa menjatuhkan negara. Karena itu, kita harus melakukan upaya yang tak bisa ditunda dalam memberantas korupsi,” katanya.

Hu tidak secara langsung menyebut nama Bo Xilai, mantan Menteri Perdagangan dan Wali Kota Chongqing, calon kelompok elite masa depan China yang dituduh melakukan korupsi dan segera diadili.

”Mereka yang melanggar disiplin partai dan hukum, siapa pun dia dan kekuasaan apa pun yang dimiliki, harus diadili,” kata Hu.

Selama 30 tahun lebih reformasi ekonomi, China telah menikmati pertumbuhan ekonomi tinggi. Akan tetapi, seiring dengan itu, praktik korupsi marak dan melibatkan princeling. Ini adalah julukan bagi elite politik dan keluarga yang sering mendapatkan keistimewaan.

Awasi keluarga

Hu mengingatkan para penguasa agar menjaga perangai dan menghindari keistimewaan kepada anggota keluarga. ”Para pejabat di lini depan, khususnya pejabat tinggi, harus memiliki disiplin diri dan mengawasi keluarga serta staf. Keluarga dan staf ini seharusnya tidak pernah meminta keistimewaan,” ujarnya.

Di samping itu, Hu menjanjikan perubahan sistem politik. Dia menyebut sebanyak 78 kali sistem sosial dengan karakter China. Itulah sistem politik baru yang dia tawarkan. Namun, Hu menekankan bahwa China tidak akan pernah mengambil sistem demokrasi ala Barat. Hanya disebutkan, partisipasi rakyat dalam politik ditingkatkan.

Pernyataan soal perubahan politik tidak mencengangkan. ”Ini hanya sekadar laporan yang konservatif,” kata Jin Zhong, editor dari Open Magazine, media independen yang berbasis di Hongkong. ”Tidak ada indikasi terobosan politik di balik itu,” lanjutnya.

Hu juga menjanjikan perubahan model pembangunan ekonomi. Selama ini, China menekankan investasi berorientasi ekspor. Sejak lama, apa pun keinginan investor pasti dipenuhi asal bisa mendorong ekspor. Hu menjanjikan perubahan paradigma pembangunan dengan mengutamakan kualitas pertumbuhan.

Dikatakan, masalah lingkungan, kesehatan pangan, dan pengadaan perumahan adalah hal yang menjadi keprihatinan warga. Negara akan lebih memperhatikan kualitas dan tak semata mengejar pertumbuhan.

Hu menekankan pengurangan kesenjangan pendapatan antara warga kaya dan miskin. Perbaikan aspek lingkungan hidup juga menjadi perhatian. Selain itu, juga akan ada perubahan pola perekonomian dengan mengutamakan konsumsi domestik. Di tengah kelesuan ekonomi global, Hu berjanji akan membangkitkan pasar domestik yang bisa menjadi basis pertumbuhan dan mesin pertumbuhan.

Lian Ping, ekonom senior Bank of Communications yang berbasis di Shanghai, mengatakan, tampak ada perubahan pada paradigma pembangunan. Kualitas, bukan pertumbuhan semata, menjadi fokus pembangunan ekonomi China pada masa depan.

(AFP/AP/REUTERS/MON)