Republika Teraju, 02.09.2013

Posted on September 3, 2013

0


Takkan Hilang INDONESIA DI BUMI?
Oleh Muhammad Subarkah

Bukan hanya dari sisi ekonomi dan politik, negeri ini begitu banyak memiliki persoalan akut. Sebagian pihak mulai pesimistis dengan sinis menyatakan keberadaan In- donesia tak bisa bertahan lebih lama lagi atau mampu berusia lebih dari 100 tahun. Namun, per- lukah bersikap seperti itu?

\”Sirna ilang kertaning bumi!\” kalimat inilah yang menjadi pe nan – da atau Candraseng – kala berakhirnya `im – pe rium\’ nusantara yang bernama Majapahit. Bila secara lugu atau harfiah,Candrasengkalaini memang me rujuk pada sebuah angka tahun yang di – sebut sebagai waktu `bubarnya\’ Majapahit, yakni 1.400 saka (1468 M). Namun, bila dikaji dari makna bahasa, kalimat itu juga bisa berarti `hilangnya kesejahteraan di bumi\’, yakni di negeri Majapahit. Mungkin Majapahit run tuh pada tahun tersebut. Apa yang menjadi penyebabnya, Candra seng – kala ini juga jelas mengisyaratkan bahwa Majapahit yang pernah jaya pada zaman Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada, runtuh karena pengelola negeri ter sebut tidak mampu menyejahterakan rakyatnya!
Majapahit didirkan oleh Raden Wijaya sekitar 10 November 1293 M (tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 Saka). Dan, pernah mencapai kejayaannya sekitar 39 ta hun, yakni semasa kekuasaan raja Ha – yam Wuruk (1350-1389). Setelah itu, negeri ini terseok-seok. Didera berbagai persain- gan konflik perebutan kekuasaan hingga perang saudara sebelum `dinyatakan ambruk\’ pada 1468 M. Sungguh ironis.
Apalagi bila kepahitan catatan sejarah ini kemudian dibandingkan dengan keber- adaan beberapa kerajaan besar di Eropa yang saat itu pun telah ada dan hingga sekarang masih berdiri dengan kokoh.
Inggris, misalnya, masih lestari karena berhasil menyejahterakan warganya serta mengatur `syahwat\’ politik penguasanya dengan piagam Magna Carta.
Untuk itu, bila kemudian ada pemba- hasan mengenai nasib Indonesia apakah bisa terus bertahan sebagai sebuah entitas bangsa, memang sebuah hal yang menarik.
Bagi yang optimistis melihat bangsa ini punya modal besar untuk bertahan, bah – kan hingga seribu tahun lamanya seperti jargon puisi berjudul `Aku\’ yang dahulu ditulis oleh penyair Chairil Anwar itu. Na – mun, dari kubu pesimistis mereka menya – takan Indonesia kini masih berada dalam periode atau kurun berbahaya. Berbagai konflik sosial, separatisme konflik politik, tindakan penyelewengan hukum, dan pen- guasaan kepentingan `kolonial modern\’
menjadikan Indonesia berada dalam tubir perpecahan. Impian bapak bangsa, Sukar – no, yang mengidamkan Indonesia lestari sampai akhir zaman, kini terancam secara konkret untuk tidak bisa diwujudkan.

Menyadari situasi itu, Sosiolog Uni – versitas Indonesia Daisy Indira Yasmine menyatakan, berdasarkan pengalaman se – jarah dari berbagai bangsa yang ada di du – nia ini, sebuah negara bisa bertahan apa – bila rakyatnya hidup dalam kesejahteraan.
Bahkan, dalam perkembangan paling mu – takhir, generasi masa kini telah mempu – nyai kecenderungan besar tak lagi mem- persoalkan batas-batas negara atau peduli pada sikap nasionalisme. Identitas nasio – nal kenegaraan bagi mereka malah kali mempersemit ruang gerak hidupnya.
`\’Saya melihat adanya konsep yang se – lama ini dilupakan para pengelola ne gara kita. Konsep itu adalah mengenai `negara kesejahteraan\’. Meski ide ini telah lama ada dalam berbagai kajian ilmiah, hampir- hampir tidak menjadi pembicaraan yang penting di sini. Para elite negeri ini lebih terpukau pada konsep negara sebagai suatu entitas hukum dan politik,\’\’ katanya.
Memang, lanjut dia, konsep negara ke – sejahteraan itu menjadi sebuah konsep yang rumit bila hendak diwujudkan. Ini karena menyangkut banyak hal, bukan ha nya soal politik, tapi bagaimana cara pengeloaan negara di bidang ekonomi, sumber da ya manusia, hukum, keamanan, dan so sial.
`\’Terabaikannya ide negara kesejah te ra an terlihat jelas, misalnya bila kita melihat pengelolaan wilayah perbatasan negara. Di sana meski rakyat Indonesia tetap mencintai negaranya, mereka seperti hidup secara ter- abaikan. Tangan kekuasa an negara terasa sangat jauh. Kesan yang ada malah mereka merasa lebih diperhatikan oleh negera tetangganya,\’\’ ujarnya menegaskan.
Sebagai sebuah negara, Indonesia me – mang dikaruniai kekayaan alam dan sum – ber daya manusia yang berlimpah. Letak – nya pun sangat strategis, yakni berada di per silangan jalan, antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, atau lebih khusus di antara jalur perdagangan dunia yang membentang di antara Teluk Benggala hingga Laut Cina.
Mendiang sejarawan Pran cis, Denys Lombard, menegaskan se menjak dahulu negeri yang dikenal se bagai kawasan nusantara ini memang ber ada di jalur penting transportasi dunia. Bahkan, dia menyatakan, sebenarnya nu santara (kini Indonesia–Red) sebuah ke lanjutan dari imperium besar di kawasan Indocina atau Asia Tenggara. Dengan luas wilayah yang mencapai 1,9 juta kilometer dan terdiri dari lebih dari 13 ribu pulau serta 1.128 suku, keberadaan negara ini tak akan bisa dinafikan oleh dunia.
Menurut Lombard, sesungguhnya tak ada satu pun tempat di dunia ini–kecuali mungkin Asia Tengah–yang seperti hal – nya nusantara, yakni menjadi tempat ke – hadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, berdampingan dan lebur menjadi satu. Sekitar seribu tahun lamanya, dari abad ke-5 sampai ke-15, kebudayaan India memengaruhi wilayah Sumatra, Jawa, dan Bali bersamaan dengan dataran-dataran rendah yang luas di Semenanjung Indo – cina. Lalu, mulai abad ke-13, dan terutama semenjak abad ke-15, dua pengaruh lain muncul dan menguat, yaitu pengaruh Islam dan Cina. Selanjutnya pada abad ke-16, peradaban Eropa mulai hadir, mula-mula peradaban Iberia (Spanyol dan Portugis), kemudian di susul Belanda dan Inggris.
`\’Kawasan nusantara itu, sebagaimana Cina, bukan sebuah `khasus khusus\’ dalam sejarah dunia, tetapi letak geografisnya secara khusus menekankan fungsinya sebagai persilangan, dalam arti pertemuan.
Di sini terdapat laboratorium yang hebat untuk mengkaji konsep, pengaruh, dan terutama konsep tradisi, akulturasi, dan etnisitas, yang dewasa ini melanda ilmu- ilmu dunia,\’\’ tulis Lombard.
Tak beda dengan Lombard, sejarawan LIPI Asvi Warman Adam juga melihat besarnya potensi bangsa Indonesaia untuk menjadi negara besar. Tak hanya modal sumber daya alam, letak geografis, sumber daya manusia, kekuatan sejarah masa lalu Indonesia seharusnya sudah mampu men – jadi sarana pendorong bagi bangsa ini un – tuk menggapai kejayaan. Namun, sa yang potensi tersebut belum dapat diopti- malkan, bahkan kini sudah mulai muncul berbagai hambatan serius, yakni semakin meruaknya persoalan konflik yang kerap meledak di seantero wilayahnya.
`\’Dari segi modal sejarah, misalnya, kita punya akar atau modal sejarah yang pan – jang dan kaya. Ini beda, misalnya, de ngan Singapura yang baru ada puluhan tahun lalu. Beda dengan kita yang punya sejarah yang sudah ratusan tahun, bahkan bisa lebih lama lagi. Pada masa lalu, kita punya sejarah Sriwijaya dan Majapahit. Selain itu, kita juga punya pengalaman sejarah yang bisa disebut sebagai anugerah atau mukjijat, yakni adanya Sumpah Pe muda pada tahun 1928,\’\’ ujar Asvi menerangkan.
Selain itu, kata dia, Indonesia juga pu – nya pengalaman sejarah hebat yang da – tang dari perjuangan para tokoh yang men dirikannya. Bayangkan saja berbagai pe ristiwa pada 1945 itu, meski di bawah ancaman bayonet tentara Jepang dan di – ba yangi serangan tentara Belanda bersama se kutunya, mereka itu berani menyatakan kemerdekaan. `\’Nah, ini jelas sebuah muk – ji jat. Dan terakhir pada 1998, saat itu ba – nyak orang mengatakan negeri ini akan hancur atau kolaps, saat itu kita pun sudah antre mengambil duit di bank yang ternya – ta duitnya juga tak ada. Tapi, tohkita ma – sih bisa lolos atau selamat. Jadi, saya op – timsitis bangsa ini akan menjadi bangsa be sar dan bertahan dalam waktu yang sa – ngat lama,\’\’ kata Asvi menegaskan.

Sementara itu, anggota Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Firmanzah me – nyatakan, sangat optimistis negeri ini bisa ber tahan. Dia secara tegas menyata kan In – donesia tidak akan bangkrut dalam waktu dekat kendati kini mempunyai utang hing – ga sekitar Rp 2.000 triliun. `\’Ingat, kekuat – an produk domestik bruto yang telah men- capai lebih dari 3.592 dolar AS. Jadi, masih tetap kuat untuk me nyangga perekonomi- an nasional,\’\’ katanya dalam acara dialog `Refleksii 68 Tahun Kemer dekaan Indo ne – sia\’ di Gedung Parlemen, dua pekan silam.
Firmanzah mengatakan, selagi kekuat – an modal ekonomi berupa produk do mes – tik bruto (PDB yang dimiliki Indo nesia masih kuat, pada dasarnya tidak perlu ada kekhawatiran akan besaran utang luar negeri masa kini. Apalagi, ujarnya, keku- atan ekonomi Indonesia sekarang sudah mulai diperhitungkan oleh berbagai ne ga – ra asing. Maka dampaknya, adanya situasi yang seperti ini dipastikan akan terus membuat kepercayaan investor kepada negara ini semakin tinggi saja.
`\’Harap dipahami bahwa kekuatan eko nomi Indonesia sudah berada di atas ke kuatan banyak negara maju, seperti Belanda dan sejumlah negara Eropa lain – nya. Maka, kami pasti akan tetap optmistis kekuatan ekonomi Indonesia ke depan dapat terus semakin kuat. Bahkan, kami pun sangat yakin bila PDB Indonesia yang tahun lalu tercatat mencapai 3.592 dolar AS masih bisa digenjot lebih tinggi lagi, yakni menjadi sekitar 5.000 dolar AS pada tahun depan,\’\’ lanjut Firmanzah.
Menurutnya, kalau dulu Indonesia ba – nyak berharap kontribusi negara asing un – tuk pembangunan ekonominya, kondisi saat ini sudah berubah drastis. Bahkan, In do ne – sia sekarang sudah bisa mena war kan ban – tuan kepada asing sehingga tidak lagi terke- san sebagai negara lemah. `\’Kalau sekarang masih ada kekurangan, mari kita perbaiki.
Ada seribu alasan untuk berpikir pesimistis, tapi juga ada ribuan lagi alasan untuk tetap per caya bahwa negeri ini tetap kuat, aman, da mai, dan sejahtera,\’\’ ujarnya menjelaskan.
Akhirnya, mudahan-mudahan saja kon disi yang lebih ideal segera bisa terca- pai. Sebab, kalau semua pihak mau ber – pikir waras, memang tak ada alasan negeri ini untuk bangkrut, hingga terpecah dan hi lang di dasar sejarah. Sebab, di sini se – mua pihak pun harus bisa membuktikan ketidakbenaraan `olok-olok\’ tokoh separtis Gerakan Aceh Merdeka, Hasan Tiro, bah – wa negeri ini tak lebih dari kepanjangan atau bentuk modern dari Majapahit. Ja – ngan sampai tragedi ini terjadi!
* * *

PELAJARAN PAHIT dari Majapahit
Oleh Muhammad Subarkah

Para pendiri bangsa ini dahulu mengidealkan Majapahit sebagai `idealita\’
masa lalu negara Indonesia. Sayangnya, kadang hanya episode kejayaan Ma- japahit saja yang dijadikan acuan. Proses keruntuhan Majapahit akibat munculnya konflik kekuasaan secara terus-menerus `terlupa\’ untuk dibicarakan.

\”Atas dasar pijakan apa idealita masa lalu Indonesia mo deren diben- tuk?\’\’ Jawabnya je las mengacu pa – da kebesaran Kerajaan Majapahit. Ini tampak nyata ketika membaca risalah rapat \”para bapak pendiri bangsa\” yang pada menjelang dan masa awal ke mer – dekaan berdebat keras mengenai akar-akar kesatuan bangsa Indonesia. Dan, salah satu tokoh yang teguh mempertahankan sikap dengan mempromosikan Majapahit sebagai \”model sempurna\” ba gi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah Mr Muhammad Yamin. Salah satu dasarnya adalah dengan me ngacu pada kitab Negara Kretagamayang kebetulan pada dekade 1920-an baru ditemukan di Bali.
Cendekiawan Luthfi Assyaukani keti – ka memberikan kata pengantar dalam bu – ku Nusantara Sejarah Indonesia, karya klasik dari sejarawan asal Belanda, Bernard HM Vlekke, (Penebit Kepus ta ka – an Populer Gramedia, 2008) menyata kan, bagi Yamin bukan Singasari dan bu kan pula kerajaan-kerajaan Islam yang mem- persatukan Nusantara, tapi Maja pahit.
Sikap ini juga dibawanya dalam ber bagai rapat BPUPKI (Badan Pe nyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) secara tegas Yamin mengakui peran penting Majapahit dalam menyatukan Nusantara.
Sebenarnya, pandangan Yamin yang memang menguasai banyak bahasa, ter- masuk Sanskerta, juga banyak mendapat kritikan. Ada salah satu pihak yang meng – kritik bahwa Kakawin Negarakretagama bukan merupakan dokumen kekuasaan dan hanya sekedar \”klaim\” mengenai ce – rita perjalanan dinas Raja Hayam Wuruk di wilayah kekuasaannya yang berada di sekitar Jawa Timur. Namun, pendapat Ya – min atas idealita Majapahit itu tak tergo – yahkan. Bahkan, ini kemudian me wujud da lam penggunaan berbagai simbol ne – gara, seperti bendera Merah Putih, peng- gunaan burung garuda sebagai lambang negara, dan pemakaian `jargon negara\’
yang diwujudkan dalam kalimat \”Bhin – neka Tunggal Ika\”.
Bukan hanya itu, sikap pengidealan Ma japahit kemudian juga muncul dalam bentuk pendirian sebuah patung seorang bertubuh gempal yang disebut sebagai patung Gajah Mada yang didirikan di de – pan Markas Besar Polri di Jakarta. Nama sum pah sang mahapatih itu, yakni Sum – pah Palapa, sempat pula dijadikan nama ba gi satelit komunikasi yang pada tahun 1974 dibeli pemerintah Indonesia dari Ame rika Serikat. Pendek kata, Majapahit me rupakan sebuah simbol yang sangat dahsyat.

Melihat kenyataan itu, maka mau ti – dak mau semuanya perlu menoleh ke sim – bol atau idealita tersebut. Sosok Maja pahit hendaknya dicoba dibuka kembali. Bukan hanya proses pembentukan dan ke – jayaannya saja yang perlu dipelajari, tapi proses kejatuhan Majapahit pun ha rus pula menjadi renungan. Tujuannya adalah agar seluruh komponen bangsa ini pa ham dan mengerti serta mengambil pe lajaran, terutama agar tidak mengulang \”per – buatan konyol\” yang membuat se buah kerajaan besar seperti Majapahit runtuh.
Dalam buku sejarah, Majapahit didi – rikan oleh Raden Wijaya. Dia adalah me – nantu dari Raja Singasari, Kertanegara.
Da lam sebuah pemberontakan yang dila – kukan Adipati Kediri Jayakatwang, Ker – tanegara pun terbunuh serta tergusur dari kekuasaan. Tak hanya membunuh sang raja, para tokoh penting yang ada di pusat kekuasaan Singasari ikut dibunuh oleh Jayakatwang. Namun, nasib mujur me – nimpa Raden Wijaya. Meski dia adalah me – nantu sang raja, atas usul seorang Adi pati di Madura, Aria Wiraraja, Wijaya mampu lolos dari maut. Tak hanya itu, ia malah mendapat lahan di sebuah hutan yang disebut Hutan Tarik. Wijaya pun segera membuka hutan tersebut dan mem bangun sebuah desa baru. Ketika membangun Desa Tarik itulah kemudian dia mengganti nama desa itu menjadi Majapahit, yang diambil dari rasa buah maja yang pahit.
Namun, nasib Wijaya kemudian ber – ubah drastis seiring datangnya bala tenta – ra Kaisar Cina Kubilai Khan. Bala tentara itu datang ke wilayah Singasari yang kini dikuasi Jayakatwang. Tujuannya untuk menuntut balas atas perlakuan buruk Raja Kertanegara kepada utusan Kera jaan Tiongkok, Meng Chi, yang dahulu sempat dirusak wajah dan dipotong te ling a nya ketika meminta upeti kepa da nya.
Rupanya, Kerajaan Tiongkok ini tak tahu bahwa telah terjadi pergantian ke kuasaan dari Kertanegara kepada Jayakatwang.
Melihat situasi itu, maka atas anjuran Wiraraja, Wijaya pun segera melakukan manuver politik. Dia pun berinisiatif menyambut kedatangan bala tentara itu.
Bukan hanya itu, Wijaya pun menyatakan bergabung dengan pasukan Mongol untuk menggusur posisi Jayakatwang. Singkat cerita, Jayakatwang tak bisa menahan ser – buan pasukan Mongol yang dibantu Wi – jaya. Dia pun terbunuh. Namun, sete lah Jayakatwang terbunuh, Wijaya pun segera melakukan manuver untuk mengusir bala tentara Mongol. Tiba-tiba saja, dia memer- intahkan bala tentaranya untuk menye – rang pasukan asal Tiongkok itu. Pasukan asing itu pun kocar-kacir. Aki batnya, para panglima perangnya harus mengambil keputusan pahit, yaitu pulang kembali ke negara asalnya dengan begitu saja.
Setelah bala tentara Tiongkok tersebut pergi, maka sekitar 10 November 1293 M (tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 Sa – ka) Raden Wijaya pun naik takhta atau di – nobatkan sebagai Raja Majapahit. Na ma – nya kemudian diubah menjadi Sri Ker tajasa Jayawardhana. Dia memimpin Majapahit hingga wafat pada tahun 1309 M. Setelah ia, para keturunannya silih ber – ganti berkuasa, seperti Jayanegara (me – ninggal 1328 M), Tribuwanatung ga de wi (meninggal 1350), hingga Hayam Wu ruk yang memerintah dari (1350–1389 M).
Pada masa Hayam Wuruk inilah Ma ja – pahit mencapai puncak kejayaannya de – ngan \”menguasai\” banyak wilayah di sean- tero penjuru Nusantara. Saat itu Majapahit punya patih kerajaan yang sangat mum – puni bernama Gajah Mada (1313–1364 M).
Kerajaan ini menjelma menjadi kerajaan adidaya serta mampu menjalin hubungan setara dengan berbagai kerajaan penting di wilayah Asia lainnya, seperti Siam, Campa, kamboja, Burma, dan Vietnam.
Bahkan, meski sem pat punya hubungan yang buruk, hubungan kenegaraan antara Kerajaan Maja pahit dan Tiongkok menjadi berubah membaik. Hal ini ditandai dengan adanya utusan atau duta Majapahit yang berada di Negeri Tiongkok.
Namun, seiring dengan mangkatnya Raja Hayam Wuruk, secara perlahan tapi pasti kedigdayaan Majapahit melemah.
Berbagai konflik perebutan tahta terjadi.
Perang saudara yang disebut Perang Paregreg meletus pada tahun 1405 M– 1406 M. Tak berapa lama kemudian pe – ngaruh Islam mulai muncul, di sebelah utara muncul kekuasaan `tandingan\’ baru, yakni Kerajaan Giri yang dipimpin Sunan Gresik. Kerajaan ini punya pengaruh yang sangat kuat terutama di bagian timur Nusantara. Kekuatan baru ini semakin kuat seiring dengan datangnya ekspedisi laksamana Cina Muslim, Cheng Ho.
Rombongan ini beberapa kali datang ke Jawa antara kurun 1406–1433 M.
Tak berapa lama setelah datangnya eks- pedisi Cheng Ho, pada akhir abad itu pula mulai bermunculan kekuatan pe saing baru lainnya, seperti berbagai kerajaan di Selat Malaka dan pantai timur Sumatra (Aceh)
serta pedagang dari Ero pa seperti Portugis dan Spanyol. Seakan tak hirau akan tan- tangan perubahan sosial yang berada tepat di depan hidung nya, para anak keturuan Raden Wijaya yang saat itu berkuasa malah terus sibuk berkonflik. Alhasil, karena tidak dapat mengatasi gejolak zaman, Kerajaan Ma japahit benar-benar hilang sekitar tahun 1500-an. Sebuah candrasen- gkalamenan dai era berakhirnya kerajaan besar ini, yakni Sirna Ilang Kretaning Bumi. Dan bi la tulisan ini dibaca, maka akan berarti menjadi sebuah tanda (dibaca dengan terba lik), yakni 0041, yaitu tahun 1400 Saka atau 1468 M. Konon, sebelum benar-benar `menghilang\’, Kerajaan Majapahit sempat pindah ke Daha, sebuah wilayah di sekitar Kediri.
Ketika membahas mengenai kerun- tuhan Majapahit, Bernard HM Vlekke menulis, setelah kematian Hayam Wuruk pada 1389, Majapahit memang terus-me – nerus mengalami kekacuan. Pokok pang – kal penyebabnya karena adanya keputu- san Hayam Wuruk yang membagi kera- jaannya karena tidak punya putra \”res – mi\”. Hanya seorang putri yang lahir dari ratu resmi. Nah, daripada membiarkan putranya dari perempuan lain menduduki posisi lebih rendah, maka Hayam Wuruk memutuskan membagi kerajaannya.
Maka, karya peninggalan Kartanegara dan Gajah Mada yang telah berusaha mengekang kekuatan jahat pemecah-be – lah dan memperkuat kekuatan gaib yang mempersatukan, menjadi hilang tanpa bekas. Akibatnya, penguasa Majapahit yang menggantikannya kemudian sibuk berkonflik serta saling memecah diri demi mengejar kepingan kekuasaan. Kekuatan Majapahit pun semakin mundur dan berubah menjadi kerajaan kecil sebelum benar-benar `menghilang\’.
Pada epidose keruntuhan Majapahit, Vlekke tampak jelas menampik tudingan, misalnya, yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam novel Arus Balikbahwa yang merusak Majapahit adalah kerajaan Is lam, seperti Demak misalnya. Vlekke me – nyatakan: `\’Tampaknya, semangat menye- barkan Islam hanyalah salah satu motif kecil dalam politik Jawa sekitar pergantian abad itu. Penguasa kerajaan-kerajaan paling kuat (Majapahit atau para penerus- nya) telah melemah sehingga raja-raja lokal bebas melakukan apa yang mereka suka.
Bahkan, tidak mungkin bahwa jum lah perdagangan yang meningkat antara Indonesia di satu pihak dan India serta Cina di pihak lain telah membantu beberapa daerah pantai yang sebelumnya tidak dikenal kemudian berkembang menjadi pe – labuhan yang kaya. Penguasa-penguasanya ikut aktif dalam perdagangan ini…\’\’

Bila becermin dari sejarah Majapahit itu, memang kemudian ada sebuah hal yang kemudian patut menjadi perhatian. Mung – kinkah negeri tercinta Indonesia ini bisa bertahan dalam kurun waktu yang pan – jang? Misalnya sampai 100, 200, atau hing – ga 1000 tahun? Fakta yang terjadi pada ak – hir-akhir ini jelas menyatakan be tapa akut – nya ancaman perpecahan ini. Kon flik so – sial, bila di rata-rata, sudah men capai dua kali dalam sehari. Ini belum lagi konflik elite akibat \”pembagian ke kuasaan\” sete – lah dilaksanakannya otono mi daerah. Per – sis dengan kenyataan sete lah Raja Hayam Wuruk membagi kekua san nya, maka pada saat sekarang pun su dah muncul \”raja-raja kecil\” yang juga sangat susah di atur. Atas nama dipilih langsung oleh rakyat, mereka bisa dengan seenaknya memberlakukan bahkan \”menjual\” kekayaan wilayahnya.
Pengamat psikologi politik dari Uni – ver sitas Indonesia, Hamdi Muluk, ketika di tanya apakah Indonesia masih bisa ber – tahan lebih dari seratus tahun, dia men- jawab: `\’Saya optimistis bisa. Namun, ini me mang ada syaratnya!\’\’ Dan syarat itu ada lah bila kehidupan rakyat semakin sejahtera, konflik sosial bisa dituntaskan, munculnya generasi pemimpin yang baik, dan adanya suasana penegakan hukum yang adil.
`\’Kita tahu ditingkat lokal kini marak konflik sosial. Dan ini bisa ditelusuri berasal dari adanya ketidakadilan sosial.
Meski saya optimistis ini bisa segera dis- elesaikan, tapi bukan tidak mungkin Indonesia mengalami perpecahan. Sebab, hukum alam itu dari dulu sudah meny- atakan siapa pun dan bangsa mana pun yang tidak siap akan globalisasi maka akan ditindas perubahan zaman. Seka – rang ini sudah terjadi di Mesir, Suriah, Lib ya, Uni Soviet, Yugoslavia. Kalau be – gitu, bila ada masalah, mari kita benahi dan jangan ikut hancurkan rumah besar Indonesia dengan berbuat yang tidak sela – yaknya dan melanggar hukum,\’\’ tegasnya.
Kalau begitu, mudah-mudahan saja di masa depan bayangan kelabu episode runtuhnya Majapahit tak terulang lagi.
Sebab, memang saat ini pun sudah ba – nyak pihak yang merasa sangat khawatir mengingat adanya sebuah pepatah Prancis yang menyatakan: Sejarah itu sejatinya hanya merupakan pengulangan belaka!
* * *

‘Kita Punya Akar Sejarah Panjang’
Asvi Warman Adam, lahir Buktittinggi, Sumatra Barat, 8 Oktober 1954. Pakar sejarah yang juga merupakan seorang peneliti utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Asvi menyelesaikan pendidikan doktornya di Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales (EHESS) pada tahun 1990. Berbagai komentar dan tulisannya banyak mengkaji berbagai persoalan di bidang sejarah dan persoalan sosial lainnya.
Asvi mengatakan Indonesia punya modal besar untuk menjadi bangsa yang maju dan mampu bertahan hingga ratusan tahun. Hal itu karena negeri ini punya kekuatan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang luar biasa. Untuk itu, dua hal inilah yang harus bisa dipelihara serta dijaga dengan baik.
Selain itu, Asvi menegaskan, yang tak kalah pen – tingnya Indonesia juga punya modal utama yang sekarang ini kerap kali disepelekan, yaitu bahasa per- satuan, bahasa Indonesia. `\’Semua ini jelas merupakan anugerah besar di kala banyak bangsa lain masih ribut ketika hendak menentukan bahasa nasionalnya. Yang penting lagi, Indonesia selama ini bisa bersatu juga karena faktor bahasa, bukan karena senjata,\’\’ katanya.

Inggris adalah salah satu negara yang bisa bertahan hingga ratusan tahun, bah – kan sudah mendekati seribu tahun. Nah, apakah Indonesia bisa seperti Inggris?
Ya, saya kira bisa. Mengapa demikian?
Itu karena bangsa ini memang bangsa yang besar. Mempunyai sumber daya alam yang melimpah dan bangsa yang sadar bahwa pemberontakan itu sesuatu yang sangat merugikan. Bukan hanya merugikan bagi pemerintah pusat, namun juga merugikan bagi yang memberontak itu sendiri. Nah, sejarah kita pun sudah mengajarkan se – per ti itu. Maka saya kini percaya, ke depan tak akan lagi ada pemberontakan di Indonesia.

Apa pengalaman yang bisa dipetik sep- anjang sejarah berdirinya negara In – donesia?
Pengalaman sejarah semenjak tahun 1945, kita melihat masyarakat itu memang tidak akan memberontak lagi. Namun, me – reka akan menyampaikan sesuatu dengan kritis itu memang iya. Nah, saya percaya adanya `kelestarian\’ dari negera ini. Tapi, persoalannya adalah ada satu persoalan yang serius. Memang ada peningkatan di berbagai bidang, terutama bidang eko – nomi. Namun, hal ini masih ada masalah yak ni hendaknya peningkatan ekonomi bi – sa lebih merata. Kita melihat sekarang ada pertumbuhan yang sangat besar, yakni golongan menengah ke atas. Kelompok ini semakin sejahtera saja.
Namun, pada golongan menengah ke ba wah, mereka malah semakin sengsara.
Kian hari mereka semakin terimpit hutang.
Ini jelas saya alami langsung. Gaji pem – ban tu saya, misalnya, sekarang hanya ha – bis untuk menutup dan bayar utang. Ini jelas sebuah kenyataan sosial yang harus segera bisa dihilangkan. Sebab, kalau terus dibiarkan, mereka atau golongan menen- gah ke bawah ini nantinya bisa berbalik menyatakan: Kami masih belum merdeka!

Dalam sejarahnya, masyarakat kita kan sangat paham dan tahan terhadap apa yang disebut penderitaan.
Mereka bi sa bertahan dalam kondisi yang pa – ling buruk sekalipun. Nah, apakah mo – dal sikap seperti ini nantinya bisa mem buat negara ini bisa bertahan lama?
Iya memang. Bangsa ini memang bang – sa yang ulet dan tahan menderita. Ini pun sudah terbukti. Dalam hal ini juga ada sisi positifnya dari kuatnya keberagamaan da – lam masyarakat kita. Salah satunya adalah ajaran agama yang sangat bernilai artinya, yakni mengajarkan setiap manusia untuk mampu bersikap sabar dan menjaga hati – nya secara baik. Ini ciri khas masya rakat ki ta yang di tempat atau di negara lain ti – dak ada padanannya. Faktor agama mam – pu membimbing orang agar tetap \”pasrah\”
dan menerima apa adanya. Jadi, ini jelas fak tor positif yang dapat menjadi bingkai kuat dari keberadaan negara tercinta kita ini.
Nah, tinggal sekarang bagaimana kita me nata negara ini ke depan. Bagaimana mengurangi segala kesenjangan sosial dan perilaku elite yang kini banyak negatif.
Bagi saya pribadi, perilaku elite inilah yang membuat rusak negeri ini. Di bawah, ma syarakat kita misalnya dapat hidup damai, namun elitelah yang menghasut dengan me nge luarkan berbagai macam aturan sehingga membuat masyarakat berkelahi atau be rantem. Ini misalnya ada elite yang menyuruh sebuah kelompok aga ma bertaubat atau keluar dari keyakin – annya, ini menyebabkan masyarakat yang berada di bawah menjadi pecah dan berkonflik. Padahal, selama ini mereka hidup secara damai saja.
Saya contohkan lagi, di Jakarta ini mi – salnya. Di Kampung Sawah, yakni di wila – yah Kecapi, Pondok Gede, Jakarta Timur, di sana sudah berdiri gereja selama ratusan tahun. Dan di depan gereja itu juga ada masjid. Nah, mereka selama ini selalu aman berdampingan. Dan di sini harap diketahui kalau sekarang ada atau muncul masalah antara Islam dan Kristen itu karena adanya paham atau munculnya `gereja-gereja yang baru\’ (aliran baru).
Mereka datang dan muncul belakangan.
Dan memang, meski jumlah kelompok ini tak banyak, namun memang harus segera dituntaskan. Ini penting agar masyarakat kita yang selama ini hidup dalam harmoni tak terusik keberadaannya.

Dahulu pada dekade 70-an, ada per – nya taan dari Mochtar Lubis yang meng kritik kecenderungan sikap bang – sa ini. Bangsa Indonesia dinilainya masih hi dup dalam ketidakrasionalan dan terlalu mengandalkan perasaan.
Nah, menu rut Anda, apakah bangsa ini sudah mulai beranjak dari posisi sikap yang seperti itu?
Kondisi yang ada di belakang ini jelas ada suatu perubahan. Lalu, siapa agen dari perubahan sosial itu? Jawabnya saya kira itu adalah pihak media massa. Sarana media massa inilah yang begitu banyak mendorong perubahan sosial masyarakat kita, baik itu yang bernilai positif maupun negatif. Pengaruh positifnya, kita sekarang begitu tahu informasi dengan porsi yang sedemikian banyak. Dan di sini, memang mau tidak mau masyarakat mulai berubah semakin rasional.
Tapi efek negatifnya, akibat kuatnya penetrasi media massa, kita juga mendapat sajian berita dan tayangan media yang tidak senonoh itu. Jadi, pengaruh media yang positif dan negatif, keduanya berjalan secara bersamaan. Celakanya, meski kita tahu adanya efek negatif, tampak sekali kita sepertinya membiarkannya begitu saja. Padahal, seharusnya ada satu sikap, misalnya dari pemerintah, yang secara jelas, yang meminta agar jangan lagi ada tayangan atau berita yang seperti itu. Ini beda misalnya pada zaman Presiden Su – karno dahulu, yang saat itu ada larangan terhadap gaya musik \”ngak-ngik-ngok\”.
Jadi, sekarang ini seharusnya tidak bisa semuanya dibiarkan bebas secara mutlak begitu saja.

Dalam sebuah diskusi di MPR, Anda sempat menyebut bahwa bangsa ini pu – nya anugerah yang sangat besar, namun kadang tidak dipahami dan dihargai.
Hal itu adalah anugerah adanya bahasa persatuan: bahasa Indonesia. Sampai sejauh mana sihpublik memahami adanya kenyataan ini?
Khusus untuk bahasa Indonesia, maka anugerah itu kita harus jaga dan pelihara dengan baik. Ingat, berbagai negara lain banyak yang terus dan masih berkonflik hanya karena soal penggunaan bahasa nasional. Di India misalnya, negeri itu masih bisa terancam pertengkaran serius ka rena soal \”klaim\” bahasa nasional. Me – reka, misalnya, punya bahasa Urdu, tapi ketika hendak dijadikan bahasa nasional ternyata masih banyak kelompok lain yang punya bahasa sendiri yang menyatakan tak sepakat. Bahkan, masing-masing ba – hasa lokal itu juga menuntut hal yang sama dengan bahasa Urdu. Jadi, soal ini sampai sekarang belum terpecahkan di India.
Untunglah situasi Indonesia ternyata tidak seperti itu. Semenjak awal, malah sebelum merdeka, pada tahun 1928 kita sudah menetapkan bahasa nasional itu adalah bahasa Indonesia. Uniknya, bahasa ini bukan berasal dari kelompok mayoritas di Indonesia, yakni bahasa Jawa. Kita malah memilih bahasa dari rumpun atau suku Melayu yang kemudian kita sebut sebagai bahasa Indonesia. Jadi, pada sisi ini, jelas bukan tentara saja yang sebe- narnya menyatukan bangsa kini ini, na – mun alat utamanya itu adalah karena adanya penggunaan bahasa Indonesia.
Melalui bahasa itulah rasa kebangsaan kita dipersatukan dengan sangat kokoh. Ba – yang kan saja, kalau kita pergi ke daerah, misalnya ke daerah terpencil di pelosok Jawa, maka meski tidak bisa mengucapkan bahasa Indonesia, mereka paham akan per- cakapan yang kita lakukan. Ini jelas sangat luar biasa dan patut kita syukuri.
Adanya situai itulah yang membuat saya prihatin dan juga mantan mendikbud Daud Yusuf marah sekali ketika tahu ada sekolah internasional yang berada di Jakarta tidak lagi mengajarkan bahasa Indonesia kepada para siswanya. Mereka ma lah secara penuh, yakni 100 persen, mewajibkan anak didiknya berbahasa Inggris. Jadi, kalau begitu di mana rasa nasionalisme itu? Kita memang benar harus bisa berbahasa Inggris, tapi sebelum itu seharusnya harus menguasai bahasa Indonesia terlebih dahulu.

Lalu mengapa kecenderungan bahasa Indonesia menjadi semakin terlupakan?
Itu karena kita tidak sadar saja.
Padahal, melalui bahasa Indonesia itulah kita dipersatukan meski berbeda agama, bahasa, wilayah, dan suku. Arti penting bahasa persatuan ini semakin terasa mis- alnya ketika kita pergi ke luar negeri.
Misalnya kita ke Taipei atau Paris, tiba- tiba saja kita mendengar orang berbahasa Indonesia. Nah, di situ maka kita langsung bisa akrab dan merasa satu sama lain. Jadi, inilah harga yang sangat mahal yang acap kali kita secara sadar masih tidak meng- hargainya.

Indonesia kini masih banyak persoalan, baik sosial, politik, kebangsaan, dan ekonomi. Menurut Anda, hal apa yang harus dituntaskan agar bangsa ini bisa bertahan lama, paling tidak melewati usia 100 tahun?
Yang jelas harus segera menata soal sumber daya manusia dan sumber daya alam. Dua hal ini perlu kita jaga dan awasi dengan berbagai macam aturan dan sikap serius. Bila ada aturan yang merugikan kita, maka harus secara cepat bisa diubah.
Ke depan, jangan sampai ada lagi dipa – kainya sebuah peraturan justru dipakai sebagian kelompok atau orang untuk mengambil hak yang seharusnya itu meru- pakan milik rakyat, seperti petani, nelayan, dan berbagai kelompok rakyat lainnya.
Khusus untuk pembenahan sumber daya manusia, maka jalan keluarnya harus melalui perbaikan sistem pendidikan yang membuat rakyat kita semakin cerdas. Nah, sekarang saya merasa dana untuk pen- didikan sudah cukup besar, tapi sayangnya dana itu digunakan untuk sesuatu yang co – ba-coba. Misalnya, para murid di sekolah kita selalu dijadikan percobaan bagi peng- gunaan kurikulum pendidikan yang baru.
Jadi, selama ini secara terus-menerus para murid kita dipakai sebagai \”kelinci per- cobaan\”. Padahal, kami sangat berharap melalui pendidikan itulah nantinya akan mendapatkan anak bangsa yang cerdas sekaligus punya karakter. Ke depan, sistem pendidikan yang amburadul ini harus bisa segera ditangani.

Kalau begitu, Anda optimistis bila pada tahun 2045 bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang maju?
Saya optimistis dengan bersyarat, yakni kewaspadaan. Bila kita bisa menghi- langkan kendala untuk membenahi sum – ber daya manusia dan sumber daya alam, maka Indonesia pada tahun 2045 itu sudah menjadi bangsa yang maju.
Dari segi modal sejarah, kita punya akar atau modal sejarah yang panjang dan kaya. Ini beda misalnya dengan Singapura yang baru ada puluhan tahun lalu. Beda dengan kita yang punya sejarah yang su – dah ratusan tahun, bahkan bisa lebih lama lagi. Di masa lalu kita punya sejarah Sri – wijaya dan Majapahit. Selain itu, kita juga punya pengalaman sejarah yang bisa di – sebut sebagai anugerah atau mukjizat, yakni adanya Sumpah Pemuda pada tahun 1928.
Selain itu, kita punya pengalaman sejarah yang hebat dari para pendiri bangsa ini, yakni pada tahun 1945. Meski di bawah ancaman bayonet tentara Jepang dan dibayangi serangan tentara Belanda bersama sekutunya, para bapak bangsa kita itu berani menyatakan kemerdekaan.
Ini jelas sebuah mukjizat. Dan terakhir, pada tahun 1998, saat itu banyak orang- mengatakan negeri ini akan hancur atau kolaps, saat itu kita pun sudah antre mengambil duit di bank yang ternyata duitnya juga tak ada. Nah, kita pun masih bisa lolos atau selamat melawati masa krusial itu.
Maka, melalui rangkaian peristiwa sejarah itu, kita seharusnya sadar bahwa bangsa ini mempunyai anugerah yang sangat besar. Untuk itulah anugerah yang sangat bernilai itu jangan disia-siakan, dengan terus menata sumber daya manusia dan alam kita, terutama agar negeri ini bisa lestari sepanjang zaman. Tidak hanya 100 atau 200 tahun, tapi bisa mencapai ribuan tahun.
(muhammad subarkah)
* * *

Advertisements
Posted in: Uncategorized